SIANIDA (Siap Nikah Sama Duda)

SIANIDA (Siap Nikah Sama Duda)
Tamu Tak Diundang


__ADS_3

Selama seminggu penuh keluarga kecil itu benar-benar menghabiskan waktu liburan dengan penuh kebahagiaan. Dan saat ini mereka pun sudah kembali ke rumah.


"Ah, capek banget." Keluh Lisa yang sudah dua hari sering merasa lelah, mungkin karena ia terlalu gembira dan tidak mau diam saat liburan kemarin.


Ia pun langsung berbaring di tempat tidur.


"Sayang, Mas keluar bentar ya?"


"Kemana, Mas?"


"Kantor, gak lama kok. Cuma cek aja sebentar."


Lisa terdiam sejenak. "Mas, beliin pembalut ya? Kayaknya Lisa teh mau haid, sakit perut soalnya."


Erkan mengangguk. "Mas janji cuma bentar."


Lisa mengangguk. "Lisa capek banget, Mas. Kepala Lisa juga pusing."


Erkan duduk di sebelah istrinya, mengusap kepala Lisa dengan lembut. "Kayaknya kamu kena jetlag. Tidur aja, nanti juga sembuh."


Lisa mengangguk dan mulai memejamkan mata. Erkan mengecup kening Lisa, setelah itu ia pun beranjak pergi.


Sepeninggalan Erkan, Lisa kembali terbangun karena perutnya semakin ngilu. "Duh... kayaknya beneran haid ini mah. Gini nih kalau udah kesenengan, pasti langsung keluar."


Lisa turun dari ranjang, lalu beranjak ke kamar mandi. Benar saja, Lisa memang datang bulan. "Ck, Mas Erkan baru pergi lagi. Takutnya tembus ini mah. Kalau udah seneng-seneng biasanya keluar banyak."


Lisa duduk di atas closet, lalu membuang napas berat. "Hah, kirain bakal jadi. Rupanya masih harus usaha lagi. Kira-kira Mas Erkan teh kecewa gak ya aku teh belum hamil?"


"Sayang."


Lisa terkejut saat mendengar suara Erkan. "Loh, kok udah balik?" Cepat-cepat Lisa bangun dan keluar dari sana. Lisa sempat kaget karena Erkan sudah berdiri di depan pintu kamar mandi. Terlihat jelas kecemasan di wajah Erkan.


"Mas, kok cepet banget? Katanya mau ke kantor."


"Kamu gak papa kan? Tadi Mas mikirin kamu terus, makanya gak jadi pergi. Cuma beli pembalut sama obat pereda nyeri aja."


Lisa tersenyum. "Makasih banyak loh, Mas. Lisa gak papa, cuma kecapean aja. Sini mana pembalutnya? Lisa beneran haid soalnya."


Erkan memberikan plastik berisi pembalut pada Lisa. "Obat pereda nyerinya juga ada di dalam."


"Ck, padahal mah gak perlu beli obat segala, Mas. Lisa mah gak pernah sampe sakit banget. Paling cuma ngilu dikit."


"Oh, Mas pikir sama kayak Keyla. Dia kalau haid sampe kesakitan."


Lisa tertawa renyah. "Gak semua perempuan sama, Mas. Ya udah, Lisa teh mau ganti dulu ya?" Saat Lisa hendak menutup pintu. Erkan langsung menahannya.


"Biasanya berapa lama kamu haid?"


Lisa tersrnyum geli. "Seminggu, Mas. Kadang juga lebih."


Erkan menghela napas berat. "Puasa lagi dong gara-gara tamu tak diundang."


"Ck, mau gimana lagi atuh, Mas. Udah kodratnya."


"Iya sih. Ya udah."


Lisa tersenyum dan lagsung menutup pintu, tetapi detik berikutnya ia membukanya lagi. Erkan yang mau pergi pun mengurungkan niatnya. "Kenapa?"

__ADS_1


"Lisa lupa ambil daleman, hehe."


