
Minggu menjelang siang, semua keluarga besar pun terlihat begitu semangat mempersiapkan segala perlengkapan untuk dibawa ke danau. Terutama Mama Dinar dan Mamah Endang, keduanya terlihat begitu antusias memasukkan semua barang ke dalam mobil.
"Duh... apa lagi ini? Jangan sampai ketinggalan." Kata Mamah Endang kebingungan sendiri.
"Kayaknya udah deh, Buk." Jawab Mama Dinar tak kalah semangat sambil mengecek semua perlengkapan yang sudah masuk ke dalam mobil.
"Terus ini si Eneng sama Erkan mana ya?" Tanya Mamah lagi saat tak menemukan putri dan menantunya.
"Lah, iya ya. Kemana mereka?"
Di kamar, Lisa terlihat gelisah karena Erkan sejak tadi tidak berhenti muntah-muntah.
"Mas, mending gak usah pergi aja deh ya?" Lisa memijat tengkuk suaminya.
"Gak bisa, Sayang. Yang lain udah siap semua. Kayaknya ini mual bukan karena ngidam, tapi gara-gara makan nanas kemaren deh."
"Lah, makan nanasnya kapan mualnya kapan, Mas? Banyak banget alesannya kamu mah ih." Protes Lisa sembari memboyong Erkan keluar dari kamar mandi.
"Dari semalem Mas sakit perut, Sa. Tapi Mas gak bilang karena takut kamu cemas," jawab Erkan. Dengan cekatan Lisa membantu Erkan duduk bersandar di kepala ranjang. Lalu mengambil minyak telon dan membalurkannya di perut, dada dan punggung Erkan.
"Duh... kayaknya yang lain udah pada nunggu nih, Mas. Apa kita bilang aja gak jadi?"
"Jangan, bilang aja kita nyusul. Mas minum obat dulu, tar kita pergi belakangan."
"Ck, ngeyel kamu mah, Mas. Ya udah, Lisa keluar bentar ya?" Lisa menaruh minyak telon tadi di tempat semula. Setelah itu ia pun bergegas keluar.
"Loh, kok masih pake baju tidur?" Tanya Mama Dinar saat melihat Lisa.
"Itu, Ma. Mas Erkan muntah-muntah terus dari semalem, perut juga sakit katanya." Adu Lisa.
"Loh, kenapa sama Erkan? Masuk angin atau apa?" Kali ini Mamah Endang ikut menimpali.
"Gak tahu, Mah. Kayaknya mah gara-gara kebanyakan makan nanas kemaren. Dua buah abis sendiri." Ujar Lisa dengan entengnya.
"Duh... aya-aya bae si kasep mah. Jadi kumaha atuh? (Ada-ada aja di ganteng. Jadi bagaimana dong?" Tanya Mamah terlihat cemas.
"Pergi aja duluan, nanti kalau memungkinkan Eneng sama Mas Erkan nyusul, Mah." Jawab Lisa.
"Lah, mana seru kalau gini. Kita kan ke sini mau senang-senang, kalau ada keluarga yang sakit mana bisa pergi." Kata Mama Dinar masuk ke dalam rumah. Lisa yang melihat itu pun langsung mengekorinya.
"Lagian si Er makan nanas gak kira-kira amat. Ngidam boleh, tapi jangan rakus juga." Omel Mama. Lisa yang mendengar itu tertawa kecil. Lalu keduanya pun masuk ke kamar.
Mama menarik napas panjang saat melihat Erkan yang terkulai lemas di atas pembaringan.
"Mau Mama kerokin gak?" Tawar Mama duduk di sebelah Erkan.
"Gak usah, Ma." Sahut Erkan.
"Gak usah gimana? Mama rasa kamu masuk angin. Udah sini Mama kerokin. Sa, ada uang koin gak sama balsem?"
"Balsem gak ada, Ma. Ada juga minyak telon." Jawab Lisa sembari membuka laci untuk mengambil uang koin.
"Gak papa, pake minyak telon aja. Buka bajunya, terus belakangin Mama, Er." Titah Mama sedikit memukul lengan anaknya.
Dengan patuh Erkan membuka kaosnya dan membelakangi sang Mama. Sedangkan Lisa memberikan uang koin dan minyak telon.
"Makanya besok-besok kalau ngidam itu dikontrol, ini mah main makan-makan aja. Gak peduli tuh lambung kuwalahan." Omel Mama sembari mengerok punggung Erkan. Sedangkan Lisa duduk di tepi ranjang, cuma bisa menonton.
"Pelan-pelan, Ma. Perih tahu." Keluh Erkan.
"Kalau perih tandanya kamu masuk angin beneran, liat tuh sampe item gini. Bandel sih, udah tua juga."
Lisa tersenyum geli melihat perdebatan kecil mereka.
"Tua-tua gini juga Lisa cinta mati sama aku, Ma. Iya kan, Yang?" Erkan melirik istrinya.
"Dih... narsis. Berhubung kamu ganteng aja Lisa mau. Kalau jelek Mama rasa Lisa pun mana mau."
