
"Sayang." Erkan menghampiri istrinya yang kini sedang berganti pakaian. Dipeluknya Lisa dari belakang. "Jangan marah, dong."
Lisa tidak menyahut, tetapi memberikan tatapan tajam pada sang suami lewat cermin di depan.
"Kamu gemesin tahu kalau lagi marah. Tuh liat, bibir manyun kamu kayak minta dicium."
"Gak usah goda-godain Lisa, gak mempan." Ketus Lisa menyikut perut suaminya. Kemudian beranjak keluar dari ruang ganti.
Erkan berdecak kesal karena kali ini tidak berhasil menggoda istrinya. "Hah, bakal susah kalau udah gini."
Tidak ingin membuat istrinya semakin marah, Erkan beranjak keluar.
"Sayang." Erkan menghampiri Lisa yang sedang membersihkan wajahnya. Disentuhnya pundak sang istri dengan lembut. "Mas gak bohong loh, kamu itu cantik."
"Udah tahu," ketus Lisa.
Erkan tersenyum. "Kamu gemesin kalau lagi cemburu. Tapi jangan cemburu berlebihan gini dong, sayang. Kamu kan tahu hubungan Mas sama Zia gak sebaik itu."
Mendengar itu mata Lisa mendelik. Kemudian bangkit dan berbalik. "Ihhh... Mas teh nuduh Lisa cemburu berlebihan? Wajar atuh Lisa teh cemburu. Mas aja cemburu buta pas Lisa deket sama cowok lain. Lisa mah gak ada hubungan apa-apa sama dia. Lah kamu, Mas. Kamu sama teh Zia teh pernah menjalin cinta. Terus sekarang teh kamu malah belain dia setelah apa yang udah dia perbuat. Istri mana yang gak cemburu? Hih, meni pikasebelen pisan."
Erkan mengerutkan dahi. "Kok kamu jadi meledak gini sih? Mas sama sekali gak ada niat buat belain Zia, Sayang. Mas cuma bilang itu salah. Gak seharusnya Zia diperlakukan kayak hewan. Itu yang mau Mas sampein. Kok kamu jadi salah tanggep gini sih? Kan kamu yang bilang kalau kamu mau percaya sama Mas sepenuhnya. Kalau Mas cemburu sama kamu mah wajar."
"Oh, jadi kalau Lisa cemburu teh gak wajar kitu? Jadi Mas teh gak seneng Lisa cemburu? Ya udah, mulai sekarang Lisa gak akan cemburu. Mas senang kan?" Mata Lisa pun mulai berkaca-kaca.
Erkan mengusap wajahnya dengan kasar. "Kamu itu kenapa sih jadi aneh kayak gini? Mas gak permasalahin kamu cemburu, tapi jangan sampe kecemburuan gak wajar kamu ini jadi bahan ribut, Sa."
"Kok Mas malah salahin Lisa sih? Kan Mas yang belain Teh Zia mati-matian. Atau jangan-jangan Mas emang masih punya perasaan sama dia kan?" Tuding Lisa dengan nada tinggi.
"Cukup, Lisa. Kenapa kamu jadi nuduh dan marah-marah gak jelas gini sih? Jangan bikin suasana panas. Mas gak mau ribut sama kamu. Terserah kamu mau mikir apa, yang jelas Mas gak ada niat buat bela siapa-siapa." Kesal Erkan beranjak duduk di sofa. Lalu mengacak rambutnya kasar. Sedangkan Lisa terdiam dengan napas memburu.
Ya Allah, kenapa aku teh jadi sensitif gini sih? Kok aku kesel banget ya pas Mas Erkan belain Teh Zia? Tapi apa salah kalau aku teh cemburu?
Lisa duduk di bibir ranjang sambil termenung. Cukup lama suasana pun menjadi canggung.
Ya Allah, apa yang udah aku lakukan? Aku teh udah bentak-bentak Mas Erkan tadi? Kok aku jadi gini ya?
Dan akhirnya Lisa bangkit. Lalu menghampiri Erkan yang juga sedang termenung di sofa. "Mas." Lisa duduk dipangkuan suaminya. "Lisa minta maaf," lalu memeluknya erat.
Erkan menghela napas berat. "Mas juga minta maaf, sayang. Gak seharusnya Mas kebawa emosi." Sebuah kecupan di pipi ia hadiahi untuk Lisa.
"Lisa teh gak tahu kenapa kesel banget sama kamu, Mas. Tapi Lisa gak ada niat buat ribut." Lisa semakin mengeratkan perlukannya dan mulai terisak.
