
“Aku mencintaimu dan akan selalu mencintaimu. Kamu, pria pertama yang aku lihat dan kamu pria kedua yang ku cintai setelah ayah ku. Pernah aku berfikir, apa aku bisa bahagia hidup bersama mu dibawah ikatan pernikahan? Jawabannya dapat kutemukan sekarang.Ya, aku bahagia! Aku sangat bahagia karena telah menjadi istri mu dan telah menjadi pendamping hidupmu. Hanya 1 yang ku pinta, kumohon, tolong lah setia kepadaku.”
-Keisha
Andri:
Bagaimana mungkin? Bagaimana bisa?
Bagaimana ini bisa terjadi? Bagaimana bisa Kania ada disini? Bahkan sekarang Kania memanggil Keisha, ah ya aku baru ingat sekarang! Kenapa aku bisa sebodoh ini. Bahwa wilayah ini hanya ada 1 supermarket yang memiliki barang yang sangat lengkap, dan aku baru menyadari itu.
Aggghhh!!
Ingin sekali, aku menjambak rambut ku sendiri. Tetapi aku menahannya, tidak mungkin aku frustasi sendiri karena Kania ada di hadapanku, bisa-bisa Keisha curiga dong.
Jadi, aku hanya menghela nafas dan memalingkan pandangan ku. Saat itu juga, aku merasa ketakutan ku yang sangat luar biasa.
Dan, lebih parah nya lagi sekarang. Aku, Keisha dan Kania berada di satu kafe yang terletak di samping supermaket dan aku rasa dunia hampir kiamat karena kini kami bertiga berada di satu meja! Bayangkan itu! Kalian wajib banget membayangkannya.
Bagaimana tidak, dua wanita yang kamu cintai ada di hadapan mu sekarang. Yang satu istri mu dan satu nya lagi simpanan mu. Mereka berdua tersenyum satu sama lain, sedangkan aku? Aku hanya tersenyum kikuk, entah itu senyuman yang pernah aku berikan ke Keisha atau senyuman terbodohku.
Karena siapapun yang melihat nya, pasti akan curiga kepada ku. Aku hanya bisa mengusap tengkuk ku yang terasa sangat panas.
“Lama ya kita gak nyantai bareng Kan? Biasanya juga kamu sibuk sama pekerjaan kamu,” Keisha memulai obrolan disaat hening beberapa lama, aku pun tidak tau apa yang aku ingin bicarakan. Lagian aku pun tidak akan bicara karena sudah pasti suara ku bergetar menahan takut.
Kania terlihat tersenyum, dia sambil melirik ku. Entah kenapa tatapan Kania terlihat berbeda tidak seperti tatapan biasanya, apa itu hanya perasaan ku atau bagaimana, aku hanya mengangkat kedua bahu ku tidak mengerti.
__ADS_1
Kania kembali melihat Keisha “Hem, iya Kei, kamu benar. Kita sudah lama tidak nyantai seperti ini ya, apalagi sama suami kamu sekaligus bos aku, jadi rasanya bagaimana gitu, heheh.” Kania melirik ku lagi.
Apa-apaan ini? Kenapa aku mendadak tiba-tiba tidak mengerti dengan tatapan Kania?
Agghhh!
Aku bertambah frustasi karena ini. Aku pun pura-pura melihat ponsel ku, beralasan agar terhindar dari tatapan Kania yang tidak ku mengerti, sebaiknya seperti ini dibandingkan aku terus frustasi sendiri kan?
“Iya kamu bener, Mas Andri kan juga bos kamu di kantor. Mungkin kalau diluar terasa sangat aneh ya, iya kan Mas?” Keisha memegang tanganku. Sontak aku melihat Keisha yang tersenyum dan bergantian melihat Kania yang sedang menatapku datar.
Lalu aku pun mengangguk dan tersenyum aneh “Heheh, iya. Kamu bener, tapi aku sudah terbiasa kok dengan Kania. Bagaimanapun juga, Kania kan bawahan ku apalagi Kania sahabat kamu. Jadi aku harus terbiasa dong,”
Entah alasan apa itu, aku tidak tau apakah itu nyambung dengan pertanyaan Keisha atau tidak.
