
Kini rumah besar Erkan dan Lisa pun dipenuhi oleh anak-anak yatim piatu serta beberapa fakir miskin. Lisa sendiri kini terlihat sibuk menyambut tamu undangan lain yang datang.
"Wah, selamat ya Mbak Lisa. Akhirnya penantian selama ini membuahkan hasil juga." Ucap salah satu tetangga Lisa.
"Iya nih, senang saya pas dengar kabar Mbak Lisa hamil. Saya tahu banget rasanya nunggu buat hamil, Mbak. Mbah mah sabar banget lima tahun nunggu. Lah saya, tiga tahun aja rasanya pengen hilang dari muka bumi. Gak sanggup denger cercaan mertua sama saudara yang lain. Selamat ya Mbak Lisa."
"Makasih, buat Mbak-mbaknya. Alhamdulillah berkat doa orang-orang baik juga." Jawab Lisa tersenyum ramah. "Sok silakan dinikmati hidangannya Ibu-ibu. Jangan sungkan ya?"
"Siap, Mbak. Udah rame banget ya? Itu Mas Erkan kemana? Kok gak keliatan?" Tanya yang lainnya.
Lisa tertawa kecil. "Mas Erkan lagi jemput adeknya di Bandara. Kebetulan hari ini datang ke Jakarta. Udah dari tadi sih, mungkin sebentar lagi datang." Jawab Lisa.
"Kalau gitu kami langsung makan gak papa kan? Kayaknya enak banget itu rendangnya."
"Ya ampun, Mbak. Silakan atuh. Saya undang juga kan biar ada yang makan rendangnya. Sok silakan atuh dinikmati." Kata Lisa membimbing mereka menuju prasmanan. Lalu Ibu-ibu komplek itu pun langsung menyerang berbagai hidangan sambil berbincang. Sedangkan Lisa kembali menyambut tamu yang datang.
Tidak lama, keluarga dari kampung pun datang. Tentu saja Lisa kesenangan karena sebelumnya mereka memberi kabar tidak akan datang karena Devi sakit.
"Mamah, Abah." Serunya langsung berhambur dalam pelukan Mamah. "Kangen tahu, katanya gak jadi pergi. Terus Teh Devi ditinggal?"
"Devi sama Alvin sama orang tuanya, dia yang minta kami datang ke sini."
"Duh... jadi merasa bersalah sama Teh Devi. Padahal mah gak datang pun gak papa atuh, Mah. Aa juga bukan temenin aja Teh Devi." Ujar Lisa memandang keluarganya satu persatu. Bahkan Bik Ning dan suaminya pun ikut.
"Teteh kamu udah mendingan, makanya Aa bisa tinggal. Lagian Mamah juga mikirin kamu terus, Neng." Jawab Asep.
"Ya udah, sok istirahat dulu, makan-makan dulu." Titah Lisa.
"Wih... emang rezeki. Datang-datang langsung makan." Kata Asep tanpa ragu ikut mengantri prasmanan.
"Ck, keliatan kelaperannya." Lisa tertawa lucu. Kemudian perhatiannya ia alihkan kembali pada yang lain. "Mah, Bah, Bik, Mang. Sok atuh makan dulu. Atau mau ke kamar langsung?"
"Bibik teh dari tadi kebelet, Neng." Kata Bik Ning yang berhasil mengundang senyuman Lisa.
"Yuk atuh ke kamar, Bik." Ajak Lisa. Lalu keduanya pun beranjak ke kamar tamu.
"Duh... rumahnya udah kayak lapangan bola. Luas pisan, Neng. Pembantunya banyak nya?" Tanya Bik Ning.
"Enggak kok, pekerja di sini cuma ada tiga. Lagian untuk bersih-bersih pake robot sekarang mah, Bik." Lisa membuka pintu kamar tamu.
"Wih... bagus pisan, Neng. Barang mahal semua ini mah." Puji Bik Ning melihat seisi kamar.
"Mas Erkan yang atur semuanya, Bik. Kan arsitek."
"Enak atuh nya, pantes rumahnya beraturan gini. Gede tapi gak pasiksak (semrawut). Duh, sampe lupa Bibik teh tadi kebelet ya? Mana atuh kamar mandina, Neng?"
Lisa tertawa renyah. "Sok atuh ini kamar mandinya, Bik." Lisa membukakan pintu kamar mandi untuk Bik Ning.
"Bik, ini kan kamar Bibik sama Mamang. Anggap aja rumah sendiri, Lisa tunggu di depan nya?"
"Enya, Neng. Tar Bibik teh ke depan."
"Ya udah, Eneng teh ke depan dulu. Masih banyak tamu soalnya."
"Sok atuh, Neng."
Lisa pun beranjak keluar.
"Lah, ini dia orangnya. Dari tadi juga dicariin. Itu orang kantor udah datang. Sambut dulu sana, kita gak tahu apa-apa soalnya." Ujar Bella yang sejak tadi mencari keberadaan Lisa.
