Simpanan

Simpanan
-Takdir-


__ADS_3

“Hubungan itu tidak perlu diumbar-umbar, tidak perlu disiarkan dan tidak perlu dipamerkan. Seperti aku misalnya.”


-Andri


Keisha:


Malam ini aku sendiri lagi, tidak ada yang menemani seperti hari biasanya. Sesekali aku melihat ponsel ku menunggu Andri menghubungi ku, tetapi sampai saat ini ia tidak menelpon ku. Bahkan, aku sudah mengirim pesan hingga berkali-kali menelponnya. Tetapi ia tidak sama sekali tidak membalas pesan ku maupun tidak menelpon ku balik.


Sejujurnya aku merasa sedih dengan ini, padahal sebelumnya ia bilang akan menghubungi ku jika sudah sampai di Paris, tetapi ia tidak menghubungi ku hingga kini.


Sedangkan ibu saja masih sempat mengabari aku, kalau dia sudah sampai di Paris dengan selamat, masa dia yang berangkat duluan ke Paris tidak mengabari aku hingga sekarang?


Sesibuk itu kah dirinya dengan pekerjaannya hingga tidak bisa mengabari ku? Aku hanya bisa menghela nafas lelah, lalu beranjak dari kasur.


Persediaan bahan makanan di kulkas mulai hampir habis, dengan memanfaatkan waktu luang ini sambil mengusir rasa sepi ku.


Sebaiknya aku memutuskan untuk berbelanja saja ke supermarket, toh, besok pagi aku ada jadwal konsultasi dengan Haikal.


Aku pun sudah bersiap dengan hijab ku dan tidak lupa dengan dompet ku, aku memutuskan tidak mengendarai mobil sendiri dan lebih menggunakan taxi. Karena perjalanan dari rumah menuju ke supermarket terbilang lumayan jauh, khawatir takut kenapa-kenapa di jalan. Apalagi saat ini fikiran ku sedang kemana-mana. Jadi untuk mencari amannya, lebih baik menggunakan transportasi saja.


Selama diperjalanan, tidak banyak yang ku lakukan. Hanya diam sambil melihat ke arah keluar, merenung melihat pemandangan yang dimana semua orang mempunyai kegiatan masing-masing. Walaupun hari sudah malam, tetapi kafe-kafe masih banyak buka dan orang bersantai sambil haha-hihi di dalam nya.


Aku hanya bisa menghela nafas, ternyata saat ini hanya aku lah orang yang paling kesepian. Tidak bisa tertawa seperti biasanya, bagaimana dengan Andri disana? Apakah ia bisa tertawa walaupun tidak ada aku di dalam nya? Hem, mungkin saja.


Sesampai di supermarket, aku langsung mengambil troli dan mulai berbelanja. Semuanya terasa beda, tidak seperti waktu terakhir Andri menemani aku belanja. Dan sekarang aku harus merasakan bagaimana belanja nya sendiri, tidak mengapa, toh aku juga sudah terbiasa dengan ini.


Aku mulai memilih bahan makanan, seperti lauk dan sayur. Tidak lupa aku membeli cemilan dan aneka berbagai minuman untuk stok di kulkas. Setiap rak ku kelilingi satu persatu dan ku lihat cemilan yang tersusun rapi disitu. Ingin rasanya ku beli semua, tetapi jika aku beli semuanya tidak aku digunakan dan malah dibuang dengan sia-sia, akibat nya jadi mubazir.

__ADS_1


Jadi, aku hanya mengambil beberapa cemilan saja yang ku sukai. Sambil mengambil cemilan, aku pun mendorong troli ku. aku melihat ada cemilan yang disukai oleh Andri, langsung saja aku mengambil nya lalu memasukkan nya ke dalam troli.


“Hem, mau ambil apa lagi ya?” fikir ku sambil mendorong troli tanpa melihat ke depan.


Brakk...


“Akh!” pekik ku karena troli ku menabrak seseorang yang jatuh dengan barang yang sudah berserakan dibawah.


Astaga, aku pun langsung panik sendiri dan menghampiri orang yang sudah ku tabrak itu. Orang itu seperti nya sangat familier saat ku lihat, tapi siapa dia?


Saat orang itu mengaduh kesakitan ia pun sambil mendongak, kedua mata ku dan kedua mata nya pun bertemu. “Haikal?!” panggil ku tak percaya.


Kenapa? Kenapa aku bertemu dengan dia lagi? Haruskah orang yang begitu banyak didunia ini dan malah bertemu dengan dia terus?


