
Warning! Area 21+... bagi yang di bawah umur jangan mendekat. Aku udah ingatin. Kalau maisih bandel tak sentil nanti. Skip aja ya yang di bawah umur.
****
Setibanya di hotel, Erkan pun langsung melakukan check in. Hotel tersebut masih berada di ibu kota, hanya saja berada di tepi pantai.
"Wah, ini yang dapat paket bulan madu ya?" Tanya sang resepsionis. Seketika wajah Lisa pun merona mendengar kata bulan madu dari mulut wanita itu.
Ih, si Mbaknya malah bikin jantung saya teh joget lagi.
"Iya." Jawab Erkan singkat sambil melirik Lisa yang menunduk malu.
"Tunggu sebentar ya?"
Erkan pun mengangguk kecil. Bahkan tanganya tidak lepas dari istrinya.
Setelah urusan check in selesai, keduanya pun diantar oleh seorang bellboy menuju kamar. Dan tidak di sangka mereka mendepat sebuah kamar bungalow yang langsung menghadap ke pantai lepas. Mereka pun terus melewati beberapa bungalow sebelum tiba di kamar yang akan ditempati.
Suara deburan ombak, dan hembusan angin membuat suasana menjadi semakin romantis. Ya, tempat ini memang sangat cocok untuk pasangan yang ingin berbulan madu.
"Ini kamarnya, Mas, Mbak." Ucap sang bellboy tadi sembari membukakan pintu kamarnya. Lalu membawa masuk barang-barang mereka.
"Apa ada yang perlu saya bantu lagi?" Tanya sang bellboy dengan ramah.
"Ah, gak perlu. Makasih, Mas." Erkan pun memberikan tip pada orang itu. Lalu lelaki berseragam itu pun bergegas meninggalkan pasangan pengantin itu yang terlihat agak canggung.
"Enak ya tempatnya." Kata Lisa mulai menyusuri bungalow untuk menghilangkan rasa canggung. Erkan yang melihat itu tersenyum.
"Oh iya, sebentar lagi ada dinner, kamu ada bawa gaun kan?"
Lisa berbalik, kemudian mengangguk kecil.
"Ya udah, siap-siap gih. Takutnya kita telat."
"Iya, Mas." Lisa bergegas membuka koper dan memilih gaun yang cocok. Dan ia terlihat bingung sekarang. Akhirnya Lisa pun bertanya pada Erkan. "Mas, kira-kira mana yang cocok?"
Lisa menujukkan dua gaun pada Erkan.
"Yang kiri aja, lebih manis." Tunjuk Erkan memilih gaun yang lumayan tertutup. Sebenarnya bukan karena manisnya aja, Erkan gak rela kalau tubuh cantik istrinya di lihat orang lain. Sedangkan dirinya aja belum lihat semua.
"Oke deh. Aku ganti dulu." Lisa pun beranjak menuju kamar mandi. Erkan yang hendak protes pun tidak sempat. Dan ia pun ikut berganti pakaian formal. Tentu saja Erkan terlihat begitu menawan.
__ADS_1
Tidak lama dari itu, Lisa juga keluar dari kamar mandi dan sudah lengkap dengan gaun cantiknya.
"Cantik banget, sini biar saya rapihin rambutnya." Pinta Erkan yang berhasil membuat jantung Lisa jumpalitan ke sana ke mari. Apa lagi saat tangan kekar itu menyisir rambutnya yang panjang.
"Udah, cantik." Puji Erkan tersenyum begitu manis. Membuat Lisa salah tingkah.
Beberapa menit berikutnya mereka pun melakukan makan malam dengan romantis. Apalagi ada musik romansa yang menemani mereka saat ini.
"Enak?" Tanya Erkan memastikan. Sebenarnya acara makan malam ini sama sekali tidak ada dalam paket bulan madu. Ini murni keinginan Erkan untuk menyenangkan istrinya.
"Enak banget, namanya juga makanan elit, Mas." Sahut Lisa apa adanya.
"Alhamdulillah kalau kamu suka." Ucap Erkan.
"Emangnya mereka tuh gak rugi ya siapin semuanya? Ini teh udah kayak paket komplit. Makan malam di tepi pantai, pake musik romantis lagi. Luar biasa pelayanannya."
Erkan tersenyum. "Mana mungkin mereka rugi. Kita sebagai penerima cuma bisa menikmati aja."
"Iya." Lisa kembali melahap makanannya. Dan semua itu tidak luput dari pandangan Erkan. Cara Lisa makan, ngunyah dan menjilat ujung bibirnya terlihat begitu seksi di mata Erkan. Rasanya Erkan menyesal karena membuat acara makan malam segala. Seharusnya ia sudah melahap habis istrinya itu di atas ranjang saat ini.
Acara makan malam pun selesai tepat pukul sembilan. Erkan pun langsung membawa Lisa kembali ke kamar. Dan mereka pun berganti pakaian tidur lebih dulu.
"Sa."
"Kamu udah siap kan?" Tanya Erkan ragu.