"Hm." Lisa pun bergegas ke depan. Benar saja, orang kantor sudah ramai di depan. Mereka terlihat sedang mengobrol dengan Erkan. "Loh, Mas Erkan udah pulang?"
Erkan menoleh, kemudian tersenyum. "Baru aja, Yang. Bareng datangnya sama mereka." Sahutnya.
"Terus Vio mana?"
"Udah aku suruh ke kamar. Kasian Rehan ngantuk. Suaminya lagi ngobrol sama Papa, Abah, A Asep di depan."
"Oh." Lisa pun mengalihkan perhantian pada Linda dan kawan-kawan. "Kak."
__ADS_1
"Hai, Sa. Kayaknya makin gendutan deh. Terakhir kali aku liat itu gak segemuk ini," kata Linda.
"Masak sih, Kak? Perasaan gini-gini aja." Sahut Lisa tersenyum geli.
"Beneran loh, keliatan gendutnya. Padahal cuma seminggu gak ketemu loh."
"Wajar aja, Kak. Saya kasih makan soalnya." Jawab Erkan sembari merangkul istrinya. Spontan yang lain pun tertawa saat mendengar candaan Erkan.
"Ya udah silakan dinikmati hidangannya."
"Siap, Buk Bos. Selamat ya atas kehamilannya. Saya doakan Buk Bos sama debay sehat terus sampe lahiran."
"Aamiin." Ucap Lisa dan Erkan kompak.
"Semoga anaknya cowok semua, biar Ray banyak temennya." Ujar salah seorang karyawan.
"Ih... jangan cowok semua atuh, Mas. Ada ceweknya kek satu. Saya juga butuh temen soalnya." Sahut Lisa mengelus perutnya dengan lembut.
"Saya yakin kalau anak Pak Bos sama Buk Bos cowok semua. Ini rumah gede pasti jadi rame." Tutur yang lainnya.
"Bener banget. Terus anak-anaknya lucu kayak Buk Bos, dan tampan kayak Pak Bos."
"Ekhem... ada yang kode keras nih buat naik gajih. Gak ada THR, Bos?" Linda tersenyum malu.
Erkan tersenyum ramah. "Bulan depan saya kasih bonus deh buat kalian semua, anggap aja ini rezeki dari baby twins ya? Doakan mereka baik-baik aja sampe lahiran, Mamanya juga sehat terus."
"Aamiin." Kompak semuanya sangking senang saat mendengar mau dapat bonus.
"Ya udah sana makan dulu, kasian rendangnya dianggurin," perintah Erkan.
"Dengan senang hati, Bos." Lalu mereka pun satu per satu menghilang untuk mengambil makanan atau cemilan yang tersedia.
Acara syukuran itu pun berlangsung dengan khidmat. Lisa dan Erkan terlihat bahagia saat niat besarnya sudah tercapai. Bahkan pasangan itu terus mengembangkan senyuman bahagia saat menyerahkan santunan pada anak yatim piatu dan para fakir miskin, yang dibantu oleh keluarga besar dan sahabat-sahabatnya.
"Alhamdulillah ya, Mas. Akhirnya semuanya beres. Sekarang tinggal beberesnya aja." Ucap Lisa penuh syukur.
"Iya, Sayang. Tapi ingat, kamu gak boleh ikutan beberes. Mas gak mau kamu ngedrop lagi kayak dua hari lalu. Ya, Lisa memang sempat kelelahan dua hari lalu karena terlalu sibuk menyiapkan segala urusan acara. Alhasil ia mengalami pendarahan ringan. Beruntung tidak ada hal fatal yang terjadi.
"Ya udah, kamu ke kamar aja. Biar Mas bantu beberes."
"Mas, masak Lisa teh ke kamar? Keluarga kita masih di sini loh."
"Gak papa, mereka ngerti kondisi kamu."
"Enggak ah, Lisa di sini aja ya? Lisa janji gak akan ngerjain apa-apa." Lisa memohon. "Gak enak atuh Mas kalau Lisa teh buru-buru ke kamar."
"Ada apa sih? Kok ribut?" Tanya Mama Dinar. Spontan keduanya pun menoleh bersamaan.
"Ini loh, Mah. Aku minta Lisa istirahat aja di kamar. Takut kejadian kemarin lusa keulang lagi." Jawab Erkan. Mama Dinar pun menatap Lisa.
"Suami kamu bener, Sa. Udah sana istirahat. Kalau emang bosen, itu Vio sendiri aja di kamar. Lagi nyusuin Rehan."
Lisa menghela napas berat. Ditatapnya Erkan penuh permohonan. "Mas...."
"Jangan protes terus. Saat ini kamu itu butuh istirahat. Sudah cukup geraknya." Sela Erkan mengusap kepala istrinya.
Lisa menyebik yang diiringi anggukan kecil. Erkan pun tersenyum. "Udah sana istirahat. Kalau emang gak mau ke kamar Vio, Ray juga di kamar lagi tidur."
Lisa mengangguk lagi. "Ya udah, Lisa teh ke kamar ya? Tar kalau ada yang nyariin, panggil aja di kamar Vio."
