Simpanan

Simpanan
-Haikal Fathan Ghazawan-


__ADS_3

“Takdir selalu mempermainkan hidup seseorang. Hari ini kita akan bertemu dengan si A, kemudian esok kita akan berpisah dengan si A lalu akan bertemu dengan B hingga ke Z. Tetapi hidup selalu mempunyai cara tersendiri agar kita dapat bertemu dengan si A, entah seperti apa cara pertemuan itu. Tidak akan ada yang tau bagaimana caranya.”


-Haikal


Haikal:


Haikal Fathan Ghazawan, itu lah nama asli ku.


Kebanyakan orang mengenali ku dengan sebutan Haikal, kebanyakan juga pasien ku memanggil ku dengan sebutan Dokter tampan.


Bukan karena aku merasa bahwa diri ini sudah sempurna karena di bilang tampan, tetapi kebanyakan pasien ku sendiri lah yang berkata seperti itu. Sedangkan aku hanya menganggapnya sebagai angin lalu, sejatinya aku tidak ingin menjadi sombong jika disebut dengan tampan.


Hari ini dari pihak rumah sakit memutuskan pindahan kerja ku ke rumah sakit yang jarak nya lumayan jauh dari kediaman ku. Cukup memakan waktu lama, hampir setengah jam kerumah sakit yang dituju. Hampir satu jam jika jalan raya sedang ramai oleh pengendara lain.


Menjadi Dokter kandungan sebenarnya ialah impian ku sejak dulu, aneh bukan apabila pria seperti ku malah menjadi Dokter kandungan. Biasanya para pria akan memilih karir seperti bisnis, arsitektur, nahkoda, pilot dan lainnya. Tetapi aku malah memilih sebagai Dokter mana spesialis kandungan pula.


Sebenarnya aku menyukai tentang bagaimana cara berkembang nya seorang manusia dari yang belum terlihat hingga dia lahir kedunia dengan disebut bayi. Aku ingin selalu mensyukuri dimana zat yang Allah buktikan kepada manusia, aku ingin selalu melihat dimana Allah menciptakan seorang manusia hanya dari air mani.


Untungnya Allah mempermudah semua keinginan ku hingga aku benar-benar menjadi Dokter kandungan. Hingga kini aku sudah mengatasi ratusan pasien dari yang muda hingga menginjak umur tua. Aku menjalani nya dengan segenap jiwa, tetapi aku selalu punya kendala saat menjalankan pemeriksaan terhadap pasien.

__ADS_1


Kerap kali pipi ku tiba-tiba dielus oleh ibu hamil karena menginginkan anak nya tampan seperti ku, tentu saja aku langsung menghindari sentuhan fisik dari wanita yang bukan mahram dari ku.


Ya, aku memang tidak ingin melakukan sentuhan apapun kalau itu bukan mahram ku. Agama jelas melarang nya untuk itu, bahkan saat ada di majelis kampus penceramah selalu membawa topik itu.


Hingga membuat aku istiqomah agar aku selalu menjauhi perbuatan zina tersebut walau hanya bersentuhan.


Umur ku saat ini terbilang sudah sangat matang untuk namanya pernikahan. Menginjak hampir 35 tahun, bahkan aku belum menemukan wanita yang kuidamkan sejak dulu. Dan bahkan saat ini kesibukan ku yang sangat luar biasa tidak memungkinkan aku untuk berkenalan dengan wanita manapun. Untuk meliburkan diri saja, aku tidak ada waktu untuk itu.


Dulu, aku pernah tertarik pada satu wanita yang selalu mencuri perhatian ku. Dia selalu datang ke majelis di salah satu kampus, aku pun datang ke majelis itu karena ajakan teman ku. Hingga suatu ketika aku pun melihat nya dan membuat jantung ku seketika menjadi berdebar-debar tidak karuan.


Awal nya aku mengira dia wanita yang gampang ramah dengan orang lain, tetapi dia malah menjaga jarak dengan yang namanya pria. Bisa disebut ia ingin mematuhi agama, dan itu malah membuat aku semakin tertarik kepada nya.


