
“Menunggu adalah hal yang paling hebat di lakukan oleh wanita, mereka bisa menunggu hingga bertahun-tahun lamanya. Tetapi mereka juga cepat terluka apabila hasil nya tidak sesuai dengan fakta.”
-Keisha
Kania:
Air shower mengalir membasahi seluruh tubuhku ini. Masih jam 6 pagi, tapi aku sudah memutuskan untuk mandi. Karena pagi hari ini aku janjian dengan Andri untuk breakfast bareng di restoran yang berada di hotel ini.
Jadi, sebelum aku bertemu dengan nya. Aku harus mempercantik diri, agar Andri betah dengan ku untuk selamanya, amin, hehehe.
Setelah selesai mandi, aku keluar dari kamar mandi dengan balutan handuk di tubuh ku. Ku keringkan terlebih dahulu rambut ku dengan handuk, lalu ku gunakan hair dryer. Saat aku mengeringkan rambutku, ponsel ku pun berbunyi menandakan satu pesan masuk di ponsel ku.
Saat aku lihat, ternyata dari calon suami ku itu, heheh. Ahh, calon suami ya? Jadi malu.
Andri:
Morning sayang, udah bangun kan? Jadi gak nih yang mau breakfast bareng?
Aku tersenyum membacanya, terasa geli di perut ku. Kenapa semakin kesini, dia semakin sweet saja sih. Membuat aku semakin gila akan cinta nya itu. Langsung saja jari ku bergerak dengan lincah membalas pesan dari Andri.
Kania:
Morning too sayang. udah kok, ini lagi siap-siap. Kamu udah siap?
Terkirim!
Selesai mengeringkan rambut, aku berjalan menuju ke lemari dan memilih pakaian yang akan aku kenakan. Aku pun memutuskan menggunakan pakaian yang terlihat simple nan modis.
Kling!
Ponsel ku kembali berbunyi, aku kembali mengecek nya dan ku lihat dari Andri. Dia telah membalas pesan ku itu.
Andri:
Udah dong, ini lagi nunggu depan kamar kamu.
Kania:
__ADS_1
Benarkah? Yaudah, tunggu disitu ya. Bentar lagi aku selesai kok.
Andri:
Oke.
Tanpa aba-aba, aku melempar ponsel ku ke kasur begitu saja. Ternyata dia sudah menunggu ku didepan kamar ku. Astaga, kenapa dia tidak bilang dari tadi sih.
Andri...Andri, dia memang selalu punya kejutan di setiap cara nya. Aku saja hampir kewalahan dengan kejutan yang selalu ia berikan kepada ku.
Bergegas aku menggunakan pakaian ku ini dan tidak lupa dengan make-up tipis sebagai pencerah agar wajah ku tidak terlihat pucat saat di lihat. Rambut ku biarkan tergerai begitu saja.
“Perfect!” ucap ku sangat puas.
Semuanya sudah selesai, lalu aku keluar dari kamar ku dan ku lihat Andri dengan setelan baju nya yang ikut simpel namun terlihat sangat tampan. Ia sedang bersandar ke dinding dengan tangan yang disilangkan ke depan dada. Haha, membuat kharisma dia semakin keluar saat itu juga.
Aku menggaruk tengkuk ku merasa salah tingkah saat dilihat terus oleh nya, “Lama ya nunggu nya?” tanya ku membuka percakapan.
“Enggak juga, mau berangkat sekarang?” aku tersenyum sambil mengangguk kecil.
“Yaudah, ayo,” Andri menuntunku berjalan tanpa melepaskan genggaman nya di tangan ku. Aku pun tersenyum melihat nya, ahh sangat romantis, semoga ia selalu menggenggam tangan ku tanpa ada niat untuk melepaskannya sedikit pun.
Andika:
Pagi ini aku sarapan bersama ibu di restoran yang sudah tersedia di hotel ini. Sudah lama aku tidak pernah sarapan bersama ibu selama aku ada di luar negeri. Akhirnya, pada hari ini aku bisa merasakan sarapan dengan ibu. Terasa nikmat dan indah, apalagi melihat ibu yang makan dengan sangat lahap nya.
“Ibu, mau tambah lagi gak makanannya? Biar Ade ambilin ya?” tawar ku kepada ibu.
