
"Aaaa...." Histeris Lisa saat ketiga bestienya itu datang. Lalu mereka pun berpelukan mesra.
"Kangen banget, padahal cuma dua hari gak ketemu kalian. Yuk masuk." Ajak Lisa melerai pelukan mereka. Lalu keempatnya pun bergegas masuk.
"Gila, ini rumah apa istana? Gede baner." Puji Bella sambil melihat kesekeliling rumah.
"Berapa hektar ni rumah? Dari luar aja keliatan gedenya. Eh pas masuk beneran kayak lapangan bola." Imbuh Mona.
"Dih, kayak rumah kalian kecil aja." Cibir Lisa yang tahu betul rumah mereka itu gak kalah gede dari rumah suaminya ini.
"Beda lah, ini kan rumah masa depan lo, Sa. Lah kita mah masih numpang sama bonyok." Sahut Desi duduk di sofa empuk seuper mahal itu. Lalu disusul oleh ketiganya.
"Gw juga mumpang atuh. Kan ini rumah suami gw."
"Rumah suami lo ya rumah lo juga, Sa. Elo mah bikin kesel aja." Ketus Mona. Sedangkan Lisa malah cengengesan.
"Sa, aus nih. Gak ada niat ngasih minum?" Sindir Bella.
"Ck... baru sampe juga. Tar, gw minta tolong Bibik dulu."
"Dih... gaya sekarang pake Bibik segala." Julid Mona. "Jadi Nyonya besar sobat kita nih. Balen dong sesekali."
Lisa memutar bola matanya malas. "Bodo." Lalu ia pun melenggang menuju dapur. Tidak perlu lama ia pun balik lagi.
"Makan malam di sini aja ya? Gw udah minta Bibik buat masakin yang banyak. Soalnya suami gw lembur. Lumayan kan gw ada temen ngobrol."
"Siap Buk bos. Btw, pembantu lo cuma satu?"
"Dua, suami gw gak bilang tadi ada pembantu lain di sini. Yang ada sih cuma Bik Inah sama suaminya." Jawab Lisa apa adanya.
"Terus, anak lo yang ganteng itu kemana?" Tanya Desi.
"Tadi dijemput Mama, katanya mau di ajak ke arisan Mama. Tadinya Mama ajak gw juga, cuma berhubung udah janji ama kalian duluan ya udah gak jadi."
Tidak lama dari itu Bik Inah datang membawa minuman segar beserta cemilannya. Lisa pun langsung membantunya. "Makasih ya, Bik."
"Sama-sama, Nya. Kalau gitu saya teh ke dapur lagi. Mari."
Lisa dan yang lain pun mengangguk ramah. Setelah itu Lisa pun menaruh nampan di atas meja.
"Duh... enaknya jadi istri bos. Di kasih rumah gede, uang banyak, dapet mertua baik lagi. Pengen gw jadi elo." Oceh Mona.
__ADS_1
"Yee... enak aja lo mau jadi gw. Idup gw udah terlalu enak jadi gak bisa digantiin oleh siapa pun. Gak rela suami gw lo pake."
Ketiga sahabatnya itu tertawa mendengar ocehan Lisa.
"Btw, suami lo gagah gak di atas rajang? Lo belum cerita loh ama kita."
Lisa tersenyum malu. "Pake banget, sampe minta ampun gw." Jawabnya.
"Duh... beneran ya tu duda. Mentang-mentang kelamaan jones, sekali main sampe letoy tuh istri." Ledek Mona.
"Jelas lah." Sahut Desi. Namun, mereka merasa ada yang aneh. Sejak tadi Bella terlihat diam dan tak bersuara.
"Bel, lo kesambet?" Tanya Desi.
Bella yang sedari tadi natap Lisa pun terhenyak. "Eh, enggak kok. Gw cuma lagi mikir kelanjutan cerita gw aja. Kayaknya gw selipin cerita Lisa lebih asik hehe." Alibinya.
Lisa menatap sahabatnya yang satu itu penuh curiga. "Lo aneh, Bel. Kayak ada yang lagi lo sembunyiin dari kita. Ayo ngomong, jangan jadi pengkhianat lo."
Bella mendengus sebal. "Mulut lo minta dicabein, Sa. Mana ada gw jadi pengkhianat. Kayak antagonis aja gw pake dikatain pengkhianat."
"Mana tahu aja lo pengen jadi protagonis tapi jatuhnya antagonis. Soalnya lo gak cocok jadi orang baik. Muka lo terlalu polos di luar, dalemnya udah kayak benang kusut. Gw udah baca semua cerita lo yang berbau dewasa. Gila otak lo, bisa kepikiran sampe sana." Cerocos Lisa.
Bella terkekeh lucu. "Gw belajar dari orang juga kali. Tapi lo praktekin kan?"
Dua gadis yang gak tahu apa-apa itu pun cuma bisa menyimak.
"Terus gimana reaksi suami lo?" Tanya Bella begitu semangat.
"Hm... dia suka. Tapi ada yang gak dia suka juga. Ah, suami gw mah suka semua apa pun yang gw buat. Entah gw yang terlalu parno." Jawab Lisa semrawut.
"Gimana sih lo. Jawaban lo gaje, gak jelas." Kesal Bella.
"Ngomongin apa sih gak jelas kalian. Sekarang gw tanya, lo masih lanjut sama Bang Elkan?" Tanya Mona. Sontak Bella pun mendadak kikuk.
