SIANIDA (Siap Nikah Sama Duda)

SIANIDA (Siap Nikah Sama Duda)
Erkan Sakit


__ADS_3

Guys... bantu komen atuh biar rame novelnya. Komen apa aja boleh kok asal jangan yang melanggar aturan hehe... jangan lupa kasih like juga ya, gratis kok tinggal pencet aja tanda jempolnya. Kalau tembus likenya sampe 100 aku up 3 bab tiap hari deh. Thank you... met baca ya...


****


Sesampainya di tempat kursus. Lisa beserta rombongan pun langsung disambut hangat dan langsung dibawa ke dapur karena sebelumnya Lisa memang sudah mendaftar lebih dulu.


"Selamat datang, Buk Lisa." Sapa sang koki yang akan menjadi tutor menyambut kedatangan mereka.


"Siang, Mas." Balas Lisa tersenyum ramah.


"Mama, kita mau masak-masakan ya?" Celetuk Rayden. Sontak sang koki pun tertawa renyah.


"Iya, tampan. Kita mau main masak-masakan. Tapi kali ini masak-masakannya beneran. Kamu boleh ikut masak kok."


"Beneran, Om?"


"Iya, dong. Tapi sebelum itu kalian harus ganti pakaian dulu. Supaya bajunya gak kotor, kita kan mau belajar masak."


"Yey! Ray mau masak kue buat Mama." Seru Rayden kesenengan. Semua orang yang melihat itu tertawa geli.


"Ya udah, yuk ganti kostum dulu. Biar Mas kokinya gak kelamaan nunggu." Ajak Lisa. Lalu mereka pun bergegas ke ruang ganti. Tidak perlu lama mereka sudah keluar dengan pakaian memasak yang lengkap.


Sebelum memulai, tutor itu pun mengenalkan dan menjelaskan lebih dulu fungsi peralatan dapur dan cara memakainya. Juga menjelaskan soal keselamatan kerja. Setelah itu baru mereka pun diperbolehkan meluncur ke dapur. Dan setiap orang mempunyai satu tutor. Lisa dan Rayden sendiri langsung diajarkan oleh koki tampan yang tadi.


"Mama, Ray mau juga." Pinta Ray naik ke atas kursi dan minta ikutan mengaduk adonan kue.


"Sini, kita buat adonan baru. Kamu mau rasa apa, coklat, strowberi atau apa?"


"Coklat aja, Om. Mama kan suka coklat." Sahut Rayden dengan suara cemprengnya. Lisa yang mendengar itu tertawa renyah. "Bisa aja kamu mah, Ray."


"Gini kan, Mas? Kok saya takut gagal ya?" Tanya Lisa terkekeh lucu karena ini pertama kalinya membuat kue.


Koki tampan itu pun menjelaskan dan sesekali membantu Lisa. "Pinter, baru bentar udah paham aja. Kayaknya kamu punya skill memasak ya?"


Lisa tertawa renyah. "Skill dari mana atuh, Mas? Saya teh kerjaannya cuma makan tidur aja. Makanya pengen pinter masak supaya bisa manjain suami dengan makanan enak."


Koki tampan itu tersenyum simpul. "Beruntung banget suaminya, dapat istri secantik dan sepinter kamu."


"Hehehe... Masnya udah nikah belum?"


Koki itu tertawa kecil. "Belum, masih jomblo."


Lisa kaget. "Wah... kebetulan nih ada tiga gadis jomblo. Noh tinggal pilih mau yang mana?" Lisa menunjuk ke arah Mona, Desi dan Chelyn yang sedang serius memasak.


Koki tampan itu memperhatikan ketiganya. "Mereka beneran masih jomblo? Cantik-cantik gitu."


"Ih... Mas mah gak percaya. Tanya aja sendiri sama orangnya."


Koki itu melirik lagi ke arah trio jomblo, lalu matanya tersita pada Desi yang sedang sibuk mengadon kue dan sesekali tersenyum saat sang tutor mengajaknya bercanda. Tanpa sadar koki itu ikut tersenyum. "Yang sana itu siapa namanya?"


"Mana?" Tanya Lisa bingung.


"Yang pake kacamata."


"Oh, itu mah Desi namanya. Kenapa, tertarik? Udah sikat aja, dia orangnya asik. Sebenarnya mereka asik semua sih."


