SIANIDA (Siap Nikah Sama Duda)

SIANIDA (Siap Nikah Sama Duda)
Liburan


__ADS_3

Lisa tersenyum lebar saat melihat Erkan pulang. Sejak tadi Lisa memang menunggunya di kamar. "Capek ya, sayang?"


"Hm." Erkan melewati istrinya dan langsung masuk ke kamar mandi. Lisa mengerucutkan bibirnya. "Ck, masih ngambek rupanya."


Lisa melangkah pasti menuju ruang ganti, seperti biasa ia akan menyiapkan pakaian suaminya sambil bersenandung. "Loh, kok berantakan gini sih? Ini mah kerjaan siapa lagi kalau bukan Paksu. Tadi pagi kan Mas Erkan nyari dasi sendiri."


Lisa pun menghela napas dan merapikan susunan dasi suaminya yang sedikit berantakan. "Padahal mah tinggal nyomotan aja atuh udah beres, heran banget kok bisa berantakan gini ya? Kebiasaan ini mah."


"Ngedumel apa sih?" Lisa tersentak kaget karena tiba-tiba Erkan datang dan memeluknya dari belakang.


"Ih... kaget atuh Mas." Kesal Lisa. Erkan tertawa geli.


"Makanya jangan ngedumel terus, suara pintu kebuka aja sampe gak dengar."


"Habis Masnya kebiasaan, selalu aja berantakin susunan dasinya. Padahal Lisa teh selalu rapiin tiap hari. Lisa susun juga sesuai warna. Masih aja acak-acakan, rikes atuh Kang."


Erkan tersenyum geli mendengar omelan Lisa yang lebih mirip lawakan itu. Sebenarnya Erkan memang sengaja mengacak-ngacak dasinya karena ingin terus mendengaran omelan lucu sang istri. Baginya itu sangat menggemaskan dan membuat suasana menjadi rame.


"Besok-besok awas aja kalau dasinya berantakan lagi. Tar Lisa teh gantung di dinding biar kayak pajangan." Ancamnya.


Erkan tersenyum geli. "Jangan atuh, sayang. Nanti rumah kita teh gak estetik lagi." Sahut Erkan meniru gaya bicara istrinya. Sontak Lisa pun langsung berbalik.


"Ih... Mas mah malah ngejek." Lisa memukul dada suaminya kesal. "Udah ah, Lisa teh mau keluar. Kamu mah bikin kesel aja kerjaannya. Udah sana ganti baju,"


"Bantuin." Rengek Erkan seperti anak kecil.


"Ck, jangan manja. Ray aja pake baju sendiri. Awas, Lisa teh mau liat Ray udah mandi belum."


"Cium dulu atuh Akangnya, Neng." Pinta Erkan yang lagi-lagi meniru logat sunda istrinya. Dan itu berhasil membuat Lisa tergelak.


"Duh... kamu teh bikin gemes. Tapi Mas lucu pas ngomong logat sunda gitu, keliatan di buat-buatnya. Kalau Eneng mah da emang ti orok udah ngomong sunda. Sampe di kampus geh sering di ejek ratu sunda. Logatnya gak ilang padahal mah empat tahun tinggal di kota."


Erkan tersenyum lucu. "Gak usah dihilangin, Mas justru seneng denger kamu ngomong. Lucu sama bikin gemes. Biar jadi ciri khas kamu aja kayak gitu."


"Lagian Lisa geh gak bakal hilangin logat suku sendiri. Bisa kena amuk sama si Mamah. Paling Lisa teh agak hilangin dikit pas ngumpul sama temen kampus. Biar gak diejek terus."


"Hm. Gak masalah kalau itu. Yang jadi masalah itu kapan Mas dapat ciumannya? Udah nunggu dari tadi."


"Bukannya Mas teh lagi marah ya? Uh, dasar playboy." Lisa menoel hidung mancung suaminya. Erkan mengerut bingung.


"Playboy?"


"Iya, Mas kan playboy pas sma dulu."


Erkan berdecak kesal. "Pasti Chelyn jelekin Mas ya?"


"Enggak kok, tadi Lisa yang nanya. Pengen tahu aja kamu teh pas sma gimana. Rupanya Mas pernah jadi ketua osis ya? Ih keren atuh. Lisa dulu pernah naksir loh sama ketua osis, tapi dianya gak mau sama Lisa karena pas itu Lisa teh masih burik. Eh gak tahunya Lisa nikah sama mantan osis, mana siswa most wanted lagi." Lisa terkekeh lucu.


Erkan tersenyum lebar. "Alhamdulillah kalau dia nolak. Kalau enggak, pasti kamu masih pacaran sama dia sampe sekarang. Terus kita gak akan bisa mesra-mesraan gini."


Lisa tertawa renyah. "Kalau Mas liat Lisa pas sma. Pasti Mas teh ketawa. Belum pernah liat kan?"


