SIANIDA (Siap Nikah Sama Duda)

SIANIDA (Siap Nikah Sama Duda)
Biang Rusuh


__ADS_3

"Demi apa kalau istri Bang Elkan itu mantan pacar suami lo, Sa?" Tanya Bella terlihat antusias.


Lisa menghela napas panjang. "Gw seriusan. Mas Erkan yang ngomong sendiri kalau nenek sihir itu mantannya. Makanya gw itu takut dia macem-macem sama Paksu. Ya... kalau Paksu gw sih gak mungkin macem-macem sama dia."


"Wah, kalau gini ceritanya lo kudu hati-hati, Sa. Bisa aja kalau mereka jadi cerai pasti tuh dia balik arah."


Lisa mengangguk paham. "Gw gak akan biarin itu terjadi. Sebelum neneh sihir bergerak udah gw sleeding duluan tuh orang."


Mona dan Desi pun mengangguk. Berbeda dengan Bella, ia terdiam dengan tatapan lurus kedepan. Lisa yang melihat itu langsung menyenggol lengan Bella. Sontak gadis itu pun kaget.


"Lagi ngayal apa lo?" Tanya Mona.


Bella tersenyum kikuk. "Gak ada, gw lagi mikir aja, kalau misalnya cerita Bang Elkan gw jadiin cerebung. Kira-kira judulnya apa ya?"


"Pelakor." Sahut Desi.


"Lah, kok pelakor?" Tanya Bella bingung.


"Kan lo bakal jadi pelakornya entar." Jawab Desi yang disambut tawa oleh Lisa dan Mona. Sedangkan Bella terlihat mengerucutkan bibirnya.


"Tapi... gak ada salahnya juga gw cobak. Pelakor? Kalau posisinya kayak gini masih bisa dibilang pelakor gak sih? Hehe."


Medengar itu suasana pun langsung senyap. Namun, detik berikutnya....


"Bella." Teriak ketiganya kompak. Dan yang di sebut namanya pun cuma bisa cengengesan.


"Awas lo kalu macem-macem. Gw jitak pala lo." Ancam Mona.


"Gila lo ya mau jadi pelakor?"


"Dih... belum juga gw cobak kalian udah sewot."


"Pokoknya mah jangan macem-macem, Bel. Nenek sihir itu bahaya banget tahu." Lisa mencoba memperingati.


"Kalau mainnya sembunyi-sembunyi kan aman." Sahut Bella lagi. Sontak ia pun mendapat banyak toyoran dari ketiga sahabatnya. Dan dalam hitungan detik kamar itu sudah seperti kamar pecah. Dan akhirnya mereka juga yang merapikannya kembali. Sedangkan Lisa terlihat santai di sofa bak ratu sejagat raya.


****


Keesokan paginya suasana pun semakin heboh karena acara akan berlangsung sekitar beberapa jam lagi.


Di kamar, Lisa terlihat sedang didandani. Sedankan ketiga sahabatnya terlihat sibuk menyiapkan pakaian yang akan mereka kenakan. Bagi mereka hari ini adalah hari yang tidak boleh dilewatkan walau hanya satu detik.


"Sa, alumni bakal datang semua katanya." Ujar Desi yang baru saja ngecek grup.


"Oke." Sahut Lisa mengacungkan jempol.


"Duh... gw laper nih. Gw cari makanan dulu ya? Lo lapar gak Sa?" Tanya Bella.


"Laper, ambilin ya?" Sahut Lisa. Bella pun mengangguk.


"Kalian ambil sendiri." Kata Bella saat melihat Desi dan Mona hendak bicara. Dan gadis itu pun beranjak keluar. Tentu saja Mona dan Desi kecewa.


"Sa, abis ini lo netap di mana?" Tanya Desi.


"Ikut suami atuh. Kayaknya bakal tinggal di kota sih. Rumah suami gw udah siap renop soalnya."


Desi pun langsung berbinar. "Kalau gitu kita bakal sering ngumpul dong? Mantap ini mah."


"Yuhu...meet up kita... healing healing." Imbuh Mona.

__ADS_1


Lisa yang mendengar itu cuma bisa tersenyum.


