
..."Aku kira pernikahan ini bisa membuat aku bahagia. Ternyata malah membuat aku semakin menderita."...
...-Kania-...
Andri:
Aku merapikan dasi dan kerah kemejaku dipantulan kaca. Hari ini Keisha tidak mempersiapkan pakaian ku untuk kekantor. Dari kemarin ia tidak masuk kedalam kamar. Padahal ia sudah kubujuk. Tetapi tetap saja ia tidak mau.
Mungkin karena perkataan ku yang membuatnya sakit hati sehingga ia enggan berdekatan dengan ku. Bahkan saat aku menyentuhnya pun ia seakan menghindar dariku. Astaga masalah ini membuat semuanya semakin runyam.
Wajahku terlihat kurang istirahat dan seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan yang ada diwajahku. Mungkin aku sudah bingung memikirkan ini semua. Dari Kania, ibu dan Keisha. Memang ini salahku. Tapi mau bagaimana lagi? Memang sudah seperti ini.
Aku mengambil ponselku dan mulai mengirim pesan kepada Vania. Jika kepada Kania pasti tidak akan dibalas. Jangankan dibalas, mungkin tidak akan dibaca olehnya.
Kedua istriku telah tersakiti olehku. Karena perkataanku maupun sikapku.
Jika Kania sudah datang kekantor, suruh saja ia keruangan saya!
Aku menyisir lagi rambutku. Dan terdengar nada notifikasi dari ponselku.
Baik Pak!
Helaan nafas keluar dari bibirku. Saatnya kembali aktivitas seperti sedia kala. Masalah ini tidak akan baik-baik saja jika aku tidak segera menyelesaikannya. Aku tidak ingin masalah terlalu dibiarkan1 berlarut-larut.
Aku pun kembali dari kamar dan melihat Keisha yang sedang tiduran disofa diruang keluarga. Aku pun menghampirinya.
"Kei,"
Keisha membuka matanya. Lalu ia membelakangi ku. Seperti tidak ingin melihatku dipagi ini. Astaga, aku harus bagaimana?
"Mas berangkat kerja dulu ya. Kamu baik-baik dirumah. Jika Mas pulangnya larut berarti pekerjaan Mas dikantor banyak yang belum diselesaikan. Kamu gak papa kan sendiri dirumah? Atau Mas anterin kamu kerumah Ibu, biar gak kesepian?"
"Gak usah! Keisha bisa sendiri kesana. Dan lagian, Keisha juga selalu sendiri kan? Gak perlu Mas khawatir dengan keadaan ku!"
Jlebb!!!
Seketika perkataan Keisha terasa menusuk dihatiku. Baru untuk pertama kalinya ia berkata seperti itu kepadaku. Entah kenapa ia bisa seperti ini. Apa karena perkataan ku kemarin hingga membuat ia menjadi seperti ini?
Aku memegang bahunya pelan. "Sayang, Kamu kenapa? Kok bicaranya begitu sama Mas. Apa karena perkataan Mas kemarin, kamu jadi begini?"
"Keisha capek Mas, mau tidur. Kalau mau pergi kerja, pergilah. Hari ini Keisha tidak menyiapkan bekal, jadi kamu makan diluar saja!"
Astaugfirullah.
Aku istigfar dalam hati. Berusaha tenang dengan sikap Keisha. Keisha tidak seperti biasanya. Ia benar-benar marah kepada ku.
"Kei, jangan seperti ini. Mas mau berangkat kerja, jangan buat Mas kefikiran karna sikap mu Kei. Mas tau, Mas salah. Udah membentak mu, tapi Mas gak sengaja Kei. Mas pusing, karena ada masalah dikantor."
Keisha yang mendengar perkataan ku, ia langsung berbalik dan duduk. Tatapan kami pun bertemu.
"Kalau ada masalah dikantor, kenapa Mas gak cerita? Kenapa Mas malah bentak Kei? Kamu tau sendirikan Mas! Aku gak suka dibentak!" Ucap Keisha dengan tatapan sendunya.
