
Mona dan Desi langsung memeluk Bella saat mereka tiba di butik milik Desi. Sesuai dengan perjanjian mereka sebelumnya.
"Ah, rindu banget tahu gak? Dari mana aja lo?" Mona memukul punggung Bella pelan.
Bella menarik diri dari pelukan sahabatnya itu. "Sorry, gw kabur bentar."
"Sialan! Terus sekarang pas ada masalah lo baru balik huh?"
Bella tertawa renyah. "Buat apa gw punya bestie kalau gak ada guna?"
"****** lo emang." Ketus Mona.
"Duduk dulu yuk." Ajak Desi. "Mbak, ayuk ikutan. Jangan sungkan sama kita mah." Desi memusatkan perhatian pada Chelyn.
"Ya."
"Terus gimana ceritanya?" Tanya Desi memusatkan perhatian pada Bella saat mereka sudah duduk di sofa.
"Besok gw bakal ketemu orangtua Mas Elkan dulu. Baru pulang ke rumah gw." Jawab Bella.
"Semoga lancar ya?" Ucap Mona dengan tulus.
"Aamiin." Sahut yang lain kompak.
"Terus sekarang lo tinggal di rumah Lisa?"
Bella mengangguk.
"Bayar berapa per hari?" Canda Desi.
"Yee... lo kira rumah gw hotel." Sambur Lisa.
"Hati-hati loh tinggal di rumah Lisa, bisa-bisa lo mergokin mereka lagi nyetak gol lagi." Celetuk Mona.
"Dih... gw juga masih punya otak kali. Emang si Bella noh, masak tadi malam dia main di dapur. Gila gak sih? Untung gw cuma liat dikit. Gimana kalau bibik bangun cobak?"
Wajah Bella merah padam mendengar itu. "Ck, kebablasan tadi malem. Niat hati cuma mau buat kopi, gw lagi kelarin naskah. Gak tahu aja Paksu ngekor. Ya udah main bentar di dapur." Jelas Bella tanpa dosa.
"Dih... pake dijelasin segala. Emang otak mesum lo, Bell." Cibir Mona.
"Terus, lo emang gak pernah main di tempat terbuka gitu, Sa?" Celetuk Desi mulai terpancing dengan pembahasan dewasa.
Wajah Lisa pun ikut merona. Ia jadi ingat permainan panas mereka di kolam renang kemarin. "Ya... pernah. Tapi gak kebuka juga."
"Ck, paling juga di kolam renang." Sambar Bella.
"Beneran, Sa?" Tanya Mona begitu antusias. "Wah... parah lo. Auto kuras tuh kolam."
"Iya, tadi baru dikuras sama Mang Ujang." Jawab Bella.
"His... bocor lo, Bel."
"Ekhem... kok kita jadi bahas ke sini ya?" Tanya Chelyn mulia tak nyaman dengan pembicaraan absurd para kejora.
"Eh, maaf. Lupa kita ada Mbak Chelyn, hehe." Ucap Mona cengengesan sendiri.
"Okay, kita kembali ke laptop." Kata Desi.
"Mister Tukul lo?" Cibir Lisa.
__ADS_1
"Bodo. Kita lanjut sama topik awal. Jadi gimana? Kapan sidang cerai suami lo?"
"Lusa sidang pertama mereka."
"Okay, usahakan lo jangan muncul dulu sampe sidang pertama selesai. Kita udah amanin si nenek lampir." Jelas Desi.
"Maksud lo?" Tanya Lisa penasaran.
Desi dan Mona pun saling melempar pandangan. Lalu kedunya tersenyum penuh arti.
"Jadi gini...."
Seminggu yang lalu, rumah sakit.
"Hmmmfff." Desi dan Mona membekap mulut Zia saat wanita itu hendak berteriak. Lalu menggeretnya ke gudang rumah sakit. Kemudian mereka pun mendorong Zia sampai terjatuh ke lantai.
"Sialan kalian?" Teriak wanita gila itu memberikan tatapan membunuh pada Desi dan Mona.
"Kunci pintu." Titah Desi. Mona pun mengangguk dan bergegas mengunci pintu. Lalu keduanya memusatkan perhatian pada Zia.
"Jadi ini cewek gatel yang terus ganggu rumah tangga bestie kita? Udah tua rupanya, Mon." Ledek Desi.
"Jelas lah, seratus kali cantikan Lisa. Mana mau Bang Erkan sama nenek-nenek buluk kayak gini. Bedaknya aja satu inci." Timpal Mona tersenyum miring.
Zia menggeram kesal, ia bangkit dan hendak menyerang keduanya. Tapi sayang ia malah tersungkur karena hillsnya patah.
"Ups... kita belum sentuh loh." Ledek Mona. Kedua gadis itu tertawa renyah. Spontan Zia berteriak kesal.
"Mon, coba lo tebak kenapa Bang Elkan udah gak mau sama ni cewek?" Desi menatap Zia remeh.
"Enggak, kenapa ya?" Mona memasang wajah bingung yang dibuat-buat.
Ahh.... faster Om... enak.
Lubangmu longgar, tapi enakhhh... aku tembak di dalam sayang ahhhh.
Zia melotot saat melihat dirinya sendiri yang ada di video itu. "Sialan! Hapus atau aku akan membunuh kalian." Wanita itu bangkit dan kembali menyerang Desi. Namun, ia tidak tahu jika Mona bisa bela diri. Dengan sigap Mona membekuk wanita itu.
