SIANIDA (Siap Nikah Sama Duda)

SIANIDA (Siap Nikah Sama Duda)
Erkan Takut Ulat


__ADS_3

"Alhamdulillah," ucap Lisa saat tiba di kampung halaman. "Hah, pinggang Lisa teh udah sakit pisan, Mas."


Erkan tersenyum. "Sebentar, Mas buka gerbang dulu." Ia pun turun dan membuka pintu gerbang, setelah itu bergegas memasukkan mobil ke garasi.


Lisa dan Erkan pun keluar dari mobil dengan perasaan lega.


"Bang, di rumah Mamah aja parkirin mobilnya. Di sini cuma masuk satu mobil lagi." Kata Erkan.


Elkan pun mengacungkan jempol. Tidak lama Bella turun dari mobil, dengan sigap Lisa membantu Bella menggendong Ciki.


"Mas, tolong buka pintunya dong. Kasian ini anak-anak tidur." Pinta Lisa. Erkan pun mengangguk dan bergegas membuka pintu. Beruntung Erkan sudah meminta pekerja harian di rumah itu membersihkan semuanya. Jadi mereka bisa langsung istirahat.


"Hah, rindu juga sama rumah ini ya? Lama banget gak kita tinggalin, ada setengah tahun kali ya?" Ucap Lisa menjatuhkan bokongnya di kasur empuk.


"Ada kayaknya." Erkan meletakkan koper di ujung ruangan.


"Mas, pengen jajan tempat Buk Een, tapi sama kamu." Rengek Lisa tersenyum penuh harap.


"Udah emak-emak juga masih aja pengen jajan." Ledek Erkan.


"Pengen aja tiba-tiba," sahut Lisa mengusap perutnya dengan lembut. "Mau ya, Mas?"


Erkan menghela napas berat. "Iya deh."


"Yey, makasih sayang." Ucap Lisa terlihat bahagia.


"Mau pergi sekarang?" Erkan ikut duduk di sebelah istrinya.


"Tar lagi deh, kasian kamu pasti capek." Lisa bergelayut manja di lengan Erkan. "Seneng deh bisa meet time lagi. Kangen banget sama kamu, Mas. Sibuk banget sih."


"Makanya Mas mau habisin waktu bareng kamu di sini. Pasti Ray sibuk sama Nenek Kakeknya di sini. Jadi kita bisa punya waktu banyak." Jawab Erkan yang berhasil membuat Lisa tersenyum.


"Dasar, nyari kesempatan aja kamu mah."


"Jelas dong, kalau di rumah kamu lebih banyak habisin waktu bareng Ray ketimbang Mas." Erkan mengecup kening Lisa dengan lembut.


"Namanya juga cuma Ray yang ada di rumah, Mas."


"Iya sih."


"Mas, udah gak capek ya?" Lisa mendongak.


"Kenapa emang? Mau jajan sekarang?"


Lisa mengangguk. "Pengen beli es krim coklat. Terus kita makan di sana, pasti enak."


"Bumil mah aneh-aneh aja ya kemaunnya?"


Lisa terkekeh lucu. "Lisa juga gak tahu, lagi pengen aja."


"Ya udah, yuk." Ajak Erkan.


Lisa mengangguk. Lalu keduanya pun langsung beranjak pergi.


Sepanjang jalan Lisa sama sekali tak melepaskan genggaman tangan suaminya. Bahkan mereka berjalan santai sambil menikmati sejuknya udara pedesaan.


"Wah... ada Neng Lisa sama Pak Erkan rupanya? Kapan datangnya atuh, Neng?" Sapa Ibu-ibu tetangga yang sedang menjemur padi di pinggiran jalan.


Lisa dan Erkan pun berhenti. "Baru aja, Buk. Gimana kabarnya, Buk? Keluarga sehat semua kan?"

__ADS_1


"Alhamdulillah sehat semua, Neng. Duh... mesra banget sih? Apa juga banyak yang bilang kalau Eneng sama Mas Erkan teh mau cerai."


Lisa tertawa kecil. "Namanya juga gosip, Buk. Gak usah dianggap serius."


"Iya, Neng. Katanya lagi hamil ya? Buk Endang bilang anaknya kembar lima, beneran Neng?"


"Doain aja ya Buk, Insya Allah kalau Allah mengizinkan."


"Aamiin. Mudah-mudahan Neng Lisa teh sehat sampai lahiran ya? Bayi-bayinya juga sehat semua. Ibu seneng banget dengarnya. Gak kebayang tar rumah Buk Endang rame sama cucu-cucunya. Lahiran di sini kan Neng?"


Lisa menatap suaminya sekilas. "Gak bisa nentuin juga sih, Buk. Di mana aja lahirannya yang penting sehat."


"Iya, Neng. Ibu doain semoga Eneng sama Mas Erkan teh selalu bahagia."


"Aamiin, makasih ya Buk."


"Sama-sama, terus ini mau ke mana?"


"Itu mau ke warung Buk Een, Buk. Kangen jajan di sana."


"Owalah... sok atuh, Neng. Maaf Ibu cegat di jalan."


Lisa tersenyum ramah. "Gak papa atuh, Buk. Lumayan kan bisa ngobrol."


"Enya, sok mangga atuh dilanjut."


"Mari, Buk." Pamit Erkan. Ibu itu pun mengangguk sambil tersenyum ramah, lalu mereka pun kembali melanjutkan perjalanan.


"Mereka dapat gosip dari mana kita mau cerai? Perasaan gak terbesit dalam hati sekali pun buat pisah sama kamu, Yang. Ditinggal sehari aja rasanya Mas hilang arah." Gerutu Erkan.


