
"Masih denyut gak?" Tanya Lisa meraih tangan Erkan dan melihat kondisi lukanya. Kemudian ia mengambil salep dan mengobati luka itu dengan lembut.
"Sedikit." Jawab Erkan jujur.
"Kayaknya mah gak bakal demam, gak bengkak soalnya. Mudah-mudahan besok gak sakit lagi."
"Syukurlah kalau gitu. Soalnya besok kita harus fitting baju."
"Eh? Sama saya juga?"
"Enggak, sama tetangga." Kesal Erkan.
Lisa tertawa renyah. "Maaf, kaget soalnya. Orang tadi Bapak gak bahas masalah fitting baju."
"Vio udah buat janji sama desainernya. Jadi besok kita langsung datang aja ke sana. Biar langsung kamu cobak."
Lisa tersenyum malu. "Kayak mimpi kalau saya teh mau nikah. Baru kemaren lulus kuliah dan dapat gelar sarjana, eh sebentar lagi dapat gelar baru."
"Jadi nyesel nih?" Erkan tersenyum tipis. Dan dengan cepat Lisa menggeleng.
"Saya mah siap lahir batin jadi istri Bapak."
"Bagus kalau gitu."
"Oh iya, emangnya Bapak teh gak pernah punya pacar sebelumnya?"
Erkan menatap Lisa begitu dalam. "Ada, cuma udah lama putus."
"Oh." Jawab Lisa tampak kecewa.
"Tapi itu sebelum saya menikah."
"Eh?"
Erkan tersenyum geli. "Kan kamu tanya sebelumnya tadi. Jadi saya jawab yang sebelumnya."
Lisa tersenyum malu. "Ih si Bapak mah bikin jantung saya berdebar aja. Kirain iya punya pacar sebelum lamar saya."
"Saya gak pernah dekat sama siapa pun setelah istri saya meninggal."
__ADS_1
Lisa menghela napas berat. "Pasti Bapak cinta banget kan sama mendiang?"
Erkan mengangguk kecil. "Dia yang nemenin saya dari nol. Pas saya udah sukses dia milih pergi, untung dia ninggalin Rayden buat saya. Yah, ikhlas gak ikhlas saya harus terima, Sa. Beruntung masih ada Mama sama Papa yang suport saya buat besarin Rayden."
Seketika wajah Lisa langsung sedih. "Pasti sakit dan sedih banget pas Mamanya Rayden meninggal kan? Apa lagi ninggalin Rayden kecil. Huhu... jadi pengen nangis." Tanpa di duga gadis itu malah menangis beneran.
Sempat kaget melihat calon istrinya menangis, tetapi menit berikutkan Erkan justru terhibur.
"Gak kebayang kalau saya teh di posisi Rayden. Pasti sedih banget. Gak sanggup kalau dibayangin. Huhuhu...." Lisa semakin sesegukkan dengan hidung dan pipi yang memerah.
"Loh, kamu teh kenapa nangis, Neng?" Panik Mamah langsung duduk di sebelah putrinya.
"Sedih, Mamah. Tadi lagi cerita mendiang Mamahnya Rayden."
Mendengar itu Mamah pun langsung melihat ke arah Erkan. Lelaki itu tersenyum geli. Sontak si Mamah memukul pundak anaknya itu. "Kok malah nangis? Gak mau diliatin sama Erkan? Kayak anak kecil kamu mah."
"Ih... Eneng teh lagi sedih, Mamah. Lagi bayangin gimana kalau Eneng di posisi Rayden." Kesal Lisa semakin tersedu-sedu.
"Duh... malu ah. Udah jangan nangis."
"Gak papa, Pak Erkan juga pasti paham kesedihan Eneng." Bukannya merasa malu, Lisa malah memeluk Mamahnya. "Mamah jangan ninggalin Eneng dulu ya? Tunggu sampe Eneng punya anak dulu, biar ada yang ngajarin Eneng rawat anak."
"Enggak gitu, Mamah. Pokoknya mah kalau bisa Mamah ada terus sampe Eneng tua."
Mamah tertawa renyah. "Makanya doain Mamah sama Abah teh panjang umur. Biar bisa liat kamu bahagia sampe anak cucu."
"Tiap solat juga Eneng selalu berdoa kok. Eneng juga minta supaya Mamah teh gak suka marah-marah lagi dan mukul Eneng pake centong. Soalnya yang kemaren aja masih benjol, Mamah. Lihat tuh." Dengan polosnya Lisa menunjukkan kepalanya yang masih sedikit benjol. Dan hebatnya tangisan tadi pun hilang entah kemana.
