
"Sayang." Panggil Erkan membangunkan istrinya. "Bangun yuk, kamu belum salat kan?"
Lisa menggeliat kecil. Dan perlahan matanya terbuka. "Mas, udah pulang?" Tanyanya dengan suara serak.
"Udah, ayo salat dulu. Kamu belum salat Isya kan?" Erkan berjalan menuju lemari, mengambil sarung dan pecinya.
"Lisa ketiduran, ngantuk banget."
Erkan tersenyum. "Jangan tidur lagi, bangun dulu. Abis salat baru kita tidur."
Dengan malas Lisa pun bangun dan bangkit dari tempat tidur. Lalu melangkah ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
Dan keduanya pun kembali melaksanakan salat berjamaah dengan khidmat. Seperti biasanya, Lisa mencium tangan sang suami usai berdoa. Namun, kali ini Lisa menahan Erkan agar tidak langsung bangun.
"Lisa mau tidur di sini." Lisa pun berbaring dan menjadikan paha Erkan sebagai bantal. Kemudian ia pun menaruh tangan Erkan di pipinya. "Pengen di elus."
Erkan tersenyum geli. Lalu menuruti keinginan istrinya. Dan mulai berselawat dengan suara yang begitu merdu. Lisa terlihat menikmatinya sambil tersenyum bahagia. Juga meresapi betapa hangatnya tangan sang suami yang terus mengelus pipinya. Karena keenakan Lisa pun malah tertidur.
Erkan mengakhiri solawatnya dan menggendong Lisa ke atas pembaringan. Kemudian membantu Lisa melepas mukenanya. Hebatnya istrinya itu tidak terbangun dan hanya menggeliat kecil. Membuat Erkan merasa gemas sendiri dan terus memandangi wajah cantik itu dengan penuh cinta.
Setelah puas memandangi sang istri, Erkan pun bangkit untuk melepas sarung, baju koko dan pecinya. Lalu ikut berbaring di sebelah sang istri. Ia melingkarkan tangannya di pinggang ramping sang istri dan juga mendekatnya wajahnya hingga tak ada jarak di antara mereka. Kemudian ia pun ikut terlelap.
****
"Mas, pengen ikut ke kantor. Bosan tahu Lisa teh di rumah sendirian. Hari ini Mama monopoli Ray lagi. Ikut ya?" Rengek Lisa seraya memasangkan dasi di leher Erkan.
"Kenapa gak main ke rumah Mama aja?" Tanya Erkan terus memandangi wajah istrinya.
"Enggak ah, Lisa teh gak mau ada masalah lagi sama Teh Zia. Bukannya takut, tapi Lisa teh kasian sama Bang Elkan. Yang kemaren aja udah buat dia tertekan." Lisa mengalungkan kedua tangannya di leher Erkan.
Erkan tersenyum. "Tapi hari ini Mas gak ke kantor, sayang. Mas meeting di luar sampe sore."
Lisa cemberut mendengar itu. "Ya udah, Lisa teh di rumah aja."
"Gimana kalau shopping? Kebetulan Vio masih di rumah. Biar Mas minta dia temenin kamu. Mau?"
Lisa tampak berpikir. "Boleh deh, dari pada Lisa bosen di rumah. Rumah segede ini gak tau mau ngapain."
Erkan tertawa kecil. "Kamu bisa main bola sama Bibik."
"Ih... tar Lisa main bola beneran baru tahu. Lisa pecahin semua guci mahalnya, mau?"
Erkan tertawa lagi. "Pecahin aja kalau kamu rela."
Lisa tersenyum geli. "Mana tega atuh, Mas. Harganya juga selangit. Dari pada dipecahin mending Lisa lelang."
"Bisa aja kamu." Erkan mengusap pipi mulus Lisa. "Mas langsung berangkat, kayaknya gak sempat sarapan. Soalnya setengah jam lagi udah mulai meeting."
"Meeting sama orang Jepang kemaren ya?"
__ADS_1
Erkan mengangguk.
"Pasti cewek Jepang cantik-cantik kan? Awas kalau lirik-lirik." Ancam Lisa.
"Emang kamu bakal tahu Mas lirik-lirik atau enggak?"
Lisa cemberut lagi. "Pokoknya jangan lirik-lirik. Lisa gak rela tahu. Mas itu cuma boleh lirik Lisa seorang. Kan Mas yang bilang kalau Lisa itu paling cantik sedunia." Ocehnya yang berhasil mengundang tawa Erkan.
