Simpanan

Simpanan
-Perasaan Aneh-


__ADS_3

“Bertemu, pendekatan, menikah, memiliki anak, dan menua bersama adalah suatu akhir yang sangat diinginkan oleh setiap wanita. Tidak perlu dibilang seperti apa akhir hidup yang diinginkan. Pasti lah semua wanita akan menginginkan seperti itu. Walau terkadang keinginan selalu berbanding terbalik dengan realita yang sesungguhnya.”


-Keisha-


Kania:


Ting...Tong...


Ting...Tong...


Ting...Tong...


Ting...Tong...


Cklek...


Senyuman yang lama sudah kulihat dan plastik yang dijinjing hingga ke atas membuat aku langsung tersenyum. Orang yang kutunggu sejak tadi akhirnya datang juga sambil membawa barang yang kupesan tadi.


“Vania, ayo masuk!” ajakku.


Ia pun menyengir lalu masuk kedalam apartemen. Setidaknya malam ini aku tidak sendirian dengan fikiran yang pergi entah kemana.


Vania melihat koperku yang masih tergeletak diruang tamu serta barang-barang lainnya yang belum kubereskan. “Ya ampun Kania, berantakan banget sih. Jadi, ini lo baru nyampe di Indonesia dan langsung minta gue kesini?” aku hanya bisa menyengir sambil menggaruk kepala bagian belakang.


“Ckckckck, jangan bilang lo kangen gue ya. Makanya baru nyampe, lo langsung minta gue kesini. Ya kan? Baru aja beberapa minggu di Paris, udah kangen gue aja lo ah!”


“Ah, apaan sih lo! Ge-er deh. Mana minuman gue,” aku merampas plastik yang masih ada ditangannya. Kukeluarkan minuman didalam plastik dan langsung meneguknya.


“Hadehh nih anak, kebiasaan banget deh lo.”


“Ahhhhhhhhh, segernya,” aku menghela nafas panjang setelah meminum bir itu.


Vania sudah bersandar sofa dihadapanku sambil mengemil snack yang sempat dibeli bersamaan dengan bir ini. “Sepertinya lo makin gemuk aja deh Kan, lo makan apa aja di Paris?” tanya Vania sambil mengamati wajahku ini. Aku pun hanya bisa memegang pipiku. Ahh, masa iya aku semakin gemuk? Perasaan biasa-biasa aja deh.


“Ah, paling ini efek lo gak pernah ketemu gue makanya lo bilang gue gemuk ya kan?”


“Hahaha, serius gue. Padahal cman beberapa minggu aja disana. Tapi pipi lo udah makin tembem aja. Jangan-jangan lo bahagia ya disana?”


Bahagia? Iya awalnya aku bahagia Van. Tapi setelah itu semuanya menjadi sangat kacau. Selera makanku yang awalnya meningkat kini menjadi hilang sudah. Kini semuanya lenyap karena masalah itu. Dimana keluarga Andri tau hubungan ini.


“Hei!” aku pun tersentak dari lamunanku. “Idih ni anak malah bengong. Ada masalah apa?” aku hanya mengulas senyuman tipis sambil menggeleng pelan. Aku sudah sepakat dengan Vania apabila ada masalah dengan Andri aku tidak akan bercerita tentang Andri dihadapannya. Karena ini adalah kesepakatan dari kami berdua.


Aku kembali meneguk minumanku, namun terkejut dengan pekikan Vania. “Waaaww! Cincin apaan tuh? Kok gue baru lihat sekarang?” Vania menarik tanganku dan melihat jari manisku. Cincin dengan satu buah pertama diatasnya membuat kesan manis saat aku menggunakannya.


“Hehehe, apaan sih. Kayak gak pernah lihat aja lo Van!” aku menarik tanganku berusaha menghindar dari perkataannya ini, karena ini masih termasuk dari topik Andri.


“Eh, gue emang gak pernah lihat. Baru lihat sekarang. Ngomong-ngomong itu cincin apaan Kan?”


Aku menoleh kearahnya dan ia pun mengamati wajahku dengan sangat serius. Aku hanya bisa diam tak menjawab pertanyaannya itu. “Eng—anu,” aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.


