
...“Semuanya begitu rumit."...
...-Andri-...
Andri:
Aku membuka kedua mataku dan melihat sekitar. Keisha sudah tidak ada disampingku. Aku mengambil ponsel yang berada di meja. Jam sudah menunjukkan pukul 7. Kurasa hari ini aku akan telat kekantor. Sudahlah tidak apa, mungkin karena aku sangat kelelahan. Kemarin aku benar-benar mengerjakan pekerjaan ku dikantor. Pekerjaan yang beberapa waktu aku tinggalkan kini aku menyelesaikannya.
Mungkin karena emosiku sedang meluap-luap, aku tidak memperdulikan jam makan siang dan jam istirahat ku hingga aku terlalu fokus pada pekerjaan ku.
Sangat lelah hingga aku malas untuk bergerak. Tetapi aku harus bangkit karena diluar sana Kania sedang bekerja dengan pria lain. Hans Pratama, pria itu adalah teman Kania sewaktu dikelas model. Aku sudah menebaknya jika Hans pasti menyukai Kania juga karena terlihat tatapan Hans kepada Kania yang berbeda.
Aku merasa sangat marah ketika mengetahui itu tetapi aku marah kepada siapa? Kania selalu menghindariku ketika aku berada dihadapannya. Dan kontrak tidak mungkin kubatalkan begitu saja karena semuanya telah dimulai. Kalau aku membatalkan dipertengahan jalan mungkin aku harus membayar jumlah kerugian mereka yang sangat besar. Apalagi perusahaan mereka lumayan terkenalnya sama dengan perusahaan ku.
Dan sekarang aku pasti sudah membuat Keisha kecewa karena sudah membatalkan dinner yang harus dilakukan semalam. Aku membatalkan sepihak karena hati dan fikiran ku sangat kacau. Bisa-bisa dinner yang kulakukan bersama Keisha hancur karena ketidakfokusan ku.
Sebaiknya aku mandi saja, mungkin dengan mandi semua fikiran ku kembali jernih seperti sedia kala. Saat aku berjalan menuju kekamar mandi, Keisha masuk kedalam kamar.
“Kei,” panggilku.
Keisha hanya melihat lalu melewatiku dan mengambil ponselnya yang berada dinakas. Aku sudah menduganya bahwa ia marah kepadaku. Ketika ia sudah mengambil ponsel dan hendak keluar dari kamar. Aku langsung menarik tangannya.
“Kamu marah sama Mas?”
Keisha melepaskan pegangan ku dari lengannya, “Aku gak marah Mas.” Keisha langsung keluar dari kamar.
Aku hanya bisa menghela nafas pelan. Kenapa serumit ini sih. Tolonglah, siapapun itu bantu aku. Kedua istriku saat ini benar-benar menjauhi aku.
...******...
Aku keluar dari kamar sudah siap berangkat kekantor. Tidak lupa aku kemeja dimakan. Disana sudah ada Keisha yang sedang memakan makanannya. Aku pun duduk dikursi menghadap Keisha.
Ada nasi goreng yang sudah disiapkan oleh Keisha. Aku pun makan sambil melirik Keisha yang tetap menunduk menatap nasi gorengnya dibandingkan menatap diriku.
“Maafkan aku Kei, Mas capek karena pekerjaan kantor yang sangat banyak.”
Keisha mendongak, “Kalau memang kamu tidak sempat dan capek karena pekerjaan mu Mas, seharusnya kamu jangan bikin janji ke aku mengajak dinner itu. Kamu jangan bikin aku berharap seperti itu Mas. Dan kamu juga udah bikin aku kecewa.”
Aku meraih tangan Keisha. “Ya Kei, maafkan Mas ya. Aku udah membuat kamu kecewa. Aku benar-benar tidak bermaksud membuat kamu seperti ini Kei. Kemarin juga aku menyelesaikan pekerjaan ku sampai aku tidak makan siang karena aku ingin pekerjaan ku cepat selesai. Nyatanya aku keteteran juga.”
“Mas gak makan siang?”
Aku mengangguk.
“Katanya kamu mau makan siang.”
