
Grup Chat Alumni Kejora
Lo bunting lagi, Bel? Seriusan itu ada lima?😲 -Monalisa
Iya nih, Ciko sama Ciki masih bocil woi. -dedes
Ehe... itu bukan punya gw kampret. Tapi punya Neng @Ratusejagat -arabella
Aaa! Seriusan demi apa lo? -dedes
Suer deh✌️ -arabella
Aaaa... @Ratusejagat mana lo? Sini gw mau peluk jauh. Aaa... gw beneran seneng. Sekali gol langsung lima, kayak anak kucing. -Monalisa
Selamat @Ratusejagat pengen peluk juga. Nongol dong -dedes
Silan lo @Monalisa, ngatain anak gw kucing 😡 -Ratusejagat
✌️sorry, sini gw peluk jauh 🤗🤗🤗 -Monalisa
Dan obrolan itu langsung beralih ke video call. Wajah keempatnya pun memenuhi layar ponsel Lisa.
"Selamat ya, Sa. Akhirnya doa lo terkabul. Jangan ngindarin kita lagi sekarang. Lo udah bikin kita serba salah tahu gak? Sampe gw segen mau chat elo." Kata Desi.
"Iya, gw minta maaf ya?" Ucap Lisa memasang tatapan bersalah.
"Lupain itu. Ini saatnya berbahagia. Terus, lo di mana tuh? Di dalam mobil kayaknya?" Tanya Mona memperhatikan sekitan Lisa.
"Iya nih, kita masih di jalan mau pulang." Lisa mengarahkan kamera pada suaminya. Erkan menoleh sambil tersenyum, bahkan melambaikan tangannya.
"Wih... Pak Bos berseri banget mukanya. Seneng ya Pak mau dapet pasukan pemberontak. Hahaha...." Mona tertawa lepas.
"Pasti, dong. Penantian yang cukup panjang. Lima tahun nabung, pas pecah dapat lima. Ibarat nabung setahun satu." Kata Erkan. Sotak yang lain pun tetawa.
"Bisa aja Pak Bos, kapan nih mau traktir kita?" Tanya Mona terkekeh lucu.
"Kapan ya? Saya masih sibuk soalnya. Malam minggu aja gimana? Ajak suami kalian ya? Anak-anak juga biar rame. Tar saya booking tempat dulu." Jawab Erkan yang disambut heboh oleh para ibu-ibu.
"Aaaa... seriusan? Dengan segenap rasa hormat kami akan datang, Yang Mulia." Histeris Desi.
"Tenang, Ciko sama Ciki akan meluncur." Timpal Bella.
"Terus gw gimana dong? Lakik gw masih di luar kota. Desol, lo hubungin Abang lo napa suruh pulang, bantu gw kali ini. Gw udah ngerengek dari kemaren, masih aja sibuk katanya. Mana istri lagi hamil lagi." Kesal Mona memasang wajah sedih. Bukannya iba, yang lain justru menertawakannya.
"Kayak gak tahu Abang gw aja. Reskio nikah sama CEO, ya harus rela ditinggal terus. Lagian Abang gw kerja buat elo, ATM dia aja lo embat semua." Cibir Desi.
"Hiks... tetap aja gw sedih Desol. Sebelum nikah gw berjuang mati-matian, pas udah nikah gw juga masuh harus berjuang juga. Sadis banget hidup gw. Kayaknya dia pulang cuma mau minta jatah doang." Adu Mona.
"Terus... nyesel lo nikah sama Abang gw?" Ketus Desi.
"Hehe, enggak dong. Gw kan cinta mati sama dia. Liat tuh, perut gw juga bengkak karena keganasan dia. Untung aja tulang gw masih kokoh."
"Huh, dasar." Sembur ketiganya kompak, lalu mereka pun tertawa bersama.
****
Sesampainya di rumah, Erkan menggendong Lisa ke kamar. Lisa benar-benar bahagia karena Erkan memperlakukannya seperti ratu.
Dengan penuh kahati-hatian Erkan membaringkan istrinya. "Yang, pokoknya kamu jangan banyak ini itu. Kalau mau apa-apa bilang sama Mas ya? Gak boleh capek, gak boleh pecicilan. Ingat, diperut kamu ada baby twins." Nasihat Erkan.