"Ck, kirain apa. Biar Mas yang ambilin, tunggu di sini aja."


"Makasih, Mas." Lisa tersenyum tulus.


Erkan mengangguk dan beranjak ke ruang ganti. Tidak perlu lama ia pun kembali dan memberikan benda itu pada Lisa.


"Makasih, sayang." Lisa mengecup pipi Erkan sebelum masuk lagi.


Erkan tersenyum geli. "Dasar."


****


Wajah Lisa tampak murung dengan kaki menjuntai ke dalam kolam renang. Entah kenapa ia gelisah sendiri.


Erkan menghela napas saat melihat Lisa lagi-lagi melamun. Sudah dua hari istrinya itu ngelamun terus. "Sayang." Panggilnya.


Sontak Lisa pun menoleh, lalu tersenyum ramah. "Mas, udah pulang?"


"Ngapain di situ? Ini udah sore, masuk yuk nanti masuk angin."


Lisa menatap Erkan lekat. "Mas, Lisa kangen Mamah."


Erkan membantu Lisa bangun dari duduknya. Lalu keduanya pun masuk ke kamar. "Minggu depan ya kita pulang? Sekarang Mas lagi sibuk, sayang."


Lisa mengangguk. Sebenarnya bukan hanya merindukan Mamah yang saat ini mengganjal di hatinya. Masih ada hal lain yang sedang ia pikirkan. Yaitu soal kehamilan.


"Mas." Panggil Lisa seraya membantu Erkan membuka jas.


Lisa menatap Erkan lamat-lamat. "Mas, kamu kecewa gak sih Lisa belum hamil?"


Erkan terkejut mendengarnya. Dalam benaknya ia tidak terpikir ke sana. "Ya ampun, sayang. Jadi dari kemaren-kemaren itu yang kamu pikirin?"


Lisa mengangguk. "Lisa teh takut Mas kecewa karena usaha kita gagal."


Erkan tertawa renyah dan langsung mencubit pipi Lisa karena gemas. "Gemesin banget sih istri Mas ini. Harus kamu tahu, gak sedikit pun terbesit dalam benak Mas rasa kecewa karena kamu belum hamil. Gak semua orang bisa langsung hamil, sayang. Semuanya butuh proses. Kamu tahu gak butuh berapa lama Rayden hadir?"


Lisa menggeleng dengan bibir sedikit mengerucut.


"Dua tahun, Sa. Dua tahun pernikahan Mas dan Keyla baru bisa dapat Rayden. Semuanya butuh proses, gak ada yang instan. Rezeki orang itu beda-beda, jadi jangan mikir yang aneh-aneh lagi ya?"


Lisa memeluk Erkan dengan mesra. "Lisa teh cuma takut Mas kecewa, padahal kita kan udah usaha keras banget."


Erkan tertawa renyah. "Usaha keras apanya? Kita nikah aja baru sebulan. Mas aja belum ngerasa kerja keras. Banyak liburnya."


"Ck, mulai kan? Orang lagi serius juga." Rengek Lisa semakin mengeratkan pelukkannya.


"Udah ah, gak usah mikir yang aneh-aneh. Kalau kamu belum hamil, itu artinya kita di suruh kerja keras lagi. Mas mah dengan senang hati olahraga terus sampe kamu hamil beneran."


Lisa memukul lengan suaminya. "Itu mah maunya kamu, Mas."


Erkan tertawa lagi. "Lumayan ada waktu buat kita pacaran dulu, soalnya kita kan gak sempat pacaran dan langsung nikah."


Lisa mendongak. "Iya sih, mau dong tahu rasanya pacaran. Yuk kencan? Kita cuma sekali loh kencan pas habis fitting baju doang. Lisa pengen nonton bisokop, terus jalan-jalan malem kayak orang-orang gitu."


Erkan tampak berpikir. "Boleh, kita titip Ray ke rumah Mama dulu beberapa hari ini supaya kita bisa fokus kencan. Mungkin kalau siang Mas gak bisa, tapi kalau malam Mas pasti bisa."

