
Lisa menjatuhkan bokongnya di kasur. Lalu menatap sang Mamah yang sedang berdandan. "Mah, kita teh gak usah jadi pergi yah?"
Seketika Mamah pun menoleh. "Lah, kenapa gitu atuh Neng? Mamah udah mau siap juga."
Lisa m*nd*s*h kecil. "Gimana kalau Lisa teh sakit parah, Mamah? Ih... Lisa teh takut atuh."
"Hush... kamu mah kalau ngomong itu suka ngasal. Ucapan teh doa, Neng."
"Astagfirullah, gak jadi ah Mah. Tadi Eneng teh khilaf." Lisa memukul-mukul bibirnya pelan.
"Makanya punya mulut teh di rem."
"Udah blong remnya, Mah. Habis kesel denger omongan orang terus."
Mamah mendengus dan kembali memoles wajahnya. "Makanya omongan orang itu jangan dijadiin sarapan. Yang ada bikin kepala mumet. Bawa santai aja, dijamin hidup teh tentram."
Lisa menyebik. "Tetep aja atuh Mah kepikiran."
"Iya memang, tapi jangan sampe dibawa tidur juga."
Lisa menghela napas berat. "Mah, tar gak diapa-apain kan?"
"Paling diurut." Sahut Mamah.
"Ih... gak mau ah."
"Lah, gimana bisa tahu masalahnya kalau gak diurut, Neng? Kamu mah banyak gak maunya. Heran Mamah sama kamu."
"Mamah, Lisa teh kan gelian orangnya."
"Kalau dipegang Erkan mah gak geli nya, Neng?" Sindir Mamah.
"Ck, itu mah beda atuh Mamah. Geli juga ditahan kalau itu, hehe."
"Huh, dasar."
Menit berikutnya keduanya pun berangkat ke tempat urut yang dimaksud yang langsung diantar oleh Asep.
"Aa rasa kan Neng, kamu teh gak hamil-hamil karena banyak dosa sama Aa." Celetuk Asep.
"Dih... dari mana hubungannya? Lagian Eneng teh dosa apa sama Aa?" Ketus Lisa.
Asep tersenyum geli. "Mungkin Eneng teh jarang ngasih thr ke Aa. Sok atuh kasih, dijamin langsung hamil."
"Hih... itu mah maunya maneh, Sep. Emang na nu hamilin si Eneng teh duit?" Kesal si Mamah. Sontak Asep pun tertawa geli.
"Becanda atuh, Mamah." Asep melirik sang adik yang terdiam di bangku belakang lewat cermin. "Semangat atuh, Neng. Jangan loyo, harusnya mah lebih giat olahraganya. Mana tahu langsung top cer."
"Berisik ah, A. Gak usah ganggu si Eneng." Mamah menoleh ke belakang. Di mana Lisa masih termenung menatap ke luar jendela. Mamah menghela napas berat. "Neng, jangan banyak ngelamun ah. Gak bagus."
Lisa menoleh. "Eneng gak ngelamun, Mah. Cuma lagi menikmati aja hijaunya dedaunan."
"Dih... emangnya sapi menikmati dedaunan hijau, Neng." Ledek Asep.
Lisa menyebik. "Terus aja ledekin, Eneng doain anak Aa kali ini mirip Eneng abis."
"Lah, kenapa jadi lari ke sana? Mana bisa anak Aa mirip kamu, ya mirip Aa lah."
"Enggak, pokoknya mah mirip Eneng. Biar nyaho, tar anak Aa teh nanya kenapa wajahnya mirip Eneng. Terus Eneng bilang aja Aa teh sok ngeledekin Eneng." Lisa menjulurkan lidahnya.
"Gak ada, yang jelas anak Aa ya harus mirip Aa."
"Mirip Eneng."
__ADS_1
"Aa, Neng. Orang bibit Aa juga."
"Gak papah, kan masih ada gen Enengnya dikit."
"Ih... ngeyel kamu nya?" Kesal Asep.
"Duh... kenapa jadi ribut sih? Pusing Mamah dengernya. Kalian teh udah tua, masih aja ribut kayak anak sd." Geram Mamah.
"Jewer aja anak Mamah yang sok kegantengan. Untung Alvin teh mirip teh Devi." Ledek Lisa.
"Dih, julid padahal mah."
"Udah, ah. Ya Allah... rieut Mamah teh liat kalian ribut terus. Mau sampe nenek kakek gini terus?"
Asep tersenyum geli. "Mah, ribut kita mah bikin seru. Pasti gak ada yang kayak kita, ya kan, Neng?"
"Hm." Ketus Lisa.
"Jangan judes-judes, Neng. Tar anaknya mirip Aa loh."
"Bodo." Sahut Lisa yang sudah bosan berdebat.
Dan tidak lama mereka pun sampai di tempat tujuan.
"Aa tunggu di mobil aja, Mah. Mamah sama Eneng aja yang masuk."
"Iyah." Sahut Mamah bergegas turun. Begitu pun dengan Lisa.
"Mah, kok rumahnya ngeri amat ya?"
"Ish... gak boleh gitu. Ayo masuk." Ajak Mamah menarik Lisa masuk ke dalam.
"Assalamualaikum, Mbah." Ucap Mamah.
"Waalaikumsalam." Sahut seorang wanita lansia sambil mengunyah sirih. "Ini si Eneng yang mau di urut?" Ditatapnya Lisa lamat-lamat.
