
Lisa tak henti-hentinya menangis karena rasa sakit yang luar biasa dari bekas sayatan di perutnya. "Sakit banget, Mas. Perih. Perasaan tadi gak papa, duh...."
Erkan yang melihat itu tak tega, bahkan bingung harus berbuat apa. Ia cuma bisa menemani Lisa sambil mengusap kepalanya.
"Sabar, sayang. Tadi kan suster udah suntik obat pereda nyeri." Kata Mama Dinar ikut mengusap kapala Lisa. Mencoba menenangkan sang menantu. Sepulangnya dari ruangan bayi tadi, Lisa memang mulai merasakan sakit yang luar biasa. Bahkan sampai menangis saking tak bisa menahan sakitnya.
"Huhu... perih banget, Ma." Ringis Lisa menggigit ujung bibirnya. Bahkan tangannya menggenggam erat jemari Erkan.
"Sabar ya, sayang." Erkan mengecup kening Lisa dengan lembut. Lisa pun mengangguk meski masih menahan rasa perih bercampur sakit itu. Dirematnya lengan baju Erkan dengan erat, menyalurkan rasa sakit yang tengah ia rasakan.
"Ma, apa gak ada obat lain buat ilangin sakitnya?" Tanya Erkan merasa tak tega dengan yang dialami Lisa.
"Kan tadi udah di kasih." Jawab Mama Dinar.
"Aku gak tega liat Lisa kesakitan gini, Ma." Lirih Erkan terus memberikan kecupan di kepala istrinya. Sedangkan sang empu masih meringis menahan rasa nyeri.
Tidak lama Mamah dan Abah pun masuk. "Mulai ilang ya efek obat biusnya?" Tanya Mamah menghampiri Lisa.
"Iya, Buk. Tapi tadi udah disuntik anti nyeri."
Mamah menatap Lisa iba. "Sabar ya, Neng. Pelan-pelan sakitnya pasti ilang kok."
Lisa mengangguk lemah. Bahkan tak mampu mengeluarkan kata-kata lagi.
"Itu waktu Devi dikasih apa? Dia mah kayaknya gak kesakitan." Kata Abah yang juga tidak tega melihat kondisi putrinya.
"Devi mah normal atuh, Bah. Sehari pun udah bisa jalan."
Abah tersenyum geli. "Lupa Abah."
"Si Abah mah malah ngajak becanda, anaknya lagi sakit juga." Kata si Mamah.
"Kan hiburan dikit, jangan tegang banget. Iya kan, Neng?"
"Abah," kesal Lisa dengan suara lemahnya. "Abah mah gak ngerasin apa yang Eneng rasain. Sakit atuh, Bah."
Abah tersenyum. "Sekarang mah Eneng udah rasain kan sakitnya pengorbanan seorang Ibu? Gitu juga yang Mamah alamin dulu, jadi kudu bener-bener sayang sama Mamah."
Lisa menatap sang Mamah dengan air mata berlinang. "Lisa teh minta maaf ya, Mah."
Mamah tersenyum tulus. "Eneng mah gak punya salah sama Mamah. Sabar nya, nanti juga sakitnya hilang."
Lisa mengangguk patuh seraya menggigit bibirnya.
"Masih sakit banget, Yang?" Tanya Erkan.
"Agak kurang dikit. Tapi masih nyut-nyutan. Sakitnya sampe ke ulu hati, Mas." Adu Lisa.
"Mas jadi serba salah, Sa. Bingung mau nolongin pun gak bisa." Kata Erkan merasa bersalah.
"Gak papa, Mas. Lisa paham." Lisa membenamkan wajahnya di dada Erkan. "Makasih udah nemenin Lisa terus."
"Itu memang kewajiban Mas, Sa." Sahut Erkan.
Lisa pun memejamkan mata karena efek obatnya mulai berfungsi. Erkan pun membiarkan Lisa tidur dalam dekapannya. Ia tidak ingin meninggalkan istrinya itu meski sejengkal. Seolah merasakan apa yang tengah istrinya raakan saat ini. Ia akan selalu menjadi suami siaga untuk sang istri. Baginya perjuangan Lisa melahirkan anak-anaknya tak akan bisa ia bayar hanya dengan sebatas perhatian. Karena itu ia akan selalu siap sedia jika Lisa membutuhkannya.
****
Keesokan harinya, ruangan Lisa dirawat pun mulai ramai oleh sanak keluarga yang ingin menjenguk. Mereka masuk bergantian, dan kini giliran sahabat-sahabatnya yang masuk.
"Gimana rasanya sekarang jadi Mama huh?" Tanya Desi.
Lisa tersenyum. "Gak bisa diungkapkan."
