
Erkan dan Lisa pun bangun kesiangan karena malam tadi Erkan benar-benar menggempur Lisa sampai beberapa kali pelepasan.
Erkan membuka matanya, lalu seutas senyuman bahagia terbit dibibirnya. Bayangan malam tadi belum bisa hilang dari kepalanya. Bagaimana tidak, Lisa yang awalnya pasif mendadak agresif, liar dan begitu sensitif. Bahkan bayangan Lisa bergoyang di atasnya masih begitu membekas dan rasanya ia ingin mengulangnya lagi. Sungguh kejutan yang luar biasa untuk Erkan. Tentu saja ia suka itu. Lisa cukup menantang dan berhasil menandingi gairahnya. Sesuai dengan karakter gadisnya itu yang barbar menurutnya.
Ah... dia sangat menggemaskan.
Ditatapnya wajah cantik Lisa yang masih terlelap. Sepertinya Lisa juga sangat lelah karena pergulantan tadi malam. Apa dia sehebat itu sampai membuat gadisnya lemas tak berdaya?
"Sayang." Panggil Erkan mengusap pipi halus istrinya.
Lisa sedikit menggeliat dan menarik selimut karena merasa kedinginan. Padahal matahari sudah mencorong di luar sana.
"Bangun yuk," ajak Erkan menoel-noel hidung mancung Lisa.
"Ish... jangan ganggu. Eneng masih ngantuk." Kesal Lisa menepik tangan Erkan di bawah alam sadarnya. Erkan sempat terkejut, tetapi detik berikutnya ia tertawa kecil.
"Sayang, udah siang. Yuk mandi, habis itu kita makan."
Mata Lisa pun terbuka tiba-tiba. Sepertinya gadis itu baru sadar apa yang sedang terjadi. Pipi Lisa pun terlihat memerah karena malu.
"Tadi Lisa teh gak ngapa-ngapain Mas kan?" Tanya Lisa meringis kecil.
Erkan menggeleng dan dikecupnya bibir Lisa dengan lembut. "Udah ngumpul belum nyawanya?"
Lisa tidak langsung menjawab. "Emang kenapa, Mas? Mau gituan lagi ya? Duh... Lisa teh masih capek. Semalem masih kurang ya? Atau kurang memuaskan?" Cerocos Lisa.
Erkan tertawa renyah mendengarnya. "Kamu muasin pake banget malah. Makasih buat yang tadi malam. Gak nyangka kamu liar juga."
Lisa berdecak kesal. "Maaf ya kalau agak agresif, Lisa teh kemarin siang baca cerita dewasa punya Neng Bella. Katanya kalau duda itu suka yang agresif. Jadinya Lisa teh langsung pratek kayak yang ada di cerbung itu."'
Erkan terkesiap mendengarnya.
Ya Allah, kenapa istri aku ini jujur dan polos banget ya?
"Tapi malam tadi kamu muasin banget kok. Mas suka yang agresif. Lebih menantang dari pada yang pasrah."
"Beneran?" Tanya Lisa begitu antusias.
"Iya, sayang."
Pipi Lisa merona. "Tapi awalnya Lisa teh agak malu. Soalnya kan pertama buat Lisa. Tapi lama-lama malah keenakan."
Erkan tertawa lagi. "Malu-malu tapi mau itu namanya."
"Iya, hehe." Lisa terkekeh sendiri.
"Masih sakit gak?" Tanya Erkan memastikan. Ia masih ingat milik Lisa mengeluarkan darah karena masih perawan.
"Masih. Nyut-nyut gitu. Mungkin karena punya Mas kegedean, jadi gak muat." Jawab Lisa begitu frontal.
"Tapi enakkan?"
"Iya, enak banget." Jawab Lisa dengan polosnya.
__ADS_1
"Mau lagi?" Pancing Erkan.
"Enggak dulu ah, masih sakit, Mas." Rengek Lisa dengan bibir manyunnya yang menggemaskan.
"Jangan manyun gitu, saya suka gak tahan kalau liat bibir kamu."
Mendengar itu Lisa langsung memasukkan bibirnya ke dalam mulut. Dan apa yang dilakukannya itu membuat Erkan geli sendiri. "Lucu banget sih kamu, Sa."
Lisa tersenyum geli. "Kok lapar ya, Mas? Perut Lisa tiba-tiba perih."
"Kamu gak liat matahari udah di ubun-ubun?"
Sontak Lisa pun langsung melihat ke luar. "Eh? Udah siang ya? Kita teh kesiangan?"
Erkan tersenyum dan langsung bangkit. Sontak Lisa terkesiap saat melihat benda besar yang semalam menjebolnya kini sudah tertidur begitu pulas. Padahal Lisa masih ingat malam tadi benda itu berdiri sangat kokoh. Bahkan menusuk-nusuk miliknya sampai lemas.
"Ayok mandi, habis itu kita makan sama-sama."
Lisa pun kaget dan tersadar. "Mas aja duluan." Sahut Lisa yang masih malu. Bahkan membenamkan wajahnya di bantal.
"Kenapa? Kamu masih malu? Mas udah liat semunya loh." Goda Erkan.
