
Lisa membantu Erkan berbaring, lalu menyelimutinya. "Mas istirahat dulu ya? Jangan mikir yang aneh-aneh."
"Yang, punya yang asem-asem gak? Kayaknya enak kalau makan yang asem, mualnya masih nyisa."
"Lah, Mas teh ngidam? Duh... mana punya. Tapi tunggu, kayaknya di kulkas masih ada sisa jeruk peras. Lumayan asem, kemaren itu Bibik salah beli."
"Boleh deh, Yang. Di rujak pake cabe kayaknya enak." Pinta Erkan.
Mendengar itu air liur Lisa ikut meleleh. "Mas, kok jadi pengen juga ya? Lisa buat dulu ya? Tar kita makan sama-sama, belum apa-apa udah ngiler Lisa, Mas."
Erkan tersenyum geli. "Ya udah sana buat terus."
Lisa mengangguk dan langsung berlalu menuju dapur.
"Nya, mau masak buat makan siang?" Sapa Bik Inah.
"Enggak, Bik. Mas Erkan teh ngidam jeruk asem, Lisa juga sih sebenarnya."
Bik Inah kaget. "Nyonya teh hamil?"
Lisa baru ingat kalau Bibik belum diberi tahu soal kabar baik itu. "Iya, Bik. Alhamdulillah Lisa teh udah hamil. Ada lima lagi."
Lagi-lagi Bik Inah kaget. "Hah? Lima?"
Lisa mengangguk antusias. "Hebat kan, Bik?"
Bik Inah tersenyum haru. "Ya Allah, Nya. Selamat ya? Bibik teh seneng dengarnya. Kayaknya rumah ini makin rame. Syukur alhamdulillah ya Allah." Sebuah elusan lembut Bibik daratkan di perut Lisa. "Wah, udah nyembul nya?"
Lisa mengangguk. "Makasih banyak, Bik."
"Sok atuh lanjut, Nya. Itu masih ada jeruknya di kulkas. Gak ada yang makan, apa perlu Bibik bantu?"
"Ck, kayak mau ngapain aja. Gak usah, Lisa teh masih bisa ngerjain sendiri." Tolak Lisa.
"Nya sok atuh, sebenarnya teh Bibik mau ambil minum dingin. Lagi gosok baju, eh malah haus," ujar Bibik terkekeh lucu.
"Ya udah sok Bibik ambil dulu. Gak papa, Lisa bisa ngerjain sendiri. Kayak baru kenal aja. Itu cemilannya ambil aja, Bibik mah kudu di titah aja." Lisa menunjuk lemari kabinet.
"Hehe, segen atuh nya kalau main nyomot aja." Sahut Bibik mengambil air dingin dari kulkas.
"Hish... kayak sama siapa aja. Ambil aja Bik, masih banyak stok. Kalau abis beli lagi. Itu si Tanto juga kalau pengen apa-apa ambil aja. Udah berapa taun kerja masih malu-malu."
"Ya udah, Bibik pengen coba rumput laut yang ijo itu, Nya. Yang sering di Aden makan. Kayaknya enak."
Mendengar itu Lisa tertawa. "Ya Allah, tinggal ambil Bibik." Lisa membuka pintu kabinet. "Tuh, banyak loh. Mau apa aja ambil, awal bulan kita beli lagi."
Bibik tersenyum malu, lalu mengambil beberapa cemilan.
"Ambil lagi, Mang Ujang sama Tanto juga pasti mau. Bibik mah beneran kayak sama orang lain bae."
"Hehe, malu atuh, Nya."
Lisa menghela napas pendek. "Mulai sekarang jangan malu-malu. Anggap rumah sendiri. Hah, gara-gara Bibik, Lisa teh lupa tujuan utama. Kasian si Mas udah nunggu."
Bibik terkekeh lucu. "Ya udah, Bibik teh balik kerja lagi. Gak papa kan gak bibik bantu?"
"Enggak, Bibik."
__ADS_1
"Punten atuh, Nya."
"Sok silakan, Bik." Bibik pun langsung pergi sambil bersenandung
Lisa pun menggeleng. Kemudian diambilnya jeruk di dalam kulkas dan langsung mengupasnya. Dicium dari aromanya saja sudah pasti asam. Seketika air liur Lisa luruh hanya dengan mencium aromannya.
Beberapa menit kemudian rujak sederhana itu pun jadi. Tanpa menunggu lagi Lisa beranjak ke kamar membawa nampan berisi rujak dan minuman segar.
"Lah, Mas mandi?" Tanya Lisa saat melihat Erkan keluar dari kamar mandi memakai bathrobe.
"Iya, Yang. Panas banget."
Lisa mengerutkan dahi, matanya mengerling ke AC. "AC-nya mah hidup."
Erkan tidak menanggapinya dan langsung mendekati Lisa. Bahkan tanpa ragu ia mencicipi rujak jeruk itu tanpa sedikit pun mengeluh asam. "Enak banget, Yang. Duduk di depan tv yuk?"
Lisa pun mengangguk. Erkan mengambil alih nampan, lalu keduanya pun duduk lesehan dan saling berhadapan. Erkan kembali menyuap rujak ke mulutnya.
"Pengen, Mas. Suapin." Dengan senang hati Erkan menyuapi istrinya. "Ya ampun, beneran seger, Mas. Padahal tadi teh gak Lisa cobain."
Erkan mengangguk, melahap sesendok rujak jeruk tanpa berkedip sedikit pun. "Kayaknya ini manjur banget buat obat mual, Yang. Besok kita beli lagi deh jeruknya. Tanya Bibik beli di mana."