"Iya, Mas. Lisa pasti ingat." Lisa memberikan hadiah kecupan di pipi Erkan.
__ADS_1
Erkan duduk di sebelah Lisa, ditatapnya wajah cantik itu lamat-lamat. "Sekarang Mas jadi takut mau ninggalin kamu, Yang."
Lisa tersenyum geli. "Ya Allah, Mas. Lisa kan di rumah. Ada Bibik juga."
"Tetap aja Mas khawatir, sayang." Erkan mengusap perut istrinya.
"Mas, Lisa bakal jaga diri kok. Udah sana ganti baju, katanya ada meeting kan?"
Erkan mengangguk. "Mas gak tega ninggalin kamu."
Lisa melotot. "Mas, Lisa teh hamil. Bukan sakit."
Erkan menghela napas berat, ia tidak bohong soal rasa cemasnya. "Ya udah, gak papa kan Mas tinggal?"
"Gak papa, Mas. Lisa juga mau istirahat. Capek jalan-jalan terus." Lisa tersenyum geli.
Erkan mengangguk dan masih diposisinya, menatap Lisa lamat-lamat. Sampai pandangan mereka pun saling bertemu. "Apa Mas batalin aja ya jadwal meeting hari ini."
"Mas!" Lisa memperingati. "Gak mau ah cuma gara-gara Lisa, kerjaan kamu amburadul. Lisa janji, Lisa teh gak akan nakal."
Erkan menghela napas gusar. "Ya udah, Mas ganti baju dulu." Sebelum bangkit, ia memberikan kecupan singkat dibibir istrinya. "Janji jangan nakal."
"Iya, sayang. Udah sana ganti baju. Udah mau jam delapan Mas."
Erkan tersenyum, kemudian berlalu menuju ruang ganti.
Lisa menggeleng pelan, kemudian menghela napas berat. "Hah, kangen Ray. Tapi dia udah berangkat sekolah."
Menit berikutnya, Erkan pun sudah siap dengan stelan kantornya. Lisa bangun dari posisinya.
"Mas pergi ya? Atau kamu ikut Mas aja ke kantor?" Erkan menyentuh pipi Lisa dengan tatapan cemas.
"Mas, kok kamu jadi aneh gini sih? Lisa gak papa loh di rumah aja. Biasanya juga kamu gak gini ah." Lisa menatap suaminya heran.
Lisa tertawa renyah. "Aneh banget kamu, Mas. Iya deh, tar Lisa duduk aja di kamar. Gak boleh baring nih, duduk aja?"
"Ck, bukan gitu."
Lagi-lagi Lisa tertawa. "Iya, Lisa cuma bercanda. Udah sana berangkat. Kasian Kak Linda nunggu kamu."
Erkan mengangguk, dikecupnya kening Lisa lumayan lama. "Hubungin Mas langsung kalau kamu perlu apa-apa ya? Mungkin kamu ngidam atau apalah itu."
Lisa terkekeh lucu. "Iya, sayang. Bawel banget, sih."
Erkan tersenyum, kemudian membungkuk. Dikecupnya perut Lisa dengan lembut. "Baik-baik anak-anak Papa, Papa kerja dulu ya? Jangan bandel. Kalau Mama kalian bandel, kasih tahu Papa ya?"
Lagi-lagi Lisa terkekeh lucu mendengarnya. "Penasaran gimana cara janin ngadu, Mas."
Erkan menegakkan tubuhnya lagi, lalu tersenyum. "Ya udah, Mas pergi ya."
"Iya, sayang. Hati-hati di jalan."
Erkan mengecup pipi Lisa. Kemudian beranjak mengambil tas kantornya. Lalu bergegas pergi meski hatinya masih berat meninggalkan sang istri.
Lisa yang melihat itu geleng-geleng. "Aneh banget kamu, Mas. Baru tahu seposesif itu." Setelah mengatakan itu, Lisa pun kembali berbaring karena tubuhnya terasa letih.
****
Di kantor, Linda terlihat keheranan saat melihat Erkan terus gelisah sepanjang meeting. Bahkan Erkan juga terlihat tidak fokus dan wajahnya pucat.