“Maunya begitu, tapi aku ada janji sama kamu kalau kemarin mau dinner. Jadi aku lebih mengutamakan selesaikan pekerjaan aku terlebih dahulu. Nyatanya tetap ketinggalan juga,”
“Ya ampun Mas, kok kamu gak bilang sama aku sih. Aku kan jadi keduluan ngambek sama kamu.”
“Aku hanya gak mau bikin kamu khawatir sama keadaan aku Kei.”
Keisha langsung menggenggam tanganku. Kurasa ia sudah memaafkan ku. Syukurlah, aku juga tidak ingin dia berlama-lama mendiamkanku. Karena aku saat ini benar-benar menderita karena persoalan ku dengan Kania. Mungkin dengan adanya kenyamanan yang diberikan oleh Keisha dapat membuat hatiku sedikit tenang dengan semua ini.
“Maafkan Kei ya Mas udah bertingkah seperti anak kecil. Soalnya aku udah berharap banget sama dinner itu, eh malah gak jadi. Karena kita udah lama gak dinner bareng, semenjak kamu sibuk dengan pekerjaan kamu. Aku udah kangen banget sama waktu kita berdua.”
Aku tersenyum mendengar itu, kuelus pipinya yang terlihat bulat dan putih itu.
“Gak papa kok sayang, aku ngerti apa maksud kamu. Selama ini kamu kesepian dan kita juga jarang ada waktu berdua karena kesibukan ku. Aku harap kamu mengerti dengan kondisi dan status suami mu ini,”
“Iya Mas,” Keisha tersenyum manis kepadaku.
Iya Kei, kamu harus mengerti dengan kondisi ku saat ini dimana aku sedang memiliki konflik yang sangat besar. Status suami mu ini pun bukan sebagai suami mu juga tetapi sebagai suami Kania.
Aku harap kamu Kei dapat bisa membagi suami dengan sahabat mu. Karena sekarang aku bukan milikmu saja Kei, tetapi milik Kania juga. Dan aku gak akan membiarkan kamu maupun Kania berpisah dariku. Karena aku ingin memiliki kalian berdua, aku tidak ingin kalian menjauh dariku apapun itu yang terjadi.
Keisha:
Ya Allah, berdosa kah aku sudah bersifat kekanak-kanakan ke suamiku. Dan aku tidak mengerti dengan apa yang Andri lakukan diluar sana. Ia berjuang bekerja siang dan malam demi aku. Tetapi karena suatu hal yang tidak bisa ia kabulkan, aku malah mendiamkan ia. Aku tidak mengerti dengan jerih payah dan lelahnya itu. Aku hanya bisa tau jika suamiku harus membagi waktu denganku. Betapa egoisnya diriku ini.
Aku hanya bisa mengusap kasar wajah ku ini. Sedari tadi fikiranku melantur kemana-mana, astaga padahal hari ini aku akan menjalankan beberapa rangkaian tes dirumah sakit. Aku tidak bilang ke Andri dan meminta doa agar hasilnya bagus. Aku merahasiakan ini sampai hasilnya keluar baru aku akan berterus terang kepada dia. Apapun itu hasilnya aku akan menerima dengan lapang dada.
Hari ini aku pergi kerumah sakit menggunakan taxi, karena habis dari rumah sakit aku akan pergi kerumah ibu bersama Haikal. Ya, Haikal memintaku bertemu dengan ibu. Entah kenapa ia meminta itu, aku pun tidak mengerti. Mungkin karena ia sudah mengenal ibu Andri jadi ia ingin bertemu lagi, tidak apa-apa lah. Lagian aku pun akan mengenalkan kepada ibu, dokter yang sudah membantu ku dalam masa pengobatan ialah Haikal. Pasti ibu akan senang.
Tidak butuh lama aku pun sampai. Langsung saja aku masuk kedalam dan pergi keruangan Haikal. Disana sudah ada Haikal yang sudah menunggu ku dengan semua persiapannya.
“Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam, duduk dulu ya Kei. Aku mau mengemasi barang bentar.”
Aku mengangguk, “Iya Kal.” Aku pun duduk sambil melihat Haikal yang terlihat sibuk dengan dua asisten perawatnya.
