SIANIDA (Siap Nikah Sama Duda)

SIANIDA (Siap Nikah Sama Duda)
Emak-emak Rumpi


__ADS_3

"Oh iya, kok gw gak pernah denger kabar Mbak Chelyn lagi ya? Dia juga keluar kan dari grup?" Tanya Desi memulai obrolan lagi.


Mona menghela napas berat. "Mbak Chelyn pergi ke luar negeri sehabis cerai sama Abang gw. Katanya mau nyusul Kakaknya di sana. Kayaknya terpukul banget, gw sebagai keluarga besar Bang Fildan merasa berdosa banget. Padahal gw sama Mbak Chelyn udah kayak pranko. Mana gw lagi yang jodohin mereka." Mona menjeda kalimatnya.


"Tapi apalah daya, Abang gw lebih milih selingkuhannya. Brengsek banget. Padahal gak ada sejarahnya dalam keluarga gw yang selingkuh. Cuma dia doang yang mencoreng nama baik. Gak tahu deh kemana lelaki brengsek itu pergi? Mami sama Papi gak mau lagi cari tahu soal dia. Kalau Mbak Chelyn, dia gak pernah hubungin gw lagi. Gw harap dia udah bahagia di sana." Jelasnya panjang lebar.


Lisa menatap ketiga sahabatnya bergantian. "Guys... sebenarnya sampe sekarang gw masih berhubungan sama Mbak Chelyn."


"Apa?" Pekik ketiganya kompak.


Lisa menarik napas panjang. "Sampe sekarang dia belum bisa move on dari Abang lo, Mon. Dan harus kalian tahu, selama ini ada rahasia besar yang gw dan Mbak Chelyn sembunyiin."


"Rahasia apaan nih?" Tanya Mona mulai serius.


"Sebenarnya gw udah janji sama Mbak Chelyn buat tetap sembunyiin rahasia ini. Tapi... setelah gw pikirin. Lo harus tahu soal ini, Mon."


"Ck, buruan omongin. Gak usah bikin kita penasaran napa?" Kesal Desi.


"Sebenarnya Mbak Chelyn hamil pas dia pergi ke luar negeri."


"Apa?" Pekik ketiganya kompak. Terutama Mona, ia sangat shock.


Lisa mengangguk. "Anaknya cowok, sekarang udah gede." Lisa mengeluarkan ponselnya. Lalu menunjukkan foto anak kecil berusia tiga tahunan pada mereka.


"Sumpah, mirip banget sama Abang lo, Mon." Seru Bella.


"Kenapa Mbak Chelyn tega nyembunyiin anak itu dari keluarga gw, Sa? Mau gimana pun dia itu darah daging keluarga Andara." Terlihat jelas kekecewaan dimata Mona.


"Mbak Chelyn punya alasan sendiri, Mon. Gw rasa cuma lo dan keluarga elo yang tahu alasan itu." Sahut Lisa. Bella dan Desi cuma bisa saling pandang memandang karena tidak paham.


Mona mengangguk. "Mungkin itu pilihan dia, syukurlah kalau dia punya obat luka hatinya. Gw gak bisa salahin dia, yang salah di sini Abang gw. Terus sekarang dia udah nikah lagi?"


Lisa menggeleng. "Dia single parent. Kerja banting tulang buat hidupin Austin. Gw gak tahu pasti kehidupan dia di sana gimana? Tapi yang gw lihat, dia lebih ceria sejak Austin lahir. Bahkan setiap kita video call, Mbak Chelyn selalu cerita panjang lebar soal Austin. Itu yang buat gw tenang."


"Sa, boleh gw minta nomornya gak? Gw kangen banget, janji gak bakal bahas masa lalu sama dia." Pinta Mona penuh harap.


"Tar gw tanya dulu ya? Gw gak mungkin ngasih gitu aja."


Mona mengangguk. "Gw selalu berdoa dia bahagia di sana."


"Pasti." Sahut Lisa, Desi dan Bella kompak. Mereka terdiam untuk beberapa saat.


"Btw... gw juga punya kabar buat kalian. Tapi kali ini kabar buruk." Ujar Bella.


"Apaan tuh?" Tanya Lisa penasaran.


Bella menatap ketiganya bergantian. "Mbak Zia meninggal tadi malam."


"Hah?" Kaget yang lainnya kompak.