Aku merasa bersalah dengan tatapan itu. Karena masalahku dengan Kania sampai melibatkan istri pertama ku ini. Baru saja awal, aku sudah tidak bersikap adil. Bagaimana nanti?
"Maafkan Mas sayang. Maafkan Mas." Aku memeluk Keisha tanda rasa bersalahku kepadanya. Aku merasa bersalah kepada Keisha. Aku sudah mematahkan hatinya. Ya, itu karena ku ia menjadi begini.
Aku merasakan Keisha membalas pelukanku. Apa iya telah memaafkanku?
"Kei gak suka Mas bentak Kei. Karena selama ini Mas gak pernah bentak Kei. Jika pun ada masalah diluar, tolong cerita sama Kei. Bukankah Kei ini istrimu? Kita bagi masalah apapun itu secara bersama-sama."
Aku melepaskan pelukan ini lalu memegang kedua pipi Keisha yang terlihat Chubby. "Iya sayang, maafkan Mas ya. Ini salah Mas udah buat kamu begini. Kamu jadi sakit hati karena sikap Mas. Sekali lagi Maafkan Mas ya sayang."
Keisha tersenyum.
Ia mengembalikan senyuman itu kepada pemiliknya. Hatiku pun merasa sangat tenang melihatnya. Senyuman itu yang mampu membuat aku merasa tenang.
"Asal jangan Mas ulangi lagi,"
Aku membalas senyuman itu, "Mas janji Kei!"
"Yaudah, Mas berangkat kerja gih. Udah kesiangan kamunya."
"Iya sayang. Yaudah, Mas berangkat dulu ya."
"Iya Mas. Hati-hati dijalan ya."
"Iya sayang."
Keisha meraih tanganku dan lalu menyalaminya. Aku mencium keningnya. Kebiasaanku ketika mau berangkat ke kantor.
Aku pun keluar dari rumah menuju kemobilku. Akhirnya masalah dengan Keisha sudah teratasi. Tinggal dengan istriku satunya, Kania. Semoga bisa teratasi dengan begitu mudah seperti masalahku dengan Keisha. Aku tidak ingin semuanya berlarut-larut lama. Bagaimana pun juga, aku baru menikah dengan Kania. Awal pernikahan kita harus dibumbui rasa bahagia, bukan rasa penderitaaan.
Keisha:
Setelah keberangkatan Andri kekantor, aku segera pergi kekamar berganti pakaian untuk berangkat yoga. Rutinitas ku yang telah kujalani beberapa hari ini. Saat ada Andri aku tidak izin kepadanya, karena memang sengaja untuk tidak memberitahukan hal ini kepada ia. Bisa dibilang ini perjuanganku dibelakangnya.
Drama yang telah kulakukan tadi kepadanya hanya ingin menutup aksiku. Entah kenapa aku mempunyai firasat kepada Andri. Jika ada sesuatu yang ia sembunyikan kepadaku. Dari mascara itu, aku tau jika ia telah berbohong kepadaku. Karena aku telah menguji mascara yang kumiliki itu hingga terlihat sama dengan noda itu.
Kenapa ia berbohong kepada ku? Apa benar Andri memiliki wanita lain dibelakang ku? Tetapi kenapa selama ini tidak terlihat aneh dengan sikapnya. Semuanya bersifat netral.
__ADS_1
Aku mengusap wajahku perlahan. Istigfar dalam hati. Kini fikiranku mulai meracuni diriku. Aku sudah mulai berfikiran jelek kepada suamiku. Aku tidak ingin penyakit ini semakin merajalela difikiranku. Aku akan mencari tau sendiri sebenarnya apa yang telah terjadi. Dari sikap ibu mertua ku yang tiba-tiba menangis, noda itu, dan kebohongan suamiku. Biarkan aku yang mencari tau sendiri. Semuanya ini sebenarnya kenapa dan ada apa.
Setelah aku sudah bersiap-siap, aku pun pergi keluar dari rumah dan tidak lupa untuk mengunci pintu rumah. Sebelum itu aku harus pergi kerumah ibu mertua ku. Semenjak kemarin aku terus kefikirannya. Apakah ia baik-baik saja atau tidak.
