SIANIDA (Siap Nikah Sama Duda)

SIANIDA (Siap Nikah Sama Duda)
Mandul?


__ADS_3

Waktu berlalu begitu cepat, tidak terasa pernikahan Lisa memasuki tahun ke lima saat ini. Tentu saja pasangan itu selalu diberikan kebahagiaan dan keharmonisan karena keduanya selalu memahami satu sama lain. Sayangnya dibalik semua itu Lisa memikul beban berat. Lima tahun pernikahan, sampai detik ini Lisa belum diberi kepercayaan untuk hamil. Hal itulah yang membuatnya minder dari semua orang.


Bahkan Lisa selalu menghindari ajakan ketiga sahabatnya untuk berkumpul. Bukan apa, Lisa minder karena ketiga sahabatnya sudah memiliki momongan semua. Padahal mereka menikah jauh setelah dirinya. Sedangkan dirinya masih diposisi yang sama sampai detik ini.


Bella, wanita itu sudah dikarunai sepasang anak kembar. Desi juga sudah memiliki seorang anak laki-laki tampan berusia dua tahun. Dan Mona yang baru menikah satu tahun lalu juga sudah hamil lima bulan. Semua itu membuat nyali Lisa ciut untuk bertemu mereka. Bahkan sifat cerianya mulai memudar dalam beberapa tahun ini. Meski Erkan tidak menuntutnya untuk memiliki anak, tetap saja Lisa kepikiran dan merasa bersalah pada sang suami.


Seperti sekarang ini, Lisa duduk termenung di bibir kolam renang. Lisa tak kuasa membendung air matanya lagi. Kristal itu luruh begitu saja saat mengingat kejadian dua hari lalu.


Dua hari sebelumnya, Lisa bersama sang Mama mertua pun menghadiri acara arisan.


"Wah, ini istri Erkan itu kan?" sapa seorang Ibu-ibu sosialita.


"Iya, Jeng. Ini mantu saya, masak lupa. Memang sih Lisa ini jarang ikut saya. Biasanya kan saya datang sama Bella." Ujar Mama Dinar menggenggam tangan Lisa erat.


"Duh... mantu Jeng Dinar mah cantik-cantik semua. Kok cucunya gak dibawa? Kayak Bella kan biasanya bawa si kembar. Jangan bilang anak Lisa kembar juga ya? Duh... kenapa gak dibawa sih?" Celetuk Ibu-ibu lainnya. Mendengar itu wajah Lisa langsung pucat.


Mama Dinar yang melihat reaksi Lisa pun semakin mengeratkan genggamannya. Seolah memberikan kekuatan untuk menantunya itu.


"Ck, Jeng Weni gak tahu ya kalau Lisa ini belum punya anak. Iya kan, Jeng Dinar?"


Deg!


Jantung Lisa bagai terhantam batu besar mendengar itu. Ini yang selalu ia takutkan saat bertemu kenalan Mama atau keluarganya. Mereka selalu saja membahas anak.


"Oh, maaf ya Nak Lisa. Ibu gak tahu, gak papa. Pasti nanti juga punya kok. Jangan minder." Ucap Jeng Weni merasa bersalah.


"Iya, Buk." Sahut Lisa berusaha tersenyum.


"Udah cobak ke dokter belum? Tapi kalau dibilang Erkan yang ada masalah kan gak mungkin, dia kan udah punya anak. Mungkin aja memang kamunya yang mandul?"


Mendengar itu Mama Dinar kaget. "Jeng Maya, mulutnya gak pake rem." Tegurnya.


"Iya nih Jeng Maya, gak bisa banget jaga perasaan orang." Suasana pun mejadi canggung.


Lisa menarik ujung bibirnya. "Kami udah ke dokter kok, gak ada masalah sama saya dan Mas Erkan. Mungkin Allah memang belum ngasih kepercayaan aja sama saya." Tegas Lisa.


"Tuh denger, Jeng Maya. Jangan asal nuduh aja. Lagian Jeng Maya ngomongin orang cepet banget. Mantu sendiri juga kan belum punya anak."