Lisa mengangguk dan kembali membuka mulutnya. Erkan pun menyuapinya lagi. Tidak lama dari itu pintu kamar pun terbuka. Spontan Lisa dan Erkan pun menoleh. Seulas senyuman pun mengembang di bibir Lisa saat melihat Ray tersenyum padanya. Anak itu masih mengenakan seragam sekolah lengkap.
"Sini, sayang." Panggil Lisa. Rayden pun menutup pintu dan langsung berlari menghampiri kedua orang tuanya. Lalu duduk dipangkuan Lisa. Ditatapnya Erkan dan Lisa bergantian.
"Mama sama Papa makan apa sih? Ray mau juga, bolehkan?"
"Rasa dulu sayang, Mama rasa kamu gak akan suka. Soalnya asem sama pedes."
"Mama kamu bohong, enak banget ini. Nih coba dikit." Erkan menyuapi putranya sedikit sambil tersenyum jahil. Seketika Rayden bergidik karena keaseman. Erkan yang melihat itu tertawa puas karena berhasil mengerjai putranya.
"Mama... jeruknya kecut. Ray gak mau lagi." Rayden masih bergidik sangking asemnya.
"Asem dari mana? Enak banget ini loh." Erkan melahapnya seolah itu makanan super lezat.
"Iuwhh... Papa sama Mama mah aneh. Jeruk asem dibilang enak." Protes Rayden mengerutkan wajahnya saat melihat Erkan makan.
Lisa tertawa kecil. "Papa kamu doang yang aneh, sayang. Mama mah enggak."
"Iya, Mama. Ray kangen banget sama Mama." Rayden menyandarkan punggungnya pada Lisa. Dengan penuh kehangatan Lisa memeluknya.
"Mama juga, padahal cuma dua hari dua malam gak ketemu." Lisa mengecup pipi Rayden. "Gimana ujiannya hari ini?"
"Gampang dong, Ma. Tadi itu pelajaran matematika. Ray duluan selesai. Makanya Ray cepet pulang."
"Wah, pinter banget anak Mama. Terus, kenapa gak ganti dulu bajunya?"
"Ray seneng banget pas Om Tanto bilang Mama sama Papa udah pulang. Makanya Ray langsung ke sini." Jujur Rayden.
"Ray, kamu gak boleh lagi loh manja sama Mama. Bentar lagi kamu bakal punya adek. Lima lagi adeknya." Kata Erkan tanpa beban. Mendengar itu wajah Rayden langsung berseri.
"Beneran, Ma?" Serunya yang langsung menatap wajah Lisa.
Lisa pun mengangguk. "Seneng gak?"
"Seneng dong, Mama. Ray kan udah lama pengen punya adek." Seru Rayden tersenyum lebar.
__ADS_1
"Pengen punya adek tapi adeknya dijepit." Sindir Erkan. Spontan Rayden pun menjauh dari Lisa. Melihat reaksi itu Lisa sempat kaget.
"Adek di dalam perut Mama ya?" Tanya Rayden. Lisa pun menganguk sambil mengusap perutnya. Tanpa sadar Rayden ikut mengusap perut Lisa. "Beneran ada lima?"
"Iya, sayang." Jawab Lisa.
"Yey, cowok semua kan, Ma?"
"Enggak, cewek semua. Jadi Papa punya banyak bidadari."
"Enggak, pokoknya harus cowok semua. Biar bisa main bola sama Ray." Kekeh Rayden.
"Dih... kamu mah udah akik-akik kalau adek besar. Masak masih main bola?"
"Papa! Papa harusnya ngalah sama Ray." Rengek Rayden.
"Eh... gak boleh manja. Gak malu udah mau jadi Abang? Itu jangan lendot-lendot, Mama itu punya Papa." Tegur Erkan.
"Enggak, Mama sama adek bayi punya Ray!"
"Enak aja, punya Papa. Adek bayi kan ada juga karena Papa. Kamu mah bisanya recokin dia. Dasar pengacau, anak manja."
"Mama, Papa jahat." Rengek Rayden mengadu.
"Mas, kamu mah anak kecil dilawan." Lisa menarik Rayden duduk dipangkuannya lagi. Rayden yang merasa ada pembelaan pun menjulurkan lidahnya.
"Lah, malah ngeledek dia. Awas aja, Papa gak bakal kasih kamu buat liat adek nanti."
"Mama!" Teriak Rayden tidak terima.
"Mas, ih kamu mah."
"Biarin, habis enak banget dia lendot-lendotin kamu. Mas aja udah dua malam gak ngelendot. Tadi malam aja kamu gak mau Mas peluk." Kesal Erkan.
"Mas, masak cemburu sama anak sendiri?"
"Ray juga cowok, jadi mulai sekarang dia saingan Mas. Lagian kamu lebih perhatian sama dia dari pada Mas." Protes Erkan.
"Wajar lah, Mas. Rayden itu masih kecil."
"Kecil apanya? Bentar lagi aja disunat."
"Aaaa... Ray gak mau sunat. Papa jahat." Teriak Rayden
Erkan tertawa puas karena berhasil membuat putranya kalah. "Besok Papa sunat. Sampai habis burung kamu Papa potong."
"Mama!" Rengek Rayden sedikit berteriak. Dan itu membuat Erkan semakin tergelak.
"Mas," peringat Lisa. "Kamu mah udah kayak anak kecil ih."
"Udah tahu masih kecil tapi gak mau dikelonin." Sahut Erkan tanpa dosa.
"Ih... lama-lama kamu yang Lisa sunat, Mas."
"Sunat aja, paling kamu yang rugi."
"Mas! Ih... ngeselin da."
__ADS_1
Erkan tertawa puas. Kemudian lanjut makan sisa rujaknya dengan lahap. Sedangkan Lisa terlihat kesal setengah mati.
Tbc...