Erkan tertawa geli melihat itu. Sontak Lisa pun menoleh.
"Ih... Bapak jangan ketawa, ini tuh sakit. Pasti Bapak gak pernah kena lempar centong kan?"
Erkan menggeleng karena ia memang tidak pernah mengalami hal itu. Paling juga kena jewer sama Mama Dinar.
"Rasanya itu nyut-nyut tahu. Seminggu gak ilang."
Mamah menepuk lengan Lisa, merasa aibnya terbongkar.
"Ih, kan Eneng teh bicar fakta, Mamah."
__ADS_1
"Gak usah di denger, Mamah juga gak bakal marah kalau si Eneng gak bandel. Udah segede ini aja tingkahnya kaya orok. Erkan, kamu harus sabar-sabar lah kalau hadapin dia nantinya."
Erkan menatap Lisa sambil memainkan alisnya. "Tenang aja, Buk. Saya punya hukuman khusus kalau Lisa nakal. Dijamin dia bakal kapok."
"Ih, kok udah jadi istri juga masih ada hukuman sih? Udah kayak kuliah aja. Jangan bilang hukumannya bersihin kloset ya? Ih... gak mau. Orang saya aja kabur pas dapat hukuman di kampus dulu."
Mamah tersenyum pada Erkan. Dan Erkan pun membalasnya dengan senyuman penuh arti. "Kamu bakal tahu nanti kalau udah jadi istri saya, itu juga kalau kamu bandel."
Lisa menghela napas pendek. "Kok saya jadi takut ya? Hukuman apa sih?"
"Nikah dulu, baru tahu." Sahut Mamah yang langsung melenggang pergi.
"Mamah!"
"Mau tahu?" Tanya Erkan yang langsung dijawab anggukkan oleh Lisa.
"Sini lebih dekat." Dan dengan polosnya Lisa pun mendekat.
Cup!
Sebuah kecupan mendarat di bibirnya. Seketika tubuh Lisa membeku dengan mata yang membulat sempurna.
"Itu hukumannya." Bisik Erkan. "Bahkan bisa lebih, tergantung seberapa berat kesalahannya. Saya harus pulang, ini sudah malam. Jangan lupa mimpiin saya. Assalamualikum, sayang." Erkan bangun dari posisinya.
"Wa__waalaikumsalam sayang." Lisa tidak sadar bicara apa sangking gugupnya.
Dan Erkan tersenyum puas mendengarnya dan melenggang pergi.
Selamat malam, sayang. Samapai jumpa besok.
****
Sejak kecupan tadi, Lisa tidak bisa tidur karena wajah Erkan terus membayanginya. Matanya terus terbuka lebar mengarah ke langit-langit sambil senyum-senyum sendiri.
Perlahan tangannya mulai bergerak menyentuh bibirnya yang sudah tidak perawan lagi. "Ya ampun, bibir Pak Erkan teh meni lembut pisan. Jadi pengen lagi."
"Eh? Mikirin apa sih kamu teh, Neng? Mana boleh, kalau udah halal baru boleh. Hihi... sabar-sabar. Tinggal nunggu berapa minggu lagi udah halal kok. Kamu teh bisa minta banyak-banyak, lebih juga boleh. Aaaa... gak sabar pengen nikah." Lisa pun berguling-guling di atas kasur sangking senangnya karena dapat ciuman dadakan dari Kang Erkan.
Sama halnya dengan Erkan, lelaki itu juga dari tadi senyum-senyum sendiri karena akhirnya bisa rasain selembut apa bibir gadisnya itu. Ya... walaupun cuma sebentar tapi lumayan lah buat diingat seumur hidup. Lebih bagus lagi kebawa mimpi. Ah... Erkan gak bisa tahan lagi kalau kayak gini mah. Jadi pengen buru-buru halalin Lisa biar bisa manja-manja.
__ADS_1
"Huh, sabar. Akan indah pada waktunya. Sekarang mah cuma bisa peluk guling dulu." Erkan menghela napas panjang sambil memeluk gulingnya. Namun, matanya juga tidak kunjung terpejam karena kejadian tadi masih membekas dikepalanya. "Duh... kalau gini terus bisa gila saya. Lisa... Lisa... pinter banget buat hati saya goyah. Bisa-bisanya saya jatuh cinta sama gadis pecicilan kayak kamu."