“Nanti kamu gak perlu khawatir Kei, ada salah satu teman ku, dia cewek kok. Dia yang akan mengambil ahli saat pengetesan itu. Karena aku tau, jika aku yang melakukannya kamu tidak akan mau. Yang ada aku malah gak konsen sama tesnya itu,” Haikal menoleh kearah ku sebentar lalu tersenyum.
Ya ampun Haikal, dia menghargai aku sebagai istri temannya padahal seharusnya ini tugas dia melakukan ini. Tetapi ia menyerahkan tugas ini kepada teman sesama dokternya dan itu perempuan. Mungkin ia tidak ingin aku merasa tidak nyaman saat tes itu. Bisa jadi, tapi aku menyukai itu walaupun aku merasa tidak nyaman dengan Haikal takut ia tersinggung karena sikap ku.
“Oke Kei! Ayo, kita keruangan tes nya. Disana sudah ada teman ku yang menunggu.”
Aku hanya bisa mengangguk sekaligus deg-deg an tidak tau seperti apa hasilnya nanti. Haikal berjalan bersama dua asisten perawatnya sambil membawa peralatan itu. Aku pun mengikutinya dibelakang.
“Kemungkinan hasilnya tidak sekarang Kei, bisa jadi besok.”
Aku mengangguk lagi. “Kenapa diam saja Kei? Apa kamu takut?” Haikal menghentikan jalannya dan bertanya kepadaku. Ternyata Haikal perasa juga.
“Hehehe, bisa dibilang begitu Kal. Aku takut sekaligus khawatir seperti apa hasilnya. Aku takut jika selama ini apa yang aku usahakan malah hasilnya mengecewakan bagiku Kal. Kamu tau sendiri, harapan ku untuk memiliki anak sangatlah besar Kal. Sudah bertahun-tahun lamanya aku menginginkan ini. Tetapi disela-sela usahaku, aku tidak lupa untuk berdoa kepada yang menciptakan takdirku ini.”
__ADS_1
Haikal tersenyum, “Bismillah aja Kei. Apapun itu hasilnya tidak membuat kamu patah semangat. Jika gagal bisa cari cara lain. Semua itu pasti ada jalannya, Allah kasi kamu cobaan sebesar ini tidak mungkin tidak ada sesuatu yang Allah ketahui kecuali kita hanya sebagai ciptaannya. Dan kamu adalah makhluk ciptaan Allah yang terpilih menghadapi cobaan ini Kei. Ingat itu! Kamu istimewa dihadapannya. Jadi, jangan pernah merasa gagal.”
Mendengar perkataan Haikal ada benarnya juga. Hatiku merasa tenang, setenang air yang mengalir. Entah sejak kapan aku mendengar perkataan seseorang membuat hatiku setenang ini. Jarang pernah ada. Jika pun ada, hanya Haikal yang bisa melakukannya terhadap ku.
“Thank's Kal, untuk motivasinya.”
“Iya Kei. Bismillah ya,”
“Bismillah...”
Helaan nafas keluar dari mulutku dan dengan mantap aku dan Haikal beserta dua asisten perawatnya kembali melangkah. Hatiku pun merasa mantap. Lebih mantap dan percaya diri tidak seperti tadi. Apapun hasilnya aku akan menerimanya. Semoga saja.
Andri:
“Kania!” panggilku langsung masuk kedalam ruangan khususnya.
Semua orang yang berada dalam ruangan itu pun terkejut melihat kedatangan ku termasuk Kania dan Hans yang seperti tengah ngobrol. Entah mereka berdua membicarakan apa seperti sangat asik.
Aku pun berdehem merasa salah waktu untuk saat ini, “Hem. Maaf! Saya ada perlu dengan Kania!”
“Tapi bentar lagi saya akan mulai bekerja Pak, tidak bisa kah nanti saja?” aku tau jika Kania berbicara seperti itu karena sedang menghindari aku.
“Saya perlunya sekarang!” ucapku dengan tegas.
“Pergi aja sana Kei, siapa tau memanh ada hal yang perlu dibicarakannya.” Ucap Vania.
Good Job Vania! lo emang yang terbaik dan emang paling mengerti.