Koki itu tersenyum sendiri. "Saya kurang percaya diri kalau deketin cewek, apa lagi cantik kayak gitu."


Lisa tertawa renyah. "Kalau gak percaya diri kapan dapat jodohnya atuh, Mas? Mau saya bantu?"

__ADS_1


"Eh? Emang boleh?"


"Boleh atuh, tapi ada syaratnya." Lisa tersenyum geli.


"Lah, kok pake syarat sih?"


"Syaratkan gak ribet, cuma ajarin saya sampe bisa masak makanan enak. Tar saya bawa dia terus ke sini."


Lelaki itu tertawa renyah. "Kalau syaratnya gitu mah gampang. Lagian itu memang tugas saya. Lucu juga kamu."


Lisa terkekeh lucu. "Dari tadi kita ngobrol, tapi saya teh belum tahu nama kamu."


"Gak liat di sini." Lelaki itu menunjuk bad nama yang terpasang di bajunya.


"Lah gak sadar loh. Jadi nama Mas teh Nichole ya? Keren, kayak nama bule."


"Panggil aja Nich. Aku rasa kita hampir seumuran."


Lisa tertawa lagi. "Emang umur kamu teh berapa?"


"Dua lima, kamu?"


"Dua dua, masih muda saya berati." Sombong Lisa yang berhasil mengundang tawa Nichole.


"Desi juga seumuran sama kamu ya?"


"Iya, kita satu leting di kampus."


Nichole pun manggut-manggut. "Nikah cepat ya? Anaknya udah gede."


"Itu anak suami saya, saya nikah sama duda. Tapi saya udah anggap dia kayak anak sendiri, liat tuh tingkahnya gemesin kan?" Lisa tersenyum geli saat melihat Rayden malah memasukkan coklatnya ke dalam mulut sampai belepotan. Padahal itu kan coklat untuk topingnya.


"Bagus kalau mirip, jadi saya teh bisa ngaku Mamah kandungnya. Lumayan gak perlu lahirin udah punya anak seganteng ini. Mana baiknya gak ketulungan. Mirip sama Papanya. Ck, jadi rindu saya sama Pak suami. Kamu sih."


"Dih... kok malah nyalahin saya sih? Situ yang ngoceh dari tadi. Itu masukin adonannya ke loyang."


"Eh? Udah cuma gini aja?" Kaget Lisa.


"Ini baru permulaan. Saya ajarin dari yang simpel dulu. Besok-besok naik lagi levelnya."


"Wah... siap atuh. Makin semangat ini mah." Lisa pun menuang adonan dengan semangat ke dalam loyang. Sedangkan sang tutor terus mencuri pandang ke arah Desi.


Hah, cantik banget sih. Mana imut lagi. Semoga aja kali ini jodoh beneran. Mommy juga asik nanya soal calon istri terus. Mudah-mudahan dia mau diajak kenalan. Terus diajak nikah deh. Tanpa sadar lelaki itu tersenyum sendiri.


Tidak terasa mereka pun menghabiskan waktu tiga jam di dapur. Dan mereka rela tidak rela meninggalkan tempat itu karena jam kursusnya sudah habis. Padahal tadi lagi seru-serunya apa lagi mereka berhasil memasak beberapa hidangan pembuka dan penutup.


"Hah, gak nyangka main di dapur seru juga ya? Apa lagi tutornya ganteng-ganteng. Sampe lupa waktu gw." Ujar Mona saat mereka sudah kembali ke dalam mobil.


"Dih, tadi aja lo bilang Abang gw playboy. Sekarang elo sendiri mata keranjang, bening dikit lo check out." Cibir Desi.


"Itu artinya kita itu jodoh, ya kan, Sa?"


"Iya aja deh biar cepet." Sahut Lisa.


"Ih, gak asik lo, Sa." Kesal Mona.


"Mama, Ray mau bobok." Rengek Rayden dengan mata yang tinggal satu watt.


"Duh... kecapekan ya anak Mama?"

__ADS_1


"Sini baring aja." Desi pun meminta Rayden berbaring dan menjadikan kakinya sebagai bantal. Karena sudah mengantuk Rayden tidak punya pilihan dan langsung tertidur.