"Innalillahi, sakit atau gimana? Dia gak pernah ada kabar kan sejak cerai sama Bang Elkan?" Desi menatap Bella penasaran.


Bella mengangguk. "Dia sakit HIV katanya. Gw gak tahu pasti selama ini dia ngapain aja. Tadi malam suami gw cuma dapat kabar dari temennya kalau Mbak Zia meninggal di kontrakannya. Badannya kurus banget, kayak congcorang. Temen Mas Elkan bilang dia emang sakit-sakitan gitu. Gw denger-denger dia kerja di klub malam sih, gak tahu bener atau enggak?"


"Duh... udah ah gak usah bahas orang yang udah meninggal. Jadi takut gw. Gak baik juga kan ngomongin keburukannya. Kita maafin aja semua kesalahannya. Lagian kita juga punya salah kan sama dia? Hah, merinding gw kalau udah bahas kematian." Kata Lisa.


"Bener sih." Sahut Desi. "Ok, kita bahas masalah lain. Btw... butik gw udah masuk barang baru nih. Gak ada yang mau cek dan ricek sebelum sould out?"


"Aaa... seriusan? Pengen dong. Besok ya?" Histeris Bella. "Sa, pergi bareng yuk?"


"Liat sikon dulu deh. Udah banyak soalnya baju di rumah. Gak kepake semua, hehehe." Lisa cengengesan sendiri.


"Eleh, alasan gak logis itu mah. Paling juga dia besok mau main kuda-kudaan sama big bos. Iya kan? Ketebak lo." Ketus Desi.


Lisa terkekeh lucu. "Meet time kali bareng keluarga, besok itu hari penting bagi gw. Kalau hari biasa Mas Erkan sibuk banget soalnya."


"Ya elah, sesekali kek jalan bareng kita. Jangan di rumah aja. Lo ikut kan, Mon?" Desi menatap sang Kakak ipar.

__ADS_1


Mona tersenyum kikuk. "Gw juga gak bisa, mau quality time bareng suami. Kalian tahu lah gw kangen banget sama dia. Udah lama gak main, hehe."


Desi dan Bella berdecak sebal. "Gak asik elo-elo pada, masak kita berdua aja?" Kesal Bella.


"Kan ada Keano, Ciko sama Ciki. Jadi rame." Sahut Lisa yang disambut tawa oleh yang lain.


"Hih... beda atuh Neng. Ya udah lah, gak jadi gw ke butik Lo, Des. Lain kali aja. Gw juga mau quality time bareng keluarga."


"Dih... php lo." Ketus Desi.


Lisa tersenyum, lalu pandangannya pun tertuju pada Rayden yang masih belum berhenti makan. "Loh, gak kenyang-kenyang, sayang?"


Rayden menoleh. "Belum, Mama. Abis makanannya enak."


"Huuu... bilang aja doyan. Dasar gembul." Ledek Bella mengusap kepala Rayden.


"Enak, Aunty. Lidah Ray gak mau berhenti goyang." Sahut Rayden yang berhasil menggelitik hati keempat emak-emak itu.


"Keliatan Mamanya gak pernah ngasih makanan enak ya Ray?" Cibir Mona.


"Lah... gw kan cuma bisa masak yang simpel. Lebih tepatnya gw males kalau buat yang repot. Paling-paling bibik yang kerjain, hehe." Jawab Lisa apa adanya.


"Bener banget, apa lagi kalau lagi datang malesnya. Pengennya itu bobok terus. Untung Mas Nich gw selalu siap sedia." Timpal Desi.


"Ya iyalah, kelewatan kalau suami lo gak mau masak. Orang kerjaannya itu." Tutur Mona.


"Tapi kan, setelah gw pikir-pikir. Persahabatan kita unik loh. Sampe nikah aja kita masih berhubungan erat. Buktinya kita malah ipar-iparan. Lisa sama Bella, lah gw sama elo, Mon. Lucu gak sih? Kayak udah takdir gitu." Kata Desi tertawa lucu.


"Namanya juga jodoh, Neng. Gak ada yang tahu. Tapi yang gw salut itu si Bella, dari pelakor jadi istri kesayangan. Mana bisa matahin prediksi dokter lagi kalau Bang Elkan gak bisa kasih keturunan, tuh buktinya ada Ciki sama Ciko. Gak tahu sih kalau si Belong icip yang lain." Desi mengerlingkan matanya pada Bella.