"Suer, gw masih belum percaya anak lo beneran lima, Sa. Tadi udah gw liat. Kecil-kecil banget." Seru Mona dengan tatapan berbinar.
"Hooh, jadi gak kebayang gimana nanti rumah lo, Sa. Bakal rame kayaknya." Timpal Desi.
"Bukan rame lagi, udah bisa main bola." Sambar Bella.
__ADS_1
"Sa." Panggil Mona.
"Apa?" Lisa menatapnya penasaran.
"Kita punya kejutan buat elo."
"Apaan?" Tanya Lisa samakin penasaran. "Jangan bikin gw penasaran, Mon. Gak tahu apa gw lagi nahan sakit nih."
Mona, Desi dan Bella pun tertawa geli.
"Rasain, gw aja seminggu nangis terus. Dulu lo ledek gw kan?" Cecar Bella.
"Ck, dulu kan gw gak tahu rasanya sesakit ini." Lisa menyebikkan bibirnya.
"Sekarang udah lo rasain kan? Syukurin."
"Ish... dendam banget sama gw. Btw, kejutan apa sih? Penasaran nih." Lisa menatap ketiganya bergantian. Dan ketiganya pun saling melempar pandangan.
"Em... ada yang mau ketemu sama elo." Kata Desi.
"Hah? Siapa? Jangan bilang salah satu member BTS ya?" Seru Lisa dengan mata berbinar.
"Ck, bukan. Kita yakin ini lebih spesial dari member BTS. Cobak tebak siapa?" Kata Bella sambil memainkan alisnya.
"Duh... jangan bikin gw penasaran dong." Protes Lisa. "Cepetan, keburu sakit lagi ini luka gw. Udah daari tadi disuntik obatnya."
"Dih, gak sabaran banget." Mona pun berjalan ke arah pintu, lalu membukanya perlahan.
Seketika mata Lisa pun membulat saat melihat orang yang sudah lama tak dilihatnya berdiri didepan pintu. Bahkan tanpa sadar Lisa menutup mulutnya.
Orang itu tersenyum, lalu melangkah masuk. "Hey," sapanya.
Air mata Lisa pun luruh. "Mbak, kenapa gak bilang mau balik ke Indo?"
Ya, orang itu tak lain adalah Chelyn. Wanita itu tiba di tanah air pagi tadi, ia sengaja pulang karena mendengar kabar Lisa melahirkan. Bagaimana pun Chelyn tak bisa melupakan jasa Lisa dan Erkan.
Chelyn masih tersenyum menawan. Lalu memberikan pelukan singkat. "Selamat ya, Mbak senang banget tahu."
"Enggak kok, mana mungkin Mbak gitu. Ponsel Mbak hilang pas itu, jadi semua kontak kalian pun hilang. Mbak juga butuh ketenangan saat itu, jadi coba menghilang dulu sejenak." Jelasnya.
"Ck, bikin khawatir aja tahu gak?"
Chelyn tertawa kecil. "Maaf, sekarang Mbak bakal netap di Indo."
Mendengar itu Lisa kembali berbinar. "Beneran?"
"Iya, Mbak masih diterima kan jadi bodyguard kamu?"
Lisa mengangguk. "Masih dong, Mbak. Huhu... seneng banget bisa ngumpul lagi. Terus anak Mbak mana?"
"Mbak titip sama Nenek Kakeknya," jawab Chelyn.
"Ah, senangnya kalau gini. Jadi kita bisa sering ngumpul lagi dong." Kata Lisa meraih tangan Chelyn, lalu menggenggamnya.
"Makanya lo buruan sembuh, biar bisa nongki-nongki lagi." Ujar Desi duduk dengan kaki tersilang di sofa sambil mengupas apel.
"Gimana caranya gw bisa nongki, terus anak-anak gw siapa yang urus, Desol?"
"Gampang itu mah, kita nongkinga di rumah elo lah. Iya gak guys?"
"Setuju." Sahut yang lainnya kompak.
"Ck, iya deh terserah. Yang penting ini sayatan di perut gw sembuh dulu. Sakitnya gak ketulungan."
"Eleh, tar juga bunting lagi. Kan sakitnya nagih." Bella terkekeh lucu.
"Bener itu, gw aja masih program ini. Tapi gak jadi-jadi, padahal mah semua gaya tiap malam kita cobak." Celetuk Desi.
"Dih, gimana mau jadi? Tiap malam mainnya. Pake selang atuh, Neng." Protes Mona.
__ADS_1
"Suka-suka dong. Kan yang lakuin gw sama Paksu. Kenapa lo yang sewot?" Ketus Desi.