"Mas!"
Erkan tertawa lucu. Kemudian tanpa aba-aba Erkan langsung menggendong istrinya ke kamar mandi. Lisa sempat memekik kaget, tetapi selanjutnya ia diam dan pasrah. Dan mereka pun mandi bareng untuk yang pertama kalinya. Ya, mereka murni mandi bareng tanpa embel-embel yang lain.
"Kayaknya Lisa gak bisa jalan normal, Mas. Makannya di sini aja ya? Malu kalau di liat orang." Mohon Lisa tidak berbohong jika yang di bawah sana masih saja sakit.
"Iya, nanti Mas pesanin makanannya dulu." Erkan pun meraih telepon yang ada di atas nakas. Lalu memesan makanan yang namanya saja tidak pernah Lisa dengar.
Setelah memesan makanan, Erkan pun ikut duduk di samping istrinya. Keduanya cukup lama terdiam karena bekelana dengan pikiran masing-masing.
"Mas." Panggil Lisa memecah keheningan.
"Hm?" Erkan menoleh.
"Nanti malam kita teh gituan lagi ya?" Tanya Lisa malu-malu.
Erkan tersenyum. "Kalau kamu gak keberatan, kita lanjut sampe malam ketiga. Namanya juga lagi usaha kan?"
Lisa pun mengangguk, dan dengan malu-malu menyandarkan kepalanya di bahu Erkan. "Lama banget makanannya, Lisa udah lapar pake banget."
"Sabar."
Beberapa menit berikutnya makanan pun datang. Dan keduanya pun langsung makan dengan lahap. Rasanya tenaga mereka yang sempat terkuras kini sudah terisi kembali.
"Mau jalan-jalan?" Tawar Erkan.
"Masih capek, nanti sore aja kayaknya. Sekarang mau lanjut istirahat, hehe." Jawab Lisa.
"Ya udah, lagian masih banyak waktu buat jalan-jalan." Erkan pun bangkit dan menaruh piring kotor di depan. Setelah itu ia kembali ke ranjang.
"Makasih ya, Mas." Ucap Lisa tersenyum tulus.
__ADS_1
"Buat apa?"
"Buat semuanya. Buat pengalaman pertamanya juga." Jawab Lisa tersenyum malu.
"Kamu kok bisa tahu gaya-gaya favorit Mas sih?" Tanya Erkan yang merasa penasaran karena malam tadi Lisa memahami gaya bercinta favoritnya.
"Eh? Masak sih? Perasaan Lisa teh cuma ikutin Mas aja." Kaget Lisa.
Erkan tersenyum.
"Oh iya, Mas pengen punya anak berapa?"
"Sepuluh." Jawab Erkan asal. Sontak Lisa pun memekik kaget.
"Sepuluh?"
"Iya, biar rumah rame."
"Duh... gak kebayang."
Lagi-lagi Erkan tersenyum. "Kan satu udah ada, tinggal sembilan lagi. Anggap aja Rayden bonus."
Lisa tampak berpikir. "Lisa aja gak tahu rasanya melahirkan gimana? Tapi ngebayangin lahirin sepuluh anak rasanya ngeri-ngeri sedep."
"Mas bercanda, sayang. Berapa pun itu Mas akan terima dan bersyukur. Yang penting kamu sehat-sehat terus dan selalu beridiri di samping Mas."
"Ih... capek atuh kalau berdiri terus, Mas." Gurau Lisa.
"Itu cuma umpamaan, sayang. Gemesin banget sih." Erkan mencubit pipi istrinya gemas.
"Emang Lisa teh gemesin ya? Perasaan biasa aja." Lisa tersenyum geli.
"Iya, kamu gemesin. Jadi pengen peluk terus."
"Kan sekarang Lisa teh udah jadi istri kamu, Mas. Jadi boleh kok peluk sampe puas. Lumayan kan dapat pahala." Ujar Lisa yang berhasil mebuat Erkan semakin tak tahan untuk mencium bibir cerewet istrinya itu.
"Cerwetnya bikin gemes. Sini biar Mas cium." Erkan menarik Lisa dalam dekapan. Lalu memberikan kecupan di pucuk kepalanya.
Lisa pun mendongak. "Ternyata enak ya punya suami. Ada yang sayang dan peluk, terus bisa di ajak becanda. Apalagi Masnya ganteng, jadi gemesin."
Erkan mengecup bibir Lisa. "Main lagi yuk, kamu bikin Mas gak tahan. Bawel kamu itu yang bikin gak nahan, Sa."
"Ih... itu mah maunya kamu. Boleh deh, tapi jangan keras-keras. Masih sakit."
"Gak keras-keras, paling lupa diri aja."
"Ih... sama aja, Mas."
Erkan tertawa kencang. Dan keduanya pun kembali melanjutkan bulan madu mereka sampai puas.
Tbc...
Yang jomblo please jangan iri... kalau iri peluk aja guling, anggap itu suhu kalian haha... Author juga gitu soalnya, sambil nulis sambil meluk guling, Haha... yuk jomblo merapat.
__ADS_1