SIANIDA (Siap Nikah Sama Duda)

SIANIDA (Siap Nikah Sama Duda)
Nyetak Gol


__ADS_3

Sebelum lanjut baca... baca bismillah dulu ya biar gak baper hehe...


****


Lisa menatap keduanya bergantian. "Siapa, Mas?"


Erkan pun menoleh ke arah Lisa. "Ini...."


"Hai, aku Nana. Mantan Mas Erkan."


Lah, mantan lagi? Jadi beneran Mas Erkan teh banyak mantannya? Duh... kudu ekstrak hati-hati ini mah. Mana mantannya cantik-cantik lagi.


"Oh, cuma mantan." Sahut Lisa dengan santai. Erkan yang mendengar itu terkejut. Ia pikir Lisa akan heboh seperti kemarin saat tahu Zia mantannya. Ternyata dugaanya salah kali ini. Lisa terlihat jauh lebih tenang bahkan terkesan acuh.


Wanita bernam Nana itu juga ikut bingung. Lebih tepatnya ia bingung kenapa Erkan makan bareng cewek. Karena kabar pernikahan Erkan dan Lisa memang belum nyebar.


Lisa kembali melirik suaminya dan juga wanita itu karena keduanya terdiam. "Kenapa masih di sini? Udah kan, cuma nyapa aja?"


Erkan tersenyum tipis. Ah... bener-bener tak terduga istriku ini.


"Eh? Iya, maaf ya mengganggu kalian. Tadi gak sengaja aja liat kalian. Jadi aku pengen nyapa."


Ih... siapa sih cewek ini. Ganggu aja. Kesal Nana dalam hati.


"Mama, Ray mau nambah." Rengek Rayden yang berhasil membuat wanita bernama Nana itu terperangah.


Mama? Sejak kapan Mas Erkan nikah lagi?


"Nambah? Duh... gembul juga anak Mama makannya. Papa, mau nambah katanya."


"Sebentar." Erkan pun memanggil seorang waiter dan memesan makanan kesukaan putranya lagi. Sedangkan Lisa kembali melirik wanita tadi yang masih berdiri di sana.


"Mbak, masih ada perlu?"


Wanita itu pun terkejut. "Eh, enggak kok. Ya udah, aku pamit ya, Mas."


Erkan pun mengangguk tanpa kata. Dan wanita itu pun bergegas pergi dari sana.


"Mas, jadi kamu teh beneran banyak mantannya?" Tanya Lisa sepeninggalan wanita tadi.


"Kan Mas sebelumnya udah bilang, sayang."


"Duh... kalau gini mah harus waspada. Bisa aja mereka masih ada yang kayak Teh Zia. Bisa bahaya."


Erkan tertawa kecil. "Mas gak peduli sama mereka."


"Lisa mah percaya sama kamu, Mas. Tapi enggak sama mantan-mantan kamu itu. Secara kan Mas teh banyak uang, cewek mana yang gak mau sama kamu. Udah pasti mantan pun lengket."


Erkan tersenyum.


Lisa menghela napas gusar. "Lisa teh kalau gini mah insecure. Mantan Mas teh cantik-cantik."


Erkan menatap istirnya lekat. "Tapi menurut Mas kamu yang paling cantik."


Lisa tersenyum malu. "Awas kalau macam-macam."


"Gak akan, sayang." Erkan tersenyum tulus. Tidak lama pesanan Rayden pun datang. Dan mereka pun melanjutkan makan yang tadi sempat terjeda.

__ADS_1


Setelah makan siang, Erkan pun mengantar istri dan anaknya pulang.


"Mas, hati-hati ya?" Lisa pun mengecup pipi Erkan sebelum keluar dari mobil. Sedangkan Rayden sudah lebih dulu turun dan berlari ke dalam rumah.


"Iya, sayang. Cuma pipi aja?"


Lisa tersenyum, kemudian kembali memberikan kecupan singkat di bibir suaminya. "Udah, nanti Mas telat meetingnya."


