Simpanan

Simpanan
-Paris-


__ADS_3

“Jika ingin mencintai seseorang, cintai lah sewajar nya dan sayang lah sewajar nya. Agar suatu saat ia melukai hati mu, engkau tidak akan patah hati begitu mendalam.”


-Keisha


Andri:


Perancis, Paris.


Aku membuka kedua mata ku, begitu berat dan begitu malas saat ku membuka nya. Ku lihat hari sudah mulai sore, tunggu, sudah jam berapa ini? Aku meraih ponsel ku di nakas, melihat sudah jam berapa ini. Ternyata sudah jam tiga sore, ya ampun, selama itu kah aku tidur? Mungkin karena aku kelelahan sehabis perjalanan yang lumayan jauh.


Perjalanan dari Indonesia ke Paris memakan waktu 21 jam lama nya dengan transit 2 kali. Sudah kebayangkan bukan bagaimana lelah nya, yah walaupun itu hanya duduk doang namun bisa menguras tenaga juga. Apalagi saat ini Kania sedang mengalami jet lag, hahaha.


Aku dan Kania memutuskan untuk menginap di suatu hotel yang dekat dengan Menara Effeil, agar kami leluasa melihat Menara Effeil itu di jarak terdekat pada malam hari tanpa harus keluar dari hotel, kurasa itu sangat indah.


Kami berdua tidak tidur satu kamar, kami memang memutuskan untuk berpisah dulu sebelum pernikahan kita di tentukan. Walaupun begitu, aku dan Kania masih bersebelahan kamar nya. Sudah pasti kita akan bertemu setiap hari nya. Aku hanya bisa menghela nafas lega, aku tidak menyangka jika hari ini akan tiba pada waktu nya.


Saat aku memeriksa ponsel ku, disitu lah aku melihat beragam notifikasi yang belum aku lihat sama sekali semenjak sampai di Paris. Aku tidak menyentuh ponsel ku sama sekali, paling kalau hanya menonaktifkan dan mengaktifkan saja. Selebihnya aku langsung menyimpan ponsel ku begitu saja, tanpa melihat ada apa saja yang berada di ponselku.


Cukup ramai sih saat ku lihat, tapi yang begitu mencolok di layar ponsel ku yaitu nama Keisha, istriku. Berkali-kali dia menelpon ku dan berkali-kali juga pesan masuk dari nya. Aku lupa, kalau aku belum memberi kabar kepadanya.


Pasti disana ia khawatir kepada ku, sejujurnya sih aku tidak khawatir dengannya karena aku meninggalkannya sendirian. Toh, disana juga ada ibu yang menemani Keisha.


Entah aku pun tidak mengerti, kenapa akhir-akhir ini perasaan ku ke Keisha biasa-biasa saja. Tidak seperti perasaan yang dahulu pernah kurasakan dengannya, semuanya terasa biasa-biasa saja.


Aku pun bingung dengan itu sambil berfikir, ahh, mungkin ini efek sebentar lagi aku akan menikahi Kania? Mungkin kalau aku sudah menikahi Kania semua nya bakal kembali menjadi semula.


Aku membuka beragam pesan dari Keisha, ada yang isinya tentang gimana keadaan ku, apakah aku udah sampai di Paris dan apa yang sedang ku kerjakan hari ini. Hanya tentang itu saja, selebihnya dia mengirim pesan bahwa ia sedang merindukan aku dan dia mengatakan bahwa dia mencintai ku.


Aku pun hanya bisa tersenyum tipis saat membaca nya, lalu aku kembali meletakkan lagi ponsel ku di nakas dengan tidak berniat untuk membalas satu pun pesan dari Keisha dan tidak berniat ingin menelpon balik Keisha.

__ADS_1


Entah lah, aku merasa malas atau memang tidak ada rasa lagi. Atau ini semua efek aku masih sedang mengantuk? Ahh bisa jadi bukan? Sebaiknya aku tidur lagi melanjutkan tidur ku yang belum ku balas dendamkan semenjak di pesawat.


Kania:


Hotel Matheo Villas and Suites.


Itulah plang nama kecil dan ada tulisan rangkai kecil berada di dinding kamar ku, aku mengusap kedua mata ku dengan pelan lalu duduk. Aku sambil merentangkan kedua tangan ku keatas sesekali menguap. Rasanya begitu sangat bahagia dan lega.


