SIANIDA (Siap Nikah Sama Duda)

SIANIDA (Siap Nikah Sama Duda)
Kencan (1)


__ADS_3

Pagi hari, Erkan sudah terlihat rapi dan wangi. Lelaki itu bersandar di mobil, menunggu Lisa keluar dari rumahnya. Sesekali Erkan melihat jam ditangannya, dan ternyata Lisa terlambat tiga puluh menit dari jam perjanjian.


"Apa dia lupa?" Gumam Erkan mulai kesal menunggu dan hendak menyusul gadis itu. Namun, niatnya itu harus tertahan karena sang gadis sudah keluar dari rumahnya. Erkan terkesiap melihat penampilan calon istrinya saat ini.


Lisa terlihat begitu cantik dengan balutan dress berwarna toska dengan rambut dikucir kuda. Wajah cantiknya sedikit mengenakan polesan yang tidak terlalu mencolok. Membuat gadis itu terlihat lebih dewasa.


"Duh... maaf telat. Tadi si Mamah buatin bolu buat Tante di sana." Ucap Lisa merasa tak enak pada calon suaminya yang sudah menunggu.


"Sempat kesel sih, tapi gak papa. Ayok masuk." Erkan membukakan pintu untuk Lisa. Tanpa menunggu Lisa pun masuk.


Erkan menutup pintu, kemudian mengitari mobil dan dirinya ikut masuk.


"Bawa apa aja, kenapa banyak sekali?" Tanya Erkan saat Lisa menaruh barang bawaan ke jok belakang.


"Gak tahu Mamah, tadi di suruh nunggu makanya lama." Jawab Lisa apa adanya. Erkan pun mengangguk dan langsung melajukan mobilnya.


"Oh iya, Rayden ikut kita kan?"


"Enggak, kita cuma berdua. Kita langsung ke butiknya." Jawab Erkan melirik Lisa sekilas.


Lagian kalau bawa bocil bukan kencan namanya. Erkan tersenyum tipis.


"Yah, padahal saya udah kangen banget sama Ray. Pengen peluk."


Ck, tinggal peluk Papanya aja kok susah sih?


"Sabar, kalau semuanya udah beres kamu bakal ketemu Rayden kok."


"Iyah, jadi gak sabar mau meluk si kasep. Kangen, padahal mah baru sehari gak ketemu."


Erkan tersenyum. "Sayang banget kayaknya sama Rayden."


"Banget malah, saya udah jatuh cinta sama Rayden dari pertama ketemu. Habis ganteng banget, gemesin lagi." Oceh Mey sambil ngebayangin wajah imut Rayden.


Erkan melirik Lisa sekilas. "Jatuh cinta?" Entah kenapa ia tidak rela jika Lisa malah jatuh cinta pada Rayden ketimbang dirinya.


"Iya, makanya saya rela jadi Mamanya."


Erkan terdiam. Dan itu membuat Lisa merasa heran. Lisa menoleh, menatap Erkan lamat-lamat.


"Kenapa Bapak jadi diem gitu? Apa saya salah ngomong?"


"Enggak."


Lisa pun sedikit memiringkan tubuhnya. "Ih... Bapak ngambek? Kenapa wajahnya ditekuk gitu?"


"Siapa yang ngambek? Saya gak ngambek, biasa aja." Ketus Erkan.


Lisa tersenyum geli. "Jadi Bapak teh cemburu ya sama Rayden? Ih si Bapak mah meni lucu. Masak cemburu sama anak sendiri?"


Erkan mendengus sebal. "Dih, siapa juga yang cemburu?"


Lisa terkekeh lucu. "Tuh keliatan di wajahnya, murung gitu. Lucu banget sih?"


Lisa mencubit Pipi Erkan sangking gemasnya. Dan tanpa Lisa duga Erkan langsung menggigit jarinya. Refleks Lisa pun menarik tangannya.


"Sakit atuh, Bapak. Udah kayak drakula aja main gigit-gigit." Protes Lisa melihat jarinya yang memerah. "Tuh lihat, ada bekas giginya. Ih... Bapak mah jorok."

__ADS_1


Erkan tertawa kecil. "Siapa suruh tangan kami jahil?"


Bibir Lisa menyebik. "Kan gemes, Pak. Dari dulu saya pengen cubit."


Erkan menoleh. "Cubit doang? Gak mau ulang yang tadi malam?"


Seketika pipi Lisa pun merona. Karena malu ia pun kembali membenarkan posisi duduknya dan tidak berniat menjawab pertanyaan Erkan, karena sangat malu jika ingat kejadian malam tadi.


"Kalau mau bilang aja, jangan sungkan. Pipi kamu merona, itu tandanya mau."


"Ih, mana ada kayak gitu?" Kaget Lisa. "Kita belum halal, jadi jangan cium-cium."


"Jadi kalau udah halal boleh dong saya cium terus?"


Lagi-lagi wajah Lisa terasa sangat panas. "Udah ah, kenapa jadi bahas ke situ sih?"


Erkan tersenyum. "Oh iya, nanti kita sekalian ke toko perhiasan buat nyari cincin nikah. Kamu pilih sendiri sesuka hati."


"Wah, beneran?"


"Iya."


"Jangan marah kalau saya pilih yang mahal ya?"


"Gak jadi masalah, selagi saya masih sanggup bayar."