"Heeh, gw juga penasaran sama kelanjutan lo, Bel. Gimana sekarang?"
Bella melirik Lisa sekilas. "Em... ya... gw masih sering berhubungan sama dia. Tapi gw sama dia murni cuma temenan. Kayak yang gw bilang kemaren itu. Gw sama dia cuma partner curhat. Gak lebih."
Lisa terkejut mendengarnya. "Partner curhat? Oh... gw ngerti sekarang. Jadi elo orang yang dimaksud Bang Elkan partner curhat itu? Wah... parah lo Bel." Sembur Lisa yang lagi-lagi membuat kedua sahabatnya bingung.
"Gimana ceritanya sih?" Tanya Mona.
__ADS_1
"Jadi gini...." Lisa pun menceritakan apa yang terjadi dua hari lalu soal kesalahpahaman yang terjadi.
"Gila! Berani banget dia jambak lo, Sa." Kaget Mona.
"Gw rasa gak lama lagi beneran di cerein tuh sama Bang Elkan. Istri gak ada otak dia. Wajar kalau Bang Elkan berpaling." Desi mengerlingkan matanya ke arah Bella. Sontak Lisa dan Mona pun ikut mengerlingkan matanya ke arah Bella
Bella yang sadar akan hal itu langsung panik. "Eh? Kenapa liatin gw gitu? Gw sama Bang Elkan beneran gak ada hubungan apa-apa. Cuma temen curhat, emang sih dia ada bilang soal kejadian itu kemaren. Terus dia juga ada bahas masalah perceraian. Tapi gw bilang sama dia buat pikirin dulu semuanya matang-matang. Gw takut dia nyesel nantinya." Jelas Bella panjang lebar.
"Terus?" Tanya Lisa semakin penasaran.
"Terus... Mas eh maksud gw Bang Elkan mau mikirin semuanya dulu. Gw yakin dia masih cinta sama istrinya. Dari cara dia cerita, terselip nada sedih." Tanpa sadar Bella pun terlihat sedih.
"Terus kenapa muka lo gitu? Jangan bilang lo beneran naksir sama Bang Elkan lagi?" Semprot Desi.
Bella ngangguk. "Siapa sih yang gak naksir sama sosok kayak dia, ganteng, tajir, pengacara kondang lagi. Gw rela kok jadi istri keduanya."
"Bengek lo. Gak kapok lo sama kejadian yang nimpa Lisa? Dia aja yang gak salah diserang sama macan betina itu, apa lagi elo yang udah jelas rebut suaminya." Sinis Mona.
"Lah... kan gw cuma canda. Sewot banget sih." Kesal Bella.
"Awas aja lo kalau macem-macem sama Bang Elkan, gw pites-pites." Ancam Mona. "Beda ceritanya kalau dia udah cerai, lo mau pacarin kek, nikahin kek, gak jadi masalah. Jangan sampe lo buat scandal, kasian bokap lo yang bakal malu."
Bella terdiam. Lisa yang melihat itu langsung meraih tangan sahabatnya. "Gw gak larang elo buat deket sama Bang Elkan. Cuma lo harus hati-hati, istrinya itu bahaya banget. Gw aja dituduh yang bukan-bukan. Apa lagi elo, Bel. Gw cuma gak mau nama lo jelek."
Bella mengangguk patuh. "Gw bakal inget nasihat kalian."
Lisa, Mona dan Desi pun tersenyum lega. Lalu mereka pun lanjut bergosip yang awalnya seputaran Elkan kini semakin ngalor ngidul. Namanya juga perempuan kalau sudah berkumpul ya gak akan jauh dari gibah.
Menjelang isya, ketiga sahabat Lisa itu pun berpamitan pulang setelah makan malam tentunya. Dan Lisa pun mengantarnya sampai pintu gerbang.
"Dadah, Sa. See you." Ucap ketiganya kompak. Lalu mobil milik Desi itu pun melaju meninggalkan komplek perumahan mewah itu.
Lisa tersenyum, lalu ia pun menutup pintu gerbang. Setelah itu ia pun bergegas masuk.
"Hah, sendiri lagi deh. Ray juga gak pulang lagi." Keluhnya. Ya, tadi Mama Dinar sempat memberi kabar jika Rayden tidak pulang malam ini karena anak itu sudah tidur dari tadi.
Lisa pun beranjak menuju kamar dan menonton lebih dulu sambil menunggu azan Isya. Namun, tanpa sadar Lisa pun malah tertidur. Tidak lama dari itu Erkan pun pulang. Lelaki itu memutuskan untuk cepat pulang karena sudah merindukan istri cantiknya di rumah. Dan pulang-pulang ia disuguhkan dengan penampakan indah. Erkan tersenyum geli saat melihat cara tidur Lisa yang seperti anak kecil. Meringkuk sambil memeluk bantal sofa. Rasa lelah pun meluap begitu saja saat melihat itu.
Erkan duduk di lantai, menatap wajah polos istrinya dengan tatapan penuh cinta. "Gimana aku gak kangen kamu, Sa. Kamu selalu buat aku gemas gini."
Erkan mematikan televisi dan langsung memindahkan Lisa ke tempat tidur. Setelah itu ia pun bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
__ADS_1
Tbc...
Duh... aku mendambakan sosok seperti Erkan di dunia nyata... ada gak ya kira-kira? Tapi diri ini tak secantik Alisa... huhu