Aku melihat Kania, bukan tanpa alasan dong aku menunggu jawaban dia, aku hanya menunggu bagaimana jawaban nya dari pertanyaan Keisha. Kania terlihat menyesap teh nya dengan perlahan.
“Aku sangat senang kerja di kantor Pak Andri Kei, disana terjamin kerjanya, aku sangat suka apalagi Pak Andri sangat memperhatikan karyawannya di kantor secara langsung.”
Kalimat yang keluar dari bibir Kania entah kenapa ada maksud lain, aku merasa dia seperti ingin memberi tahu Keisha bahwa di kantor aku lah yang sering memperhatikan dia.
“Bagus lah, itu berarti suami ku ingin yang terbaik untuk kantornya. Semoga kamu betah ya kerja di sana Kan.” Keisha tersenyum lagi, kenapa hari ini Keisha sering banyak tersenyum? Aku tidak ingin istri ku itu terlalu terlihat bahagia didepan wajah Kania, itu membuat Kania sering menatap ku datar.
“Aku akan selalu betah kerja disana Kei, selalu. Sampai kapanpun aku betah disana, asal kalau pemimpinnya seperti Pak Andri.”
Kania tersenyum. Senyuman apalagi itu?! Astaga, kenapa aku semakin tidak mengerti dengan eskpresi wanita?!
__ADS_1
“Aku bersyukur Kan kalau kamu betah kerja di kantornya suami aku, karena aku yakin suami aku jadi bakal pemimpin yang baik di kantornya. Makanya aku selalu mendoakan dia, agar dia selalu sukses di pekerjaannya. Bagaimanapun, doa istri itu sangat cepat terkabul. Ya kan Mas?” Keisha melihat ku dengan tatapan penuh cinta.
Ya Tuhan, kenapa harus sekarang sih Kei? Aku sudah tidak dapat berkata-kata apa lagi. Kania melihat ku dengan tatapan nanar, Kania marah? Ya! Itu terlihat jelas di kedua mata Kania. Kenapa dia harus marah? Bukannya dia bilang gak pernah cemburu jika aku bersama Keisha? Kenapa tatapan itu seperti Kania marah kepada ku? Benarkah? Atau hanya perasaan ku saja?
“Mas,” panggil Keisha, aku pun langsung menoleh ke Keisha.
“Ah? Iya kamu bener sayang, doa istri emang paling ampuh daripada doa yang lainnya. Makasih ya udah doain Mas, Mas sangat beruntung punya istri seperti mu,” tangan ku malah berkhianat di depan Kania, aku malah mengelus pipi Keisha.
Astagaaaa!! Apa yang sudah aku lakukan? Aku seperti memanas-manasi Kania, aku melihat Kania yang sedang mengalihkan pandangannya. Fix! Dia beneran marah dengan ku.
Andri....
Bersiap-siap lah, setelah ini Kania akan marah kepada mu.
“Sama-sama Mas.” jawab Keisha.
“Em, maaf. Keisha, aku mendadak ada urusan dengan temanku. Kalau begitu aku permisi dulu ya,” Kania terlihat bergegas meninggalkan kami berdua, tanpa menungu perkataan Keisha.
“I-ya.” jawab Keisha pelan sambil mengikuti arah Kania yang keluar dari kafe.
“Buru-buru amat sih Kania, pasti sibuk banget ya jadi model? Orang kayak Kania kan banyak job, apalagi dia udah terkenal sekarang. Aku jadi semakin bangga punya sahabat seperti Kania, tidak sia-sia aku menawari dia di kantor kamu. Terima kasih ya Mas, udah mau nerima Kania di kantor mu walau aku tau kalau disana harus diseleksi terlebih dahulu.” Keisha bersandar di bahuku, aku tersontak kaget karena aku melihat Kania yang berada di luar kafe tengah melihat kami berdua melalui kaca kafe tersebut.
“Ah, i-ya Kei, sama-sama,” aku tersenyum tipis kepada Keisha.
Aku masih melihat Kania yang sedang melihatku dengan wajah sendunya. Ya Tuhan, aku sudah membuat Kania bersedih, apa yang akan aku lakukan untuk menghilangkan ekspresi sedih itu di wajah nya? Aku sungguh tidak tega melihat nya.
__ADS_1