SIANIDA (Siap Nikah Sama Duda)

SIANIDA (Siap Nikah Sama Duda)
Zia Berulah Lagi


__ADS_3

Karena terlanjur keceplosan, Lisa pun terpaksa jujur pada kedua sahabatnya itu. Dan penjelasan Lisa pun berhasil membuat kedua gadis itu terperangah.


"Sumpah, gw gak pernah kepikiran si Belek jadi simpenan Bang Elkan. Udah gila apa dia?" Sembur Mona.


"Tapi... gw rasa mereka gak salah sih. Posisi Bang Elkan juga udah kosong. Cuma mereka kecepetan aja bertindak. Udah gak tahan kali ya?" Imbuh Desi.


"Dih... itu artinya si Belek yang kegatelan." Cibir Mona.


"Intinya sama-sama gatel. Duh... semoga Bang Elkan bisa tanganin masalahnya. Gimana pun Bella kan udah jadi istrinya sekarang, walaupun masih istri siri. Gak mungkin kan dia biarin Bella masuk penjara." Imbuh Desi panjang lebar.


"Gw juga berharap gitu, semoga Bang Elkan tetap pertahanin Bella. Kalau enggak gw yang bakal jadi garda depan buat Bella. Hah, pusing gw mikirin dua sejoli itu. Si nenek lampir juga ngapain sibuk urisin mereka. Apa gak ikhlas kali ya Bang Elkan cerein?" Balas Lisa.


"Mungkin aja, lagian mereka kan belum resmi cerai, Sa. Bang Elkan juga bukannya urus istri dulu ini malah kabur bawa si Belek." Ketus Mona.


Lisa menghela napas berat.


"Sa, lo bisa ketemu kita gak di kafe biasa? Kita bahas masalah ini. Suami lo ada yang jaga gak?" Tanya Desi.


Lisa melirik Erkan sekilas. "Gak ada sih. Gimana kalau ketemunya di kantin rumah sakit aja? Setidaknya kalau ada apa-apa gw gak jauh dari Mas Erkan."


"Boleh sih. Kita otw ke sana ya?"


Lisa mengangguk. Dan setelah itu panggilan pun berakhir. Lisa menghela napas berat. "Ada-ada aja, ini nih yang aku takutin dari kemaren. Pasti nenek sihir berulah. Dia kan pengen banget harta Bang Elkan. Jadi pasti cari-cari kesalahan."


Jam berikutnya Lisa pun beranjak ke kantin setelah meminta izin pada suaminya.


"Sorry gw agak telat. Gw kasih makan suami dulu," ucap Lisa seraya duduk di kursi kosong di mana Mona dan Desi sudah menunggunya.


"Iya gak papa." Sahut Desi.


"Terus apa rencana kita sekarang?" Tanya Lisa mulai serius.


"Gw udah minta tolong si Abang buat stopin beritanya. Sekarang kita tinggal cari tahu di mana posisi Bella dan Bang Elkan. Mereka harus pulang secepatnya dan urus semua masalah ini. Kalau emang Bang Elkan mau cerai, dia harus tuntasin semuanya. Jangan sampe Bella di gantung." Jelas Desi.


"Hm, gw setuju." Sahut Mona.


"Sa, lo bisa hubungin Bang Elkan gak?"


"Ck, masalahnya gw gak punya nomor Bang Elkan. Suami gw juga lagi sakit, gak mungkin gw kasih tahu dia soal ini. Mas Erkan lagi butuh istirahat penuh. Gw gak mau ambil resiko."


Desi dan Mona terdiam.


"Gw rasa keluarga besar udah tahu soal kasus ini. Mama sama Papa pasti gak tinggal diam. Mereka gak mungkin mau nama baiknya tercoreng. Yang jelas kita harus pantau pergerakan nenek sihir itu." Jelas Lisa.


"Tapi kan gak ada yang tahu di mana dia tinggal sekarang." Ujar Mona.


"Iya, sih." Sahut Lisa. Ketiganya pun terdiam dan hanyut dalam pikiran masing-masing.


Di rumah sakit yang sama, Zia terlihat mendatangi meja resepsionis. Dan yang lebih mengherankannya lagi ia mengenakan pakaian cukup seksi. "Mbak, pasien atas nama Erkan di ruang berapa ya?"


"Sebentar ya, Mbak. Biar saya lihat dulu."


Zia mengangguk.


"Atas nama Tuan Erkan ada di lantai empat ruang Cendana, Mbak."


"Oh, terima kasih ya, Mbak."


"Sama-sama."


Zia pun langsung beranjak menuju ruangan yang disebut tadi. "Hah, aku harap kamu senang aku datang. Kangen banget sama kamu, Er. Masak iya kamu gak tertarik sama penampilan aku kayak gini?"


