
“Jika seseorang mengomeli mu, memarahimu, dan menasehati mu. Tolong jangan salah paham, bukan mereka ingin sok tahu atau mereka tidak perduli dengan mu. Justru yang seperti itu lah wajib kamu ketahui karena orang seperti mereka lah yang perduli dengan mu dibandingkan orang yang sibuk dengan gadget nya disaat kita sedang menceritakan suatu masalah. Jadi, bandingkan mana orang yang benar-benar perduli pada mu dan mana yang hanya pura-pura ingin menjadi orang saat berada didekat mu.”
-Vania
Andri:
Kini aku dan Kania sudah seperti anak kecil yang sedang bermain di taman. Kita saling terluka bukan saling bahagia, ia menghindari ku tetapi aku selalu mengejar nya. Ia ingin menjauhi ku tetapi aku selalu menginginkannya.
Seperti inilah aku dan Kania, aku terus mengejarnya di tepi jalan raya. Banyak orang yang memandang kami dengan tatapan heran, saling bertanya satu sama lain. Ada apa? Kenapa? Apa yang terjadi? Mereka kenapa?
Aku mendengar pertanyaan itu dari bibir mereka disaat aku mengejar Kania, aku sudah tidak perduli dengan posisi ku yang sudah mempunyai istri. Saat ini aku hanya ingin mengembalikan semuanya menjadi semula, mengembalikan hubungan yang masih aku menginginkannya.
Kania menangis sambil berlari berusaha menghindari kejaraan ku, aku semakin tidak tega melihat ia menangis seperti ini. Aku tidak ingin melihat nya menangis tetapi malah aku yang sudah membuat ia menangis.
Kecemburuan buta ini membuat semua nya malah menjadi seperti ini.
Kania yang aku kenal selalu memiliki kesabaran paling tinggi, saat ini dia menunjukkan bahwa kesabarannya tidak ada gunanya dengan penantiannya selama hampir 3 tahun.
Mungkin menurut ku ini tidak apa-apa, tapi menurutnya ini berharga karena ia ingin sekali mendapatkan cinta yang sesungguhnya. Cinta dari ku yang selalu ku beri tanpa henti dan ku dambakan kepadanya.
Disaat aku terus berlari mengejar Kania, aku pun langsung menarik tangannya. Aku mendapatkan ia dan aku langsung saja memutar badannya agar aku leluasa melihat wajah nya itu. Ia menangis, bahkan kedua sorot matanya terpancar luka yang membuat hati ku semakin tersayat melihat nya.
Aku mengatur nafas ku yang ngos-ngosan, begitu pun dengan Kania. Aku menggenggam kedua tangannya dengan erat, walaupun tangan kanan ku sedang terluka tapi aku tidak perduli. Itu tidak seberapa dengan sakit hati Kania yang lebih terluka nya karena aku.
“K-Kania, jangan begini. Mas mohon, jangan menghindari Mas. Kita selesaikan baik-baik ya, jangan sampai ada kata putus dari kita. Aku gak mau Kan, aku gak mau putus sama kamu,”
__ADS_1
Kania berusaha menyentak tangannya dari genggaman tangan ku, namun tidak bisa karena aku terlalu kuat menggenggam nya. Ia menghela nafas berat lalu ia menatap aku dengan tatapan tajam.
“Aku tidak akan menyatakan putus, kalau Mas bersikap seolah-olah aku tidak ada didunia ini. Mas kira aku ini apa? Aku juga ingin seperti wanita lainnya Mas yang butuh kepastian. Awalnya aku mengira semua bakal baik-baik saja karena aku tidak mendapatkan hak ku dari Mas, tetapi kemarin aku sadar dan aku melihat nya bahwa Mas lebih memilih dengan Keisha dibandingkan aku. Kamu tau Mas, berat untuk memperjuangkan satu orang apabila satu orang nya tidak sama-sama berjuang!” jelas Kania panjang lebar sambil menghapus air matanya.
Ini memang salah ku dan aku pantas seperti ini oleh Kania “Kamu tau Mas, hati ku sakit saat lihat kamu bermesraan dengan Keisha yang dengan jelas-jelasnya istri kamu. Tetapi aku? Aku apa Mas? Aku hanya pacar kamu yang bahkan orang lain saja tidak tau keberadaan aku. Aku mau orang lain tau Mas, kalau kamu itu milik ku dan aku milik mu!”
Aku hanya bisa terdiam, menatap Kania yang terluka. Semuanya seperti ini juga karena aku dan semuanya berakhir seperti ini juga karena aku. Aku mengakui itu.