"Lah, siapa juga yang sewot? Cuma mengingatkan. Gak pengkor emang tiap malem digempur?" Ledek Mona yang disambut tawa Bella.
"Dia mah bukan lagi program kayaknya, tapi emang doyan goyang." Sahut Bella tak kuasa menahan tawanya. Lisa yang mendengar itu cuma bisa tersenyum.
"Buktinya gw baik-baik aja sampe sekarang." Sahut Desi dengan bangganya. "Malah banyak yang bilang gw makin glowing. Ya iyalah gw glowing, orang punya skincare alami. Tiap malam gw perawatan."
"Gila emang lo," sinis Bella.
"Eleh, kayak kalian enggak aja."
"Mbak gak ikutan ya, single parent soalnya." Sahut Chelyn.
"Duh, sorry ya Mbah. Lupa ada yang jomblo. Mau tak kenalin gak sama pengusaha?" Tawar Desi.
"Enggak ah, masih trauma sama pengusaha." Kata Chelyn.
"Ish, masih belum move on ya? Lupain aja lelaki brengsek kayak dia mah. Gak semua cowok brengsek, Mbak. Jangan tersinggung ya Mon. Gw cuma ngomong fakta." Kata Desi tanpa beban.
"Santai aja, gw juga masih gedek sama dia." Sahut Mona.
Chelyn yang mendengar itu tersenyum. "Sebenarnya Mbak udah punya penggantinya kok."
"Hah?" Jerit Mona, Bella dan Desi kompak. Sedangkan Lisa cuma bisa menyimak meski kaget juga.
Chelyn mengangguk. "Kali ini beralih ke dokter, rencananya kita mau nikah tiga bulan lagi."
"What?" Seru ketiganya lagi kompak.
"Ck, biasa aja ah. Kali ini orangnya mateng banget, umurnya udah empat lima. Tapi dia mau nerima Mbak sama Austin, dia beneran nunjukin keseriusannya. Makanya Mbak coba buka hati buat dia. Austin juga klop banget sama dia. Doain ya, semoga kali ini berhasil."
Mona memeluk Chelyn dari samping. "Kita selalu mendoakan kebahagian Mbak, terutama Mami sama Papi. Mereka berharap Mbak segera mendapat pengganti yang lebih baik. Senang tahu pas denger Mbak udah move on."
"Kita juga sama, berharap Mbak bahagia." Kata Lisa tersenyum tulus.
Chelyn membalas pelukan Mona. "Makasih buat kalian semua. Sejak ketemu kalian, Mbak kayak punya adek banyak tahu gak?"
"Aku kan emang adek, Mbak. Gak peduli siapa pun nantinya yang bakal jadi suami Mbak. Mbak tetap Mbak buat Monmon. Huhu... bahagia pake banget. Yang satu berhasil lahiran, yang satu lagi berhasil move on. Duh... lengkap deh kebahagiaan kita pokoknya."
"Ikutan meluk dong," rengek Bella bangkit dan ikut memeluk Chelyn.
"Mau juga." Desi pun tak mau kalah. Sampai meninggalkan buah apel yang belum selesai dikupasnya.
"Dih, jahat pisan kalian ih. Masak gw dilupain?" Kesal Lisa.
"Itu sih DL, derita lo." Ucap Mona, Desi dan Bella kompak. Sedangkan Chelyn cuma bisa tersenyum geli.
"Ish, tega amat." Lisa menyebik. "Untung gw lagi sakit."
"Jadi, sekarang Emak-Emak rumpi nambah anggota lagi dong?" Seru Mona.
"Emak-emak rumpi?" Tanya Chelyn bingung.
"Iya, itu grup baru kita. Kan kejora udah kadaluarsa."
"Oh, baru tahu. Ada-ada aja kalian ini."
"Iya dong, kita ini kan emak-emak gahul, mana boleh ketinggalan zaman. Setuju gak guys?" Ujar Mona.
"Setuju." Seru Desi dan Bella kompak.
"Shttt... ini rumah sakit." Tegur Lisa.
"Ups... lupa."
Dan mereka pun tertawa kecil, meski cuma berlima. Ruangan itu seperti dihuni oleh lima keluarga besar, heboh tak karuan. Meski begitu, Lisa merasa bersyukur karena sampai detik ini persahabatan mereka masih terjalin. Padahal jika dilihat dari kesibukan mereka, bisa saja mereka hilang komunikasi. Akan tetapi mereka masih mempertahankan hubungan itu sampai detik ini. Sebuah hubungan yang mungkin tak akan terpencar sampai mereka memiliki cucu dan cicit nantinya. Atau mungkin hanya maut yang bisa memisahkan mereka.
Tbc....
__ADS_1
Semoga kalian gak pernah bosen ya nunggu cerita ini.