
Rayden berlari kecil menghampiri keduanya. "Mama sama Papa ngapain?" Tanya Rayden dengan tatapan polosnya. Sedangkan yang ditanya cuma bisa saling pandang.
Lisa tersenyum kikuk dan berjongkok di depan Rayden. "Tadi Mama kelilipan, jadi Papa bantu tiupin." Alibinya.
Rayden memandang wajah Lisa. "Sekarang masih sakit?" Tanyanya sambil mengusap pipi Lisa.
Lisa pun tersenyum lebar. "Enggak kok, kan udah Papa bantu tadi."
Erkan tersenyum geli mendengar itu.
Rayden tersenyum. "Mama harus hati-hati. Ray gak mau Mama sakit."
"Duh... perhatian banget sih sama Mama. Sini Mama peluk." Lisa pun memeluk Rayden dengan penuh kasih sayang. "Mama sayang Rayden."
"Ray juga sayang Mama." Rayden mengalungkan kedua tangannya di leher Lisa. Erkan yang melihat itu tersenyum senang. Hatinya benar-benar menghangat melihat kemesraan mereka.
"Mama, Ray pengen pipis." Keluh Rayden membuyarkan suasana.
"Duh... hayuk atuh. Jangan sampe keteteran di sini." Lisa pun langsung bangun. "Di mana toiletnya Mas?"
Erkan menunjuk sebuah pintu. Dan dengan cepat Lisa membawa Rayden ke sana. Erkan tersenyum geli, dan kembali ke meja kerjanya.
Lisa merapikan celana Rayden. Setelah itu keduanya pun kembali ke ruangan.
"Mas, kayaknya Lisa pulang aja ya? Lagian Mas kan mau meeting."
Erkan mengerut bingung. "Gak mau makan siang bareng dulu?"
Lisa tampak berpikir. "Tapi masih jam sebelas, Mas."
"Tunggu satu jam lagi boleh? Mas siapin kerjaan dikit lagi."
Lisa pun mengangguk. "Ya udah, kalau gitu Lisa tunggu di ruang istirahat aja ya? Boleh hidupin tv kan?"
"Boleh, sayang."
Lisa tersenyum senang. "Makasih, Mas."
"Sama-sama."
Lisa pun langsung membawa Rayden ke ruang istirahat Erkan. Lalu menghidupkan televisi dan mencari channel yang menarik. Dan akhirnya jatuh pada tayangan kartun kesukaannya. Lisa juga terlihat senang karena di sana banyak cemilan.
"Kayaknya Mas Erkan sering nonton juga ya? Banyak banget cemilannya." Gumamnya.
Lisa tidak tahu saja jika Erkan menyiapkan itu secara dadakan. Pagi-pagi tadi Erkan meminta pada Linda untuk membeli beberapa cemilan supaya istrinya tidak bosan. Uh... Erkan memang suami idaman.
"Mama, Ray mau." Rengek Rayden duduk di pangkuan Lisa. Kemudian ikut menyomot cemilan. Dan keduanya pun terlihat menikmati tayangan kartun yang berhasil membuat keduanya tertawa dan beteriak bersama saat ada adegan lucu.
Siang harinya, Erkan pun membawa Lisa dan anaknya ke sebuah restoran ternama. Dan memesan beberapa makanan lezat tentunya. Karena Erkan akan selalu mengutamakan kenyamanan dan kebahagiaan anak istrinya.
"Mas, banyak banget pesennya?" Heran Lisa saat makanan datang.
"Biar kamu sama Ray kenyang."
__ADS_1
"Ya Allah, Mas. Padahal mah gak perlu kayak gini. Kalau gak abis kan mubajir."
"Rasa dulu, makanan di sini itu enak-enak. Kamu bakal ketagihan."
"Eh? Masak sih?"
"Iya, cobak aja kalau gak percaya." Erkan tersenyum.
Karena penasaran, Lisa pun mulai mencicipinya. "Bismillah...." Seketika mata Lisa pun membulat. "Mas! Beneran enak loh."
"Hm. Selain enak, tempatnya juga nyaman dan gak bikin gerah." Sindir Erkan.
Lisa tertawa renyah. "Cie yang masih inget kencan pertama. Panas-panas juga Mas doyan kan?"
"Ya... lumayan lah."
"Huh, tar awas kalau minta ke sana lagi."
"Tidak akan, cukup sekali." Sombong Erkan. "Udah, lanjut makannya."
Lisa mengangguk, dan mereka pun terlihat menikmati makan siang saat ini. Sampai mata Lisa pun tidak sengaja melihat seseorang yang dikenalnya.
"Loh, itu bukannya Bang Elkan ya?"
Erkan yang mendengar itu langsung melihat ke arah pandangan Lisa. Benar saja, di sana Elkan terlihat sedang berbincang santai dengan seorang wanita. Hanya saja wanita itu tidak diketahui identitasnya karena posisinya membelakangi mereka. Dan terlihat jelas kebahagian terpancar di wajah Elkan. Bahkan lelaki itu sesekali tertawa lepas.