Perasaan ku terhadap ibu mertua terus tidak nyaman semenjak kepulangan mereka di Paris.
Aku pun mengendarai mobilku, menembus semua kendaraan yang sudah mulai ramai memadati jalan ibu kota. Saat aku fokus jalanan, tiba-tiba ponselku berdering. Langsung saja aku mengangkat dan meloadspeaker tanpa melihat siapa yang sedang menelponku.
“Halo, assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam, Keisha?”
Aku kenal pemilik suara ini. “Haikal? Ada apa?” tanya ku penasaran.
“Kamu ada dimana?”
“Kenapa memangnya?”
“Tidak apa-apa. Aku hanya ingin memantau kegiatan mu hari ini. Kamu tau sendirikan kemungkinan jika kamu bisa hamil. Jadi aku harus memantau sedikit kegiatan mu ini. Apa hari ini kamu tidak mengikuti kelas yoga?”
“Ini aku mau pergi kesana, lagi dalam perjalanan Kal. Kamu tenang saja, jangan khawatir. Aku akan mengikuti semua arahanmu. Tidak boleh stress, capek dan harus ikut kegiatan yang positif biar semuanya berhasil. Bukan kah begitu?”
“Iyap! Benar sekali. Aku tidak mau, pasien yang sedang ku pegang ini gagal. Sekaligus, aku tidak mengecewakan harapan temanku yang satu ini.” ucap Haikal dengan nada semangat.
Aku tersenyum mendengarnya. Entah kenapa, Haikal sangat berusaha ingin menyembuhkan aku dari penyakit ini. Padahal ia hanya seorang dokter sekaligus teman ku dulu, namun tidak ada yang semangat nya seperti semangat Haikal terhadap hidupku. Aku pun menjadi semangat karenanya. Ia telah membagikan energi positifnya kepadaku. Walaupun saat ini banyak fikiran yang terlintas diotakku.
“Hehehehe, iya. Terima kasih untuk Dokter Haikal yang telah berusaha dan selalu memantau pasien mu yang satu ini. Aku sangat merasa tersanjung oleh mu dokter.”
“Hahahaha, puitis sekali kata-kata mu Keisha.”
“Sekali-kali tidak masalah bukan?”
“Hahaha, oke..oke. Tidak masalah,”
Aku tersenyum lalu berkata terus terang kepada Haikal. “Haikal,”
“Iya Kei?”
“Maafin aku ya,”
“Maaf? Maaf untuk apa? Apa kamu udah membuat kesalahan?”
“Maaf, karena selama ini aku sudah berfikiran jelek kepadamu. Terhadap perhatian mu selama ini. Cara bicaraku selama ini yang selalu judes kepada mu. Seharusnya aku tidak berfikiran seperti itu. Kamu tau sendiri, aku begini karena aku memikirkan masa lalu ku. Aku dan kamu pernah menjalani ta’aruf yang tidak terlalu lama hingga aku memilih Mas Andri. Sehingga aku selalu berfikir jika kamu, ya tau sendirilah dengan fikiranku.”
Helaan nafas keluar dari mulutku. Aku memilih untuk berterus terang kepada Haikal walaupun tidak tau dengan reaksinya. Karena selama ini, fikiran negatifku kepada Haikal lumayan mengganggu hidupku. Mungkin dengan berterus terang dengannya dapat membuat bebanku sedikit berkurang.
“Keisha,” panggil Haikal disebrang sana.