Kania terlihat menghela nafas pasrah. Ia tidak bisa membantah perintahku karena diruangannya sangat banyak orang. Aku memang sengaja pergi keruangannya dan ingin berbicara sesuatu kepada Kania. Dan aku yakin jika dia tidak bisa menolak perintah bosnya dihadapan orang banyak. Terbukti dengan saat ini ia mengikuti ku keluar dari ruangannya. Aku pun langsung menarik tangan Kania menjauh dari ruangannya dan pergi kelorong yang sepi, tidak ada karyawan yang berlalu lalang disana.
“Aw...aw sakit Mas!” Kania menyentak tangan ku dari lengannya. Ia mengusap lengannya yang terlihat merah. Aku tidak sengaja membuat lengannya merah karena aku takut terlihat oleh karyawan lain.
“Maaf Kan, aku gak sengaja.”
“Lagian kamu kenapa sih manggil aku? Apa lagi yang perlu dibicarakan Mas? Udah gak ada lagi yang perlu dibicarakan!” ucap Kania kesal. Sangat kesal. Ekspresi yang tidak pernah aku temukan sebelumnya.
“Kan, tolonglah jangan teruskan pemotretan ini dengan Hans! Mas cemburu melihat kamu dengan pria lain. Apalagi pose-pose yang menurut aku gak wajar bagi kamu istri aku!”
“Istri kamu? Emangnya semua orang tau kalau aku ini istri kamu Mas? Enggak kan? Gak ada yang tau Mas kalau aku ini istri kamu!”
Aku hanya terdiam mendengar perkataan Kania.
“Lagian ini pekerjaan aku Mas! aku harus profesional dalam pekerjaan aku. Kamu jangan egois dong Mas! Jangan mementingkan perasaan kamu daripada pekerjaan aku! Kamu tau sendirikan kalau aku tidak profesional dalam pekerjaan aku bakal seperti apa jadinya? Karir ku akan hancur Mas! Hancur!”
“Tapi aku cemburu melihat kamu bersama pria lain!”
“Aku gak perduli Mas! Kamu mau cemburu atau enggak, aku gak perduli. Karena aku menjalankan tugas aku! Jadi aku mohon sama kamu Mas, tolong jangan ganggu aku lagi. Jangan ganggu ketenangan aku Mas, aku capek!”
“Terus aku harus bagaimana Kan agar kamu tidak terus-terusan seperti ini? Aku juga capek kita bertengkar terus. Kita baru saja menikah dan kenapa kita harus seperti ini? Aku mau kita seperti dulu!!! Bilang sama aku, aku harus bagaimana agar kita kembali seperti dulu?”
“Kenalin aku ke Keisha Mas! Bahwa aku istri kamu. istri kedua kamu, baru aku percaya dan akan kembali dengan mu seperti dulu lagi.”
Selesai sudah permintaan yang diajukan oleh Kania.
“Kenapa harus itu Kan? Apa tidak ada yang lain yang kamu minta? Tolonglah, aku belum siap untuk itu.”
“Jika kamu tidak mau, tidak apa Mas. Tapi jangan harap aku seperti dulu! Kalau bisa kita cerai Mas. Aku capek digantungin seperti ini sama kamu. Karena bagaimana pun juga aku mempunyai harga diri seperti istrimu, Keisha!”
Jleb sudah hatiku karena perkataan Kania.
Kania sudah lelah dengan ku hingga ia meminta cerai diatas pernikahan yang baru saja dijalankan.
“Tapi Kan-“
“Jangan cari aku lagi sampai kamu memutuskan keputusan kamu Mas! Keputusan itu ada dikamu!” Kania pun berlalu dari hadapan ku.
Aku sudah tidak bisa berkata-kata apalagi. Cerai? Hahhh! Aku tidak akan mengabulkan kata cerai itu Kania! Karena aku sudah cinta mati terhadap mu. Yang ada, aku akan mempertahankan kamu. Tapi aku harus apa untuk mempertahankan pernikahan ku dengan Kania?
“Agggghhhhh!!!” aku mengacak-acak rambutku frustasi.
Sangat frustasi.