"Sok atuh duduk." Titahnya. Mamah dan Lisa pun langsung duduk di atas tikar anyam. Sedangkan si Embah terlihat sibuk meracik sesuatu. "Berapa tahun nikah?"
"Lima, Mbah." Sahut Lisa sambil menggenggam tangan Mamah erat.
Mbah ketawa. "Masih muda itu mah. Biasanya yang datang ke sini umur pernikahannya di atas sepuluh taun. Kunaon buru-buru ke sini?"
Lisa menatap Mamahnya karena bingung harus menjawab apa. "Si Eneng teh gak sabaran, Mbah. Gak kuat sama omongan orang."
Lagi-lagi si Mbah ketawa. "Omongan orang kok didenger, Neng. Mereka mah gak ngasih makan juga."
"Tuh dengerin."
"Ih, Mamah mah malah mojokin." Kesal Lisa.
Mbak Inem tersenyum dan kembali menatap Lisa. "Buka bajunya semua, pake kain sarung aja. Kita liat dulu."
"Liat apa, Mbah?" Tanya Lisa yang berhasil mendapat toyoran dari Mamahnya. "Sakit, Mamah."
"Makanya jangan banyak tanya, udah sana buka bajunya. Nih sarungnya." Mamah memberikan sarung yang dibawanya pada Lisa. Dengan patuh Lisa melakukan perintah sang Mbah.
"Baring di sini, Neng." Titah Mbah menepuk kasur usang. Lagi-lagi Lisa pun menurut dan berbaring. Jantungnya berdebar hebat karena gugup.
Duh... kok malah gugup gini sih? Jadi inget malam pertama sama Mas Erkan.
"Uh...." Lisa melenguh dan kaget saat tiba-tiba si Mbah sedikit menekan perutnya.
"Sakit?" Tanya Mbah Inem.
__ADS_1
Lisa menggeleng. "Kaget, Mbah."
"Jangan ngelamun, Neng."
Lisa menggigit ujung bibirnya saat tangan si Mbah terus menekan beberapa titik di perutnya.
"Udah ada isi." Kata si Mbah yang berhasil membuat Lisa dan Mamah bingung.
"Iya, Mbah. Tadi saya abis makan."
Si Mbah tertawa lucu sambil mukul lengan Lisa. "Mbah teh ngasih tahu, kalau kamu udah ngisi."
"Hah? Maksunya, Mbah?" Tanya Lisa bingung.
Berbeda dengan Lisa yang masih bingung. Si Mamah teh tersenyum lebar.
Si Mbah tiba-tiba memijat dada Lisa.
"Aduh... sakit Mbah." Lenguh Lisa.
"Biasanya sakit gak pas suami pegang?"
Wajah Lisa merona. "Dikit, Mbah. Kayaknya mau haid, bulan ini belum dapat soalnya."
"Ck, kamu teh gak ngerti-ngerti. Ini bukan mau haid, kamu teh udah hamil."
"Hah?" Pekik Lisa langsung bangun dari tidurnya. "Saya teh hamil?"
Si Mbah mengangguk. "Dari tadi udah Mbah tebak kamu teh udah hamil. Terus Mbah pastiin, rupanya beneran hamil."
Seketika wajah Lisa berbinar. "Beneran, Mbah? Serius?"
"Suer atu Neng." Jawab Si Mbah dengan jari membentuk huruf V.
Lisa menutup mulutnya karena gak percaya.
Ya Allah, ini teh beneran? Aku teh hamil? Tanpa sadar air mata Lisa menitik sangking bahagianya.
"Berapa bulan udah, Mbah?" Tanya Mamah tak kalah bahagia.
"Dua bulan, udah gede soal na. Kalau mau yakin teh ke dokter aja." Jawab Mbah dengan santai.
Lisa yang mendengar itu kaget. "Dua bulan? Tapi bulan lalu saya teh haid, Mbah. Emang gak lancar sih. Cuma flek doang. Jadi pas itu saya teh udah hamil dong?"
Mbah Inem tersenyum. Lisa menangis haru, bahkan tanpa sadar ia memeluk si Mbah. "Eneng seneng benget, Mbah."
"Iya, Neng. Tapi Mbahnya jangan di peluk atuh, sesek Mbahnya, Neng."
"Eh, maaf Mbah. Seneng banget soalnya." Lisa menarik dirinya. Lalu ditatapnya sang Mamah dengan tatapan haru. "Mamah, Lisa teh hamil."
Mamah tersenyum dan mendekati putrinya. Dikecupnya kening Lisa dengan lembut. "Selamat, Neng. Mamah juga ikut senang. Kan udah Mamah bilang, kamu teh kudu sabar."
Lisa mengangguk dan langsung memeluk sang Mamah. Mbah Inem yang melihat itu ikut tersenyum. "Neng." Panggilnya.
Sontak Lisa pun menatap beliau. "Iya, Mbah?"
"Masih ada kabar baik lagi." Kata Mbah menatap Lisa dan Mamah bergantian.
"Kabar naon, Mbah?" Tanya Mamah.
"Kayaknya kamu teh bukan hamil satu anak aja. Mbah yakin bakal lebih dari dua."
"Hah?" Kaget Lisa dan Mamah bersamaan.
__ADS_1
Tbc....
Udah aku kasih bahagia kalian semua... sok jangan lupa kasih jempol. Komentarnya juga aku tunggu.