
"Hah, lelah sekali everyone everybadihhh...." keluh Lisa seraya menjatuhkan tubuhnya di atas pembaringan. Dan di tengah malam ini mereka baru bisa ke kamar dan istirahat. Sungguh acara yang hampir menguras seluruh tenaga.
"Sayang, ganti pakaianmu dulu." Titah Erkan yang kini tengah melepas jas dan kemejanya. Dan kini lelaki itu sudah bertelanjang dada.
"Capek, Mas. Bukain dong." Rengek Lisa.
Erkan tersenyum jahil. "Beneran nih mau di bukain?"
"Eh? Gak jadi deh. Lisa buka sendiri aja." Lisa pun bangkit dari posisinya. "Tar kalau Mas yang buka mah endingnya jadi mengenaskan."
"Mengenaskan atau mengesankan huh?" Goda Erkan mendekati Lisa dan membantu istrinya yang kesusahan membuka resleting gaunnnya.
"Dua-duanya. Pokoknya mah malam ini kita istirahat dulu. Mas jangan minta yang macem-macem ya? Lisa teh capek atuh, Kang." Celoteh Lisa yang berhasil menggelitik hati Erkan.
"Mas lapar, sayang." Adu Erkan yang sebenarnya sudah lapar sejak tadi.
"Lah, kenapa gak bilang dari tadi atuh, Mas. Nanti deh Lisa ambilin. Gak tau masih ada sisa lauk apa enggak. Tapi masak iya sih tiga sapi abis?"
"Kalau capek gak papa Mas ambil sendiri aja."
"Jangan atuh, Mas. Tar Lisa kena omel sama si Mamah. Tunggu sebentar ya, Lisa teh mau bersihin muka dulu. Gak betah kalau bedaknya tebel kayak gini." Lisa pun beranjak menuju meja rias untuk membersihkan wajahnya dari make up.
"Iya bawel, lagi capek aja kamu bawelnya gak letulungan. Gimana kalau lagi segar?"
Lisa tertawa lucu. "Resiko punya istri cerwet ya harus tahan denger omelan, Mas."
Erkan membaringkan tubuhnya di ranjang. "Kok Mas jadi inget Rayden ya? Dia udah bobok belum ya?"
Lisa menoleh. "Dari tadi Lisa kepikiran juga, Mas. Apa kita ambil aja ya Rayden biar bobok sama kita."
"Ck, Mas males ke sananya. Capek."
"Ih... Rayden itu anak kamu loh, Mas."
"Tapi bawelnya kayak kamu." Sahut Erkan memejamkan matanya.
"Lah, katanya lapar kok malah tidur sih?"
"Sambil nunggu kan lumayan bisa tidur lima menit."
Lisa yang mendengar itu cuma bisa menggeleng. Setelah beres dengan wajahnya, Lisa pun beranjak keluar untuk mengambilkan makanan.
"Loh, kok keluar lagi, Neng?" Tanya Bik Ning, adik Mamahnya.
"Mas Erkan lapar katanya, Bik. Masih ada sisa lauk kan?" Tanya Lisa.
"Banyak, kayaknya tadi Mamah kamu teh ada sisain buat kalian. Udah tunggu aja atuh di dalem, biar Bibik yang ambilin. Bibik mah tahu kamu teh capek. Soalnya Bibik juga dulu gitu, capeknya sampe sendi kayak mau copot."
Lisa tertawa lucu. "Beneran mau diambilin nih, Bik?"
"Iya, udah sana balik ke kamar. Temenin suami, tar Bibik teh ketok pintunya."
"Ih... makin sayang deh sama Bibik. Tar Lisa kasih persenan deh."
"Ck, Bibik teh ikhlas atuh, Neng. Pake persenan segala, mending disimpen buat masa depan."
"Duh... senengnya punya Bibik baik kayak gini. Sayangnya cuma punya atu." Lisa mengacungkan jari telunjuknya. Bik Ning yang melihat itu tertawa geli.
__ADS_1
"Bisa aja kamu mah, Neng. Ya udah, Bibik ambilin dulu makanannya. Tunggu aja di kamar."
"Makasih, Bibik sayang."
Bik Ning pun tersenyum dan langsung beranjak ke dapur. Sedangkan Lisa hendak masuk ke kamar. Namun, langkahnya kembali tertahan saat mendengar suara tangisan Rayden.
"Loh, itu kan suara Ray." Dengan tergesa Lisa pun keluar. Benar saja, Rayden sedang menangis dalam gendongan Elkan. Lisa pun segera menghampirinya.
"Bang, Ray kenapa nangis?" Tanya Lisa yang berhasil mengejutkan Elkan.
"Eh, Sa. Ini dia kebangun dari tidurnya. Paling bentar lagi diem." Jawab Elkan tersenyum ramah.
"Sini sama Lisa aja." Lisa pun mengambil Rayden dari gendongan Elkan. Dan tangisan Rayden pun senyap saat tahu Lisa yang menggendongnya.
"Beneran gak papa nih?"
"Iya atuh. Ray kan anak saya. Udah ah, Lisa bawa Rayden ke dalam dulu. Kasian dia masih ngantuk kayaknya."
"Iya deh. Syukur kalau gitu. Kalau sama pawangnya langsung diem dia." Elkan cengengesan. Lisa yang melihat itu cuma bisa menggelengkan kepala dan bergegas masuk ke dalam.