"Lah... kenapa bawa-bawa mantu saya. Mantu saya mah emang udah jelas mandul. Makanya saya gak suka sama dia. Itu Jeng Dinar, diperhatiin makanan menantunya. Kali aja faktor makanan yang dikonsumi, sama kayak mantu saya. Dia dulu nakal, suka minum dan ngerokok. Jadinya madul deh." Ketus Jeng Maya dengan wajah juteknya.


Mama Dinar mendengus. "Jangan samain sama mantu saya dong. Lisa ini anak baik-baik, teruji kualitasnya. Keluarganya juga orang terhormat di kampung."


"Buktinya sampe sekarang belum hamil, masih aja dibanggain." Ketus Buk Maya.


"Jeng Maya, mulutnya ih. Maaf ya Jeng Dinar. Acara kita jadi canggung gini. Maaf ya Lisa, gara-gara saya yang memulai semuanya jadi begini." Ucap Jeng Weni sebagai pemilik rumah merasa bersalah banget.

__ADS_1


"Gak papa, Buk. Saya paham kok. Memang sayanya aja yang belum beruntung."


Mama Dinar menatap Lisa penuh rasa bersalah. "Kita pulang aja yuk, Ray kayaknya udah nunggu kamu di rumah."


Lisa mengangguk. Lalu mereka pun berpamitan untuk pulang karena acara pun memang sudah hampir selesai.


Di dalam mobil, Lisa dan Mama Dinar terdiam cukup lama. Terhanyut dalam pikiran masing-masing.


Mama Dinar menatap Lisa. "Lisa, Mama minta maaf ya? Gara-gara Mama maksa kamu buat ikut. Kamu malah dapat hinaan kayak gini."


Lisa menarik diri dari lamunannya, lalu ia menoleh ke arah Mama Dinar. "Mama, Lisa teh gak papa. Mereka benar, Lisa emang....."


"Jangan ngomong gitu, Sa. Mama gak suka, Mama aja gak pernah maksa kamu buat ngasih cucu. Tapi mereka hina kamu kayak gitu. Mama gak suka, hati Mama sakit, Lisa." Mama Dinar menarik Lisa dalam pelukannya.


Tangisan Lisa pun pecah. "Lisa minta maaf, Ma. Lisa belum bisa ngasih cucu buat Mama."


"Enggak, sayang. Udah Mama bilang jangan mikirin soal itu. Mama sama Erkan gak nuntut kamu buat ngasih keturunan. Kita terima aja yang Allah kasih." Mama Dinar mengecup kening Lisa.


"Makasih, Ma." Lisa mengeratkan pelukannya.


"Sayang." Panggil Erkan yang baru saja pulang dari kantor dan tidak menemukan sang istri.


Lisa terhenyak dan cepat-cepat menghapus jejak air matanya. Ia juga tidak berani menoleh karena takut Erkan tahu ia menangis.


Erkan tersenyum saat melihat Lisa duduk di tepian kolam renang. "Rupanya di sini ya? Ngapain sih asik banget?"


Erkan mengerutkan dahi. "Panas? Ini udah sore loh, Yang."


Lisa tertawa kecil. "Tumben cepet pulang?" Ia bangkit dan mendekati suaminya.


"Kangen kamu, makanya mas cepet pulang." Erkan menarik Lisa agar merapat dengan dirinya. Senyuman Erkan memudar saat melihat mata dan hidung Lisa yang merah. "Kamu nangis?"


Lisa langsung menggeleng.


"Jangan bohong, sayang. Ada apa lagi huh?"


Lisa menunduk, dan tangisannya pun kembali pecah. Sontak Erkan pun kaget. Ditariknya dagu Lisa dengan lembut. "Ada apa? Ngomong sama Mas."


Bibir Lisa bergetar karena tak kuasa menahan sesak didadanya. "Mas... ayo kita cerai."


Erkan terhenyak. "Kamu ngomong apa sih?"


"Lisa gak bisa jadi istri sempurna buat kamu, Mas. Lisa gak bisa kasih keturunan."