Di ruang VIP, Erkan baru saja keluar dari kamar mandi sambil memegang infus. Namun, ia terkejut saat melihat Zia sudah duduk manis di sisi brankar. Yang membuat Erkan kaget lagi penampilan wanita itu sudah seprti wanita murahan.

__ADS_1


Ngapain dia di sini, mau cari gara-gara lagi apa? Ck, mana Lisa gak ada lagi. Mudah-mudahan dia cepet balik. Badan masih lemes gini mana sanggup ladenin dia.


Zia tersenyum bahagia karena Lisa kebetulan tidak ada di sana.


"Zia? Ngapain kamu di sini?" Sinis Erkan. "Masih punya muka kamu datang ke sini ya?"


Zia bangun sambil tersenyum manis. "Sayang, aku cuma mau jenguk kamu kok. Sekalian ngobatin rasa rindu."


Erkan mendengus sebal. "Pergi, aku gak mau Lisa salah paham."


Zia tertawa renyah. "Dia itu istri gak ada guna, Er. Kamu lagi sakit dia malah ninggalin kamu. Mungkin aja dia ketemu gebetannya di luar. Mending sama aku aja, aku pasti kasih pelayanan yang bagus."


Erkan tertawa hambar. "Sayangnya Lisa bukan kamu. Lagian aku gak butuh pelayanan orang lain. Lisa udan muasin banget, bahkan lebih dari muasin. Dia itu sempurna." Ia berjalan menuju brankar dan mengaitkan botol infus ke tempatnya.


Zia merubah raut wajahnya menjadi masam. "Aku kangen kamu, Er. Kamu harus tahu, aku nikah sama Elkan juga supaya bisa liat kamu terus. Supaya aku bisa bebas ngomong sama kamu. Tapi kamu selalu menghindar. Aku masih cinta sama kamu, Er. Dari dulu sampe sekarang, tapi kamu malah milih orang lain."


Erkan kembali berbaring dan mengabaikan ucapan wanita itu.


Zia tidak mau mundur dengan mudah, ia duduk di sisi brankar dan memijat kaki Erkan. Sontak Erkan kaget dan langsung menarik kakinya. "Apa-apaan kamu, Zia?"


Zia tersenyum. "Cuma mau pijit kamu aja. Dulu kan kamu juga senang aku pijit."


Erkan benar-benar tidak habis pikir dengan wanita itu. "Bisa-bisanya kamu masih ingat, bahkan aku aja gak pernah ingat kapan kamu pernah mijit. Gak usah ngada-ngada."


Zia masih mengembangkan senyuman dan menggeser duduknya lebih dekat dengan Erkan. "Yah... walaupun kita pacaran cuma dua bulan. Tapi kenangan kita masih aku ingat sampe sekarang. Kamu ingat gak pas kita nonton bioskop dulu? Di sana kamu cium aku sampe aku lupa diri. Kita juga sampe raba-rabaan. Yang belum kita tidur aja pas itu."


Erkan sama sekali tidak peduli, karena ia memang lupa soal semua itu. Bahkan pacaran saja hanya main-main saat itu. Yang ia tahu hanya kesenangan.


"Barang-barang yang kamu kasih aja masih aku simpen tahu gak? Aku itu tulus cinta sama kamu, Er. Kamunya aja yang gak pernah anggap kamu."


"Sayangnya aku enggak. Sejak awal aku cuma main-main aja sama kamu. Pacar aku saat itu juga bukan satu."


Zia mengeratkan rahangnya.


Ceklek!


"Kamu!" Kaget Lisa melangkah lebar mendekati mereka. Mona dan Desi yang berniat menjenguk Erkan pun ikut masuk dan tak kalah kaget melihat orang yang baru aja mereka bahas tadi ada di sana. Dan apa tadi, dia nyium Erkan?


Lisa menarik Zia agar menjauh dari Erkan. "Kamu udah gila ya? Main nyosor-nyosor suami orang aja."


Zia tersenyum. "Ya, aku tergila-gila sama suami kamu. Bibirnya masih manis banget."


Lisa melotot dan langsung menoleh ke arah Erkan. Namun, ia terkejut saat melihat tangan Erkan mengeluarkan darah karena jarum infusnya terlepas saat mendorong Zia tadi. "Ya Allah, Mas."


Cepat-cepat Lisa menekan tombol darurat.


Mona dan Desi saling memandang, lalu keduanya mengangguk bersamaan. Tanpa ragu mereka menyeret Zia keluar.


"Sialan! Lepasin, kalian gila? Saya bisa laporin kalian."


"Lapor aja, kita liat siapa yang bakal di tangkap." Desi tersenyum licik dan langsung menyeret Zia menjauh dari ruang inap Erkan.


Lisa duduk di sebelah Erkan dengan rasa cemas. "Sakit ya, Mas? Duh... darahnya keluar terus. Dokter juga lama banget."