Erkan terkejut saat melihat Lisa membawa Rayden dan bukan makanan. "Loh, Mas kira kamu bawa makanan. Kok malah bawa Ray sih?"
Lisa menidurkan Rayden di atas kasur. "Tadi Lisa gak sengaja denger Ray nangis. Rupanya Bang Elkan yang gendong, katanya Ray teh kebangun dari tidurnya."
Erkan menatap putranya lekat sambil mengusap kepalanya. "Paling mimpi buruk lagi. Terus makanannya mana, sayang? Mas beneran laper loh."
"Hehe, lagi diambilin sama Bik Ning tadi. Tunggu bentar lagi sampe kayaknya."
Erkan menghela napas pasrah.
"Namanya juga tadi belum lapar, Sa."
"Hah, sabar atuh sebentar lagi Bibik datang."
Benar saja, tidak lama dari itu terdengar suara ketukan pintu. Lisa pun bergegas membukanya.
"Wah, hatur nuhun nya, Bik." Ucap Lisa seraya menerima nampan berisi makanan lengkap dengan minuman segarnya."
"Sami-sami, Neng. Bibik teh ke depan dulu. Belum siap beberes."
"Mangga atuh, Bik."
Bik Ning pun beranjak dari sana. Dan Lisa pun langsung menutup pintu.
"Wih... masih ada satenya, Mas. Jadi pengen makan lagi." Ujar Lisa.
"Ya udah makan berdua aja. Kamu yang suapin ya? Mas jadi kangen suapan dari tangan kamu, Sa."
Lisa terkekeh lucu dan ikut duduk di sana. "Enak ya kalau dari tangan Lisa mah? Ada asin-asinnya gitu."
"Gak tahu, tapi rasanya beda aja pas makan dari tangan kamu. Ngangenin."
"Terus kepatil lelenya kangen gak?" Canda Lisa.
"Enggaklah, cukup sekali aja seumur hidup. Lumayan juga sakitnya."
Lisa tertawa renyah. "Jadi beneran mau disuapin nih?"
__ADS_1
"Iya, sayang."
"Ya udah Lisa teh cuci tangan dulu." Lisa memberikan nampan itu pada Erkan dan berlari kecil ke kamar mandi. Erkan pun turun dari ranjang dan duduk lesehan di bawah.
Tidak perlu lama ia sudah kembali. Kemudian duduk berhadapan dengan suaminya. Dan mengambil kembali nampan tadi, meletakkannya di atas lantai.
"Bismillah...." Lisa pun mulai menyuapi suaminya dan kemudian meyuapi diri sendiri. Keduanya terlihat begitu menikmatinya. Bahkan Erkan sampai menghabiskan beberapa tusuk sate.
"Enak kan?"
"Hm." Erkan mengangguk kecil. Ditatapnya Lisa lamat-lamat. Dan tanpa diduga Erkan mengecup ujung bibir istrinya. Sontak Lisa pun terkejut dan menegang. Sempat-sempatnya Erkan mencuri kesempatan saat mereka sedang makan.
"Ada sisa nasi yang nempel, mubajir." Alibinya. Padahal Erkan memang gemas saat melihat pipi Lisa yang kembung karena dipenuhi makanan.
"Ih... jorok Mas."
"Kok jorok sih? Nasinya kan nempel di deket bibir kamu gak jatuh ke lantai."
"Sama aja. Ih... bikin grogi tahu gak?"
Erkan tertawa lucu. "Udah sering dikecup juga masih aja grogi."
"Mas!" Lisa menyebik kesal.
"Jangan manyun gitu, Mas jadi pengen cium. Atau kamu emang mau dicium ya?"
"Ih... mulai kan? Udah ah, Lisa teh belum kenyang. Nanggung dikit lagi, kan kata Mas nanti mubajir nasinya."
"Bilang aja masih lapar."
"Hehe, tahu aja. Tapi ini udah mau kenyang kok. Aaa... sesuap lagi." Lisa pun kembali menyuapi suaminya. Dan Erkan pun tidak menolak. Bahkan Erkan sengaja menggigit tangan istrinya.
"Ih... kok malah digigit sih?"
"Impas, tadi siang kamu juga gigi jari Mas kan?"
"Huh, dasar suami pendendam."
"Bukan dendam, itu namanya gigitan manja."
"Lah, baru tahu Lisa ada namanya gigitan manja."
"Ada dong, tiap malam juga kan Mas kasih gigitan manja. Orang kamunya sampe keenakan gitu. Seminggu ini aja libur gigit-gigit manjanya."
"Tuh kan... mulai lagi mesumnya. Pasti karena perutnya udah kenyang." Tuding Lisa.
Erkan tertawa renyah. "Mas gak bisa nahan kalau deket kamu, Sa."
"Ck, malam ini libur lagi. Lagian ada Rayden di sini."
Erkan menghela napas berat. "Iya deh, ngalah kali ini. Tapi besok boleh gigit-gigit manja lagi kan?"
"Mas!" Kesal Lisa. Erkan pun tertawa puas karena selalu berhasil menggoda istrinya. Ia senang saat pipi Lisa merona karena malu. Menurutnya itu sangat cantik dan menggemaskan.
Tbc...
Dih... ada yang pada baper nih... udah jangan halu aja. Bagi yang punya suami silakan kasih gigitan manja buat suaminya. Terus liat reaksinya. Kalau udah kasih tahu ya gimana reaksinya hehe. Soalnya yang Kejora pada kepo nih. Hahaha
__ADS_1