Lisa tertawa renyah. "Saya bercanda kok. Gak perlu yang mahal saya juga udah seneng."


Erkan tersenyum lagi. Dan keduanya pun mendadak bungkam karena canggung. Bahkan Lisa pun mulai bosan dan tertidur. Sedangkan Erkan terua fokus mengemudi.


Lisa pun bangun dan sedikit menggeliat. "Ah? Udah sampe ya?"


"Iya."


"Maaf, tadi malam saya gak bisa tidur soalnya."


Kok sama sih? Batin Erkan.


"Kenapa gak bisa tidur?" Tanya Erkan penasaran.


"Mikirin Bapak, habis Bapak main nyosor aja tadi malam. Kan jadi malu sayanya." Jawab Lisa tanpa beban. Kemudian gadis itu pun langsung turun. Meninggalkan Erkan yang senyum-senyum sendiri. Tidak habis pikir dengan kejujuran dan kepolosan calon istrinya.


Erkan pun keluar dan nyusul Lisa yang sudah berdiri di depan butik.


"Jadi ini butiknya? Saya mah tahu kalau ini, pernah nemenin Neng Bella ke sini. Bagus-bagus gaun pengantinnya." Celetuk Lisa.


"Hm, kalau gitu kita masuk aja sekarang." Ajak Erkan meraih pinggang Lisa. Sontak tubuh gadis itu menegang.


"Ada apa?" Tanya Erkan saat Lisa masih berdiam diri.


Dengan cepat Lisa menggeleng. Kemudian keduanya pun bergegas masuk ke butik mewah itu.


"Selamat datang, atas nama Pak Erkan ya?" Sapa seorang pegawai di sana.


"Ya." Jawab Erkan singkat.


"Mari ikut saya, Pak."

__ADS_1


Erkan dan Lisa pun mengikuti langkah wanita itu. Membawa mereka ke sebuah ruangan yang dipenuhi berbagai model wedding dress. Dan di sana sudah ada seorang wanita dengan berpenampilan modis.


"Wah, ini pasangan yang mau nikah bulan depan ya?" Tanyanya dengan ramah.


"Iya, Kak." Jawab Lisa malu-malu.


"Duh... cantik banget calon istrinya. Badannya juga bagus, saya paling suka nih kalau modelnya kayak gini. Yuk ikut saya dulu. Saya pinjam dulu calonnya ya, Mas?"


Lisa menatap Erkan. Kemudian lelaki itu pun mengangguk.


"Ayok." Wanita modis itu pun membawa Lisa ke ruangannya. Sedangkan Erkan memilih duduk di sofa sambil menunggu Lisa keluar.


"Siapa namanya?"


"Lisa, Kak."


"Hm, panggil aja saya Clara." Wanita bernama Clara itu memilih sebuah kebaya modern yang terpajang di lemari sepsial. "Vio itu pelanggan setia saya. Jadi agak kaget juga pas dipercaya buat ngurus wedding dress Abangnya."


Lisa pun cuma bisa tersenyum.


"Ini di cobak dulu. Kebaya yang ada di sini baru-baru semua dan limited edition. Saya rasa kamu cocok pake yang ini kalau buat akad."


Lisa menatap kebaya indah itu dengan tatapan berbinar. "Bagus banget, Kak. Jadi segan pakenya."


"Loh, kenapa harus segan? Dijamin bagus di badan kamu, seksi banget soalnya. Ayok cepetan di cobak." Clara pun mendorong Lisa ke ruang ganti. Kemudian memberikan kebaya itu padanya. "Jangan buru-buru, santai aja, Lis."


"Iya, Kak."


Lima menit kemudian, Lisa pun keluar dari ruang ganti. Seketika mata Clara pun membulat sangking takjubnya. "Omg! Cantik banget. Bajunya juga pas banget di badan kamu."


"Seriusan, Kak? Kok saya teh jadi deg degan ya?" Gugup Lisa.


"Iya, cantik pake banget. Kalau gak percaya cobak tanya sendiri sama calon suami. Dijamin dia terpana."


"Duh... kok jadi gugup ya?"


Clara tertawa renyah. "Belum juga akad, Lis. Ya udah hayuk saya antar keluar."


Lisa pun menarik napas panjang, kemudian memberanikan diri keluar. Jantungnya semakin berdegup kencang saat melihat Erkan.


Mulut Erkan sedikit terbuka saat melihat penampilan calon istrinya saat ini.


"Gimana, Mas?" Tanya Clara tertawa kecil saat melihat ekspresi Erkan. Sedangkan Lisa justru menunduk malu.


"Cantik." Jawab Erkan jujur. Refleks Lisa pun mengangkat wajahnya.


"Beneran cantik?" Tanya Lisa gugup. Erkan pun mengangguk sambil mengacungkan jempol.


"Ini kebaya terbaru di butik ini, beruntung banget kalian cepet pesannya." Ujar Clara. "Masnya mau langsung nyoba beskapnya?"


"Boleh." Jawab Erkan masih setiap memandangi Lisa.


Clara yang sadar akan hal itu pun tersenyum dan bergegas mengambil beskap untuk Erkan. "Ini dicobak dulu."


Erkan menerimanya. "Ikut saya."


"Eh?" Lisa terlihat kebingungan.

__ADS_1


__ADS_2