Erkan pun kembali menarik perhatian pada Lisa. Ternyata Lisa juga sedang memandang Erkan. "Bang Elkan selingkuh?"
"Mas gak tahu, sayang. Mungkin kliennya. Tapi udah lama Mas gak pernah liat Bang Elkan ketawa lepas gitu."
Erkan menggeleng pelan. "Ngomong apa sih? Seharusnya kita doain rumah tangga mereka baik-baik aja."
"Gak yakin, suami mana sih yang tahan kalau istrinya masih gatal sama mantan." Ketus Lisa. Entahlah, jika membahas Zia hatinya mendadak panas.
"Mas suka kamu yang cemburuan gini. Itu artinya Mas ini spesial." Erkan tersenyum geli.
"Ck, Mas kan suami Lisa. Jelas spesial lah. Iya kan, sayang?" Lisa mengusap kepala Rayden yang sedang lahap menyantap makanan favoritnya, dimsum. Rayden pun menoleh dan mengangguk meski ia tidak mengerti apa yang ditanyakan oleh Lisa.
"Kamu mah ngangguk aja, tahu pun enggak apa yang Mama bilang." Lisa terkekeh lucu.
"Tahu, dimsumnya enak." Sahut Rayden.
Lisa dan Erkan pun tertawa geli. "Tahunya makan aja. Habisin." Ujar Erkan ikut mengusap kepala putranya.
"Mas, pokoknya Mas gak boleh ketemu Teh Zia lagi ya?"
Erkan mengerut bingung. "Mas mana bisa ngatur pertemuan tak terduga, sayang."
Lisa cemberut. "Pokoknya mah kalau katemu jangan lirik-lirik. Tar dia makin geer. Awas kalau lirik-lirik, gak Lisa kasih jatah satu bulan." Ancamnya.
"Ngeri ya kamu kalau lagi ngambek? Main ngurangin jatah aja. Sebulan gak kamu kasih kayaknya Mas bisa mati berdiri." Erkan terkekeh geli.
"Biar aja, makanya jangan gatel."
__ADS_1
"Huh, ngelirik aja jatah satu bulan hilang. Gimana kalau selingkuh?"
"Mas! Kamu teh mau selingkuh?" Geram Lisa sambil memelototi suaminya.
"Selingkuh gak ada dalam kamus Mas, Sa."
"Mana tahu. Awas aja kalau berani selingkuh, Lisa pites-pites."
"Apanya?" Canda Erkan.
"Ih... pake nanya lagi. Ngeselin lama-lama kamu mah, Mas."
"Kamu juga makin gemesin lama-lama." Balas Erkan.
"Mas!" Lisa menggeram pelan.
"Mama sama Papa ribut, Ray kan gak fokus makannya." Tegur Rayden yang berhasil mencuri atensi kedua orang tuanya.
"Mama kamu yang cerewet tuh." Cibir Erkan masih belum puas membuat istrinya kesal.
"Kok Lisa sih?"
"Kan emang kamu yang mulai."
Lisa menyebikkan bibirnya sambil menusuk-nusuk potongan daging dengan kesal. Sedangkan Erkan dengan santai melanjutkan makannya.
"Jangan manyun gitu, kalau pengen di cium bilang aja. Mas siap lahir batin kok."
Lisa mendelik. "Cih, otak mesum."
"Mesum-mesum juga kamu suka."
Ya Allah, ini teh beneran suami aku bukan sih? Kok jadi ngeselin gini ya? Perasaan dulu kalem banget. Mungkin bener kata orang, kalau mau kenal orang luar dalamnya itu harus tinggal satu atap setidaknya tiga hari. Buktinya ketahuan sekarang kalau Mas Erkan itu ngeselin. Tapi ngangenin sih, hehe. Tanpa sadar Lisa senyum-senyum sendiri.
"Kenapa senyum-senyum, lagi hayalin apa?"
Lisa pun tesentak kaget. "Dih, siapa yang senyum. Orang lagi ngunyah juga." Elaknya.
"Oh, baru tahu orang ngunyah bibirnya melengkung." Erkan tersenyum geli.
"Mas, jangan bikin Lisa kesel terus atuh. Gimana kalau Lisa teh cepet tua?"
"Gampang, tinggal cari yang baru."
"Mas!" Sepetinya Erkan benar-benar sedang menguji kesabaran Lisa saat ini. Beruntung stok sabar Lisa masih banyak.
"Mas Erkan?"
Lisa dan Erkan pun menoleh bersamaan. Sontak mata Erkan pun membulat.
"Nana?"
Tbc...
__ADS_1
Duh... kira-kira siapa lagi ya itu? Ada yang tahu gak nih? Hehe....