Erkan menggeleng.


"Nanti Lisa kasih liat. Soalnya semua foto sma Lisa simpen rapat-rapat. Malu kalau di liat orang. Soalnya teh pas itu Lisa item, cungkring mana culun lagi. Namanya juga suka main di sawah ikut temen-temen di kampung. Untungnya pas kuliah ketemu Mona, Bella sama Desi. Jadinya Lisa teh bisa rubah gaya jadi cewek modis, hehe."


"Untung Mas ketemu kamunya pas udah cantik. Kalau enggak Mas mana mau nikah sama cewek dekil." Candanya Erkan yang berhasil membuat Lisa melotot.


"Ih... ngeselin. Jadi Mas teh cinta sama Lisa karena cantiknya aja ya? Terus kalau nanti Lisa gendut atau keriput gimana?" Lisa memasang wajah sedih.


Erkan tertawa kecil. "Tinggal cari yang baru aja, kan banyak yang cantik-cantik."

__ADS_1


"Mas!" Lisa langsung memeluk suaminya. "Lisa teh gak ikhlas."


Erkan tertawa puas. "Mas juga mana ikhlas buat kamu sedih, Sa."


Lisa tersenyum dan semakin mengeratkan dekapannya. "Mas cinta banget kan sama Lisa?"


"Hm. Kalau gak cinta gak akan Mas nikahin." Erkan melingkarkan kedua tangannya di pinggang ramping Lisa.


"Mas, katanya mau liburan ya?"


Erkan mengerut bingung. "Tau dari mana? Chelyn?"


Lisa mengangguk dan lansung menarik diri dari pelukan Erkan. "Yuk atuh, Mas. Lisa teh pengen juga liburan. Boleh riques tempat gak, Mas?"


Erkan menggeleng. Sontak Lisa pun langsung manyun.


Cup!


Sebuah kecupan mesra pun mendarat di bibir cantik Lisa. Seketika pipi Lisa pun merona.


"Mas, main nyosor aja udah kayak bebek ih. Beneran gak boleh riques nih?" Lisa memainkan jaringan di dada polos Erkan.


"Emangnya mau kemana huh?"


"Lombok yuk, Lisa gak pernah ke sana. Katanya Gili Trawangan keren buat nikmatin liburan. Boleh ya, Mas?" Rengek Lisa.


Erkan tersenyum tipis. "Sayangnya Mas udah pesan tiket ke pulau Dewata."


Lisa tampak kecewa. "Kalau Bali mah Lisa udah pernah."


"Mas juga Lombok udah pernah, sering malah."


"Itu mah beda atuh, Mas. Lisa teh kan gak pernah sama sekali." Lisa cemberut.


Mendengar itu wajah Lisa pun langsung berbinar. "Hah? Serius?"


Erkan tersenyum yang disusul dengan anggukan kecil. "Siapin barang keperluan, besok pagi kita langsung terbang."


"Aaaa... makasih, Mas. Lisa seneng pake banget." Serunya seraya memeluk Erkan sekilas. "Oke, Lisa mau paking-paking dulu. Berapa hari kita di sana?"


"Terserah kamu aja."


"Hah? Seminggu boleh?"


Erkan mengangguk. Dan lagi-lagi Lisa bersorak kegirangan seperti anak kecil. "Makin cinta deh sama kamu, Mas."


Lisa memberikan beberapa kecupan di pipi dan bibir Erkan sebagai tanda terima kasih. "Lisa teh mau kabarin Ray dulu, pasti dia juga seneng. Yes! Liburan." Tanpa babibu lagi Lisa pun langsung melesat pergi menuju kamar putranya. Bahkan sampai lupa jika ia belum menyiapkan pakaian Erkan sangking senangnya.


"Lah, pakaian Mas mana, Sa?" Teriak Erkan baru sadar Lisa belum menyiapkan pakaian untuknya. "Gini nih kalau perempuan udah dikasih liburan, lupa sama suami." Gerutunya seraya memilih pakaian secara asal.


****


Keesokan harinya keluarga kecil itu terlihat sibuk untuk bersiap. Sebenarnya Lisa lah yang membuat suasana jadi ribut dan heboh sendiri.


"Mas, pake baju ini ya? Kita kopelan bertiga." Lisa memberikan baju kemeja pantai pada Erkan.


"Loh, kapan kamu siapin ini?" Tanya Erkan bingung sendiri.


"Kemaren, Mas. Pas Mbak Chelyn bilang kita bakal liburan, terus Lisa teh langsung aja minta antar buat beli baju keluarga. Lisa teh pengen banget kaya orang-orang, pas pergi liburan itu bajunya kopelan."


"Hm." Tanpa banyak protes lagi Erkan pun menurut.

__ADS_1


Lisa pun tersenyum senang dan ikut memakai kemeja yang sama. Dipadukan dengan hotpants berwarna denim.


