
“Marah percuma, menangis pun tidak mengubah apa-apa. Masalah yang ada bukannya usai, malah semakin bertambah. Memang kebanyakan bilang masalah itu diberikan oleh Tuhan untuk menguji manusia nya agar menjadi tabah. Tetapi jika masalah yang tidak ada menjadi ada, itu bukan dari Tuhan melainkan dari manusia yang ingin mencari gara-gara. Seperti aku, aku tidak akan ada masalah jika bukan aku yang memulai ini semua.”
-Kania
Keisha:
Di pagi hari yang sangat cerah, udara pagi masuk ke jendela yang kebetulan sengaja aku buka di jendela dapur. Kini, aku sudah mulai sibuk di dapur dengan segala peralatan perang ku. Hehehe, bukan peralatan perang melainkan peralatan yang memang setiap hari di pegang untuk ibu rumah tangga gunakan.
Aku mulai sibuk dengan tempat favorit ku, memasak sesuka hati ku. Tidak perlu waktu yang lama, tangan ku bergerak sangat cepat nan lincah menyusun semua makanan yang sudah matang ke atas piring. Lalu menyusun makanan dengan sangat rapi di atas meja, aku tersenyum sangat senang.
Sudah lama aku tidak membuat sarapan untuk Andri, bukan karena Andri tidak ingin makan masakan ku. Tetapi itu karena Andri selalu pergi ke kantor dengan terburu-buru. Tetapi tidak apa, dia juga berjuang untuk ku kan? Hehehehe.
Demi menafkahi kebutuhan istri nya ini, aku juga selalu berkecukupan menjadi istri Andri. Bukan berkecukupan lagi, melainkan aku selalu merasa lebih. Uang hasil kerja Andri tiap hari nya ia transfer ke rekening ku. Hingga aku tidak tau berapa saldo di atm ku, pernah aku mengecek nya dan itu sangat membludak.
Aku tidak heran dengan uang sebanyak itu, itu semua karena hasil kerja Andri. Lagi pun aku tidak menggunakan semua uang yang Andri kirimkan ke aku. Karena aku menggunakan uang itu hanya seperlunya saja. Sisa nya aku ambil lalu ku simpan di dalam lemari di bawah baju ku.
Aku tidak bilang jika aku tidak menggunakan semua uang yang Andri kirimkan, karena bisa-bisa ia akan memaksa ku terus menerus untuk menghabiskan semua itu. Padahal menurut aku itu pemborosan dan sangat dilarang dalam agama.
Hingga uang yang aku kumpulkan sekarang sudah mencapai nominal sebesar, 1 miliyar. Hehehe, banyakkan? Itu hasil Andri loh.
__ADS_1
Siapapun yang akan diberi uang sebanyak itu pasti akan senang dan langsung berfoya-foya. Tetapi aku tidak, aku menyimpan uang itu demi keperluan nanti disaat ada hal yang mendadak. Tidak ada yang tau bukan bahwa musibah yang Allah kasi tiba-tiba datang ke kita? Siapapun tidak akan ada yang mengira nya.
Andri:
Aku memasang dasi ku dengan rapi, lalu mematut penampilan ku dikaca. Semuanya terlihat rapi dan keren, tetapi tidak dengan wajah ku. Seperti nya wajah ku tidak senada dengan penampilan ku hari ini. Wajah ku terlihat berantakan, sangat berantakan, rambut ku acak-acakan tak terurus.
Dari semalam aku gelisah tidak bisa tidur, aku terus memikirkan Kania, obrolan ku dengan Vania belum selesai semalam dikarenakan Keisha mendadak ada di belakang ku. Tentu saja aku langsung memutuskan telpon itu dengan sepihak. Takut ketahuan dong pasti nya.
Aku menghela nafas berat beberapa kali, lalu meraih ponsel ku yang berada di atas meja. Aku mengecek notifikasi, tidak ada siapapun yang menghubungi ku bahkan tidak ada yang mengirimkan pesan kepada ku.