"Jangan pernah berani main tangan sama sahabat-sahabat gw. Mungkin kita masih diem pas lo nampar Lisa, karena lo udah dapat hukumannya. Tapi kali ini lo nyebarin berita gak bener soal Bella. Lo harus terima akibatnya."
Bugh!
Mona berhasil membuat wanita itu pingsan.
"Biarin aja dia. Bentar lagi anak buah gw bakal datang buat jemput dia. Kita liat dihari persidangan dia berani apa? Sekarang dia gak akan bisa berkutik. Harga diri Kejora dipertaruhkan di sini." Ujar Desi menatap Zia penuh permusuhan.
Mona mengangguk. "CCTV aman kan?"
"Lo lupa rumah sakit ini milik Bokap gw?" Sombong Desi.
"Haha, lupa gw." Mona cengengesan sendiri. Lalu mereka pun meninggalkan gudang itu tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Gila! Pantes aja kalian lama pas itu. Terus nenek sihir itu di mana sekarang?" Tanya Lisa percaya tidak percaya dengan apa yang Mona dan Desi lakukan.
"Jadi piala bergilir preman kali. Terakhir gw liat dia lagi nungging, terus dimasukin rame-rame. Gw juga sempat kaget pas liat itu. Gak ada niat di hati buat dia jadiin dia piala bergilir gitu. Tapi pas gw tanya ke preman, katanya si nenek sihir yang mulai duluan." Jawab Mona blak-blakan.
"Sumpah?" Seru Lisa lagi.
"Ngapain gw boong, emang dianya aja yang p*l*c*r. Digoyang dikit langsung takluk. Padahal kita kurung dia buat ngancam dan gak ganggu proses perceraian." Kesal Desi
__ADS_1
"Gila kalian. Gimana kalau dia laporin kalian ke penjara?" Panik Bella.
"Cobak aja kalau berani, gw bakal masukin dia duluan ke penjara." Ketus Mona.
"Shttt... gw baru ingat bokap lo cukup berpengaruh di kota ini." Desis Bella.
Tidak lama ponsel Bella bergetar, ia mendapat pesan dari sang suami.
"Guys... berita gw udah hilang di beranda. Serius demi apa? Aaa... gw pengen nangis." Bella menatap kedua sahabatnya dengan mata berkaca-kaca. Ia tahu ini juga pasti ulah Desi dan Mona. "Thank you."
Desi dan Mona mengangguk. "Harga diri Kejora gak akan ada yang bisa ganggu gugat." Keempatnya pun berpelukan hangat. Chelyn yang melihat itu ikut terharu.
"Untuk pertama kalinya saya lihat persahabatan kayak gini, jadi pengen gabung." Chelyn menyapu ujung matanya yang berair. Sontak keempat kejora pun saling memandang. Lalu mereka pun memeluk Chelyn.
"Sekarang Kejora udah resmi nambah anggota. Semangat." Seru Mona. Spontan yang lain pun tertawa bahagia.
****
Baik Erkan maupun Elkan merasa heran saat melihat istri mereka pulang dengan wajah berseri-seri.
Lisa mencium tangan suaminya, begitu pun dengan Bella melakukan hal yang sama. Lalu Lisa pun duduk di sebelah Erkan. Sedangkan Bella menarik tangan suaminya. "Ke kamar bentar yuk."
"Lah, ada apa gerangan? Kayaknya ada aura aneh?" Tanya Elkan menatap istrinya.
"Ck, kita ke kamar dulu. Nanti Bella ceritain." Rengek Bella terus menarik tangan suaminya.
"Iya, ayo." Elkan pun mengalah. "Er, aku ke kamar dulu ya? Susah kalau punya istri anak-anak mah."
"Mas!" Tegur Bella.
"Iya, sayang. Ayo ke kamar." Elkan merangkul pundak istrinya dan mereka pun beranjak ke kamar.
Erkan dan Lisa yang melihat itu cuma bisa menggeleng.
Sekarang giliran Erkan yang merasa penasraan pada istrinya. "Ada apa sih? Pulang-pulang kayaknya kesenengan."
Lisa tersenyum. "Semuanya udah beres."
"Apanya yang beres?"
"Masalah Bella sama Bang Elkan."
"Kok bisa?"
"Bisalah, Mas." Lisa pun mulai menceritakan apa yang terjadi, termasuk soal nasib Zia. Tentu saja Erkan kaget mendengarnya.
"Mas gak setuju kalau soal hukuman untuk Zia? Kalian udah ngelanggar asusila. Lebih baik kalian laporin dia ke penjara, lebih manusiawi." Protes Erkan.
"Lah, kan kita gak ada niat buat lecehin dia. Dianya aja yang mau sendiri. " Kesal Lisa karena Erkan malah membela Zia.
"Sama aja, kalian nempatin dia sama preman. Kita gak bisa percaya sepenuhnya juga sama preman itu, Sayang. Gimana kalau Zia dipaksa?"
"Ih... Mas kok malah belain dia sih? Kalau Mas kasian sama dia ya udah sana tolongin. Gak ada gunanya kalau gitu kemaren kamu marah-marah buat labrak dia. Ngeselin ih." Setelah mengatakan itu Lisa pun langsung beranjak ke kamar sambil ngedumel.
"Sayang. Kok jadi Mas sih yang dimarahin?" Erkan menghela napas berat. "Hah, kayaknya harus bujuk-bujukan lagi ini mah."
Erkan bangkit dari posisinya untuk menyusul sang istri. "Neng, Akang minta maaf atuh." Teriaknya terkekeh sendiri. "Lucu juga kalau panggilannya Eneng sama Akang. Jadi inget cerita kabayan."
Tbc....
__ADS_1