"Ma, kalau yang namanya cinta itu apa pun kondisinya pasti tetap cinta. Kan cinta itu buta dan tuli. Mau ganteng, jelek, kaya, miskin, kalau udah cinta ya cinta aja."
"Eleh, Mama rasa kalau Lisa jelek kamu mana mau. Berhubung Lisa cantik pake banget makanya kamu doyan." Ledek Mama.
"Itu bonusnya, Ma. Kalau pun Lisa jelek, aku bakal tetap cinta sama dia. Soalnya dia itu langka." Erkan terkekeh sendiri.
"Emangnya Lisa teh apaan, Mas? Barang langka gituh?" Sembur Lisa.
"Iya, istri limited edition. Cobak deh cari sampe ujung dunia, pasti gak akan ada yang kayak kamu, Yang." Erkan tersenyum geli.
"Ya iyalah, mana ada di dunia ini yang sifat dan karakternya sama. Ada-ada aja kamu." Protes Mama sembari memukul punggung Erkan.
Erkan dan Lisa pun tertawa kecil.
"Jadi gimana dong? Bacakannya gak jadi nih?" Tanya Mama.
"Jadi, Ma. Tapi kita nyusul ya? Mau rebehan dulu sebentar. Tar kabari aja kalau ikannya udah mateng." Sahut Erkan sambil sesekali bersendawa.
__ADS_1
"Dih, pengennya kamu itu mah tinggal makan. Tapi iya deh, dari pada anak Mama kenapa-napa."
"Makasih, Ma." Ucap Erkan tersenyum senang.
"Makasihnya pake persenan dong, baru Mama ikhlas."
Lisa terkekeh lucu mendengar permintaan Mama mertuanya itu.
"Duh... punya Mama perhitungan banget sih? Iya deh, tar ditransfer."
"Beneran?" Seru Mama kesenengan.
"Iya, lima juta cukup kan?" Tanya Erkan dengan nada serius.
"Aaa... cukup dong. Koleksi baju baru ini mah." Kata Mama begitu semangat.
"Mas, Lisa gak dapat jatah nih?" Canda Lisa.
"Lah, emang atm unlimited yang kamu pegang gak cukup?" Erkan menatap istrinya heran.
"Hehe, canda doang Mas. Tapi kalau mau dikasih cash sih gak papa, Lisa terima dengan ikhlas." Lisa tersenyum lucu.
"Emang mau beli apa sih?" Tanya Erkan menatap Lisa serius.
"Gak pengen beli apa-apa sih. Cuma udah lama aja gak pegang uang cash yang banyak."
"Tinggal narik aja, Yang. Gemesin ih."
"Beda atuh, Mas. Lisa teh pengennya kamu yang kasih langsung. Kan selama ini kamu cuma transfer doang, Lisa teh gak pernah dikasih uang cash secara langsung." Jelas Lisa sambil senyum-senyum sendiri.
"Kayaknya ngidam tuh, Er. Mending kasih aja dari pada cucu-cucu Mama ileran."
"Bisa jadi sih, Ma. Soalnya gak tahu kenapa pengen banget gitu di kasih uang cash sama Mas Erkan?" Imbuh Lisa.
Erkan menarik napas panjang. "Aneh kamu mah ngidamnya. Iya deh, tar Mas kasih."
Lisa tersenyum bahagia. "Makasih, Mas."
"Sama-sama, Cinta."
"Duh... Mama jadi iri. Pengen dipanggil Cinta juga ah sama Papa. Biar so sweet kayak kalian."
"Dih... udah tua juga." Ledek Erkan.
"Udah kayak pilot aja jam terbangnya tinggi." Ledek Erkan lagi.
"Ish, iri aja kamu sama yang tua. Abis ini makan lagi yang aneh-aneh, biar perutnya kapok." Ketus Mama.
"Mama ngajarinnya yang gak bener."
"Bukan ngajarin, cuma nyindir.
Kamu aja yang gak peka."
"Udah tahu anaknya gak peka masih pake sindiran."
"Ck, udah ah. Mama mau berangkat, capek debat sama kamu. Gak ada abisnya. Nih, biar Lisa aja yang lanjutin ya?"
"Boleh, Ma." Lisa pun mengambil alih posisi Mama mertuanya. Kemudian Mama pun berpamitan pergi karena yang lain sudah menunggu di luar.
"Ck, kamu mah Mama pun dilawan, Mas. Dos ih."
"Salah Mama ngomel terus, makin tua makin banyak kata-kata yang keluar."
Lisa memukul punggung Erkan. "Minta maaf sama Mama, dosa ih ngomongin orang tua."
"Kamu yang mulai sih."
"Ck, kok jadi Lisa sih yang salah?"
"Iya deh, Mas yang salah. Istri secantik kamu mana pernah salah."
"Hish... bisa aja kamu, Mas."
****
Setelah dirasa baikan, Erkan pun mengajak Lisa berangkat menuju danau. Sebelum itu mereka pun mampir terlebih dahulu di supermarket untuk membeli beberapa cemilan, setelahnya mereka pun kembali melanjutkan perjalanan.