Aku meraih tangan Kania dan menggenggam nya lagi “Ya Kan, ini memang salah ku, tolong maafkan Mas ya. Kita jangan putus ya? Mas belum siap sayang berpisah dari mu, Mas masih ingin bersama mu. Tolong tetap bersama Mas yaa,” aku memohon kepadanya dan hanya itu yang bisa kukatakan kepadanya. Aku berharap ia menyetujui permohonan ku tetapi sayang, dia melepaskan tangan ku lagi.
“Aku gak mau bersama kamu lagi Mas, aku gak mau bersama orang yang tidak bisa memberikan ku kejelasan yang pasti. Aku tidak ingin bersama pria yang tidak bisa memberikan ku kebahagiaan seperti yang lainnya, lebih baik kita putus saja ya Mas. Maaf.” Kania pergi dari hadapan ku, dia malah ingin pisah dengan ku. Aku tidak bisa begini lagi, aku benar-benar sudah tergila-gila dengan Kania. Aku tidak ingin putus dengannya.
Aku harus memberikan hak kepadanya dengan itu aku tidak akan berpisah dengannya, aku pun langsung mengejar Kania lagi dan memutar tubuh nya. Ia melihat ku dengan wajah menunggu.
“Apa?”
“Ayo kita menikah!” jawab ku.
Kania langsung terdiam, wajah nya berubah menjadi kaget, aku tidak tau apa yang kukatakan. Tetapi memang harus lah begini, aku harus menikahi Kania tanpa melihat resikonya, yang terpenting aku tidak akan kehilangannya lagi.
“M-maksud Mas apa?” tanya nya tidak percaya.
“Maksud Mas, ayo kita menikah disaat anniversary kita yang ke 3 tahun. Ayo kita menikah di Paris, aku akan memberikan hak untuk kamu sama seperti Keisha. Asal kita jangan putus dan berpisah, aku tidak ingin berpisah dari mu karena aku sangat mencintai mu,”
Air mata Kania menetes, kali ini lebih deras. Aku tidak ingin melihat nya menangis lagi, langsung saja aku raih tubuh nya dan ku peluk dengan erat “Be—narkah? Benarkah Mas akan menikahi ku?” tanya nya dengan suara yang sesenggukan. Suaranya yang tadi mengeras akhirnya menjadi lunak seperti sedia kala.
__ADS_1
“Iya sayang, ayo kita menikah. Kita akan jadi pasangan suami istri lainnya.”
“Ma-kasih Mas, makasih,” lirih nya
Aku mengelus punggung nya lembut “Iya sayang, asal kita jangan pisah ya?” aku merasakan Kania mengangguk, aku langsung tersenyum. Akhirnya aku tidak akan kehilangannya lagi dan aku akan selalu bersama nya. Aku akan menjaga nya hingga akhir hayat ku.
Pada akhirnya aku pun berpelukan dengan Kania di tepi jalan raya dengan dilihat orang banyak yang sedang melintas. Aku tidak perduli, yang terpenting aku bisa bersama Kania untuk selama nya.
Keisha:
Didalam taxi, aku tersenyum sambil melihat rantang dikursi sebelah ku. Aku menghela nafas lega sambil melihat ke arah keluar jendela mobil. Hari ini aku akan menemui Andri sambil mengantar makan siang. Aku ingin segera menemui nya dan memeluknya, entah kenapa rasa rindu ku saat ini meluap-luap begitu saja. Rasa ini, rasa yang pernah ada sejak aku masih awal-awal menikah. Rasa ingin selalu bersama nya.
Aku pun bersandar ke punggung kursi, ku turunkan jendela hingga ke bawah. Agar aku leluasa melihat pemandangan di luar yang sangat cerah. Secerah hati ku saat ini, aku menghirup udara yang semilir membuat wajah ku tersapu oleh nya. Aku tersenyum sambil membayangkan wajah suami ku itu yang sangat tampan dan selalu menyayangi ku. Aku ingin segera menemui nya.
Mobil pun terus melaju, aku kembali menaikkan jendela. Namun tangan ku terhenti, karena melihat sepasang kekasih yang sedang berpelukan di jalan raya.
Astaga, apa yang mereka lakukan disana?
Apa mereka tidak tau malu harus berpelukan ditepi jalan raya dan di lihat orang banyak begini.
Dasar anak muda!, fikirku.
Untung saja aku langsung menikah dengan Andri, hingga aku tidak merutuki seperti orang tadi. Aku hanya memandang mereka itu dengan tatapan aneh, langsung saja aku menaikkan kaca mobil hingga tertutup dengan sempurna.
Semoga saja, aku tidak bertemu orang seperti mereka. Yang dapat merugikan masyarakat disekitar nya.
__ADS_1