Dan tidak lama dari itu ponsel Lisa pun berdering. Cepat-cepat Lisa mengeluarkan ponselnya. Ternyata nomor tak di kenal. Dengan ragu Lisa pun mengangkatnya.


"Halo."


"Lisa, ini Kak Linda."


"Eh? Kok tumben Kak Linda nelepon Lisa? Mas Erkan aman kan?" Tanya Lisa dengan perasaan yang mulai tak enak.


"Kamu cepetan ke kantor sekarang ya? Pak bos kayaknya sakit. Tadi udah Kakak ajak ke rumah sakit, tapi suami kamu malah nolak. Kamu aja yang bujuk ke sini, kayaknya Bos bakal nurut kalau sama istrinya." Jalas Kak Linda.


"Ya Allah, iya deh Lisa ke sana sekarang. Tolong diliat-liat bentar ya Kak suami saya. Saya jalan ke sana ini."


"Iya, Kakak tunggu di sini."


Lisa pun langsung menutup panggilan. "Mbak, ke kantor bentar. Mas Erkan sakit." Pinta Lisa dengan nada panik.


"Lah, kok bisa sih? Emang tadi di rumah gak ada tanda-tanda, Sa?" Tanya Desi.


"Kalau ada mana mungkin gw kasih izin dia pergi, Des. Mas Erkan teh pasti kecapekan ini mah. Udah gw bilangin, dianya ngeyel sih." Lisa benar-benar mencemaskan suaminya kali ini.


Setibanya di kantor....


"Kalian tunggu di sini aja. Titip Ray." Lisa langsung turun dari mobil. Dan yang lain menunggu di mobil seperti pesan Lisa barusan.


Sangking paniknya, Lisa bahkan tidak menggubris sapaan para karyawan yang berpapasan dengannya dan bergegas masuk ke dalam lift. Tidak perlu lama pintu lift terbuka, Lisa pun langsung keluar dengan langkah lebar.


"Masuk aja, Sa." Linda membukakan pintu untuk istri bosnya itu. Tanpa babibu lagi Lisa pun masuk. "Mas."


Erkan yang tengah berbaring di sofa pun menoleh. Wajahnya terlihat pucat dan berkeringat. "Sa, kok kamu di sini?" Suaranya juga terdengar lemah.


Lisa menghela napas dan langsung menghampiri Erkan. Lalu duduk di sisinya. Lisa menempelkan punggung tangannya di kening Erkan. "Kamu demam, Mas. Panas banget ini mah. Ke rumah sakit, yuk."


Erkan tidak menyahut.


"Mas, pusing banget ya?"


Erkan mengangguk.


"Tunggu sebentar, Lisa minta tolong Kak Linda dulu supaya siapin supir ya?"


Erkan pun mengangguk. Segera Lisa bangkit dan menemui Linda. "Mbak, bilang sama supir kantor buat siapin mobil. Terus saya juga mau minta tolong panggilin satpam buat bawa Mas Erkan keluar."


"Iya, Sa." Sahut Linda yang langsung menghubungi seseorang. Setelah itu Lisa pun kembali ke ruangan suaminya.


"Ck, Mas sih gak dengerin Lisa. Sakit beneran kan?" Lisa duduk kembali di sisi Erkan. Mengusap rambut suaminya itu dengan lembut.


"Dingin, Sa." Erkan memeluk Lisa dengan tubuh menggigil. "Iya, bentar lagi satpam ke sini bantu Mas keluar. Lisa mah mana kuat bopong kamu sendirian."


Erkan pun cuma mengangguk pasrah. "Apa saya mau meninggal ya, Sa? Kok sakitnya sampe menggigil kayak gini. Badan Mas sakit semua."


Lisa kaget mendengarnya. "Ih... kamu mah ngomongnya ngawur, Mas. Jangan bikin Lisa takut ih. Ternyata Mas teh ngeselin kalau lagi sakit."


"Soalnya Mas gak pernah sakit kayak gini. Dingin banget, pengen dipeluk." Erkan semakin mengeratkan pelukannya.


Tidak berapa lama dua orang lelaki berseragam hitam pun muncul. Tanpa menunggu lagi Lisa meminta mereka untuk membawa Erkan.


Tbc...

__ADS_1


Dah dulu ya...


__ADS_2