"Sa, gw masih penasaran sama suami lo. Kok bisa sih dia betah aja mantan pacarnya jadi Kakak ipar?" tanya Mona. Samalaman penuh pertanyaan itu terus terngiang di kepalanya.


"Suami gw gak pernah tinggal di rumah Mamanya. Dia kan punya rumah sendiri. Terus gak lama kan dia pindah ke sini." Jawab Lisa apa adanya.


"Iya juga sih? Terus pas lo ketemu cewek itu. Gimana reaksinya?"


"Judes dia mah orangnya. Gw sempat bingung awalnya, pas tahu dia mantan Paksu. Baru tahu kenapa dia teh musuhin gw."


"Lah, kalau gitu dia beneran masih ngarep itu." Kata Desi.


"Itu yang gw takutin." Sahut Lisa.


"Jangan takut, Mbak. Soalnya saya juga pengalaman. Kakak ipar saya mantan pacar suami. Kakak ipar juga sering caper sama suami, tapi suami saya udah cinta sama saya mana mau digoda. Apa lagi udah pisah rumah, dijamin aman." Ujar Mbak perias ikut menimpali.


"Kok bisa kebetulan cerita kita sama ya, Mbak? Terus suami Mbak bilang apa pas kakak iparnya caper?" Tanya Lisa penasaran.


"Dia cuma bilang jangan takut. Dia itu cuma mantan, masa lalu. Sekarang kamu masa depan saya, saya gak akan liat kebelakang. Gitu katanya." Jawab Mbak perias.


Lisa terkekeh lucu karena jadi ingat suaminya.


Duh... kok aku teh makin kangen sama Mas Erkan ya? Seminggu gak ketemu rasanya kayak bertahun-tahun. Pokoknya tar malam mau peluk sampe puas ah.


"Terus sekarang Kakak ipar Mbak gimana ceritanya?" Tanya Mona yang pada dasarnya senang gibahin orang.


"Gak tahu deh kemana dia. Udah dicerein sama Abang ipar karena selingkuh. Soalnya dulu suami saya putusin dia karena selingkuh juga." Mbak perias itu pun tertawa renyah.


"Lah, bisa keulang gitu ya? Kocak sih." Sahut Mona.


"Kok gw jadi keinget si Bella ya pas denger cerita Mbaknya. Ke mana tu anak gak nongol-nongol?"


"Nyangkut kali di dapur." Sahut Lisa. "Padahal gw udah lapar banget ini."


"Aneh emang dia, suka ngilang kerjaannya. Oh iya, Sa. Kakak ipar lo ada di sini sekarang?" Tanya Mona lagi. Sedangkan Desi hanya menyimak sambil memasang kuku palsu.


Lisa mengangguk pelan.


"Terus dia seatap sama suami lo? Gak takut lo?"


Lisa terkekeh lucu. "Ngapain gw takut. Lagian di rumahnya banyak keluarga yang lain. Tiap malam gw video callan sama dia, sampe pagi malah."


"Iya, tadi malam gw kaget pas kebangun. Mereka masih vc-an. Mana bahasnya soal ranjang mulu lagi. Emang beda kalau udah nikah mah." Sambar Desi yang berhasil membuat Lisa malu sendiri.


"Maklum lah, Des. Gw kan kangen belaian, seminggu gw gak dikasih ketemu sama Mas Erkan."


"Dih, tar malam juga udah bisa peluk lagi. Yakin gw lo digempur sampe pagi. Seminggu puasa mana tahan gak nyamber makanan enak." Celetuk Mona.


"Si mbaknya suka bener kalau ngomong. Kayak udah pengalaman aja." Sahut Mbak perias.


Mona pun tertawa renyah. "Belum berpengalaman sih, cuma sering denger aja gitu. Aslinya mah saya masih ting-ting, belum terjamah sama sekali."


"Emang Mbaknya gak punya pacar?"


"Kita ini Kejora, Mbak."


"Kejora?" Tanya si Mbaknya bingung.


"Kelompok jomblo ceria." Jawab Lisa. Sontak si Mbak pun tertawa.

__ADS_1


"Baru tahu saya, kirain teh Lesti Kejora."


"Kalau Lesti Kejora mah kita udah ikut dangdutan, Mbak."


Mereka pun tertawa bersamaan. Dan melupakan Bella yang dari tadi belum juga menampakkan batang hidungnya.