Erkan mengusap kepala istrinya. "Gak papa, sayang. Mas paham kok. Mas juga minta maaf, gak seharusnya Mas ladenin kamu tadi. Mas udah kayak anak kecil aja ya? Ribut sama anak kecil."
Mendengar itu Lisa langsung menarik diri dari dekapan Erkan. "Mas kok ngatain Lisa anak kecil sih?"
"Kamu suka ngambek, kayak bocah. Tuh liat, ingusan lagi." Seloroh Erkan seraya menghapus jejak air mata istrinya.
"Ck, lagi serius juga. Tapi... Lisa dimaafin kan?"
Erkan tersenyum. "Mas gak marah sama kamu. Udah, lupain yang tadi. Sebenarnya malam ini Mas mau ngajak kamu dinner, abis itu kita nonton bioskop. Selagi Ray masih di rumah Mama."
Seketika wajah Lisa berbibar. "Aaa... mau Mas."
Lagi-lagi Erkan tersenyum seraya mengusap sudut mata Lisa yang masih berair. "Tapi... kita main sebentar ya? Kan nanti malam mau ngedate. Jadi gak mungkin pulangnya bisa olahraga."
Lisa mengangguk karena ia juga menginginkan Erkan saat ini. Tentu saja hal itu membuat Erkan kesenengan. "Gini aja mainnya, kamu kan suka kalau posisi ini."
"Mas." Lisa merona karena malu. Dan itu membuat Erkan tergelak.
"Gemesin banget sih, istri siapa cobak?"
__ADS_1
"Gak tahu." Jawab Lisa sebal. Dan lagi-lagi Erkan tertawa renyah.
"Udah jangan ketawa terus. Nanti keburu magrib, Mas."
"Ck, gak sabaran banget. Kenapa gak ngomong dari dari kalau pengen. Mana pake marah-marah lagi."
"Malu atuh, Mas." Lisa menunduk malu.
"Ya Allah, sama suami aja masih malu. Kayak baru pertama aja."
"Ih... udah jangan digodain terus Lisanya. Malu, Mas."
Erkan tersenyum geli. "Gemesin tahu gak."
Lisa yang juga merasa gemas sendiri karena Erkan terlalu banyak bicara pun langsung menyambar bibir suaminya. Spontan mata Erkan terbelalak karena kaget. Namun, detik berikutnya Erkan justru mengikuti permainan istrinya.
"Ahhh...." Lisa mengeluarkan d*s*h*n saat ciuman mereka berakhir. Napas keduanya memburu dan berlomba menghirup udara.
"Kamu gak pake bra ya? Nakal ih? Udah niat mau godain Mas ya?"
"Biar gak kelamaan, Mas." Lisa mengecup bibir Erkan yang membengkak. "Bibir kamu seksi, Mas. Lisa suka."
"Kan kamu yang buat dia seksi." Erkan kembali mendaratkan bibirnya di bibir sang istri. Hingga keduanya pun kembali terlibat dalam ciuman panas.
"Uhhh...." Lisa mengerang saat Erkan memijat dua gundukan kenyal miliknya dari luar.
Erkan melepasan pagutannya. "Makin besar, sayang. Apa karena sering dipijat ya?"
"Mungkin." Jawab Lisa meremat bahu suaminya menahan gairah yang tengah membara.
"Mas... gak tahan." Lirih Lisa. Dan tangannya mulai bergerak, membebaskan burung perkasa dari sangkarnya. "Udah tegang banget."
"Hm... pengen cepet-cepet masuk sangkar." Erkan menggeram saat tangan lentik Lisa bermain di bawah sana.
"Lisa masukin ya? Bentar lagi magrib, kita harus mandi."
"Hm."
Lisa sedikit mengangkat tubuhnya dan mulai memasukkan milik suaminya ke dalam miliknya. Keduanya pun mengerang nikmat karena berhasil menyatu.
"Sesak, Mas. Punya kamu kok ngembang banget ya? Bikin melayang." Bisik Lisa kembali menjatuhkan ciumana di bibir suaminya.
"Mungkin udah gak tahan, yang. Gerak dong." Pinta Erkan. Lisa pun menurut dengan patuh, dan mulai bergerak liar di atas suaminya. Suara erangan dan d*s*h*n pun mulai memenuhi seisi kamar. Dan mereka pun berhenti sebelum azan berkumandang.
****
Lisa terus mengembangkan senyuman saat mereka berada di sebuah restoran. Bagaimana tidak. Erkan sangat romatis dengan memesan meja dinner yang mewah, juga dilengkapi musik romatis.
"Suka?" Tanya Erkan. Lisa pun mengangguk.