Lisa tertawa kecil. "Namanya juga mulut orang, Mas. Gak semua orang suka sama kita. Mereka teh ngira kita mau cerai karena pas itu Lisa main ke rumah Mamah sendirian, gak tahu mereka punya pikiran gitu dari mana?" Jelasnya.


"Ish, punya tetangga gitu amat ya? Tega banget mereka doain kita yang jelek-jelek." Kata Erkan yang sebenarnya agak dongkol.


Erkan tersenyum. "Besok juga boleh."


"Beneran?" Seru Lisa begitu antusias.


"Iya, lagian kita ke sini juga mau senang-senang. Jadi nikmati sekecil apa pun waktu yang kita miliki." Erkan mengecup kening Lisa sekilas.


"I love you." Ucap Lisa menempelkan pipinya di lengan Erkan.


"Love you too."


"Duh... mesranya. Kayak pengantin baru aja, seneng atuh Ibu liatnya, Neng." Sapa Buk Een saat mereka tiba di warung.


"Namanya juga suami istri, harus lengket terus, Buk. Tar kalau jauhan malah digosipin lagi." Lisa terkekeh lucu.


"Hihi... bisa aja si Eneng Mah. Kapan sampenya Neng? Kok Ibu baru liat?"


"Baru aja, Buk."


"Owh, rombongan tadi ya?"


Erkan dan Lisa pun mengangguk.


"Walah... kirain teh siapa tadi kok banyak mobil bagus yang datang, rupanya keluarga besar ya?"


"Iya, Buk. Pengen liburan di sini sesekali." Kali ini Erkan yang menjawab. Ia duduk di kursi, sedangkan Lisa langsung menuju freezer untuk mencari es krim incarannya.

__ADS_1


"Si Eneng langsung lari ke es krim aja, lagi ngidam ya, Neng?"


"Iya nih, Buk. Tiba-tiba pengen makan es krim sama jajan di sini. Mungkin karena udah lama juga gak ke sini, jadi kangen Buk Een, hehe."


"Bisa aja si Eneng mah. Terus si kasepnya kok gak ikut?"


"Lagi temu kangen sama Neneknya, Buk." Kata Lisa beranjak duduk di sebelah suaminya. "Mau?"


Erkan menggeleng.


"Ish... enak loh, Mas. Seger, apa lagi hari udah mulai panas."


"Hm." Erkan terus memperhatikan Lisa yang sedang asik menikmati es krim yang sama sekali tak membuatnya selera. "Malah Mas pengen nanas, Yang."


Lisa menoleh. "Mas ngidam lagi? Tar deh kita cari dipasar ya? Kita pergi pake motor aja biar cepet."


"Boleh. Dicocol pake kecap kayaknya enak."


"Lah, gak pernah loh nanas dicocol pake kecap, Mas." Lisa terkekeh lucu. Keinginan Erkan membuatnya geli sendiri.


"Namanya juga lagi pengen, udah cepetan dihabisin. Kita langsung ke pasar, udah pengen banget."


"Sabar atuh, Mas. Baru juga dua suap."


"Duh... lucu banget ngidamnya Pak Erkan. Ibu baru dengar loh makan nanas dicocol kecap, kalau sama sambel rujak boleh kali ya?" Buk Een pun tertawa geli.


Erkan tersenyum ramah. "Kayaknya enak aja Buk pas dibayangin. Apa lagi makannya di gubuk belakang itu. Duh... pasti anginnya semeliwir."


"Suami saya emang aneh kalau ngidam, Buk. Bikin gemes." Kata Lisa mencubit pipi Erkan gemas. "Gimana saya gak makin cinta kalau gini."


"Sakit loh, Yang."


"Uluh-uluh... cayang banget pipinya atit ya? Sini biar Eneng cium," goda Lisa yang berhasil membuat Buk Een tertawa.


"Hah, anak muda sekarang mah emang ada aja ya tingkahnya? Udah pada nikah aja masih lucu."


"Hidup ini dibawa bahagia aja, Buk. Cuma dikasih kesempatan sekali soalnya." Kata Lisa kembali melahap es krimnya.


"Bener juga si Eneng, gak perlu ribet ya, Neng? Bersyukur aja apa yang kita punya."


"Nah bener itu." Sahut Lisa tersenyum lepas. Buk Een pun ikut tersenyum.


"Yang!" Seru Erkan tiba-tiba berteriak dan mengangkat kakinya ke atas bangku.


"Apa sih, Mas?"


"Ulat! Itu! Gede banget, usir cepetan." Seru Erkan menunjuk seekor ulat di lantai. Bahkan tanpa sadar Erkan sudah berjongkok di atas bangku.


"Mas, kamu teh takut ulat? Kok Lisa baru tahu ya?"


"Yang, cepetan dibuang ituh jalan ke sini." Teriak Erkan panik sendiri. Sontak Lisa pun tertawa geli.


"Ulat kecil itu mah, Mas." Lisa bangkit, diambilnya ranting kayu. Lalu membuang ulat itu jauh-jauh. Erkan yang melihat itu bergidik ngeri.


"Hih... geli banget sama yang namanya ulat."


Lisa dan Buk Een tertawa lucu. "Ganteng-ganteng takut ulat, ilang atuh Mas gantengnya."


"Namanya juga geli, sayang. Mana bisa diukur dari ganteng atau jelek." Kata Erkan sambil melihat kiri dan kanan, takut masih ada binatang menggelikan itu.

__ADS_1


Lisa masih saja tertawa. "Mas! Itu dibaju kamu." Teriak Lisa yang berhasil membuat Erkan lompat dari tempatnya. Sontak tawa Lisa pun pecah.


"Alisa!"


__ADS_2