****


Lisa tersenyum bahagia saat melihat Erkan sudah berdiri di hadapannya. Begitu pun dengan Erkan, ia terpana dengan penampilan istrinya yang cantik dengan balutan kebaya putih.


Dengan gerakan lembut Lisa mengalungi Erkan dengan bunga. Kemudian mencium tangannya suaminya itu tak kalah lembut. Namun, tiba-tiba Lisa menggigit ujung jari Erkan dan membuat sang empu kaget.


Astagfirullah, istri siapa ini? Kaget Erkan dalam hati.


Lisa tersenyum geli karena berhasil mengerjai suaminya. Kemudian ia pun menggandeng tangan Erkan dan membawanya masuk.


"Jahil banget kamu." Bisik Erkan.


"Habis Mas gemesin." Balas Lisa tersenyum geli.


"Awas kamu ya, nanti malam Mas gak akan lepasin kamu."


"Lisa tunggu."


"Duh... jadi gak tahan, Sa." Geram Erkan. Lisa yang mendengar itu cuma bisa tersenyum. Lalu keduanya pun masuk ke dalam rumah lebih dulu sebelum naik ke pelaminan untuk menjalani beberapa proses adat istiadat.


Beberapa menit kemudian, Erkan dan Lisa pun sudah bersanding di pelaminan. Menyalami tamu undangan yang ingin memberikan ucapan selamat.


Tidak lama dari itu segerombolan pemuda pemudi yang tak lain teman kampus Lisa pun datang membawa berbagai hadiah, mulai dari alat rumah tangga dan beberapa buket uang. Jika biasanya tamu akan menyerbu makanan, lain halnya dengan teman-teman Lisa itu. Mereka terlihat heboh dan langsung naik ke pelaminan. Seolah pengantin lebih menarik dibanding makanan yang terhidang. Bahkan ada beberapa dari mereka yang membawa kamera dan melakukan siaran langsung. Beruntung Lisa siap siaga dan meminta pelaminan yang luas dan besar. Ia sudah menebak ini akan terjadi.


Erkan sempat kaget dan tak menyangka jika teman-teman Lisa lumayan banyak. Bahkan mereka membuat kehebohan yang luar biasa dan menarik perhatian semua orang. Beruntung orang-orang perusahaan belum datang.


"Omg! Gw mimpi apa semalam? Bisa liat ratu laut kidul di sini?" Gurau salah satu teman Lisa yang dulunya menjabat sebagai ketua leting mengarahkan kamera ke arah Erkan dan Lisa.


Lisa tertawa dan mengedipkan matanya ke arah kamera. Alih-alih memberikan selamat, mereka malah sibuk mencari posisi masing-masing untuk berfoto. Bahkan para ciwi-ciwi sengaja berdiri di sebelah Erkan. Membuat lelaki itu tak nyaman.


"Gw di sini."


"Ih... gw duluan." Heboh mereka berlomba-lomba mengambil posisi di sebelah Erkan.


"Eh, jangan deket-deket. Ini punya gw." Tegur Lisa saat menyadari teman-temannya mencuri kesempatan untuk mendekati Erkan.


Huh, nasib punya suami ganteng yang gini. Kudu serba siaga. Keluh Lisa dalam hati.


"Ih, Lisa pelit deh. Cuma pegang dikit pun gak boleh." Kata salah satu teman perempuan Lisa yang sedikit centil.


"Dikit pun berharga buat gw." Lisa pun merengkuh lengan Erkan dan meminta teman-temannya menjaga jarak dengan isyarat.


"Aaa... kita gak kebagian tempat." Teriak Desi yang langsung berlari ke arah pelaminan. Lalu di susul oleh Mona dan Bella. Ketiganya pun duduk paling depan.


"Siap?" Teriak Babang fotografer tampan memberi kode.


"Siap!" Jawab semuanya kompak.


Ceklek!


Dan berbagai pose pun berhasil di ambil. Lisa dan Erkan saling pandang sangking bahagianya. Meski teman-teman Lisa sedikit rusuh. Akan tetapi semua seolah menjadi bumbu pelengkap kebahagian mereka saat ini.


Tbc...

__ADS_1


__ADS_2