"Tunggu, sayang." Lisa yang hendak turun pun berbalik. Dan...


Cup!


Erkan memberikan kecupan mesra dibibirnya. Dan seketika tubuh Lisa menegang karena kaget. Erkan yang melihat ekspresi kaget istrinya pun tertawa geli. "Gemesin banget sih. Udah sana turun."


Lisa tersadar dan langsung menyebikkan bibirnya. "Nyebelin." Setelah mengatakan itu Lisa pun beranjak turun. "Hati-hati, Mas."


"Iya, sayang. Mas pergi."


"Iya, Mas." Erkan tersenyum, kemudian melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah. Lisa tersenyum bahagia, disentuhnya bibir yang tadi dikecup oleh sang suami. Meski mereka sudah sering berciuman, tapi rasanya masih saja bikin jantung berdebar.


"Aaa... bisa awet muda kalau punya suami kayak Mas Erkan mah. Duh, belum apa-apa udah kangen." Lisa tersenyum geli. Setelah itu ia pun masuk ke rumah mertuanya.


Sesampainya di dalam, Lisa kembali berpapasan dengan Zia. Seperti biasa, wanita itu selalu memasang wajah jutek. Namun, Lisa seolah tidak peduli dan bergegas menuju kamar.


****


"Duh, Mas Erkan kemana sih kok jam segini belum pulang?" Gumam Lisa terus mondar-mandir di depan rumah karena Erkan belum pulang, padahal hari sudah malam.


Mama Dinar yang melihat itu pun menghampiri menantunya. "Sa, Erkan belum pulang ya? Lembur kali."


Lisa menoleh. "Gak tahu, Ma. Mas Erkan gak ngomong apa-apa tadi."


Lisa menghela napas gusar. "Mas Erkan gak bilang kalau mau lembur, Ma. Makanya Lisa teh cemas, takut Mas Erkan kenapa-napa di jalan."


Mama merengkuh tangan Lisa dan membawanya masuk. "Erkan itu sama persis kayak Papa, kebiasaan buruknya juga sama. Mereka sering membuat keputusan sendiri. Kalau Erkan lembur, itu artinya besok dia gak bakal kerja. Percaya deh sama Mama. Kayaknya dia belum puas mesra-mesraan sama kamu."


"Masak sih, Ma?"


"Iya, lihat aja deh nanti kalau gak percaya. Dari pada kamu berdiri gak jelas di luar, mending temenin Mama nonton drakor."


Lisa terkejut. "Mama teh suka nonton drakor juga?"


"Iya dong, tontonan favorit Mama itu mah."


Lisa tertawa renyah. "Mama-mama gaul mah emang beda."


"Bisa aja kamu. Itu Rayden udah bobok?"


"Udah, Ma." Jawab Lisa. Lalu keduanya pun duduk di ruang keluarga dan menyaksikan drama korea favorit sang Mama.


"Lisa mah lebih suka yang ceritanya kerajaan. Kalau percintaan mah takut baper, apa lagi cowoknya bikin ngiler semua."


Mama tertawa renyah. "Bener banget kamu, Mama yang udah tua aja kadang suka baper. Apa lagi kalau udah adegan mesra, rasanya pengen peluk Papa terus."


Lisa tertawa lagi. "Oh iya, dari pagi kok Lisa gak liat Papa ya?"


"Papa kamu lagi ke luar kota, besok baru pulang. Biasanya Mama ikut, berhubung ada kamu di sini jadi Mama mutusin buat di rumah aja. Mama gak mau kamu diserang sama Nenek lampir."

__ADS_1


"Mama mah bisa aja. Terus ini kalau baper Mama peluk siapa dong?"


"Mama peluk guling palingan, kalau enggak langsung telepon Papa." Keduanya pun tertawa bersamaan.


"Duh... sweet banget sih. Pantes Mas Erkan juga romantis."


"Iya dong, siapa dulu Mama Papanya?"


