
Malam harinya, Erkan benar-benar menepati janji untuk membawa Lisa jalan-jalan. Dan selama mereka di luar, Erkan tidak pernah melepaskan genggaman tangannya dari gadis itu.
"Mas, saya mau makan bakso. Kayaknya enak malam-malam gini makan bakso."
"Boleh."
"Saya punya tempat langganan di sini dari pertama masuk kuliah. Baksonya enak pake banget pokoknya mah. Mas Erkan teh pasti ketagihan deh." Ujar Lisa memberikan senyuman manis.
"Ayok." Dan mereka pun langsung berangkat menuju tempat yang dituju. Sesampainya di sana, Erkan terperangah. Karena warung bakso itu sangat kecil, tetapi cukup ramai pembelinya. Seumur hidup Erkan tidak pernah makan di warung pinggiran seperti ini.
Apa makananannya higienis? Gak meyakinkan. Bainnya.
"Lah, kok malah bengong. Turun dong, Mas." Tegur Lisa yang sudah lebih dulu turun. Erkan sedikit tersentak, kemudian bergegas turun.
"Kamu yakin ini tempatnya?" Tanya Erkan memastikan.
"Yakin atuh, Mas. Jangan liat kondisi warungnya. Tapi rasanya, saya teh yakin Mas bakal ketagihan. Ayok." Tanpa banyak babibu lagi Lisa langsung menarik Erkan masuk ke warung bakso itu.
"Wah, si Eneng baru nogol lagi. Ngebakso, Neng?" Sapa sang penjual yang kelihatannya sudah akrab dengan Lisa.
"Iya, Kang. Saya pesan bakso jumbo dua mangkok ya. Sama nurdinnya dua. Gpl, Kang."
"Siap, Neng. Ini teh pacarnya ya? Meni kasep euy."
"Iya, calon suami lebih tepatnya."
"Oh... nya sok atuh mangga calik heula. Antosan nya."
"Siap, Kang." Sahut Lisa. Kemudian ia pun mengajak Erkan duduk di meja yang masih kosong. Tempatnya agak sempit memang, dan itu membuat Erkan merasa tidak nyaman.
Tentu saja Lisa tahu itu, tetapi ia sengaja pura-puta tidak peka. Anggap saja ini teh ujian buat Kang Erkan.
"Kamu sering makan di sini?" Tanya Erkan yang sedikit gelisah.
Lisa mengangguk. "Hampir setiap minggu saya duduk di sini bareng temen-temen. Jangan salah loh, Mas. Temen saya teh orang kaya semua. Dan mereka ketagihan makan di sini."
"Panas." Sahut Erkan mulai berkeringat.
"Loh, kan ada kipasnya. Kok panas sih? Oh... pasti Mas mah gak pernah ya makan di tempat kayak gini. Hihi... lucu banget sih kamu, Mas."
Erkan berdecak kesal karena menganggap ucapan Lisa itu sengaja menyindir dirinya. "Pindah aja yuk."
"Ck, belum juga makan. Sabar atuh, Mas. Tar kalau ketagihan awas loh."
"Panas, Sa. Saya gak betah." Erkan terlihat mengibas-ngibaskan kemejajanya. Lisa yang melihat itu malah tertawa geli. Dan tidak lama dua mangkuk bakso jumbo pun mendarat di meja mereka. Juga tidak ketinggalan nurdin, teman makan bakso.
"Sok silakan di santap, Neng sama Masnya."
__ADS_1
"Siap, Kang. Makasih banyak ya?"
"Sama-sama. Eh, si Masnya kepanasan ya? Tunggu, saya puterin dulu kipasnya." Kang bakso itu pun langsung mengubah mode kipas. Lisa pun mengacungkan jempol. "Hatur nunuh, Kang."
Erkan menghela napa berat. Di tatapnya Lisa yang terlihat santai dan mulai mencicipi kuah bakso. "Duh... enak banget. Udah lama gak makan ini rasanya aduhai."
"Makan itu jangan banyak bicara, nanti keselek."
Lisa tertawa kecil. "Bias aja kamu, Mas. Sok atuh di cobak. Mau pake sambel?"
"Gak usah."
"Ya udah atuh dicoba dulu." Lisa pun langsung menuang saus, kecap dan sambal ke baksonya. Tidak lupa juga cuka sebagai penyegar. Erkan menalan air liur saat melihat Lisa menyendok sambal cukup banyak.
"Sa, jangan banyak-banyak. Nanti sakit perut."
"Ck, gak akan sakit perut atuh, Mas. Udah biasa saya mah hehe."
Erkan menggeleng pelan. Kemudian ia juga menambahkan sedikit saos dan kecap ke baksonya. Lalu mengaduk dan mencicipinya. Seketika ia terdiam, ternyata benar bakso di sini sangat enak. Padahal ia baru mencicipi kuahnya.
"Gimana, enak kan?" Tanya Lisa meanatap Erkan untuk menunggu jawaban.
"Ya, lumayan." Jawab Erkan yang langsung melahap pentol kecilnya.
Ck, gak nyangka makanan pinggir jalan seenak ini.