Aku kira ini semua mimpi karena aku berada di Paris, tetapi nyata nya saat ini aku benar-benar ada di Paris. Seketika senyuman ku mengembang, lalu aku beranjak dari kasur menuju ke jendela yang sangat besar. Ku buka tirai besar itu dan terlihat lah Menara Effeil dihadapan ku ini yang menjulang sangat tinggi.


Andri memang pintar mencari lokasi untuk ku, ia tau jika aku menyukai pemandangan seperti ini. Ahh, betapa romantis nya pria satu itu membuat aku tidak tau berkata apa lagi untuk nya.


Aku hanya sambil membayangkan dimana hari pernikahan kami tiba, aku dan Andri sudah berstatus menjadi pasangan suami istri. Kami berdua didalam kamar, aku memeluk pinggang nya dengan sangat manja dan dia merangkul ku dengan eratnya.


Lalu kami berdua melihat pemandangan Menara Effeil ini didalam kamar waktu malam. Dimana Menara Effeil memancarkan lampu-lampu yang indah di tiang nya.


Kami saling berpandangan dan mengatakan bahwa kami saling mencintai satu sama lain, bukan kah itu hal yang sangat romantis didunia? Membayangkan saja membuat kedua pipi ku panas begitu saja.


Lamunan ku pun buyar begitu saja, ketika ponsel ku berdering begitu lama. Dengan cepat aku menghampiri ponsel ku yang berada di atas kasur, terpampang nama Vania di layar ponselku.


Dengan cepat aku langsung mengangkat nya, “Halo Van?”


“Halo, Kan? Lo ada dimana?”


Ah sudah, tumben banget Vania bertanya seperti ini? Ada apa kah gerangan?


Aku hanya bisa menggaruk kepala ku, bingung ingin menjawab apa. Tidak mungkin kan aku bilang ada di Paris karena akan menikah dengan Andri? Sungguh konyol. Aku harus memberikan jawaban yang logis agar terhindar dari jawabannya ini.


“Eng... Aku, ada di Puncak, Van,”

__ADS_1


“Hah? Emang ngapain lo di puncak? Dan, emang di puncak ada sinyal?” tanya nya berderet.


Aku langsung menepuk jidat ku, astaga.


“Hehehe, ini aku sambil nyari sinyal nya Van, suara lo aja putus-putus.” Jawab ku berbohong.


“Hem, lo sama siapa ada di puncak, Kan?”


“Andri,”


“Ohhh,” ucap nya singkat. Aku tau jika aku bilang bersama Andri, dia tidak akan bertanya lebih jauh lagi. Biarkan begini, biar cepat selesai percakapan antara aku dengan Vania.


“Lo kenapa nelpon Van? Ada perlu apa?” tanya ku langsung.


“Em, itu, tas gue waktu itu ketinggalan di apartemen lo. Makanya gue nelpon lo dulu, mau nanya emang sekarang lo ada di apartemen atau ada di luar. Kebetulan lo ada di luar, kayak nya gak jadi deh ambil tas di apartemen lo,” aku mengangguk mengerti, ternyata itu maksud dia menelponku.


Aku hanya bisa menghela nafas lega, aku kira apa, “Ambil aja, password nya ulang tahun ku.”


“Gak papa nih gue masuk ke apartemen lo?” tanya nya dengan nada ragu.


“Kenapa bertanya? Biasanya juga lo udah biasa masuk ke apartemen gue,” ujar ku.


Tidak ada jawaban dari sebrang sana, mungkin Vania merasa tersindir dengan ucapan ku. Mungkin, yahh.


“Hem yaudah dulu ya Van, Mas Andri manggil gue nih. Gue tutup dulu ya telponnya,”


“E-eh iya Kan,”


Dengan cepat aku langsung memutuskan panggilan ku dengan Vania, ku hirup nafas dalam-dalam. Aku merasa bahwa saat ini dada ku merasakan sesak yang luar biasa.

__ADS_1


Sejujurnya jika ku beri tau, baru pertama kali ini lah aku berbohong pada Vania, demi menyelamatkan dari yang namanya masalah.


__ADS_2