Saat itulah ponselku menjadi penyelamatku. Terdapat satu pesan masuk dilayarku. Namun saat itu ponsel bukan menjadi penyelamatku, melainkan awal dari semua rahasia yang harus kusimpan malah harus terbuka dengan segampang itu.


Ponselku menyala dan menampilkan foto pernikahanku dengan pose dimana aku dan Andri saling menunjukkan buku nikah kearah kamera. Disaat itulah Vania melihat dengan wajah takjubnya. Ia sama sekali tidak berkedip melihat foto itu diponselku.


Dengan sigap aku mengambil ponselku dan mematikan layar. Jantungku kembali berdegup sangat cepat. Hawa disekitar pun yang awalnya terasa dingin menjadi sangat panas. Aku mengibaskan tangan ke leher.


Sesekali aku melirik Vania yang masih terdiam dengan tatapan yang masih seperti tadi.


Suara deheman keluar dari mulut Vania, aku menghela nafas panjang. Fikiranku entah kemana saat ini, aku pun tidak tau.

__ADS_1


“Hemm, s—sebaiknya gue pulang dulu ya Kan. G—gue harus mengatur jadwal pemotretan lo saat lo udah kembali kerja. Dan ingat, akan banyak pemotretan yang harus lo ikuti,” ujar Vania setelah beberapa menit hening.


Aku pun hanya bisa tertawa sumbang, “Heheh, i-iya Van.” Vania dengan cepat berdiri dari tempat duduknya sambil mengambil sling bagnya dengan terburu-buru. Aku tau saat ini ia ingin cepat-cepat pergi dari apartemenku.


Itu semua karena foto pernikahan yang tertampil dilayar ponselku. Aku rasa aku harus mengganti wallpaper tersebut agar tidak ada orang lain lagi yang melihatnya.


“Gue pulang dulu ya Kan,”


“I-iya Van. Hati-hati.” Aku melihat Vania berjalan keluar dari apartemenku. Aku hanya bisa berdiri dari tempat dudukku tanpa mengantarnya kedepan pintu.


Saat pintu apartemenku sudah tertutup. Aku pun kembali terduduk disofa. Mengusap kedua wajahku sangat pelan. Padahal malam ini aku sangat kesepian. Kejadian beberapa menit yang lalu menghancurkan suasana yang sudah lama tidak aku rasakan dengan Vania. Sudah lama tidak bertemu dan tertawa bersama dengan Vania, kini hanya karena foto saja semuanya kembali hancur menjadi seperti semula.


Kenapa kejadian demi kejadian selalu menimpa diriku. Kenapa semuanya perlahan menghancurkan hidupku. Aku semakin tidak mampu untuk menghadapinya. Karena hanya aku sendirilah yang menanggungnya. Tidak ada orang disamping yang menemaniku.


Vania:


Aku berjalan menuju kemobilku yang sedang terparkir. Fikiranku entah kemana. Apa yang kulihat sebelumnya tadi diapartemen Kania, adalah hal yang tidak pernah aku lihat sebelumnya.


Entah, apa benar yang kulihat tadi, atau hanya foto yang Kania ambil dari google. Aku pun tidak mengerti. Tetapi aku semakin percaya ketika melihat sebuah cincin permata yang sangat indah melingkar dengan sangat manis dijari manisnya, membuat aku menyatukan semua apa yang sudah kulihat.


Dari kegugupan Kania, ketakutan Kania, keterkejutannya Kania. Aku berfikir dengan sangat matang dan mengerti kenapa dia menjadi seperti itu. Dan aku menyimpulkan bahwa Kania sekarang, “Dia telah menjadi istri kedua Andri. Dia sudah merebut suami orang,” ujarku pelan dengan tatapan masih mengarah kedepan dengan sangat tidak percaya.


Saat sudah berada didepan mobilku, aku tidak langsung masuk tetapi masih bersandar. Rasa keterkejutanku dan rasa tidak menyangka ini masih berada difikiranku.


Pada akhirnya ini semua pun terjadi.


Ketakutan yang selama ini menghantuiku pun akhirnya terjadi juga. Hal yang membuat aku ingin menjauh dari masalah ini malah membuat aku semakin tahu. Bahwa aku, orang yang mendapatkan pekerjaan dari Keisha langsung mengetahui pernikahan suaminya dengan sahabatnya sendiri.