Haikal:
Sedari tadi aku melirik kespion mobil. Aku tersenyum melihat Keisha yang sedang duduk dibelakang, berkali kali ia menghela nafas. Aku tau saat ini hatinya merasa lega dengan semua ini walau sepenuhnya belum bisa bernafas dengan lega karena hasilnya akan keluar besok.
Aku pun juga penasaran sekaligus ada rasa takut dengan hasil Keisha. Jika hasilnya buruk, jujur saja aku sangat takut melihat Keisha patah hati. Kalau pun hasilnya baik, yang patah hati bukan Keisha melainkan aku. Karena hanya aku lah yang tau jika sebenarnya Andri tidak ingin punya anak. Entah apa alasannya aku pun tidak tau. Bukan aku tidak ingin memberi tau Keisha hanya saja aku tidak ingin ikut campur dalam rumah tangga mereka.
Yang terpenting, aku hanya fokus dalam penyembuhan Keisha. Selebihnya biarlah seperti apa, aku hanya bisa melihat dan tidak perlu tertarik dengan masalah mereka.
“Belok Kal!”
“Ha?!"
“Belok!” aku pun langsung membanting stir kearah kanan.
“Lagi ngelamunin apa sih?”
“Hehehe, enggak Kei.” Keisha hanya bisa menggeleng melihat tingkah ku.
Ya, saat ini aku sedang menuju kerumah ibu mertua Keisha. Karena aku sangat ingin bertemu dengan beliau. Biarpun Keisha memilih Andri tetapi ibu Andri memilih meminta maaf kepadaku. Tidak ada rasa benci ketika Keisha memilih Andri, malah aku turut senang dengan pilihannya dan berharap jika suatu saat Keisha bahagia dengan Andri.
Bahkan ibu mertuanya itu sangat menyayangi Keisha, bagiku itu tidak membuatku khawatir.
Karena bagaimana pun juga sekarang banyak rumor tentang mertua yang suka menindas menantu nya. Apalagi menantu seperti Keisha yang tidak kunjung memiliki anak dan dinyatakan mandul. Bahkan ibu mertua nya itu malah mempertahankan Keisha sebagai menantunya.
__ADS_1
Dan itu salah satu point penting kenapa aku ingin bertemu dengan ibu mertua nya. Karena rumor tentang mertua jahat itu tidak lah benar, sangat salah.
“Sampai,” ucap Keisha kembali membuyarkan lamunan ku.
Aku pun keluar dari mobil bersama Keisha dan masuk kedalam rumah yang lumayan besar. Pintunya tidak ditutup, aku dan Keisha pun langsung masuk saja.
“Assalamualaikum,” ucap Keisha.
“Assalamualaikum.” Aku pun mengikutinya.
“Waalaikumsalam.” Ucap seseorang yang keluar dari kamarnya.
“De, ini kakak bawa teman kakak mau ketemu sama ibu. Kira-kira ibu tidur gak ya?” tanya Keisha bertanya kepada seorang pria yang terlihat lebih muda dari Keisha. Bisa ditebak itu pasti saudara Andri.
“Enggak kok Kak, ibu baru saja habis mandi. Badannya udah enakan,”
Keisha mengangguk mengerti, “Yaudah. Ayo Kal.”
“Mari,” ucapku sopan.
“Iya bang. Silahkan,” balasnya.
Aku dan Keisha pun masuk kedalam kamar. “Ibu.” panggil Keisha.
Terlihat ibu Andri yang sedang duduk sambil memegang buku.
“Keisha? Eh? Kamu sama siapa?” ibu Andri melihat kearah ku.
Aku tersenyum, “Saya Haikal bu, teman Andri sekaligus teman Keisha.” Kening ibu Andri terlihat mengerut, mungkin seperti mengingat-ingat.
“Itu loh bu, dokter yang aku ceritain ke ibu.”
Mulut ibu Andri pun terlihat membulat mengerti dengan perkataan Keisha.
“Kei,”
“Iya bu?”
“Ibu pengen banget bubur disebrang gang itu, bisa belikan ibu gak?”
“Biar saya saja yang belikan bu.” Tawarku.
“Ah, biarkan Nak Keisha aja”
“Iya bu, mau berapa porsi?”