"Bos kayaknya sakit deh. Pucet banget." Gumamnya.
__ADS_1
Erkan mengangkat tangannya, meminta agar meeting dijeda. Linda yang paham pun mencoba menghentikan meeting sejenak. Namun, tanpa di duga Erkan bergegas keluar. Tentu saja semua orang terkejut.
"Bos?" Linda langsung bangkit dan menyusul atasannya itu.
Hoek!
Erkan memuntahkan isi perutnya di dalam washtafle di dekat ruang meeting. Linda yang melihat itu kaget.
"Ya ampun, Bos? Bos sakit ya? Duh... kecapekan ini mah." Heboh Linda kalang kabut. Cepat-cepat ia menghubungi Lisa. Sedangkan Erkan terus saja muntah-muntah.
Setelah menghubungi Lisa, Linda masuk kembali ke ruang meeting untuk membubarkan rekan kerjanya. Setelah itu ia kembali menghampiri Erkan.
"Kak Linda, tolong antar saya ke ruangan. Lemes banget soalnya." Pinta Erkan. Linda pun dengan patuh membantu Erkan ke ruangannya.
Beberapa menit kemudian Lisa pun datang. Ia cukup kaget saat melihat Erkan terbaring di sofa. "Ya Allah, Mas. Kamu kenapa lagi sih?"
"Muntah-muntah terus dari tadi, Sa." Adu Linda.
"Hah? Kok bisa?" Kaget Lisa. Lisa mengambil minyak kayu putih di dalam tasnya. Kemudian membalurkan itu di perut dan dada Erkan. Juga menciukannya di hidung sang suami. "Mas, masih mual banget ya?"
Erkan mengangguk lemah.
"Apa kita ke rumah sakit aja ya? Aneh banget, Lisa yang hamil kok malah Mas yang muntah-muntah sih?"
Linda terkejut mendengarnya. Namun, detik berikutnya ia tersenyum geli karena paham apa yang terjadi pada Erkan saat ini.
"Gak usah. Kayaknya asam lambung Mas naik, Yang."
"Loh, tapi kan Mas teh gak pernah telat makan." Lisa menatap suaminya iba.
Linda menatap keduanya bergantian. "Kayaknya saya tahu deh Bos sakit apa?"
Lisa dan Erkan pun menoleh ke arah Linda secara bersamaan.
"Sakit apa, Kak? Jangan bikin Lisa takut ih."
Linda terkekeh lucu. "Sindrom Couvade pasti."
"Hah? Penyakit apa tuh? Bahaya gak sih?" Panik Lisa.
"Tenang, itu bukan penyakit sih. Namanya kehamilan simpatik. Suami Kakak aja gitu pas Kakak hamil anak pertama, kata dokter itu wajar terjadi karena suami terlalu cemas atau stres."
Mendengar itu Lisa langsung menatap suaminya. "Tuh, Mas. Kamu sih terlalu berlebihan. Jangan bilang kamu mikirin Lisa terus ya?"
"Iya, sayang. Mas takut kamu kenapa-napa. Mas udah baca artikel katanya kalau wanita hamil anak kembar itu banyak keluhannya."
"Ck, buktinya Lisa gak papa, Mas. Kalau gini malah kamu yang sakit." Lisa mengusap pipi suaminya.
"Terus sampai kapan ya Kak suami saya gini terus?" Tanya Lisa pada Linda.
"Kakak sih kurang tahu, Sa. Tapi suami Kakak mual terus sampai sembilan bulan. Kasian kadang liatnya, tapi mau gimana lagi?"
Lisa kaget mendengarnya. "Duh... gimana kalau Mas juga gitu? Pas Rayden Mas gini gak sih?"
Erkan menggeleng.
"Duh... gimana dong?" Panik Lisa.
"Bawa santai aja, Sa. Kalau emang parah banget konsul sama dokter."
Lisa mengangguk. "Mas jangan terlalu stres ya? Lisa gak mau Mas sakit." Erkan pun mengangguk. "Kita pulang aja ya? Mas istirahat di rumah."
__ADS_1
Dan Erkan pun cuma bisa mengangguk lagi. Lisa pun kembali mengusap pipi suaminya. "Kasian banget suami aku ini."
Tbc....