Ibu mendongak lalu menelan makanannya, “Gak usah De, ini masih banyak makanannya. Takut ibu gak habis, kan jadi mubazir,”
Haha, ibu masih sempat-sempat nya berkata seperti itu. Padahal kalau diluar negeri, makanan yang seperti ini malah tidak masalah jika tidak dihabiskan. Tetapi berbeda dengan di keluarga kami tidak menyisakan makanan walaupun secuil, karena di agama pun sudah di larang.
“Bu, wisuda Ade kan besok,” ucap ku di sela-sela makan.
“Iya, lalu?”
“Ibu gak mau ke salon gitu, untuk mempercantik diri. Entar biar Ade yang bayar deh,”
__ADS_1
Mendengar tawaran ku membuat ibu tertawa kecil, “Ibu sudah tua De, gak perlu ke salon-salon juga kalik,” ujar nya.
Aku hanya mengangguk, “Tapi kan ke salon gak lihat tua muda nya bu, ibu ke salon yah? Di hotel ini ada salon nya kok, nanti Ade anterin ibu ke sana, gimana?” tawar ku, bisa di bilang sekalian memanjakan diri.
Ibu hanya menanggapi tawaran ku dengan senyuman. “Tidak usah De, kalau kamu yang mau ke salon. Salon aja, kan yang wisuda kamu, perawatan wajah biar kelihatan makin ganteng,” ucap ibu.
“Ahh ibu,” ibu hanya tersenyum lalu kembali melanjutkan makannya.
Kalau difikir-fikir betul juga sih kata ibu, sebaiknya aku saja yang ke salon, memperbaiki wajah ku yang kebetulan ada jerawat dimana-mana akibat stres semasa kuliah. Saat nya hari ini memanjakan diri untuk wajah ku.
Tidak ada obrolan lagi, kami pun berdua menyelesaikan sarapan dengan segera. Karena setelah ini kegiatan ku ialah mengambil barang ku yang berada di asrama lalu membawanya ke hotel. Acara pelaksanaan wisuda ku pun di laksanakan besok pagi, jadi mungkin setelah aku selesai wisuda aku dan ibu akan langsung pulang ke Indonesia. Tidak perlu berlama-lama ada di negeri orang, karena negeri sendiri sudah lama aku rindukan.
Saat makanan yang ada di piring sudah habis, kami berdua pun memutuskan kembali ke kamar. Aku memegang lengan ibu, bermaksud memapah nya berjalan. Walaupun begitu, ibu sudah tidak terlalu kuat untuk berjalan seperti biasa nya, ya maklum saja ibu sudah mulai tua.
Saat aku memapah ibu, aku melihat dari jauh seorang pria dan wanita saling menggenggam erat tangan satu sama lain. Tidak terlihat jelas pria itu tetapi aku seperti mengenal nya, entah di fikiran ku pun seperti mengira bahwa itu Andri, tapi masa iya ia dengan wanita lain.
Tidak mungkin itu Keisha, karena aku tau seperti apa Keisha. Masa iya Andri selingkuh dari Keisha? Ah tidak mungkin, pasti aku salah lihat. Nanti sesampai di kamar, aku akan bertanya langsung kepada ibu.
Saat di kamar, aku pun langsung bertanya dengan ibu, “Bu,” ibu pun hanya menggumam.
“Bang Andri sekarang ada dimana?” tanya ku yang sudah sangat penasaran.
“Kenapa kamu tanya seperti itu?” tanya ibu balik, astaga ibu, kenapa ibu malah tanya balik sih. Jadi bikin hati ku, deg-deg an seperti ini.
“Ya gak papa, pengen tanya aja.”
“Abang mu lagi ada di paris, lagi ngurus pekerjaannya,”
Seketika aku langsung terdiam, jadi dia benar ada di Paris? Jadi, tadi pria yang ku lihat tadi dia atau bukan? Tetapi saat aku melihat nya seperti dia atau memang mata ku saja yang sedang bermasalah?
“De?” panggil ibu.
Aku pun tersentak dari lamunan ku, “Heuh?” ibu menatap ku bingung.
“Ada apa?”
Aku pun menggeleng dengan cepat dan tersenyum, “Gak papa kok bu,” ibu pun mengangguk mengerti. Aku harus memastikan apakah tadi yang kulihat itu beneran Andri atau bukan.
__ADS_1