“3 aja. Buat kamu sekaligus teman mu”
Keisha pun mengangguk, “Kal, aku pergi beli bubur dulu ya. Kamu temenin aja ibu mertua ku dulu. Kalau perlu apa-apa, ada adik ipar ku diluar.” Aku pun mengangguk tersenyum.
“Hati-hati Kei.”
“Oke!”
Ketika Keisha sudah keluar dan terdengar suara motor yang berlalu baru lah ibu Andri memanggilku, “Duduklah disini Nak!”
Aku pun duduk ditepi ranjang, namun aku kaget dengan ibu Andri yang langsung memegang tanganku. Kedua matanya yang terlihat berkaca-kaca, aku tidak tau kenapa ia seperti ini.
“Saya ingat sama kamu Nak, kamu yang pernah menjalani ta’aruf dengan Keisha. Dan sekarang kamu bertemu lagi dengan Keisha sebagai dokternya. Saya bersyukur jika kalian bertemu kembali seperti dulu,”
“Bu, ada apa? Kenapa ibu tiba-tiba menangis. Cerita sama saya, sebenarnya ada apa? Apa terjadi sesuatu?”
“Kamu ambil lagi Keisha Nak, saya rela nak Haikal.”
Aku pun terkejut tidak mengerti dengan perkataan ibu Andri, kenapa tiba-tiba ia mengatakan seperti itu.
“Memang kamu pantas membahagiakan menantu kesayangan saya dibandingkan Andri. Dia sudah menyakiti Keisha, nak Haikal.”
“M-maksud ibu apa?”
“Anak ibu sudah menikah lagi tanpa sepengetahuan Keisha. Dia sudah mempunyai istri lain dibelakang Keisha,”
Degh!
Jantungku seketika berhenti tiba-tiba dan itu terbilang cukup lama. Nafas ku pun tercekat mendengar perkataan itu. Andri? Menikah lagi? Jadi dia selingkuh? Andri poligami? Bagaimana bisa?
“Nak Haikal, tolong rebut Keisha dari Andri. Andri tidak pantas memiliki istri sebaik Keisha. Dan Keisha tidak pantas memiliki suami seperti Andri yang sudah mengkhianati Keisha dibelakangnya. Tolong bahagiakan dia Nak, hanya kamu yang pantas menjadi milik Keisha.” Tangisan ibu Andri semakin menjadi saat berkata itu.
Aku semakin tidak percaya dengan apa yang aku dengar. Benarkah? Apa benar ini alasan Andri tidak ingin memiliki anak? Karena dia memiliki istri lain dibelakang Keisha? Benarkah itu?
...*****...
Sepanjang perjalanan aku terus mengingat perkataan ibu Andri. Saat aku melihat Keisha tadi, dari raut wajahnya sepertinya memang benar dia tidak tau apa yang terjadi dengan suaminya.
Astagfirullah, kenapa harus aku yang terjebak dengan situasi ini.
Aku pun memutuskan pulang saat Keisha datang dan ibu Andri memilih pura-pura tidur karena takut ketahuan oleh Keisha karena habis menangis. Keisha tidak ikut pulang dengan ku, dia memilih untuk tinggal disana terlebih dahulu.
Aku hanya bisa mengusap wajahku berusaha menyadarkan aku untuk tidak pusing dengan perkataan ibu Andri. Tetapi kini Allah menunjukkan hal itu dihadapan ku. Aku melihat Andri ditepi jalan bersama sekumpulan orang kantornya. Aku pun memutuskan menghentikan mobilku.
Ternyata sedang ada pemotretan. Aku melihat arah tatapan Andri yang sedang menatap model wanita itu. Apa dia istri baru Andri?
“Ini yang buat lo gak ingin punya anak Ndri? Lo punya istri lain tanpa sepengetahuan Keisha?”
Andri terlihat terkejut saat aku mengatakan itu tepat disampingnya saat ia terlalu fokus menatap sang model wanita itu. Dia adalah model yang tinggal satu apartemen dengan ku, pantas saja waktu itu aku bertemu dengan Andri. Ternyata ini alasannya dia keapartemen ku, dia bertemu dengan Kania, istri kedua Andri.
__ADS_1
Sekarang kena kau Andri!