SIANIDA (Siap Nikah Sama Duda)

SIANIDA (Siap Nikah Sama Duda)
Masa Lalu Erkan


__ADS_3

Lisa terus memperhatikan Chelyn dari ujung kaki sampai kepala. "Kamu beneran mau jadi bodyguard saya aja kan? Gak ada niat lain?" Selidiknya.


Chelyn tersenyum ramah. "Saya memang tulus ingin bekerja dengan Anda, Nona."


Lisa terus meneliti raut wajah Chelyn.


Hm... kayaknya aman nih. Gak keliatan ada bibit pelakor. Lagian kalau dia berani macam-macam jangan harap bisa lari.


"Duh... jangan terlalu formal kitu atuh. Saya teh gak biasa pake bahasa baku. Biasa aja ngomongnya. Panggil saya Lisa. Kamu teh pasti lebih tua dari saya kan?"


"Iya." Jawab Chelyn apa adanya.


Lisa melihat ke arah ruangan suaminya. Setelah itu langsung menarik Chelyn dan Rayden ke dalam lift. Dan itu membuat Chelyn kaget setengah mati. Mendadak ia jadi takut akan mendapat serangan dari Lisa. Namun, semua ketakutan itu langsung sirna karena Lisa tersenyum begitu lebar.


"Mbak, kita duduk di kafe depan yuk? Saya teh mau tanya-tanya soal Mas Erkan. Mbak teh temen sekolahnya kan?"


"Tapi...."


"Udah, tar saya yang bayarin. Mbak jawab aja pertanyaan saya nanti ya?" Tanpa malu Lisa menggandeng lengan Chelyn. Tentu saja Chelyn semakin di buat heran.


"Ayo, sayang." Ajak Lisa menggenggam tangan Rayden.


"Tahu gak, Mbak? Saya teh tadi sempat kaget pas tahu bodyguardnya cewek. Soalnya saya teh baru tahu kalau cewek bisa jadi bodyguard. Mbak bisa kungfu ya?" Oceh Lisa seakan tak ada habisnya.


Aku rasa Erkan benar, istrinya ini lumayan asik. Majikan yang dulu-dulu mana ada yang mau ngoceh kayak gini.


"Saya belajar bela diri dari umur lima tahun."


"Wah, saya juga pas sd pernah ikutan silat. Tapi sering kabur pas lagi latihan. Soalnya saya teh takut sama pelatihnya, mukanya sangar, hehe."


Chelyn tersenyum mendengarnya.


Pintu lift pun terbuka. Lalu mereka langsung beranjak ke kafe yang berada di depan kantor. Dan memilih tempat duduk agak pinggir. Lalu memesan minuman dan beberapa cemilan untuk teman mengobrol.


Chelyn menatap Rayden dengan seksama. "Mirip banget sama mendiang Keyla."


"Mbak kenal sama Mamanya Ray ya?" Tanya Lisa seraya mengusap kepala Rayden.


"Keyla itu teman dekat saya, kami duduk sebangku."

__ADS_1


Mendengar itu Lisa pun semakin semangat. "Mbak, mau dong dengar cerita masa silam Mas Erkan. Apa lagi kisah Mamanya Rayden. Pasti seru kan? Mas Erkan bilang teh mantannya banyak. Jangan-jangan dia itu playboy nya?"


Chelyn benar-benar di buat heran oleh Lisa. Baru kali ini seorang istri begitu semangat membahas masa lalu suaminya.


Kayaknya si Erkan beneran dapat istri langka, kocak.


"Bisa dibilang gitu sih. Erkan itu cowok populer pas masa sma, anggap aja dia itu siswa most wanted. Banyak cewek yang naksir dia pas masa itu, soalnya dia juga ketua osis."


"Duh... hebat juga suami aku yah? Jadi makin cinta deh."


Chelyn tertawa renyah mendengarnya. "Anak sma yang dia pacarin itu kalau gak salah sampe sepuluh orang. Sebelas deh sama Keyla. Dan itu cewek-cewek idaman semua. Habis dia pacarin. Namanya juga orang ganteng."


"Jangan bilang Mbak mantannya juga ya?" Lisa terkekeh lucu.


"Dih... sorry aja lah ya. Walaupun dia itu ganteng, tapi Mbak paling gak suka sama cowok playboy. Lagian Mbak udah kenal dia luar dalem, soalnya Mbak kan wakil osisnya."


Lisa terkejut mendengarnya. "Keren, Mbak. Terus Zia satu sma sama kalian juga ya?"


"Zia? Mbak gak kenal cewek itu. Mungkin mantannya di luar kali. Yang Mbak tahu mantan Erkan itu ada sepuluh, Gita, Joya, Nana, Friska, Lala, Sarah, Rasti, Hilda, Mira, Annggi. Cuma itu sih." Chelyn benar-benar mengabsen semua nama mantan Erkan masa sekolah dulu.


"Dih, beneran playboy itu mah. Mentang-mentang ganteng." Kesal Lisa.


