SIANIDA (Siap Nikah Sama Duda)

SIANIDA (Siap Nikah Sama Duda)
Gara-gara Bodyguard Cantik


__ADS_3

Lisa kembali mendekati Erkan dan duduk dipangkuannya. "Mas, liat mata Lisa deh."


Erkan meliriknya sekilas.


"Ih... bukan gitu. Liat lebih dalam." Protes Lisa. Erkan pun menurut dan menatap mata bulat Lisa begitu dalam.


"Siapa yang ada di sana?"


"Gak tahu." Ketus Erkan.


"Mas, siapa?" Lisa menangkup kedua pipi suaminya.


"Saya." Jawab Erkan malas. Sontak Lisa pun tersenyum lebar.


"Tuh Mas tahu, kalau di mata dan hati Lisa itu cuma ada kamu, Mas. Mas masih gak percaya?"


Erkan tidak menjawab. Lisa yang merasa gemas pun langsung mencium bibir suaminya beberapa detik. "Mas, selagi Rayden asik main. Kita juga main bentar yuk."


"Saya lagi sibuk." Tolak Erkan.


"Ck, padahal Lisa teh mau kasih servis yang baik. Kalau Masnya nolak mau gimana lagi?"


Erkan berdeham kecil setelah mendengar itu. Bagaimana mungkin ia menolak tawaran manis itu. "Lain kali itu jangan asal meluk aja, ingat udah punya suami."


Lisa terkekeh lucu. "Iya, Lisa janji. Lisa minta maaf, lain kalo gak akan peluk-peluk lagi. Gak marah lagi kan?"


"Masih."


"Mas, kayaknya enak deh main di sini. Mau dipake gak jada servisnya? Tar keburu Ray dateng." Bisik Lisa menggoda.


Erkan yang mudah tergoda oleh pesona istrinya itu pun langsung menyambar bibir sang istri. Meski agak kaget, tapi Lisa berusaha mengimbangi permainan suaminya.


"Ah... jangan di buka. Gini aja, tar kalau Ray keluar kita gak usah gelagepan." Bisik Lisa dengan napas tersengal. Erkan pun mengangguk seraya membuka penutup aset berharga milik istrinya itu.


"Bantu lepasin dong, udah sesek, Sa." Pinta Erkan tidak sabaran. Karena masih engap, Lisa pun menurut saja. Jemari lentik itu bergerak meraba di bawah sana. Sontak Erkan mengerang saat tangan itu menyentuh benda pusakannya yang masih terhalang celana.


Lisa terkesiap saat melihat benda itu langsung berdiri kokoh saat keluar dari sangkarnya. "Kamu masukin sendiri." Titah Erkan.


Lisa menggigit ujung bibirnya. "Takut sakit, biasanya juga sakit kalau posisi gini." Lirih Lisa.


"Pelan-pelan, sayang."


Lisa pun mengangguk, lalu diarahkannya benda tegang itu ke dalam lubang sempitnya.


"Ohhhh...." keduanya mengerang bersamaan saat berhasil melakukan penyatuan. "Sakit, Mas. Jangan gerak dulu."


"Wajar, kita gak ada pemansan. Takut Ray keburu nongol. Kamu masih sempit aja, Sa. Padahal udah sering olahraga juga."


"Punya Mas yang kegedean, ahhh." Lisa menggigit ujung bibirnya karena tak kuasa menahan rasa sakit bercampur nikmat di bawah sana.


Erkan tersenyum geli. Dan dengan nakalnya ia menggerakkan pinggulnya, sontak Lisa pun menjerit dan langsung menutup mulutnya karena takut Rayden mendengar. Bisa berabe kalau anak itu keluar dan mengeluarkan pertanyaan mautnya.


"Mas, pelan-pelan. Gimana kalau Ray keluar? Uhhh... pelan, Mas."


"Enggak akan, dia pasti ketiduran. Uhhh... aku gerakin lebih cepet ya? Gak tahan kalau udah gini." Pinta Erkan.

__ADS_1


Lisa pun mengangguk pasrah. Dan keduanya pun mulai mengeluarkan suara ribut meski mati-matian menahannya. Dan keduanya pun berhasil melewatkan permainan panas itu hampir dua jam lamanya, dan tentunya dengan berbagai posisi dan gaya.