"Kamu romantis banget, Mas. Ini teh udah kayak dinner di tv. Sukses kamu bikin Lisa terpana."
Erkan tersenyum. "Apa sih yang enggak buat kamu. Ya udah, ayo di makan sebelum makanannya dingin."
"Mas, pengen disuapin." Rengek Lisa. Sontak Erkan pun tertawa kecil.
"Manja banget istri Mas." Erkan menoel hidung mancung Lisa. Lalu keduanya pun saling suap-suapan. Alunan musik romantis membuat suasana semakin menghangat.
Setelah dinner romantis. Erkan memboyong istrinya ke bioskop. Dan film yang diambil pun tentu saja film romantis.
"Mas, kok dibelakang banget sih?"
__ADS_1
Erkan tersenyum penuh arti, kemudian berbisik. "Biar bisa langsung praktek. Tuh liat."
Lisa menoleh, spontan matanya membulat saat melihat sepasang remaja sedang berciumana panas. "Astagfirullah, Mas. Kok mereka gituan sih? Kayaknya mereka juga masih anak-anak."
"Udah biasa kalau di bioskop, Sayang."
"Ih... kamu pasti dulu pas muda sering juga ya?"
Erkan tersenyum kikuk. "Sesekali sih. Gak ngapa-ngapain kok, paling raba-raba aja."
"Ihh... sama aja, Mas. Udah gak usah di bahas lagi. Ngeselin ih. Pasti kamu juga sering ke sini sama Teh Zia kan?"
"Enggak sih, lebih tepatnya lupa. Udah lama soalnya. Hampir semua pacar ya Mas bawa ke sini."
Lisa menyebik dengan tangan terlipat di dada. "Gak usah bahas mantan, bikin panas aja."
Erkan tersenyum. Dan...
Cup!
Sebuah kecupan mesra mendarat di pipi Lisa. Spontan Lisa pun menoleh, dan wajah mereka hanya terhitung senti saat ini.
"Filmnya belum mulai, gimana kalau kita pemanasan dulu?"
Lisa melotot. "Gak mau, malu diliat orang."
Erkan tersenyum. "Emang siapa yang mau liat? Orang kita jauh dari mereka. Mereka juga sibuk sendiri."
"Ck, Mas sih ambil di belakang. Cobak ambil bangku paling depan, pasti seru."
"Di depan gak seru, gak bisa raba-raba."
"Mas!"
"Sa, mungkin kamu gak tahu. Orang pacaran datang ke sini emang ngejarnya itu. Bahkan kalau berani ada yang lebih dari raba-raba."
"Eh? Seriusan, Mas? Lisa teh gak tahu, dulu sering ke bioskop tapi sama kejora. Itu pun duduk di depan dan nontonnya film horor."
Erkan tersenyum lagi. "Kamu gak bakal tahu karena gak pernah pacaran. Berhubung kita udah sah, apa salahnya kita cobak ya kan?"
Lisa mencubit lengan Erkan. "Awh... sakit, Yang. Tapi enak."
"Mas." Geram Lisa. Erkan pun tertawa kecil. "Maaf, filmnya udah mau dimulai." Erkan memberikan kotak popcorn pada sang istri. Lampu pun mulai padam karena film layar lebar akan segera tayang.
Selama film berlangsung, Lisa terlihat serius. Namun, napasnya tertahan saat pemeran mulai melakukan beberapa adegan dewasa. Erkan melirik istrinya yang sudah berhenti mengunyah, lalu tersenyum penuh arti.
"Mau praktek?" Tawarnya. Lisa pun menoleh. "Mas, lagi serius juga."
Lisa pun kembali fokus ke layar lebar.
Ih... kok adegannya makin panas sih? Aku kira cuma film romantis biasa. Ini mah dari tadi banyak banget adegan dewasanya. Pasti Mas Erkan teh sengaja milih film ini. Pantes penontonnya gak banyak. Duh... kok aku jadi pengen ya? Lisa melirik Erkan yang terlihat serius nonton. "Mas."
"Hm." Erkan menoleh dengan mulut terus menguyam.
Lisa menggigit ujung bibirnya. "Pulang yuk."
"Loh, filmnya belum habis, sayang."
"Pulang." Rengek Lisa.
"Ya udah, ayo. Padahal lagi seru loh."
__ADS_1
"Pengen pulang," lirih Lisa.
"Iya, sayang. Kita pulang sekarang." Erkan pun pura-pura sedih. Padahal alam hati Erkan bersorak kegirangan. Karena ini tujuan sesunggunya. Sebagai seorang suami tentu saja ia tidak mau rugi.