Aku mengetahui semuanya dan aku hanya berdiam diri saja tidak ada niat untuk memberi tau Keisha. Jika sudah seperti ini aku harus bagaimana? Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus memberi tau kepada Keisha bahwa suaminya memiliki istri yang lain atau aku hanya berdiam diri saja dan membiarkan ini berjalan dengan sendirinya.


Aku mengangguk pelan dengan tatapan yang masih mengarah kedepan. “Ya, sebaiknya gue diam saja, gue gak boleh memberi tau Keisha tentang masalah ini. Biarkan Keisha tau dengan sendirinya bahwa suaminya memiliki istri yang lain. Dan gue juga udah sepakat dengan Kania, bahwa gue gak mau terlibat dalam masalah ini. Ya, gue gak mau terlibat. Cukup sudah, gue gak mau membuat diri gue stres karena ini. Yaa, sebaiknya gue hanya menyaksikan seperti apa akhirnya.”


Keisha:


Mentari pagi menyembul dengan sangat manja kedalam kamar. Aku mengucek pelan kedua mataku. Aku meraba kesamping dan kubuka kedua perlahan mataku. Tidak ada Andri disampingku. Kemana dia?


Lalu aku bangkit dari tempat tidur dan mendengar suara gaduh dari arah dapur. Saat itulah aku melihat pemandangan yang sudah lama aku tidak lihat. Andri sedang sibuk menyiapkan sarapan untuk kami berdua.


Andri yang menyadari keberadaanku, ia pun tersenyum. “Sudah bangun?” tanyanya dengan sangat lembut. Aku hanya mengangguk pelan lalu menghampirinya.


“Kamu kok gak bangunin aku sih Mas? Kan biar aku yang nyiapin ini semua,”


Andri menoel pelan hidungku, membuat aku sedikit kaget dengan sikapnya barusan. “Ihh, istri Mas baru bangun tidur gak ngucapin selamat pagi malah langsung ngomel gitu.”


Hatiku berdesir dengan ucapan manisnya.


Ya ampun, kurasa sebentar lagi aku akan mabuk karenanya.


“Heheh, iya maaf. Selamat pagi Mas.”


“Selamat pagi juga sayang,”


Cup...


Andri mengecup keningku. Seketika aku terkejut dengan perlakuannya. Kedua pipiku terasa sangat panas. Astaga, kenapa ini. Kenapa aku tiba-tiba seperti ini?


“Hahaha, langsung merah gitu pipinya.” Andri menoel pipiku.


“Ahh, Mas!” gerutuku kesal sambil menunduk menyembunyikan wajahku yang sudah merah setomat ini.

__ADS_1


“Hahah, yaudah. Ayo kita sarapan dulu. Mas lapar banget ini.”


Aku tersenyum, “Iya Mas.” Ia menarikkan kursi untukku lalu aku pun duduk. Sikapnya yang sangat manis dipagi hari ini membuat hatiku seakan-akan meledak saat ini juga.


Sudah lama aku tidak diperlakukan seperti ini olehnya. Dan sekarang aku merasakan kembali masa-masa yang sudah lama tidak aku lakukan bersamanya.


“Makasih Mas,”


“Sama-sama.” Ia pun ikut duduk juga dihadapanku. “Oh ya, kamu masih sempat bikinin makanan kesukaan Mas ya?” aku langsung mendongak ketika aku sibuk menuangkan nasi kepiringnya.


“Iya Mas, kenapa? Gak enak ya?” tanyaku khawatir.


Andri hanya tersenyum, membuat desiran didadaku menjadi sangat hangat. “Enak kok sayang, seperti biasanya. Karena makanannya udah dingin, Mas panasin lagi.”


Alhamdulillah ternyata selera ia tidak pernah berubah sama sekali. Ia selalu menghargai makanan dan tidak pernah mengeluh sama sekali.


“Hehehe, iya Mas. Soalnya semalam aku yang bikin karena Mas bakal datang tengah malam. Cuman karena kecapean ya gak memungkinkan untuk dimakan.”


“Iya gak papa kok sayang. Toh, yang penting sekarang makanannya gak basi dan masih bisa dimakan.”


Aku tersenyum mendengarnya. “Makasih ya udah dibuatin makanan kesukaan Mas.” Aku mengangguk, “Iya Mas, sama-sama.”


