Simpanan

Simpanan
-Perubahan-


__ADS_3

“Aku tidak perduli orang mau berkata A, B maupun C dihidupku. Karena yang menjalaninya bukan mereka tetapi kita sendiri lah. Jadi, aku tidak perduli jika orang mau berkata apa kepadaku. Bagiku hidupku ialah hidupku bukan hidup mereka.”


-Andri


Kania:


Cekrek...


Cekrek..


Cekrek...


Flash kamera mengerjap beberapa kali kearah ku, aku terus mencari pose yang terbaik untuk ku. Senyuman ku, tangan ku, kaki ku dan semua badan, ku kerahkan semuanya ke arah kamera. Sesekali aku mengibaskan rambut dan baju ku.


Fotografer tersenyum puas melihat hasil nya yang ia bidik, aku mengibaskan wajah dengan tangan ku. Aku merasa sangat panas karena dikelilingi oleh lampu dengan keterangan yang lumayan tinggi.


“Oke Kania! Pemotretan selesai. Sangat perfect!” semua para staf pun bertepuk tangan, aku menghela nafas lega dan ikut bertepuk tangan.


Lalu aku keluar dari wilayah pemotretan menghampiri fotografer sambil melihat hasil foto yang diambil oleh nya. “Bagaimana Kania, kamu puas sama hasil nya?” tanya fotografer kepadaku.


Aku pun melihat-lihat sambil menggeser melihat hasil foto lainnya, saat aku melihat diriku didalam foto itu aku merasa bahwa kalau aku memang tercipta untuk menjadi wanita yang sangat cantik walau umur ku hampir menginjak kepala tiga. Bukan mau sombong tapi aku orangnya hanya percaya diri saja akan suatu hal, hehehe.

__ADS_1


“Puas banget Pak, saya suka foto-foto nya. Terima kasih sudah bekerja dengan baik.”


“Saya juga sangat puas karena dalam pengambilan gambar tidak ada pengulangan dan kesalahan sedikitpun. Hanya satu kali saja, hasil nya langsung beres. Saya selalu puas jika bekerja dengan mu. Dan saya lah yang harus berterima kasih karena kamu sudah bekerja dengan baik tanpa salah sedikit pun,”


Mendengar pujian yang dilontarkan oleh fotografer tersebut membuat aku salah tingkah sendiri, aku hanya bisa memilin jari-jari tangan ku. Bangga? Tentu saja aku sangat bangga dengan hasil kerja ku sendiri.


“Heheh iya pak. Next kita akan pengambilan gambar lagi dengan semangat yang lebih tinggi!” ujar ku dengan nada yang sangat semangat.


Fotografer itu pun tersenyum “Saya harap nanti kamu juga semangat dan tidak ada kesalahan dengan pengambilan gambar,”


“Saya usahakan kok Pak.”


Fotografer pun menepuk pundak ku berkali-kali lalu ia pergi dari hadapanku, aku menghela nafas lega dan berjalan menuju ke kursi. Aku menghempaskan badan ku kekursi dan bersandar. Memejamkan mata berusaha mengusir lelah yang tiada habisnya.


Saat aku tau orang nya, aku pun mempertegak tubuhku “Vania?” aku heran kepada nya, dia memberi ku air mineral dingin dengan senyuman yang menghias di wajahnya.


Aku bukan heran karena itu, tetapi aku heran karena dia menghampiri ku terlebih dahulu. Padahal tadi sewaktu di depan kantor jelas-jelas dia sedang menghindari ku. Tentu saja aku merasakan nya atau memang itu hanya opiniku saja tentangnya?


Vania duduk disampingku, ia ikut menghela nafas juga “Terima kasih untuk hari ini karena lo semuanya selesai dengan waktu lebih cepat. Gue gak mengira kalau suasana hati lo mempengaruhi pekerjaan lo, hingga pekerjaan ini selesai dengan sangat cepat tanpa kesalahan sedikitpun,” ucapnya panjang lebar.