Lisa terkulai lemas di atas sofa, sedangkan Erkan terlihat membersihkan sisa percintaan mereka. "Mandi di sini aja, sayang. Mas udah siapin baju buat kamu di ruang ganti."


Lisa menoleh. "Emang Mas udah punya rencana mau bikin di sini ya? Ih, nakal kamu, Mas."


Erkan tersenyum yang diiringi anggukkan kecil. "Udah lama Mas pengen cobak main di sini. Rupanya enak juga."


"Mas mah di mana aja enak. Lisa lemes, Mas. Ngantuk juga."


"Tidur aja. Tar Mas bangungin. Hari ini Mas juga mau kenalin kamu sama seseorang."


"Siapa?" Tanya Lisa dengan mata terpejam.


Erkan menghampiri istrinya dan kembali merapikan pakaian Lisa. Lalu meyelimutinya dengan jas.


"Kamu bakal tahu nanti."


"Hm." Lisa yang pada dasarnya sudah lelah pun mulai tak sadarkan diri. Erkan tersenyum geli, di kecupnya kening Lisa dengan lembut. "Makasih selalu ngasih servis terbaik."


Setelah itu ia beranjak ke ruang istirahat untuk melihat putranya. Benar saja, Rayden sudah tertidur dengan ponsel yang masih di tangannya. "Untung hari ini gak jadi pengacau, jadi Papanya bisa main sampe puas."


Erkan menutup pintu kembali, lalu beranjak ke ruang kerjanya karena masih ada pekerjaan yang belum selesai.


****


Lisa terbangun dari tidurnya saat mendengar suara orang mengobrol. Sontak ia baru sadar jika dirinya masih berada di kantor saat ini. Ia melenguh kecil saat merasakan tubuhnya agak sakit. Namun, rasa sakit itu terlalihkan saat mendengar suara tawa Erkan dan seseorang. Dan itu seorang wanita.


"Mas." Panggil Lisa bangun dari tidurnya. Erkan yang merasa terpanggil pun menoleh, tentu saja wanita asing itu pun ikut menoleh.


"Sore." Sapanya dengan senyuman ramah.


Lisa menatap Erkan penuh tanya. Sedangkan yang ditatap cuma bisa menaikkan bahunya.


"Sore, lagi ngomongin bisnis ya? Maaf ganggu waktunya. Mas, Lisa ke kamar bentar ya?" Pamit Lisa.


"Tunggu, Sa." Pinta Erkan yang berhasil menahan pergerakan istrinya.


"Kenapa, Mas?"


"Kenalin, ini bodyguard yang akan terus nemenin kamu ke mana pun. Namanya Chelyn, dia teman Mas sejak sma."


"Bosyguard? Secantik ini?" Tanya Lisa tak percaya. Dan wanita bernama Chelyn itu tertawa renyah.


Lah, kirain bodyguardnya cowok.


"Iya, aku sengaja pilih cewek. Supaya kamu gak gatal kayak tadi. Dia juga yang bakal awasin kamu supaya gak peluk-peluk sembarangan cowok lagi." Sindir Erkan.


"Ih... masih diungkit aja. Kirain udah gituan bakal lupa. Kalau bodyguardnya cantik gini mah enak dikamunya, Mas." Gumam Lisa.


"Gak usah ngedumel, terima aja keputusan suami." Tegas Erkan.


Lisa menyebikkan bibirnya. "Terserah kamu aja." Setelah mengatakan itu Lisa pun bergegas menuju ruang pribadi Erkan karena harus membersihkan diri.


"Er, aku rasa ada aroma kecemburuan. Kamu gak salah pilih aku kan? Aku gak mau loh jadi sumber kekacauan rumah tangga kalian."

__ADS_1


Erkan tersenyum geli. "Kamu belum kenal dia aja, dia itu asik kok."


Tidak lama Lisa pun nongol di pintu. "Mas, ngobrolnya jangan pake perasaan. Ingat ada istri, senyumnya dikondisiin." Setelah itu ia pun masuk kembali.


Sontak Chelyn terkejut dan langsung menatap Erkan. "Tuh kan, cari yang lain aja deh."


"Lah, kamu nyerah gitu aja? Belum juga di coba, dia itu cuma gertak doang. Kalau udah kenal dijamin asik." Ujar Erkan mencoba meyakinkan temannya itu. Ia sangat berharap Chelyn menerima tawarannya karena wanita itu cukup andal dan terkenal dengan keperkasaannya. Yang lebih penting lagi Chelyn orangnya asik, jujur dan selalu memberikan laporan harian.