"Iya bawel. Mas mau minta kiss pagi dulu dong sebelum pergi."
Lisa langsung berbinar, kemudian tanpa malu lagi ia menempelkan bibirnya di bibir Erkan. Erkan yang mendapat lampu hijau pun langsung mencecap bibir istrinya seraya menarik tengkuk Lisa untuk memperdalam ciuman. Dan itu berlangsung cukup lama. Sampai keduanya hampir kehabisan stok oksigen baru menyudahinya.
"Makasih, sayang. Kalau gini Mas jadi semangat, udah dapat energi tambahan soalnya."
Lisa terkekeh lucu. "Kamu mah ada-ada aja, Mas. Ya udah, ayo Lisa antar ke depan." Lisa mengambil tas kantor suaminya. Lalu keduanya pun beranjak dari kamar.
"Hati-hati, Mas. Jangan lupa sarapan." Lisa mengecup punggung tangan Erkan dengan lembut.
"Iya, sayang." Erkan mengecup kening Lisa. Kemudian mengambil tas kantornya dari tangan sang istri dan bergegas masuk ke dalam mobil. Seperti biasa, Erkan menekan klakson sebelum melajukan mobilnya. Dan Lisa menunggu sampai mobil Erkan menghilang dari pandangan baru menutup pintu gerbang. Mungkin itu akan menjadi rutinitas paginya mulai sekarang.
Menjelang siang, Violla menjemput Lisa sesuai permintaan Erkan.
"Yuhu... Kakak ipar." Teriaknya seraya memasuki rumah. Tidak lama Lisa pun keluar dari kamar dan sudah cantik dengan balutan dress selutut bermotif bunga sakura.
"Wih... cantiknya Kakak iparku yang satu ini." Puji Violla saat melihat penampilan Lisa.
Violla tersenyum malu. "Ya udah, pergi sekarang kan?" Lisa mengangguk. Lalu keduanya pun langsung bergegas pergi.
Sesampainya di mall, Lisa dan Violla pun berkeliling lebih dulu. "Vi, kapan kamu balik ke Jogja?"
Violla menoleh. "Lusa kayaknya udah balik, soalnya minggu depan udah mulai ujian."
"Wah, bentar lagi kkn dong?"
Violla mengangguk. "Susah gak sih Kak kkn? Kok aku jadi takutnya? Takut kayak kejadian kkn di desa penari itu."
Lisa tertawa renyah. "Mana ada itu, cerita itu kan gak tahu bener apa enggaknya. Paling juga dikirim ke pelosok gitu. Kakak aja kemaren itu kkn di desa yang lumayan jauh dari kota. Bahkan gak ada sinyal. Tapi kalau dinikmatin mah dan kitanya ikhlas, enak-enak aja sih. Lagian cuma sebulan juga. Apa lagi kalau dapat temen sekelompok yang pas, dijamin seru deh. Kuncinya mah satu aja, jangan ngebantah atau buat yang aneh-aneh di kampung orang. Kita harus hormat sama semua peraturan di sana."
Violla pun mengangguk paham. "Untung ada Kakak, tar Vio tanya-tanya lagi boleh kan seputar apa aja yang harus di siapin buat berangkat."
"Sipp... aman itu mah. Selagi bisa bantu kenapa enggak ya kan?"
Violla mengangguk lagi, bahkan ia bergelayut manja di lengan Lisa. "Seneng deh punya Kakak ipar baiknya kayak gini. Udah lama Vio pengen banget punya Kakak cewek. Baru sekarang kesampean. Kalau yang satu itu mah gak bisa di ajak berteman. Judesnya gak ketulungan. Bikin gak betah di rumah."
Lisa terseyum. "Gak boleh gitu, gimana pun Teh Zia Kakak ipar kita."
"Iya sih. Udah ah, ngapain juga bahas dia. Kita kan ke sini mau senang-senang. Balenin dong, pasti Bang Erkan ngasih uang banyak kan? Atau dia kasih atm unlimitednya sama Kakak?"
Lisa mengerut bingung. "Kok kamu tahu?"
__ADS_1
"Tahu lah, soalnya Bang Erkan cuma punya satu kartu yang unlimited. Katanya sih itu buat masa depannya. Sekarang kan masa depan Abang kamu, Kak."