Obrolan mereka pun terhenti sejenak karena pesanan datang. Setelah waiter itu pergi obrolan pun berlanjut.


"Keyla itu anak yatim piatu, dia anaknya sederhana. Pemalu juga, gak nyangka aja Erkan bisa tertarik sama dia. Ya, Keyla sih memang cantik walau penampilannya sederhana." Imbuh Chelyn. "Wajar Erkan bucin sama dia, Keyla itu penyabar banget. Gak cemburuan meski dia cinta sama Erkan. Mungkin emang udah jodoh kali ya?"


Lisa mengangguk seraya mengusap sisa air matanya. "Sedih banget, pasti Mas Erkan terpukul banget pas Mbak Keyla meninggal. Huhuhu... dada Lisa teh sesek."


Chelyn tersenyum geli dan memberikan tisue pada Lisa.


"Mama kenapa nangis?" Tanya Rayden menatap Lisa sedih.


Lisa tersenyum. "Mama cuma kelilipan."


"Enggak, Mama nangis. Tuh air matanya masih keluar. Mama, Mama jangan nangis." Rayden turun dari tempat duduk dan berhambur memeluk Lisa.


"Mama gak nangis, sayang. Cuma sedih aja." Lisa mengusap punggung Rayden dengan lembut. Chelyn yang melihat itu tersenyum haru.


Erkan emang gak salah milih istri, keliatan kalau dia sayang banget sama Rayden.

__ADS_1


"Sini duduk di pangkuan Mama aja ya?" Tawar Lisa. Rayden pun langsung mengangguk. Kemudian Lisa pun mengangkat Rayden naik ke pangkuannya. "Duh... anak Mama berat banget."


Rayden tertawa lucu. "Ray kan udah besar, Mama. Ray mau sekolah."


"Iya, tahun depan Ray masuk sekolah." Lisa mengecup pipi gembul Rayden dengan gemas.


"Oh iya, Sa. Bukannya yang nyerang kamu itu namanya Zia ya? Itu artinya dia mantan Erkan?"


Lisa mengangguk. "Kakak iparnya Mas Erkan. Eh, udah mau jadi mantan juga sih. Soalnya Bang Elkan mau cerein dia."


"Duh, ribet ya kalau masalahnya gitu?"


"Emang, pusing." Sahut Lisa. "Sok atuh di minum sama di makan dulu. Tar kita lanjut ngobrolnya."


Keduanya pun untuk beberapa saat.


"Ih iya, Sa. Aku paling inget, Erkan itu orangnya posesif dan cemburuan banget. Dulu aja Keyla sampe diikutin kemana-mana gara-gara ada yang coba deketin dia. Bahkan ke toliet aja dia ikut, berani dia nungguin di depan toilet cewek. Bucin akut gak sih?"


Lisa tertawa renyah. "Kalau itu mah Lisa teh udah tahu atuh, Mbak. Lah buktinya dia ngirim Mbak buat jagain Lisa. Lisa mah yakin Mas Erkan teh nyuruh Mbak larang Lisa deket sama cowok kan?"


Chelyn tersenyum yang diiringi dengan anggukan kecil.


"Huh, orang tadi aja Lisa cuma peluk sahabat kecil dong masih diungkit sampe sekarang. Padahal mah Lisa teh udah minta maaf dari hati yang paling dalam malah."


Chelyn tertawa renyah. "Gak papa, susah loh zaman sekarang dapat yang bucin akut. Mbak aja pengen dapat yang bucin sampe sekarang gak dapat. Semuanya pada mundur pas tahu profesi Mbak itu bodyguard. Pada takut kali ya?"


Lisa terkejut mendengarnya. Ia tidak menyangka wanita secantik Chelyn tidak ada yang berani menghalalkan. Ia pikir Chelyn itu sudah menikah. Pantes aja bodynya masih aduhai.


"Bodoh aja merekanya, Mbak. Orang secantik ini teh kok disia-siain sih? Mungkin mereka takut malam pertama nanti jadi pergulatan sengit. Kan Mbaknya jago bela diri."


Chelyn tertawa lagi. "Bisa jadi sih, padahal mah Mbak galak juga kalau lagi dalam situasi genting."


"Tar deh saya cariin jodoh yang cocok, tapi brondong mau gak, Mbak?"


"Jangan ah, umur Mbak udah kadaluarsa soalnya. Malu kalau punya suami brondong. Tar jadi bahan gosip orang."


"Dih... gak usah didengerin omongan orang mah. Lewat aja, Mbak."


"Iya juga sih. Tapi kayaknya keren juga dapat berondong. Lebih menantang, kan daun muda. Kalau Erkan bisa dapat daun muda, kenapa Mbak enggak ya kan?"

__ADS_1


"Setuju." Lalu keduanya pun tertawa bersamaan. Sedangkan Rayden yang tidak mengerti apa-apa pun asik makan sedari tadi.


Tbc....


__ADS_2