Aku pun ikut menghela nafas sambil melihat ke arah depan, dimana para staf yang sedang membereskan semua peralatan sewaktu tadi pemotretan “Yaaah, lo bener Van. Suasana hati gue sangat mempengaruhi pekerjaan gue. Lo pasti sudah nebak kan bagaimana suasana hati gue sekarang,” Vania menoleh begitupun aku.

__ADS_1


“Gue lihat lo seperti ini gue udah senang banget Kan. Gue harap lo seperti ini hingga seterusnya, walaupun gue udah keluar dari semua ini tapi gue tetap senang dengan suasana hati lo,”


Aku hanya menatap Vania dengan tatapan tidak mengerti. Aku mengira jika ia sudah tidak perduli dengan hidup ku, nyatanya dia masih perduli walaupun ia tidak terlalu ikut andil untuk hidupku.


“Gue juga senang karena lo masih mau bicara sama gue Van. Gue sangat senang, karena lo masih memperhatikan gue walau gue tau kalau kita gak akan seperti dulu. Tapi gue sangat berterima kasih karena lo masih menganggap gue sebagai sahabat lo,”


“Sampai kapanpun kita akan jadi sahabat Kan hanya saja gue gak ingin menjadi sahabat dari masalah yang ada pada lo. Gue tetap menganggap lo sebagai sahabat gue, sampai kapanpun itu. Yah, walau sekarang kita sudah fokus dengan kehidupan masing-masing. Jujur aja, tadi pagi gue emang menghindari lo. Gue akan menghindari lo apabila gue melihat lo bersama pria itu, apakah lo tidak masalah dengan ini Kan? Gue hanya berharap semoga lo tidak tersinggung dengan sikap gue ini.”


Aku hanya bisa terdiam sambil melihat Vania, kini aku merasakan hati ku sedikit lega ketika mendengar penjelasannya. Ia akan menghindari ku apabila aku bersama Andri dan akan mendekati ku apabila aku sedang sendiri. Astaga, aku tidak menyangka jika Vania bisa sedewasa ini dalam menghadapi suatu kehidupan. Seperti nya, aku perlu belajar dengannya.


Aku meraih tangan Vania dan menggenggam nya “Gue gak pernah tersinggung dengan sikap lo yang tidak biasa Van. Gue tau kalau lo seperti ini karena hanya tidak ingin ikut andil dalam semua ini. Gue paham kok dan gue mengerti dengan semua ini. Apapun yang lo lakukan gue selalu terima Van, asal lo selalu menganggap gue sahabat lo dan lo selalu menganggap gue ada di kehidupan lo,”


Vania tersenyum “Gue selalu menganggap lo ada Kan, sampai kapanpun itu, selalu,”


Mendengar perkataan Vania membuat hati ku ikut tersentuh. Aku merasakan setenang ini saat berhadapan dengan orang. Aku merasakan selega ini saat aku mengutarakan semua isi hati ku. Dan aku tidak pernah merasakan seperti ini saat aku menemukan seseorang seperti Vania.


Aku dan Vania hanya saling menatap satu sama lain, tatapan itu bukan tatapan biasa. Tetapi tatapan itu, dimana seorang sahabat seperti bersyukur mempunyai sahabat lainnya. Seperti itulah aku sekarang dengan Vania. Saling menggenggam erat satu sama lain dan saling menatap dengan tatapan mendalam.


Namun itu hanya bertahan beberapa menit saja, karena Vania dipanggil oleh staf lainnya.


“Yaudah dulu ya Kan, gue mau kesana dulu. Semoga kita berjumpa dilain hari dengan tidak ada keberadaan siapapun.” aku hanya bisa mengangguk dan tersenyum.

__ADS_1


Ia pergi dari hadapan ku dengan jalannya yang lumayan anggun, aku pun hanya bisa menghela nafas sambil menatap punggungnya yang telah berlalu dari hadapanku.


Bagaimanapun juga, kini, aku harus menghadapi kenyataan bahwa aku hanya bisa menatap punggung seorang sahabat yang dulu nya berjalan bersama disampingku. Faktanya bahwa masalah seseorang dapat mengubah segalanya, bukan kah begitu?


__ADS_2