Tidak lama Rayden pun masuk ke kamar tanpa mengenakan baju dan hanya pakai celana pendek. "Mama, mana baju Ray?"


"Sini biar Mama pakein, sayang." Lisa pun membungkuk, kemudian langsung memakaikan Rayden baju. "Udah, ganteng banget sih anak Mama."


"Mama juga cantik.


Setelah semuanya beres, mereka pun berangkat dengan segudang kebahagian.


Setibanya di resort dan melakukan check in, Erkan memboyong anak istrinya ke sebuah kamar suit.


"Aaaa... ternyata beneran cantik, Mas. Ini masih diliat dari sini loh." Pekik Lisa berlari ke balkon yang langsung menjorok ke laut biru.


"Sekarang istirahat aja dulu, simpen tenaga. Sore nanti baru kita jalan-jalan."


Lisa mengangguk patuh. Tubuhnya masih terasa letih karena malam tadi ia harus melayani suaminya dan paginya sudah disibukkan dengan keberangkatan. Lisa kembali ke dalam dan menjatuhkan dirinya di atas pembaringan. Lalu di susul oleh Rayden.


"Seneng gak liburan?" Tanya Lisa merubah posisinya menjadi miring ke arah Rayden. Dan kini jarak antara mereka hanya terhitung senti. Anak menggemaskan itu pun mengangguk lucu.


"Bosen ya di rumah terus tiap hari?" Lisa menoel hidung mancung Rayden karena gemas sendiri. Dan lagi-lagi Rayden hanya mengangguk lucu. "Gemesin banget sih anak Mama. Jadi pengen gigit."


Rayden menatap Lisa lekat. Lalu dielusnya pipi mulus itu dengan lembut. "Mama juga cantik, Ray suka deh. Apa lagi pas Mama peluk, Ray. Rasanya anget."


Lisa tertawa renyah. "Bilang aja pengen di peluk kan?" Rayden mengangguk yang disusul tawa lucunya. "Abis Mama anget sih, Ray suka."


Lisa pun langsung memeluk Rayden penuh kasih sayang. "Mama sayaaaaaaangggg banget sama Rayden."


"Ray juga sayaaaaaaaaaaaaaaaanggggg banget sama Mama."


Lisa tertawa bahagia. "Duh... panjang banget ya sayangnya sama Mama. Sama Papa sayang gak?"


"Sayaaaaaangggg juga."


"Sama Papa kok sayang pendek ya?" Erkan pun ikut berbaring dan memeluk keduanya.


"Karena Papa itu jarang main sama Ray, makanya sayangnya pendek aja."


Lisa dan Erkan pun tetawa geli mendengar itu. Erkan memberikan kecupan hangat di kening Rayden. "Papa juga sayang banget sama kamu. Maaf kalau waktu Papa gak banyak buat kamu, tapi Papa akan selalu berusaha menyimpan waktu untuk kamu dan Mama."


Lisa mengusap rahang tegas suaminya. "Makasih banyak, Mas. Mas teh udah ngasih Lisa kebahagian yang berlimpah. Mulai dari Rayden, cinta, dan semuanya yang udah kamu kasih. Lisa bener-bener seneeenggg banget. I love you, Mas."


Erkan tersenyum. "I love you too, sayang."


"Mama, Papa, Ray laper." Rengek Rayden menghancurkan suasana yang tengah romantis itu. Sontak Erkan dan Lisa pun tertawa bersamaan.


Dan sore harinya Erkan membawa Lisa dan Rayden bermain ke pantai. Lisa terlihat senang dan terus bermain kejar-kejaran dengan Rayden.


"Aaa... Papa!" Teriak Rayden saat Lisa berhasil menangkapnya. Lalu Lisa pun berlari ke laut dan menceburkan diri bersama Rayden ke dalam air. Dan keduanya terlihat begitu gembira.


Erkan yang melihat itu tersenyum bangga. Ia bahagia karena berhasil membuat anak istrinya sebahagia itu. "Mas janji, Mas akan selalu buat kamu dan Rayden bahagia, Sa. Kerena kamu adalah masa depan Mas dan Rayden." Gumamnya.


"Mas! Ayo dong ikutan." Ajak Lisa berteriak.


Erkan pun mengangguk dan langsung menyusul keduanya. Menjatuhkan diri ke air.


Rayden pun terus berteriak bahagia saat kedua orang tuanya berhasil menangkap dan menceburkannya ke laut. Keluarga kecil itu pun terlihat menikmati hari pertama liburan.


Karena lelah bermain, keduanya pun duduk di tepi pantai sambil menikmati segarnya air kelapa hijau. Dan menunggu sunset muncul.


"Sayang, tunggu!" Teriak seseorang yang berhasil menarik perhatian Lisa dan Erkan karena mereka begitu mengenal suara itu.

__ADS_1


"Bang Elkan?" Pekik Lisa dan Erkan kompak.


Tbc....


__ADS_2