"Kampret lo! Gak mungkinlah gw main curang. Orang dapatin Mas Elkan aja butuh perjuangan. Lagian butuh waktu juga gw bisa hamil. Tiga tahun, bukan waktu singkat kali. Gak nyangka juga sih gw hamil pas itu, kayak ketiban durian gw. Meski awalnya Mas Elkan juga gak percaya gw hamil anak dia. Tapi semua itu terjawab pas si kembar lahir. Mereka mirip Bapaknya." Bella tertawa sendiri mengingat perjalanan rumah tangganya bersama Elkan yang penuh badai dan rintangan.


Lisa tersenyum lucu. "Kayaknya kita punya masalah rumah tangga yang unik, gw harus nunggu lama buat punya anak dan nerima cemoohan orang. Bella, dia harus rela jadi pelakor buat dapetin suaminya. Lo, Des. Harus berjuang buat dapetin restu orang tua buat nikah sama Nichole...."


"Dan gw harus berjuang mati-matian buat dapetin Mas Daniel. Walaupun pada akhirnya dipersatukan karena emang udah jodoh." Sambung Mona.


"Beruntung persahabatan kita gak pernah runtuh walau sekarang udah jadi emak-emak. Masih gak nyagka aja kita masih bisa ngerumpi meski udah punya keluarga sendiri. Itu yang bikin gw gak habis pikir." Tutur Bella.


"Bener banget, kalau bisa kita gini terus sampe nenek-nenek nanti." Kata Desi.


"Kayaknya udah bisa dibuang tuh Kejora. Ganti aja Big Familly atau Emak-Emak Rumpi aja gimana?" Saran Lisa.


"Big Familly boleh juga tuh, sekarang kan kita bakal jadi keluarga besar. Mana mau nambah enam anggota baru lagi." Sahut Desi.


"Boleh, gw setuju." Kata Mona.


"Gw juga." Bella ikut menimpali.


"Ray juga." Sambar anak itu yang berhasil membuat Emak-emak menoleh ke arahnya.


"Nyambung aja ni bocah, kayak ngerti aja." Ketus Mona.


"Ngerti dong, Tante. Kan Ray udah gede sekarang." Jawab Rayden tersenyum kuda.


"Udah gede tapi masih manja, kalau kemauannya gak diturutin aja ngambek. Ngadu sana sini." Ledek Bella.


"Ih... Mama liat tuh Aunty. Ledekin Ray terus." Adunya pada Lisa.


"Tuh kan, baru juga dibilangin. Udah ngadu. Dasar manja." Ledek Bella lagi.


"Mama!" Rengek Ray tidak terima.


"Bell, suka banget sih gangguin anak gw. Heran gw sama lo." Kesal Lisa.


"Seru sih gangguin dia, tukang ngadu."


"Biarin, nanti Ray ngadu sama Uncle kalau Aunty jahatin Ray. Biar Aunty kena marah. Ray juga mau ngadu sama Nenek Kakek, woeee...." Ray menjulurkan lidahnya pada Bella.

__ADS_1


"Dih... tukang ngadu. Udah gede masih manja. Huuu kasian bentar lagi gak disayang, Mama kan mau punya adek banyak. Ray mah gak bakal di sayang lagi, kasian." Ledek Bella.


Mendengar itu Ray menatap Lisa. "Beneran Mama gak sayang Ray lagi?"


"Eh?" Kaget Lisa.


"Kasian, Mama gak sayang Ray lagi." Bella tidak puas-puasnya meledek Rayden.


Bibir Rayden menyebik. "Mama pasti tetap sayang sama Ray kok. Soalnya Mama itu sayang banget sama Ray. Walaupun Mama gak sayang Ray lagi, Ray tetep sayang kok sama Mama."


Lisa tersenyum haru. "Duh... manis banget sih anak Mama. Sini peluk."


Rayden pun langsung memeluk Lisa. "Ray sayang Mama."


"Mama juga sayang banget kok sama Ray. Kasih sayang Mama gak akan berubah walau pun udah ada adek nanti. Kamu kan anak kesayangan Mama." Lisa mengecup kepala Rayden dengan mesra. Lalu membiarkan Rayden duduk dipangkuannya.


"Duh... jadi iri. Pengennya Keano cepetan gede biar bisa peluk gitu. Sekarang mah masih belum ngerti apa-apa." Ucap Desi mengecup pipi gembul putra kecilnya yang masih terlelap.