__ADS_1


Lisa mengangguk antusias. "Makasih, Mas. Lisa seneng deh."


"Apa sih yang enggak buat kamu, sayang. Mas pasti usahain apa pun yang bisa buat kamu bahagia."


Lisa mengalungkan kedua tangannya di leher Erkan. "Gimana cewek gak mau nempel sama kamu, Mas. Kamu tuh romantis banget orangnya. Lisa aja sering dibuat melayang."


"Mas cuma romantis sama istri tercinta aja kok."


"Tahu. Soalnya teh pas pertama kita kenal Mas itu kaku kayak kanebo. Ngomong aja irit. Lisa aja sempat ragu bisa dapetin hati kamu, Mas. Apa lagi Mas teh duren, pasti banyak yang incer."


Erkan tersenyum. "Sayangnya Mas malah kepincut sama gadis desa yang super tengil."


"Jangan raguin pesona gadis desa, Mas. Rasanya masih alami dan legit kan?" Lisa terkekeh lucu.


"Ya, yang jelas jepitannya bikin lupa diri."


Lisa tertawa renyah. "Itu mah kamunya aja yang doyan. Tapi kan, Mas. Lisa teh kadang mikir, kok bisa ya kita ketemu? Terus dalam waktu singkat kita teh langsung nikah. Emang kalau udah jodoh mah jauh pun mendekat ya? Buktinya kamu dari kota ke desa, Lisa kan dari desa ke kota. Terus Lisa teh balik lagi, eh kita ketemu. Unik ya Allah mempertemukan kita."


"Hm... Rayden jadi pelantaranya. Kalau gak ada dia mana mungkin Mas bisa daptin kamu secepat ini."


Lisa tertawa renyah. "Mas mah malu-malu tapi mau. Sok jual mahal, padal mah di hati udah gak tahan mau di obral."


Erkan tersenyum geli. "Bahasa kamu udah kayak anak marketing aja."


"Tapi bener kan? Mas sok jual mahal, pake nama Rayden segala buat deketin Lisa. Padahal mah Ray teh gak tahu apa-apa."


"Namanya juga usaha, Sa."


"Bukan usaha itu mah, tapi gengsi."


Erkan tersenyum kikuk. "Udah gak usah bahas itu lagi. Terus kapan kamu selesainya?"


"Sabar, masih lima hari lagi."


"Ck, kok lama ya? Perasaan udah seminggu deh."


"Ih... hitungan dari mana itu?"


Erkan tertawa renyah. "Ya udah, Mas mau mandi dulu. Malam ini kita makan di luar aja ya? Kangen ngumpul lagi."


"Beneran?" Tanya Lisa begitu antusias.


Erkan mengangguk.


"Mas, ke restoran Jepang yuk? Udah lama Lisa gak makan sushi."


"Boleh."


"Yey, love you, Mas." Lisa mengecup pipi Erkan. "Ya udah, sana mandi. Lisa siapin bajunya dulu."


Erkan pun mengangguk dan langsung berlalu menuju kamar mandi. Sedangkan Lisa berjalan menuju ruang ganti sambil bersenandung ria karena kesenangan.


"Kalau gini mah makin cinta atuh. Si Mas bisa aja buat istrinya seneng. Pantes rezekinya lancar terus. Soalnya ngedahuluin kebahagian anak istrinya. Gak peduli dia capek atau enggak. Pokoknya mah Lisa teh gak bakal ngecewain kamu, Mas. Lisa bakal mengabdi seumur hidup jadi istri kamu. Kayaknya aku teh harus belajar masak deh, mana tahu Mas Erkan makin betah di rumah. Duh... harus ikut les ini mah." Lisa tersenyum sendiri seraya memilih pakaian yang cocok untuk Erkan pakai.


Tbc....


Pada bosen gak sih sama ceritanya? Jawab di komentar ya guys?

__ADS_1


__ADS_2