Erkan mengangguk. Lisa pun beranjak dari sana. Sebelum sampai di kamar yang ditempati iparnya itu, Lisa berpapasan dengan Bella dan Desi.
"Lah, mau kemana lo?" Tanya Desi.
"Kamar adek ipar," jawab Lisa.
"Dih... kok malah masuk kamar sih?" tanya Bella.
"Kayak gak tahu suami gw aja, sejak gw sakit mana boleh gw banyak gerak, Bell." Sahut Lisa menghela napas berat.
__ADS_1
"Bener juga sih, itu artinya suami lo sayang sama lo. Btw... si Momon izin balik duluan. Katanya perut dia kram. Tadi nyari lo susah banget, kayak cari presiden." Ujar Desi.
"Hehe, maaf tadi gw sibuk sama anak-anak yatim. Btw si Momon bawa mobil sendiri?"
"Kagak, dijemput suaminya." Sahut Bella.
"Oh." Lisa pun mengangguk paham.
"Sa, gw juga mau balik nih. Paksu udah nelepon, katanya Keano nangis." Pamit Desi.
"Ya elo sih, udah gw bilang bawa aja. Malah lo tinggal." Kesal Lisa.
Desih terkekeh lucu. "Kan gw pengen jadi gadis lagi, sehari doang juga."
"Gak sadar diri." Cetus Lisa.
"Biarin, buktinya tadi ada orang kantor suami lo minta nomor wa gw. Terus gw bilang udah punya suami, kaget dia beneran. Katanya gw masih kayak gadis, secantik itukah gw?"
"Dih... narsis." Seru Bella merasa geli dengan ucapan bestienya itu.
"Iya, lo cantik kok. Sekalian aja lo buka lagi asrama buaya. Dulu juga kan lo gitu, suka miara buaya darat. Padahal mah tetap aja jomblo. Ujung-ujungnya gw yang turun tangan buat jodohin lo sama Nichole."
Desi terkekeh sendiri. "Thanks soal itu, btw suami gw itu sabaran banget orangnya. Bahkan dia gak pernah marah walau pun gw sering ngomel tiap hari. Bijak banget pokoknya mah. Untung gak gw tolak dulu."
"Dasar lo. Ya udah sana kalau mau pulang." Kata Lisa.
"Lah, diusir nih gw?" Kesal Desi.
"Bukan ngusir, cuma nyuruh pergi doang." Lisa tertawa kecil.
"Sama aja dodol. Ya udah, gw pulang ya?"
"Eh, gak mau bawa temen nasi buat suami lo?"
"Gak usah ah, males gw kalau jinjing-jinjing."
"Istri gak ada akhlak emang lo. Mentang-mentang suami tukang masak." Cibir Bella.
"Jangan iri dong, Bell." Desi tersenyum geli.
"Dih... siapa juga yang iri. Suami gw lebih dari cukup."
"Ck, kok malah ribut? Udah emak-emak juga masih aja kayak bocil. Udah sana balik, Des. Kasian itu Mas Nich lo di rumah." Lisa menengahi.
"Ya udah, gw balik ya, Sa? Dadah Belong, jangan iri terus sama gw."
"Dih, narsis."
"Udah, gak bakal abis-abis kalau gini mah."
Desi tertawa kecil, lalu memberikan pelukan singkat pada Lisa sebelum pulang.
Setelah acara benar-benar selesai dan semua tamu benar-benar bubar, Lisa pun ikut beberes yang ringan-ringan karena bosan terus diam di kamar.
"Eh! Itu mau ngapain?" Seru Erkan saat melihat Lisa hendak menggulung ambal.
"Beberes, Mas. Lagian cuma gulung doang mah gak berat." Jawab Lisa. Spontan Erkan pun mendekatinya dan membantu Lisa bangun.
"Gak perlu, masih banyak orang buat ngerjain itu. Udah mending kamu istrirahat aja. Lagian udah mau selesai juga." Protes Erkan.
"Mas! Lisa tuh bosan tahu di kamar terus." Rengek Lisa dengan bibir menyebik. "Ya udah. Lisa teh bantu cuci piring aja ya?"
"Ck, gak perlu, Alisa Sayang. Semua udah ada yang ngerjain. Ke kamar sekarang, mandi dan istirahat. Bentar lagi magrib." Perintah Erkan.
"Ish... kamu tuh kok makin posesif aja sih, Mas? Ini gak boleh, itu gak boleh. Terus Lisa disuruh tidur aja gitu? Nyebelin banget. Terserah ah, kesel sama kamu." Lisa pun langsung meninggalkan Erkan dengan perasaan kesal.
"Lah, kok malah marah sih, sayang? Mas kan cuma takut kamu kenapa-napa."
"Bodo." Ketus Lisa berlalu pergi.
__ADS_1
Erkan menghela napas berat. "Ck, gini nih perempuan. Diperhatiin salah, gak diperhatiin juga salah. Apa sih maunya? Hah, dari pada pusing mending ngerjain yang bisa dikerjain."
Tbc....