"Gw juga jadi pengen punya anak cowok. Tar kalau udah lahiran gw langsung progam lagi ah. Biar anak gw runyek. Kan seru tar anak gw umurnya deketan. Kayak tangga gituh, keren kan?" Tutur Mona.


"Dih... belum tahu aja dia melahirkan sakitnya gak ada tandingan." Celetuk Bella.


"Gak papa, Mami bilang sakitnya bikin enak kok. Tar kalau udah habis masa nifas gw sama Mas Daniel langsung nyoblos lagi deh biar cepet tumbuh. Pengen banget gw banyak anak. Biar rumah gak sepi kalau Mas Daniel kerja."


"Iya deh, terserah lo aja. Mudah-mudahan cepet dikasih lagi kalau Baby girl udah lahir. Soalnya gw aja belum berhasil, padahal mah tiap malem juga buat adek untuk Keano. Tapi gagal terus. Belum waktunya kali." Ujar Desi.


"Lah, keseringan juga gak bagus Desol. Kasih selang kek, kayak gw lah minimal empat kali seminggu. Kalau tiap malam mah bosen kali. Keropos tulang lo lama-lama." Saran Bella.


"Gw lah lebih hot, seminggu sekali. Sekali terjang sampe pagi." Timpal mona. "Kan suami gw super sibuk hehe."


"Ish... kok jadi bahas itu sih? Emang lah ya, mulut perempuan ini kalau udah ngumpul A sampe Z dibahas." Kata Lisa menggelengkan kepala.


"Tahu nih, kok malah nyambungnya ke situ ya? Padahal kan awal kita bahas masalah Mbak Chelyn, kenap ujung-ujungnya bahas ranjang?" Heran Desi.


"Bahas ranjang itu emang paling enak, apa lagi langsung praktek." Sembur Bella tertawa lucu.


"Otak mesum emang lo," ledek Lisa.


"Biarin, kalau udah nikah mah mau ngomong apa pun udah pengalaman. Beda sebelum nikah. Cuma hayalin doang. Sekarang sambil nulis bisa praktek langsung, hahaha."


"Bengek lo." Sembur Mona melempar gulungan tisu ke wajah Bella. "Btw... melahirkan itu sakit banget ya?" Tanya Mona yang tiba-tiba ingat soal melahirkan.


"Pake banget." Jawab Desi dan Bella kompak karena sudah berpengalaman.


"Mon, gak usah nanya yang aneh-aneh. Tar gw ikutan takut. Lo mah enak cuma satu, lah gw lima sekaligus." Kata Lisa mulai waswas.


"Palingan dibelek lo, Sa. Hebat kalau lo bisa lahiran secara normal. Tapi zaman sekarang jarang yang normal. Gw aja dibelek karena si kembar prematur. Tapi tetep aja sakitnya kayak mau mati. Duh... jadi ngilu pas bayangin kontraksi dulu."


"Heeh, apa lagi pas lagi mules-mulesnya. Duh... tu tulang kayak rontok semua. Maaf nih ya, bukan mau nakut-nakutin. Tapi itu kenyataan dari pengalaman yang udah kita alamin. Syukurnya gw bisa lahiran normal, jadi gak usah dibelek-belek. Ngeri gw dengernya." Sahut Desi.


Mendengar itu Mona Dan Lisa pun saling bersitatap. "Takut." Pekik keduanya kompak. Desi dan Bella terkekeh lucu melihat wajah kusut kedua sahabatnya itu.


"Mama takut?" Tanya Rayden yang tidak tahu menahu soal pembahasan emak-emaknya itu. Lisa mengangguk sambil memeluk Rayden. "Mama jangan takut, kan ada Ray."


"Heem, Mama lupa ada kamu ya?"


Desi, Mona dan Bella terkekeh lucu melihat mereka berdua.


"Iya, Mama. Kalau Mama takut, nanti peluk Ray aja. Ray pasti jagain Mama kok. Emangnya Mama takut apa?"


"Takut dibelek." Sahut Bella asal jeplak.


"Belek itu apa, Mama?" Tanya Rayden dengan polosnya.


"Duh... anak kecil keponya tingkat akut. Belek itu yang ada di mata, Ray." Jawab Bella.


"Itu mah belek," kompak ketiganya. Sontak Bella pun tertawa penuh kemenangan karena berhasil membuyarkan suasana.

__ADS_1


Tbc....


__ADS_2