Setiap hari aku pun mencari tau tentang nya dari teman-teman kampus nya. Biasanya juga aku memberanikan untuk berbicara dengannya setiap majelis selesai. Dan itu berhasil, kami saling bertanya satu sama lain.


Hingga suatu hari aku memutuskan berkata pada nya akan menjalani yang namanya ta’aruf dengannya. Kami berdua pun sepakat untuk itu.


Jujur, disaat ia berkata bahwa ia setuju dengan ini, hati ku sangat senang. Setiap waktu sepertiga malam ku, aku selalu mendoakan ia agar menjadi jodoh ku, jodoh dunia dan jodoh akhirat ku.


Namun itu tak berselang lama karena setelah 2 bulan dia memutuskan ta’aruf ini dikarenakan ia menerima lamaran dari seorang pria salah satu di kampus yang sama.

__ADS_1


Hati ku teriris mendengar itu semua, padahal aku sudah mempersiapkan lamaran untuk ia setelah ta’aruf selesai. Tetapi nyatanya Allah berkehendak lain untuk itu semua. Apalagi ia telah menerima lamaran pria lain.


Aku hanya bisa pasrah dan tersenyum dengan keputusannya. Mungkin ini yang terbaik bagi nya dan mungkin dengan ini membuat ia bahagia. Aku merelakannya dan aku menerima ia bersama orang lain walaupun ia tidak menjadi milikku.


Itu juga salah satu faktor kenapa aku tidak bisa menerima wanita lain, karena bagi ku hanya dia lah yang membuat aku tertarik. Hanya dia lah wanita yang ku doakan agar menjadi pendamping ku.


Bahkan semua teman terdekat ku memperkenalkan banyak wanita agar aku dapat bisa membuka hati untuk wanita lain.


Aku menerima tawaran mereka, namun saat aku menjalankan itu semua, aku malah tidak bisa. Aku merasa bahwa hati ku ini tertutup sangat rapat. Saat aku membuka nya dengan paksa malah membuat aku tersiksa sendiri, hingga saat itu aku memutuskan untuk cuti hingga seminggu lamanya.


Pada saat itu lah aku sadar aku tidak ingin memaksa kehendak yang Allah putuskan untuk ku. Aku tidak bisa membuka hati ku dengan lebar kalau bukan Allah lah yang mengizinkan membuka nya. Karena hanya Allah lah yang dapat membolak balikkan hati manusia. Hari ini benci bisa saja besok cinta dan bisa juga hari ini cinta besok malah menjadi benci. Bukan kah biasanya seperti itu?


Biasanya ini terjadi bukan biasanya tetapi ini sering terjadi di kalangan manusia. Hanya saja manusia tidak menyadari akan hal itu.


Hari ini aku melihat semuanya, aku melihat takdir datang kepada ku dengan sendiri nya tanpa aku minta. Allah ingin membuktikan bahwa semuanya belum berakhir begitu saja, Allah ingin membuktikan bahwa perjalanan ini belum berakhir begitu saja malah ada kelanjutan nya yang belum diketahui oleh ku.


Inilah takdir yang belum aku ketahui, dan ini lah takdir yang tidak ku mengerti. Dimana wanita yang membuat aku jatuh cinta untuk pertama kalinya dan dimana wanita yang membuat aku patah hati untuk terakhir kali nya. Kini ia ada dihadapan ku menjadi pasien konsultasi ku.


Ia Keisha Anandita Bagaskara, istri dari teman majelis ku sewaktu di kampus.

__ADS_1


Wanita yang sudah ku hilangkan dari fikiran ku kini malah ada di hadapan ku. Wanita yang ku adukan kepada Allah agar aku tidak bertemu lagi kepada nya dan kini aku malah di pertemukan lagi.


Apakah kisah yang dulu akan terulang lagi? Atau aku lah disini yang berharap agar bisa seperti dulu? Aku rasa tidak mungkin! Karena dia sudah mempunyai suami. Pria yang sudah melamar ia mendahului ku kini telah menjadi pendamping nya hingga ke Jannah-Nya Allah.


__ADS_2