Lisa tidak langsung menjawab. Jujur ia agak takut dan gugup. Erkan pun mendekat, lalu menggenggam tangan Lisa.
"Kalau belum siap, gak papa kok."
"Eh, enggak gitu. Saya teh cuma gugup aja." Lisa menunduk malu.
Erkan tersenyum bahagia. "Jangan takut, saya mainnya pelan-pelan."
Lisa menelan air liurnya dengan susah payah. Kemudian mengangguk pelan.
"Jangan jauh-jauh." Pinta Erkan menarik Lisa agar merapat. Dan itu membuat Lisa semakin tegang. Cukup lama keduanya duduk berdempetan.
Erkan menatap istrinya lamat-lamat. "Sekarang yuk." Ajaknya karena sudah tidak tahan. Apa lagi saat menghirup aroma manis dari tubuh istrinya.
Lisa mengangguk pelan. Erkan yang sudah mendapat lampu hijau pun langsung menarik dagu Lisa pelan. Tanpa menunggu lagi Erkan mendaratkan bibirnya di bibir Lisa. Lalu keduanya terhanyut dalam ciuman panas.
__ADS_1
Erkan menarik Lisa ke pangkuan karena sudah tersulut api gairah. Kemudian menarik tali piyama Lisa dengan sekali tarikan. Suara decapan bibir keduanya pun memenuhi seisi kamar.
Lisa terengah karena stok oksigennya menipis. "Jangan terlalu tegang, Sa. Saya gak akan jahatin kamu kok. Paling cuma kasih enak."
Wajah Lisa bersemu mendengar itu. Ia tidak bodoh untuk memahami ke mana arah pembicaraan suaminya.
"Ahh...." tiba-tiba Lisa m*nd*s*h karena Erkan langsung mencumbu lehernya.
"Mas udah gak tahan, sayang."
"Malu, Mas."
"Malu sama siapa? Saya suami kamu, Lisa." Erkan melepaskan semua kain yang menghalangi pandangannya untuk melihat kemolekan tubuh sang istri. Kemudian membaringakan Lisa. Dan yang menjadi pusat perhatian Erkan adalah pusat inti istrinya yang terlihat bersih terawat tanpa bulu. Karena sebelumnya Lisa memang sudah mencukurnya sesuai saran tukang salon.
"Ih... jangan diliatin gitu atuh, Mas. Lisa teh malu." Lisa pun menutup aset berharganya itu dengan tangan karena malu. Namun, dengan cepat Erkan menyingkirkannya.
"Jangan ditutup. Saya suka." Kali ini pandangan Erkan jatuh pada dua benda yang seolah menantang dirinya. Benda itu pastinya sangat kenyal dan padat.
Erkan tidak ingin buru-buru memberikan kenikmatan pada istrinya. Ia melahap kembali bibir Lisa yang sangat manis itu. Lidahnya memaksa masuk menjelajah lebih dalam. Kelembutan Erkan pun berhasil membuat Lisa terbuai dan mulai beradaptasi.
Kini kedua tangan Erkan tidak lagi diam, kedua tangan kekar itu menangkup dua benda yang tadi menantangnya. Lisa sempat terperanjat, tetapi perlahan ia merasakan sensasi aneh yang sebelumnya tak pernah ia rasakan.
Ciuman Erkan kini pindah ke leher harum Lisa, mencecap inci demi inci kulit mulus istrinya dengan lembut. Lisa pun menggeliat kegelian.
"Aduh... geli, Mas. Jangan digigit, udah kayak drakula aja." Protes Lisa malah tertawa karena geli. Dan itu membuat Erkan gemas sendiri.
Erkan pun semakin turun ke dua benda menantang itu. Dilahapnya satu per satu benda itu dengan rakus. Membuat sang empu terus menggeliat dan m*nd*s*h kecil. Melihat reaksi istrinya yang mulai ikut suasana. Erkan semakin gencar mencumbui dua benda itu.
Tangan Erkan juga kembali bergerak lihai. Dan salah satu tangannya dengan berani membelai bibir di bawah sana.
"Uhhh...." Tubuh Lisa melengkung saat Erkan menggoda miliknya di bawah sana.
"Udah basah. Langsung aja ya? Udah gak tahan."
Dengan tatapan polos Lisa pun mengangguk. Sontak Erkan pun bergegas melepas jubah tidurnya. Lisa terperanjat kaget saat melihat benda besar yang sudah berdiri kokoh. Seolah siap menghajarnya.
Erkan yang melihat reaksi itu pun kembali mengukung tubuh Lisa dan memberikan kecupan di bibirnya agar sang istri tidak ketakutan.
Dalam malam ini Erkan benar-benar mendapatkan haknya. Sedangkan Lisa terlihat pasrah dan menikmati setiap sentuhan yang Erkan berikan. Apa lagi Erkan melakukannya dengan penuh kelembutan dan cinta. Malam pertama mareka pun benar-benar indah.
Tbc....
__ADS_1
Udah mp-nya sampe sini aja ya hehe...