Chelyn menghela napas. "Oke, aku cobak dulu satu minggu. Kalau emang aku sama dia cocok, baru tanda tangan kontrak."


Erkan tersenyum lega. "Boleh juga, aku rasa kamu bakal betah kali ini."


"Ck, aku udah sepuluh kali jadi bodyguard. Tapi selalu gagal karena istri bosku itu cemburu. Padahal aku kan sama mereka terus bukan sama suaminya." Keluh Chelyn.


Erkan tertawa renyah. "Mungkin karena kamu lebih cantik dari mereka."


Chelyn tersenyum. "Cantik siapa aku sama istri kamu huh?" Godanya.


"Tetap istri aku lah, dia gak ada yang bisa nandingin. Walau kamu secantik apa pun." Jawab Erkan penuh keyakinan.


"Dih, bucin akut kamu, Er. Gak berubah kamu mah. Kalau udah cinta sama satu orang bucinnya gak ketulungan."


"Bucin sama istri sendiri banyak pahala, Lyn. Dari pada bucin sama istri orang." Sahut Erkan yang berhasil membuat Chelyn tertawa.


"Bisa aja kamu. Ya udah, aku tunggu di luar aja ya? Kalau di sini takutnya istri kamu salah paham lagi." Pamit Chelyn.


"Oke, nanti aku hubungin kamu kalau dia mau keluar."


"Oke, aku pamit dulu."


Erkan mengangguk. Chelyn bangkit dari posisinya dan bergegas meninggalkan ruangan Erkan.


Sepeninggalan Chelyn, Erkan pun menyusul istrinya ke kamar. Sepertinya Lisa masih mandi karena terdengar suara gemercik air dari kamar mandi. Sambil menunggu, Erkan pun berniat untuk memilihkan pakaian istrinya. Tentu saja ia memilih pakaian yang lebih tertutup.


Beberapa saat kemudian, Lisa pun keluar dari kamar mandi hanya dengan bathrobe.


"Udah selesai, Mas? Asik banget kayaknya ngobrol sama bodyguard cantik. Pake ketawa riang segala tuh." Sindir Lisa.


Erkan yang sudah duduk di sofa menatap Lisa lekat. "Setidaknya saya gak peluk dan cium dia. Masih ingat istri soalnya." Balasnya yang berhasil menusuk hingga ke jantung Lisa.


"Lisa kan udah minta maaf, Mas. Udah di kasih servis juga." Kesal Lisa.


"Jadi kamu gak ikhlas kasihnya? Kalau gitu buat apa kamu kasih." Balas Erkan tak kalah sengit.


"Ih, siapa juga yang gak ikhlas? Kamu teh kenapa sih, Mas? Lisa tahu Mas teh cemburu. Tapi jangan diungkut terus atuh. Ngeselin ih. Kenapa gak lanjut ngobrol aja sana sama bodyguard cantik kamu itu. Kasian kalau dianggurin. Istri kamu ini kan kegatelan, gak usah diladenin lagi."


"Loh, kenapa kamu yang marah-marah sih?"


"Au ah, sebodo kamu aja. Pikasebelen pisan punya suami." Lisa meraih pakaiannya yang sudah Erkan pilih di atas ranjang. Kemudian beranjak menuju ruang ganti dengan langkah kesal.


"Ngeselin pisan da, udah minta maaf juga masih aja di sindir. Bilang aja pengen cium bodyguard cantik itu juga. Kenapa gak cium aja? Dasar mata keranjang." Omel Lisa di dalam sana.


Sedangkan Erkan terlihat bingung sendiri. "Kenapa dia yang marah? Harusnya aku dong yang marah karena dia berani meluk cowok lain? Terus di mana letak kesalahanku ini? Ya Allah, gini amat ya jadi kaum adam. Harus selalu ngalah."


Tbc....

__ADS_1


Ciee... ada yang nungguin ya? Maaf ya sekarang agak telat upnya. Mamah aku teh lagi sakit, dan harus di rawat di rs. Mohon doanya ya teman-teman. Mudah-mudahan Mamah aku teh cepet sembuh. Aamiin.


__ADS_2