Erkan tersenyum tipis. "Gak terlalu sakit.


Jangan khawatir ya?"


"Gimana Lisa gak khawatir, Mas? Darahnya ngucur gini."


Tidak lama suster pun datang. "Ada apa, Buk?"


"Sus, tolong ini tangan suami saya berdarah terus. Infusnya lepas."

__ADS_1


Suster itu pun tampak kaget. "Loh, kok bisa lepas gini, Pak? Tunggu sebentar, saya ambil alatnya dulu."


Lisa pun mengangguk. Suster itu pun bergegas keluar. Tidak lama ia sudah kembali dengan nampan di tangannya dan langsung menangani Erkan. "Kok bisa lepas? Habis dari kamar mandi ya?"


"Gak sengaja ketarik tadi." Sahut Erkan sekenanya.


Suster itu pun mengangguk seraya menutup luka di tangan Erkan. Lalu membersihkan darahnya. "Lain kali lebih hati-hati ya, Pak? Ini saya ganti yang baru." Dengan cekatan suster itu memasang kembali jarum infus di tangan Erkan yang satunya.


Lisa menatap Erkan lekat. Erkan yang merasa di perhatikan pun membalas tatapan istrinya itu. "Mas gak papa, sayang."


"Sudah, Pak. Kalau gitu saya pamit dulu ya?"


"Eh, iya Sus. Makasih banyak." Ucap Lisa.


"Sama-sama." Suster itu pun bergegas keluar. Meninggalkan Erkan dan Lisa yang masih terdiam.


Erkan menarik tangan Lisa, lalu digenggamnya erat. "Kamu marah?"


Lisa menatap Erkan, lalu tersenyum. "Kenapa Lisa harus marah?"


"Soal Zia tadi, Mas gak tahu dia bakal nyium Mas kayak tadi. Makanya Mas refleks dorong dia sampe jarum infusnya lepas."


Lisa mengusap pipi Erkan, lalu kecupnya dengan lembut. "Lisa percaya, Mas. Maaf ya Lisa kelamaan keluarnya."


Erkan mengangguk. "Makasih kamu selalu percaya sama Mas, Sa. Beruntung Mas punya istri kayak kamu."


Lisa menaikkan kakinya ke atas brankar dan langsung memeluk Erkan. "Lisa tahu dia itu cuma masa lalu kamu, Mas. Kan sekarang Lisa masa depan kamu. Lagian Lisa tahu siapa Teh Zia. Jadi Mas gak usah jelasin apa pun."


Erkan mengecup kening Lisa.


"Lisa tahu nenek sihir itu gila, Mas. Untung Lisa cepet datangnya kan?"


"Mas gak nyangka dia kayak gitu. Kayaknya dia emang udah gila."


"Heem." Lisa mendongak. Diusapnya bibir Erkan dengan lembut. "Ck, udah kena noda bibir kamu, Mas. Sini biar Lisa bersihin dulu."


Erkan sedikit menunduk dan membiarkan istrinya memberikan ******* manis. Dan itu berlangsung cukup lama. Setelah dirasa pasokan oksigen menipis, mereka pun mengakhirinya.


"Bibir kamu dingin banget, Sa. Tapi manis, kayak lagi makan es krim strawberi. Bikin enak aja."


Lisa memukul dada Erkan pelan. "Dasar."


"Udah habis belum haidnya?"


Lisa mengeleng. "Paling lusa."


"Ck, lama banget."


Lisa terkekeh lucu. "Sabar atuh, Mas. Lagian Mas juga lagi sakit. Nanti kalau udah sehat baru Lisa kasih. Lisa gak mau ambil resiko."


"Ck, padahal Mas udah sehat loh."


"Sehat apanya? Liat tuh mukanya masih pucet gitu, Mas." Lisa menoel hidung mancung erkan.


Erkan tersenyum dan memeluk Lisa dengan erat. "Mas kangen banget sama kamu. Dua hari kerjaan Mas cuma tidur aja. Jadi gak bisa liat kamu puas-puas. Biasanya tiap malem Mas liatin wajah kamu pas lagi tidur."


Lisa terkejut mendengarnya. "Ih... jadi tiap malam Mas teh liatin Lisa tidur? Duh... pasti Lisa tidurnya ngiler ya? Atau mangap, atau ngorok?"


Erkan tertawa renyah. "Sesekali mungkin, tapi lebih banyak ngelindurnya sih."


"Hah? Seriusan? Lisa teh ngelindur?"


"Iya, tapi gak jelas ngoceh apa. Kadang juga kamu ngomelin Mas. Tapi itu lucu."

__ADS_1


"Ih... malu-maluin atuh, Mas." Pipi Lisa merona karena menahan malu. Meski sudah terbiasa dengan Erkan, tetap saja ia malu jika hal pribadinya terciduk oleh Erkan.


Tbc....


__ADS_2