Lisa tersenyum malu. "Iya deh nanti Kakak balenin. Pilih aja apa yang kamu mau, tar Kakak ngomong sama Abang kamu."
"Yey! Makasih Kakak ipar yang baik hati." Ucap Violla dengan tulus.
"Sama-sama cantik." Balas Lisa. Lalu mereka pun hendak masuk ke sebuah toko pakaian khusus wanita. Namun, belum sempat Lisa masuk seseorang menariknya keluar. Sontak Violla ikut tertarik.
"Kak Zia." Pekik Violla kaget.
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Lisa. Tentu saja hal itu menarik perhatian banyak orang.
Violla juga tampak kaget. "Hey! Gila ya lo." Gadis itu hendak menyerang Zia, tetapi Lisa langsung menahannya.
Lisa mengepalkan tangannya dan langsung melihat ke arah wanita itu. Dan....
Plak!
Ia membalas tamparan itu tak kalah keras. "Sekali lagi kamu berani ngangkat tangan ke aku, aku gak akan segan buat laporin kamu ke polisi. Aku gak takut sama sekali." Geram Lisa tak terima terus diperlakukan seperti ini.
"Sialan! Berani kamu nampar aku?" Bentak Zia hendak melayangkan tamparan lagi. Namun, Lisa dengan sigap menepik tangan wanita itu dengan kasar.
"Emang kenapa? Situ yang mulai duluan. Salah aku teh apa sama kamu?" Bentak Lisa mulai tersulut emosi.
"Alah, kamu pikir aku gak tahu kalau kamu sering hubungin suami aku kan? Dasar perempuan murahan. Gak puas apa sama Erkan sampe berani jadi selingkuhan suami orang?" Tuding Zia dengan suara tinggi.
Lisa melotot mendengarnya. "Gila kamu ya? Sejak kapan aku teh ganggu suami situ. Edan maneh." Kesal Lisa.
Violla meraih tangan Lisa. "Emang gila dia. Lagian mana mungkin Bang Elkan selingkuh. Kecuali dia sendiri yang selingkuh. Kurang baik apa Abang aku sama kamu? Semuanya udah dia kasih. Kalau gak ada Bang Elkan kamu pasti hidup susah."
Zia mengepalkan tangannya. "Tahu apa kamu soal suami aku? Dia itu sama sekali gak ada guna selain cuma ngasih duit."
"Eh, ngelunjak lo ya?" Bentak Violla tak terima Abangnya di jelekkan di depan umum. "Kalian semua liat ke sini. Liat ini contoh wanita gak tahu malu, gak ada otak dan gak berpendidikan. Dia berani ngelabrak orang tanpa bukti. Jelekin suaminya sendiri yang udah nolong dia dari kehidupan susah. Sekarang siapa yang lebih cocok jadi orang yang gak ada guna dan gak tahu malu? Kalian yang ada di sini nilai aja sendiri. Kalau wanita itu emang orang gila yang gak ada otak." Sembur Violla dengan kilatan amarah di matanya. Ia paling tidak suka keluarganya dijelekkan apa lagi oleh iparnya sendiri.
Wajah Zia merah padam menahan rasa malu sekaligus amarah. "Awas kalian, terutama kamu, Lisa. Berani kamu hubungin suami aku lagi. Aku gak akan segan labrak kamu lebih dari ini." Setelah itu Zia pun beranjak pergi dari sana.
Lisa benar-benar kaget. "Kapan aku teh hubungin Bang Elkan? Nomornya aja gak punya." Gumamnya.
Violla memeluk Lisa dan mulai menangis. Sontak Lisa pun kaget. "Vi."
"Dia jahat, Kak. Bang Elkan gak mungkin selingkuh. Dia udah jelekin Kakak sekaligus Bang Elkan di depan banyak orang. Gak ada otak emang. Aku bakal bilang ini sama Mama, Papa, Bang Elkan juga. Biar dia dicerein sekalian."
Lisa menghela napas berat sambil mengusap punggung Violla. "Kita pulang aja yuk." Ajaknya karena tidak mungkin lagi mereka berbelanja dengan kondisi seperti ini. Violla pun mengangangguk, dan mereka pun meninggalkan tempat itu dengan perasaan campur aduk.
Tbc....
Huh... capek.
__ADS_1