"Mau icip dong punya kamu?" Lisa mengangkat sendoknya.
"Boleh." Jawab Erkan yang masih lahap menyantap bakso berukuran jumbo.
Mendapat lampu hijau, Lisa pun langsung mencicipi kuah bakso punya Erkan. "Ini kurang asem dikit, Mas. Pake cuka dikit pasti lebih enak."
Tanpa persetujuan Erkan, Lisa menuangkan cuka dan mengaduknya. Dan itu membuat Erkan menjeda makannya. "Udah, lanjut aja."
Erkan pun melanjutkan makannya. Ia manggut-manggut karena rasa kuahnya jauh lebih seger. "Pinter juga kamu ngeraciknya."
"Wih... jangan diremehin kalau masalah ngebakso mah, Mas. Saya teh ratunya. Gak mau cobak punya saya nih?"
"Boleh." Erkan pun menusuk satu pentol milik Lisa dan melahapnya. Namun, wajahnya langsung merah padam.
"Pedes banget, Sa." Erkan langsung meneguk nurdin tanpa pakai lagi yang namanya sedotan. Dan sekarang nurdin itu hanya tersisa sedikit.
Lisa tertawa penuh kemenangan, karena sebenarnya ia memang sengaja ingin mengerjai Erkan. Lisa tahu kalau Erkan gak bisa makan pedes. "Bikin gemes kamu, Mas."
"Ck, ngerjain saya ya? Awas kamu ya." Kesal Erkan.
Lisa pun menjulurkan lidahnya dan lanjut makan lagi. Dan ia terlihat sangat menikmati. Sampai Erkan merasa heran sendiri. Padahal rasanya sangat pedas, tapi Lisa terlihat santai menyantapnya. Bahkan gadis itu mulai keringat.
__ADS_1
Sial! Kenapa jadi seksi gitu sih. Geram Erkan dalam hati. Apa lagi saat ini bibir Lisa terlihat seksi dan makin merah karena kepedesan.
"Kamu seksi."
Uhuk!
Lisa tersedak mendengarnya. Matanya langsung berair karena rasa pedas itu masuk ke hidungnya. Cepat-cepat ia minum dan mengosongkan gelasnya. Namun, pedasnya tidak kunjung hilang.
"Minum punya saya." Tawar Erkan memberikan gelas miliknya. Dan Lisa pun langsung menyambarnya. Jujur Erkan juga panik melihat itu.
"Udah?" Tanya Erkan saat melihat Lisa sudah tenang.
Plak!
Lisa memukul lengan Erkan. "Bapak teh ngomong apa tadi?"
"Kamu seksi." Jawab Erkan.
"Ih... malu tahu di denger orang." Geram Lisa melihat kiri dan kanan. Benar saja, beberapa dari mereka ada yang menertawakan Lisa. Kelihatan dari cara mereka melirik ke arah Lisa.
"Kenapa harus malu? Kamu memang seski, apa lagi bibir kamu yang bengkak gitu. Jadi pengen cium lagi," jeplak Erkan yang berhasil membuat mata Lisa melotot.
Duh... gini nih kalau udah menduda kelamaan. Otaknya gak jauh-jauh dari hal mesum. Ck, malu-maluin ini mah.
Lisa sedikit menutup wajahnya sambil menyapu bibirnya dengan tisu. Erkan yang melihat itu tersenyum geli.
"Gak dihabisin baksonya?" Goda Erkan.
"Ih... ngeselin." Ketus Lisa menusuk sisa baksonya dan melahapnya dengan cepat. Sambil sesekali melihat kiri dan kanan. Memastikan tidak ada lagi yang memperhatikan mereka.
"Tapi kamu bebeneran seski, keringatan, pipi merah sama bibir yang bengkak. Itu sangat seksi." Ulang Erkan tanpa ragu. Untung kali ini ia bicaranya agak pelan.
"Baru tahu kalau saya teh seksi? Awas, jangan sampe ngiler." Balas Lisa tersenyum nackal.
"Nanti tidur sama saya lagi ya?"
Eh?
"Belum muhrim." Jawab Lisa cepat-cepat.
"Cuma tidur aja gak papa, Sa. Gak ngapa-ngapain juga. Buat latihan biar nanti gak canggung lagi." Alibinya. Sebenarnya Erkan perlu kehangatan. Apa lagi pas tidur siang ia sangat nyenyak karena tidur sambil meluk Lisa.
"Ck, kayaknya kita harus cepet-cepet nikah deh, Pak. Saya takut kebablasan, habis Bapaknya godain saya terus. Saya kan cewek normal, pasti kegoda. Apa lagi Bapak teh kasep."
Erkan tersenyum. "Boleh, nanti kita bahas ini sama keluarga."
"Eh? Beneran nih?" Tanya Lisa kaget. Padahal tadi ia cuma bercanda aja. Erkan pun mengangguk.
__ADS_1
Siapa takut kalau dipercepat? Justru itu yang saya mau, Sa. Ah... gak sabar pengen halal terus. Erkan tertawa penuh kemenangan dalam hati.