“Yaudah, ayo kita makan,”


Akhirnya kami berdua pun makan bersama. Dipagi hari itu, dipagi yang sangat indah. Kami menikmati makanan dengan sangat bahagia. Rasanya beberapa suap saja terasa mengenyangkan apalagi saat makan bersama dengan orang tercinta.


Kini, kebahagiaan itu berlipat-lipat sudah didalam hidupku. Semoga secepatnya kami tidak akan makan berdua lagi, melainkan bertiga yaitu dengan buah hati yang sudah lama kita idamkan. Semoga apa yang disemogakan bakal terlaksana. Amin.


Setelah selesai sarapan, aku membantu Andri mencuci piring. Sepertinya karena semenjak ia bertugas di Paris, kerinduan yang ada pada kami berdua meluap begitu saja hingga menginginkan kemesraan yang lebih.


Aku tidak henti-hentinya tersenyum kearah suamiku itu. Rambutnya yang masih basah oleh air membuat aura ketampanan ia keluar berkali-kali lipat. Sungguh, aku semakin tidak ingin Andri dimiliki oleh orang lain. Hanya aku lah yang bisa memilikinya, tidak akan kuberikan ia kepada wanita lain. Dunia beserta isinya tidak akan ridho melihat Andri bersama yang lain.


Bukankah hal wajar jika seorang wanita mempunyai ketakutan seperti apa yang kurasakan? Aku hanya takut saja jika Andri seperti itu. Walau aku sangat yakin, ia tidak akan melakukan itu terhadapku. Kasih sayang dan cinta yang diberikan olehnya kepadaku, aku tidak pernah merasa kekurangan. Sebab itulah aku percaya akan cinta yang diberikan olehnya kepadaku.


Aku pun tersentak, ketika Andri menoel hidungku sehingga busa dari cucian piring menempel dihidungku yang mancung ini.


“Kamu kenapa ngelihatin Mas terus, hem?” astaga, aku sudah tertangkap basah olehnya.


Dengan cepat aku kembali mencuci peralatan makan sambil menyengir kearahnya dan dibalas senyuman lagi olehnya. Aku tidak tau kenapa ia selalu tersenyum seperti itu kepadaku. Mungkin karena ia sangat bahagia sedang bersamaku. Mungkin saja, hahaha.


“Heheh, gak papa kok Mas.” Ucapku berusaha mengelak dengan apa yang baru saja kufikirkan.


“Kamu bohong ya sama Mas. Pasti ada yang kamu fikirkan tentang Mas.”


“Iya,” jawabku cepat sambil menatap kedua matanya dengan serius.


Ia pun menghentikan kedua tangannya yang sedang mencuci. Ekspresi wajahnya langsung berubah sangat serius. “A—apa?” tanyanya sedikit gugup. Entah kenapa suaranya terdengar ada rasa takut atau hanya perasaanku saja?


“Aku mikirkan Mas, apakah Mas semenjak di Paris merindukan aku atau enggak,” aku langsung tersenyum mengubah ketegangan yang baru saja beberapa menit terjadi.


Gelak tawa Andri pun langsung pecah, ia tertawa tanpa henti hingga sudut matanya mengeluarkan bulir air mata. Ia menghembuskan nafas lega dari mulutnya. Entah kenapa ia jadi bersikap seperti ini.


Andri menangkup kedua pipiku dan aku hanya melihatnya dengan tatapan heran. “Astaga sayang, Mas kira kamu mikirin apa tentang Mas. Ternyata cuman itu toh. Ya iyalah Mas merindukan kamu. Masa Mas gak merindukan istri Mas yang imut ini. Kamu ada-ada aja deh ah, bikin Mas berfikiran macam-maca aja,” ujarnya.


Lalu kembali melanjutkan mencuci piring, aku hanya tetap bergeming melihat sikapnya barusan. Aku merasa ini bukan seperti Andri biasanya.


“Emang Mas kira, aku mikirin apa?”


“Hahah, gak papa sayang. Yaudah, lanjutin aja nyuci nya ya.” Jawabnya.

__ADS_1


Aku tetap melihat Andri, kenapa aku merasa ada yang berbeda darinya. Sebenarnya perasaan apa ini? Kenapa tiba-tiba muncul ketidaknyamanan yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya.


__ADS_2