"Wih, udah beres semua ya?" Seru Erkan saat mereka bergabung dengan yang lain. Dan semua hidangan sudah tertata rapi, seakan siap disantap.
"Udah dong, emang situ datang pas enaknya aja." Ledek Viola yang tengah menyiapkan minuman segar.
"Duh, kesindir nih," sahut Lisa tertawa kecil. Begitu pun dengan Viola, ibu satu anak itu pun tertawa.
"Kapan nih mulai makannya? Lapar banget udah." Kata Erkan, duduk bersila di sebelah sang Mama.
__ADS_1
"Sabar dong, nunggu Papa sama Abah kalian yang lagi ambil daun." Jawab Mama Dinar.
"Widih, mantap dong kalau makannya pake daun." Seru Erkan sembari menyomot tempe dan tahu goreng.
"Ish... udah cuci tangan belum?" Tegur Mama.
"Belum, hehe."
"Ih... jorok." Kompak Viola dan Bella menatap Erkan sengit.
"Vitamin Z." Sahut Erkan dengan mulut dipenuhi makanan.
"Ish, suami lo makin ke sini makin aneh kayaknya, Sa." Kesal Bella.
"Efek bucin kali." Timpal Elkan.
"Bisa jadi, sejak kenal Kak Lisa si Abang emang bucin akut." Kata Viola menjurkan lidahnya pada Erkan.
"Bucin sama istri sendiri apa salahnya? Justru wajib loh," jawab Erkan yang kembali menyomot tahu goreng karena efek lapar.
"Ih... abis dong kalau dicomotin terus tahunya. Kayak orang kelaperan aja." Kesal Viola.
"Emang lapar, Viola sayang. Makanya Abang kamu ini kemari." Sahut Erkan.
"Dih, pantes."
"Mama, Papa." Seru Rayden yang muncul bersama Papa dan Abah. Anak itu pun langsung duduk di sebelah Lisa.
"Dari mana anak Mama? Sampe keringetan gini." Lisa mengusap kepala Rayden yang basah karena keringat.
"Abis ambil daun ke kebun sana, Mama.
Panas, tapi seru. Tadi Ray juga nemu kura-kura kecil. Pengen Ray bawa, tapi kata Kakek kasian Mamanya nanti nyariin. Jadi Ray biarin aja deh di sana." Oceh Rayden yang berhasil mengundang tawa Lisa dan yang lain.
"Duh... pinternya anak Mama. Sampe keringatan gini loh." Lisa mengambil tisue, lalu menyapu keringat di wajah putranya itu.
"Abis panas, Mama."
"Itu karena belum terbiasa main di luar. Kamu kan biasanya juga keluar masuk AC." Ledek Elkan.
"Biarin, woe." Sahut Rayden menjulurkan lidahnya.
"Ceburin aja ke danau, biar gak bau asem." Kata Viola.
"Mama!" Teriak Rayden tidak terima.
"Ish, udah jangan berantem. Ayo makan, udah pada lapar kan?" Tegur Mama Dinar.
"Pake banget, Ma. Minta ikan yang paling gede ya? Aku berdua aja sama Lisa." Pinta Erkan.
"Ray juga mau makan sama Mama." Rengek Rayden.
"Enggak, Mama sama Papa. Kamu makan sendiri aja sana. Udah gede juga. Mama mau suapin Papa." Kekeh Erkan.
"Ray mau makan sama Mama!" Seru Rayden tidak mau kalah.
Semua orang yang melihat perdebatan anak dan Ayah itu cuma bisa menggelengkan kepala.
"Nope, Mama punya Papa. Kamu makan sendiri." Erkan menarik Lisa supaya lebih dekat dengannya.
"Mas." Tegurnya.
"Mama sama Ray aja." Rayden pun menarik tangan Lisa.
"Sama Papa."
"Ray."
"Sama Papa, Ray."
"Gak mau, sama Ray pokoknya."
"Stop!" Seru Lisa berhasil menghentikan keduanya yang terus menarik tangan Lisa. "Mama punya dua tangan. Masing-masing kebagian Kok malah ribut sih?"
"Lah, kalau gitu Mas kebagian tangan kiri, Yang."
"Kapok, siapa suruh udah tua gak sadar diri. Rasain tuh makan pake tangan bekas cebok." Ledek Viola yang disambut tawa oleh yang lain. Sedangkan Erkan menyebikkan bibirnya.
Dan makan bersama itu pun berlangsung dengan khidmat. Suasana di bawah pohon rindang dengan hembusan angin sepoi membuat mereka semakin menikmati kebersamaan. Suara canda tawa mereka terdengar begitu merdu, menunjukkan jika keharmonisan selalu tercipta di antara mereka.
...-Tamat-...
Cie... udah pada nungguin ya. Maaf ya kelamaan, abis kepalaku gak bisa mikir buat nulis. Mikirin Mamaku sakit aja hampir pecah ini kepala. Mohon doanya ya Sob.
Pasti pada kecewa ya aku buat Tamat, sejak awal emang udah mau tamat sih. Tapi jangan khawatir, tar aku kasih beberapa part bonus buat kalian. So... selamat membaca
__ADS_1