Lisa tersenyum geli. Lalu keduanya pun fokus nonton. Bahkan keduanya terlihat kompak tertawa dan menangis setiap kali adegan berubah. Saat sedang serius-seriusnya menonton. Tiba-tiba tangan seseorang menempel di pundak Lisa. Sontak saja ia pun berteriak. "Mama!"


Mama yang terkejut pun langsung menoleh. Dan mendapatkan Erkan sudah berdiri di belakang mereka. "Erkan! Kamu ngagetin kita tahu gak?"


Mendengar itu Lisa pun berbalik. "Ih... jahat banget kamu, Mas. Untung jantung Lisa teh gak copot."


Erkan tertawa renyah. "Habis kalian serius banget. Sampe gak jawab salam segala. Udah, ke kamar yuk." Ajak Erkan.


Lisa menyebikkan bibirnya. "Kenapa lembur gak bilang-bilang sih, Mas? Untung ada Mama jadi Lisa teh gak cemas lagi."


Erkan tersenyum. "Besok Mas pengen di rumah bareng kamu, jadinya Mas sengaja lembur."


"Tuh kan bener apa kata Mama. Erkan itu sama kayak Papanya." Ujar Mama.


Lisa pun menghela napas panjang. "Ck, ya udah. Ma, Lisa ke kamar dulu ya?"


"Iya, sayang. Kelonin suami kamu biar cepet bobok."


"Gak usah disuruh juga Mas Erkan ngelon sendiri, Ma." Sahut Lisa yang disambut tawa oleh Mama. Sedangkan Erkan cuma bisa tersenyum kikuk.


"Ayok jangan lama-lama." Ajak Erkan gak sabaran. Lisa pun bangun dari posisinya.


"Duh... gak sabaran banget mau nyetak gol. Udah jebol berapa kali, Er?" Ledek Mama yang berhasil membuat pipi Lisa panas karena malu mendengar ucapan frontal Mama mertuanya itu.


"Mama, kalau ngomong itu gak pernah di saring. Ayok, sayang." Protes Erkan yang langsung membawa istrinya kabur dari sana.


"Semangat, Er. Mama nunggu kabar baik." Teriak Mama. "Hihi... jadi semangat kalau gini. Gak sabar nambah cucu." Mama tersenyum geli dan melanjutkan kembali nontonnya.


Sedangkan di kamar. Erkan langsung memeluk istrinya. "Mas kangen banget, Sa."


"Dih, salah siapa pulang telat? Udah sana mandi dulu, Lisa udah ngantuk. Dari tadi nunggu Mas gak pulang-pulang."


Erkan tersenyum. "Ya udah, Mas mandi. Kamu jangan tidur dulu."


"Iya, udah sana. Mas bau acem ih." Canda Lisa karena sebenarnya Erkan sama sekali tidak bau. Justru lelaki itu masih wangi seperti pagi tadi.


"Baru kali ini ada yang ngatain Mas bau acem loh."


"Hihi... canda atuh Mas. Udah sana mandi biar seger. Mas udah makan kan?"


"Udah tadi." Jawab Erkan masih menempel seperti perangko. Bahkan ia mengendus aroma vanilla yang menyeruak dari kulit halus istrinya.


Lisa menghela napas berat. "Kapan mau mandinya kalau nempel terus, Mas?"


"Bentar lagi, habis kamu wangi."


Lisa pun terlihat pasrah, bahkan membiarkan Erkan meraba-raba tubuhnya. Setelah puas, Erkan pun buru-buru beranjak ke kamar mandi. Lisa yang melihat itu cuma bisa menggeleng.


"Hah, gini nih kalau punya suami kelamaan menduda." Lisa pun langsung beranjak ke ruang ganti untuk menyiapkan pakaian tidur suaminya.

__ADS_1


Tbc...


Ada yang setuju gak nih aku selipin cerita Elkan? Kalau setuju komen ya sis... love you


__ADS_2