Erkan menghela napas berat, lalu membawa istrinya dalam dekapan. "Mas udah sering bilang sama kamu, Sa. Jangan pikirin masalah itu. Mas gak suka kamu sedih kayak gini. Mau punya anak atau pun enggak. Mas akan tetap cinta sama kamu. Mas gak akan lepasin kamu apa pun yang terjadi. Sejak awal, Mas nikahin kamu karena jatuh cinta sama kamu, sayang. Mas terima semua kekurangan kamu. Kamu juga harus terima kekurangan Mas, Sa."

__ADS_1


Tangisan Lisa semakin menjadi. "Tetap aja Lisa teh ngerasa bersalah, Mas. Orang lain aja yang baru nikah udah bisa ngasih anak buat suaminya. Sedangkan Lisa... sampe sekarang belum juga hamil, Mas."


"Ya Allah, sayang. Jangan bandingin diri kamu sama orang lain. Gak akan sama, sayang." Erkan mengecup pucuk kepala Lisa.


"Mas... Lisa pengen pulang ke rumah Mamah."


Erkan terdiam sejenak. "Tapi Mas gak bisa pergi dalam minggu ini, sayang."


"Lisa mau pergi sendiri aja, Mas. Lisa pengen tenangin diri." Mohon Lisa.


Erkan terdiam cukup lama.


Lisa mendongak. "Mas, Lisa mohon. Lisa butuh udara segar."


Erkan menghela napas pendek. Lalu tersenyum. "Baiklah, besok Mas antar kamu ya?"


Lisa tersenyum senang. "Makasih, Mas. Makasih udah ngertiin Lisa."


"Hm. Tapi tolong jangan minta sesuatu yang gak bisa Mas lakuin, Sa. Mas cinta sama kamu melebihi apa pun. Jangan minta pisah lagi ya? Mas sedih kalau kamu minta hal itu. Mas gak sanggup pisah sama kamu, Sa."


Lisa mengeratkan pelukannya. "Lisa minta maaf, Mas. Janji gak akan minta lagi."


Erkan mendorong bahu Lisa dengan lembut. Ditatapnya wajah sembab sang istri begitu dalam. "Buat diri kamu bahagia, Sa. Jangan pernah dengerin omongan orang. Mereka gak akan tahu apa yang kita jalanin. Kamu dengar kan?"


Lisa mengangguk patuh. Erkan tersenyum, dikecupnya kening Lisa dengan penuh cinta. Dan Lisa hanya bisa memejamkan mata, menikmati kehangatan yang suaminya berikan.


Erkan menghapus jejak air mata istrinya. "Udah, jangan sedih-sedih lagi. Besok ketemu Mamah, kamu pasti senang. Sekarang pikirin gimana caranya bujuk Ray supaya mau kamu tinggal."


Lisa melupakan putranya itu. Meski sudah beranjak besar. Rayden masih saja manja padanya. "Nanti Lisa teh pikirin lagi. Kalau boleh Lisa bawa Ray ke sana."


"Ray sekolah, sayang."


Lisa terdiam sejenak. "Pasti dia ngerengek pengen ikut, Mas."


Erkan tersenyum geli. "Ya udah, nanti Mas minta izin ke sekolahnya. Kalau Ray ikut kamu."


"Beneran, Mas?" Seru Lisa kegirangan.


"Iya, sayang. Apa sih yang enggak buat kamu." Erkan menoel hidung istrinya. Lisa pun tersenyum senang dan kembali memeluk suaminya.


"Makasih, Mas."


Erkan mengusap punggung istrinya. "Sama-sama, sayang. Mas akan lakuin apa pun buat bahagiain kamu, Sa. Anak bukan tolak ukur kebahagiaan Mas. Karena punya kamu sama Rayden aja Mas udah bahagia banget."


Lisa mengeratkan pelukannya dan tidak menanggapi ucapan Erkan. Saat ini dirinya butuh udara segar. Ia terlalu jenuh di kota. Dan Erkan sebagai suami pun akan selalu mementingkan kebahagiaan istrinya. Ia tahu Lisa sedang tertekan saat ini. Ia butuh sedikit ketenangan. Erkan tidak akan mencegah Lisa untuk saat ini.

__ADS_1


Tbc....


__ADS_2