Kania? Kemana dia? Apakah dia masih marah dengan ku? Begitu kesal nya kah dia kepada ku?
Tanpa basa-basi aku langsung mencari nama nya di kontak, nama Kania tertampil di situ.
Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif.
Astaga, nomornya dari semalam masih tidak aktif juga. Kania benar-benar marah kepada ku, aku harus bagaimana ini?
Aku hanya bisa mengacak-acak rambut ku frustasi, sangat frustasi. Baru kali ini aku bertengkar dengannya, ralat deh, baru kali ini dia marah kepada ku. Semenjak aku menjalin hubungan dengannya, baru kali ini dia cemburu dengan ku kepada Keisha. Aku tau, kemarin sewaktu di kafe memang sudah keterlaluan, siapapun yang melihat nya pasti akan cemburu.
__ADS_1
Jika aku ada di posisi Kania, pasti aku akan begitu juga. Tetapi aku tidak tau bagaimana menghadapi Kania nanti, bahkan untuk menghampiri nya tidak mungkin, takut orang lain melihat nya. Menghubungi nya apalagi, ini saja pesan yang ku kirimkan kemarin tidak di balas juga. Ditelpon pun bahkan tidak aktif, dia benar-benar menjauhi ku.
Aku tidak perduli, pokoknya nanti aku harus bertemu dengannya dan menyelesaikan semua masalah ini hingga selesai. Aku tidak ingin berlama-lama berjauhan dengannya, bisa-bisa aku akan kehilangan Kania. Aku tidak ingin itu terjadi.
Aku mengambil kunci mobil ku lalu keluar dari kamar menuju dapur, aroma masakan Keisha menyeruak di hidung ku. Sangat nyaman, dan membuat perut ku berbunyi terus sedari tadi ingin merasakan makanan enak itu.
Aku berjalan menuju ke meja makan, disitu sudah ada Keisha yang sedang menyusun makanan dengan rapi di atas meja.
Penampilan Keisha terlihat sangat memukau, walau hanya menggunakan celemek dan daster. Bagaimanapun dia selalu cantik di mataku walau dia menggunakan pakaian yang tidak terbilang mahal.
Aku menghampiri nya, dan aku pun langsung memeluk ia dari belakang. Ia terlihat kaget saat aku memeluk nya, aku menyandarkan kepala ku ke bahu nya. Mungkin aku benar-benar butuh tenaga saat ini, aku hanya bisa membayangkan bahwa wanita yang ku peluk ini bukan Keisha melainkan Kania agar rindu ku saat ini berkurang. Aku sangat merindukannya, sangat.
Keisha berbalik dan menatap ku dengan wajah penuh cemas, ia memegang kedua pipi ku dengan kedua tangannya yang lembut “Mas kenapa hem?” tanya nya dengan nada khawatir.
“Kangen.” jawab ku dengan sedikit manja.
Kening Keisha berkerut “Kangen? Lah, kan kita ketemu terus tiap hari Mas, masa kamu masih kangen sih,”
“Bukan kangen kamu, tapi kangen masakan kamu,” aku terkekeh dan langsung dihadiahi pukulan oleh Keisha beberapa kali di lengan ku.
__ADS_1
Hahaha, sangat lucu melihat wajah kesal nya saat ini, aku meraih kepala nya lalu aku mendaratkan ciuman di kening nya. Aku tersenyum kepada nya dengan penuh cinta dan berkata “Pagi istri ku,”
Keisha terdiam, sebentar saja kedua pipi nya merona. Haha, bahkan saat ini kedua pipi nya memerah, sangat merah. Aku pun langsung tertawa melihat wajah nya itu, ia sadar jika aku mentertawakan ia. Keisha langsung menyembunyikan wajah nya di leher ku, agar aku tidak melihat nya. Ya ampun, kenapa istri ku harus menggemaskan sepagi ini sih. Membuat aku tidak rela untuk pergi ke kantor saja.