Haikal:


Tidak menyangka bukan? Seluas ini Jakarta, kenapa aku harus bertemu dengan orang yang sama dan wanita yang sama. Apalagi kejadiannya pun ikut sama pula, yaitu saling menabrak dan ditabrak. Ia yang menabrak ku dan aku lah korban yang ditabrak nya.


Keisha, dimana-mana aku selalu bertemu dengan ia. Semalam bertemu di bandara dan sekarang malah bertemu di supermarket ini. Besok ketemu lagi dengannya, ya, ketemu sebagai dokter dan pasien. Tidak apa, toh namanya juga ketemu kan, hehehe.


Peristiwa kecil yang terjadi pada ku dan pada Keisha pun membuat kami berdua akhirnya berbelanja bersama, lumayan lah, ada teman untuk mengobrol. Daripada berbelanja sendiri kan? Tidak tau mau bagaimana. Tetapi yang membuat aku bingung, kenapa kemana-mana Keisha selalu sendiri? Kemana Andri? Kenapa tidak menemani Keisha kemanapun?


“Kei?” panggil ku.


Ia pun menoleh disaat fokus memilih minuman, “Heuh? Kenapa Kal?” tanya nya.


“Kok kamu belanja sendiri? Emang Andri kemana?” ia terdiam beberapa saat, aku yang merasa tidak mendapatkan jawaban pun merasa canggung. Lalu ikut memilih minuman yang ada di rak.

__ADS_1


“Dia ke Paris,” jawabnya pelan.


Aku pun menoleh sambil melihat raut wajah nya yang terlihat sedih, aku tidak tau kenapa ekspresi wajah nya seperti itu. Apakah terjadi sesuatu ia dengan Andri? Apa itu? Ahh, aku tidak mau mengambil pusing rumah tangga orang, itu tidak baik, yah, walaupun Keisha teman kecil ku setidaknya aku tidak ingin mengurus rumah tangga orang. Biarlah itu menjadi privasi mereka.


“Hem, gitu, lalu kamu gak ikut ke Paris?”


Keisha menggeleng lalu berjalan menuju ke kasir, aku pun lekas memasukkan minuman ke keranjang lalu menyusul dirinya. “Bukan aku gak mau ikut Kal, hanya saja dia pas mau ke Paris ngasi tau nya ke aku mendadak banget. Jadi, aku tidak tau apa-apa tentang ini. toh, mungkin dia ke Paris ada pekerjaan yang harus diselesaikan,” aku mengangguk kecil mendengar penuturannya.


Tidak ada pertanyaan lagi yang harus aku ajukan kepada nya, karena seperti nya suasana hati Keisha sedang tidak membaik. Jadi, aku memilih diam saja dan mengikuti Keisha yang sudah berada di kasir. Ia pun mengeluarkan barang nya dan meletakannya untuk di hitung oleh kasir. Aku pun ikut membantunya. Seperti nya belanjaannya sangat banyak, mungkin stok untuk di kulkas.


Saat aku membantu mengeluarkan belanjaan Keisha, kasir itu pun tiba-tiba menyeletuk membuat aku dan Keisha langsung diam seribu bahasa.


“Mesra banget ya si Mas, sayang banget ya Mas sama istri nya?”


Aku dan Keisha pun saling pandang satu sama lain, kasir yang tadi menyeletuk itu pun melihat kami keheranan, “Kenapa Mas, bukan istri nya ya?”


Astaga, ingin sekali aku membawa Keisha kabur keluar dari supermarket ini. Tetapi apalah daya, belanjaan yang sedang kami beli ini memang sangat perlu hari ini, tidak mungkin kan aku kabur hanya karena perkataan kasir ini.


“Hem, maaf mbak. Saya bukan istrinya dari Mas ini, saya hanya teman nya doang kok,” ujar Keisha menjelaskan secara singkat, menghilangkan kesalahpahaman yang ada pada kasir tersebut. Kasir itu pun mengangguk pelan sambil menggaruk tengkuk nya yang seperti merasa tidak enak dengan perkataannya yang baru saja ia lontarkan.


“Maafkan saya ya bu,” ucapnya.


Keisha tersenyum, “Tidak apa-apa kok,” ia kembali melanjutkan mengeluarkan belanjaannya. Lalu kasir pun kembali mengerjakan tugas nya. Walaupun seperti saat ini, Keisha masih dapat berbicara dengan tenang dan senyuman di wajah nya.


Sejujurnya, saat kasir itu mengatakan Keisha itu istri ku entah kenapa, aku merasakan bahwa hati ku seperti nya ikut bahagia mendengar nya.


Ahh, apa yang sudah terjadi pada ku?!

__ADS_1


__ADS_2