“Aku tau apa yang sedang kamu fikirkan, jauh sebelum kamu memikirkan itu. Disaat dirumah sakit, aku membaca daftar nama pasien. Aku lebih terkejut dengan nama mu yang sudah tertera dikertas itu. Dan aku harus berfikir lebih panjang, apa aku harus menerima mu sebagai pasienku atau tidak. Bukan aku tidak menerima mu sebagai pasienku. Hanya saja, aku tau jika kamu sangat menjaga perasaan suami mu. Aku sangat tau itu. Kamu ingat, waktu dulu kita bertemu? Kamu hanya tersenyum lalu pergi tanpa mengucap satu kata pun. Karena dari situ aku paham. Dan kini kita bertemu kembali. Walaupun kita pernah menjalani suatu ta’aruf dan kamu memilih orang lain dibandingkan aku lalu kita bertemu lagi. Itu tidak membuatku untuk merebutmu Kei. Karena aku tau, cara ini salah. Lagipun kamu bukan jodoh yang Allah berikan untukku. Jika kamu memang jodohku, seharusnya dari dulu Allah menyatukan kita bukan malah membuat kita berpisah. Bukan kah begitu? Aku tidak ingin merusak kebahagiaan orang lain Kei. Aku menjaga perasaanku. Aku selalu berdoa, agar Allah menjaga perasaanku ini agar tidak membuat orang lain tersakiti. Hingga saat ini, Allah mendengarkan doa ku. Kamu tidak lebih dari pasien sekaligus teman ku. kita dipertemukan karena aku ingin mengeluarkan mu dari penderitaan yang telah kamu alami bertahun-tahun lamanya. Allah ingin memberimu kebahagiaan melewati aku Kei. Tidak lebih dari itu.”
Setetes air mata disudut mataku jatuh begitu saja. Ya Allah, betapa hina dan kotornya aku telah berfikiran yang tidak-tidak kepada Haikal. Ia datang dikehidupanku hanya karena ingin mengeluarkan ku dari penderitaan ini. Ia tidak segan membantu ku melebihi tugas dokter kepada pasien. Aku terus berfikiran jelek kepadanya. Kini, rasa itu hilang seketika mendengar penjelasannya. Entah aku harus bersikap bagaimana dihadapannya nanti.
Aku merasa malu kepada Haikal.
“Kei? Kamu masih ada disana kan?”
Aku langsung mengusap air mataku lalu menghembuskan nafas. Kini terasa lega dihati ini.
“Iya Haikal, aku masih disini.”
“Terima kasih telah berterus terang kepada ku Kei. Kamu tidak pernah berubah dari dulu. Aku menyukai sikapmu itu. Hei, jangan berfikiran jelek ya. Aku menyukai sikapmu bukan menyukai orangnya.”
Aku terkekeh mendengarnya, “Hehehe ada-ada saja. Iya-iya, aku juga udah berterima kasih pada mu Kal. Jasa mu tidak dapat terbalaskan sampai kapanpun.”
“Cukup dibalas dengan secangkir coklat panas!”
“Ah, itu kemauan mu!”
“Hahahaha,”
“Kapan-kapan ya, kita cari waktu kosong.”
“Hahah, aku bercanda Keisha. Jangan terlalu serius nanti cepat tua.”
“Memang diriku ini sudah tua,”
“Iya..iya deh. Yasudah, aku mau berangkat kerja dulu. Hati-hati dalam berkendaranya Keisha.”
“Iya Haikal. Hati-hati juga.
“Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam.”
Panggilan pun terputus. Haikal memutuskan telpon setelah pembicaraan ini selesai. Aku merasa semuanya plong. Tetapi ada sedikit keganjalan dihati ini. Yaitu suamiku, Mas Andri.
Kania:
Dengan perasasan lelah, letih dan lesu yang ada pada diriku. Kaki yang terus melangkah dengan sangat terpaksanya. Terus berjalan digedung yang sangat luas ini. Ya, aku kembali bekerja setelah sekian lama aku meliburkan diri karena pernikahan itu.
__ADS_1
Sebenarnya aku berniat tidak akan masuk kerja. Hanya saja, Vania terus menghubungiku berulang kali hingga membuat emosiku meledak-ledak. Tetapi amarah Vania tidak kalah meledaknya dibandingkan diriku. Membuat aku mengurungi emosi ini. Tentu saja emosi ku kalah dibandingkan emosi Vania. Aku tidak berani untuk melawannya.
Saat aku sampai diruangan yang tersedia khusus untuk diriku. Disana sudah ada Vania yang ternyata sudah menungguku entah apa dia baru datang atau sejak tadi.
“Lama banget sih Kan! Pasti jalannya kek siput deh lo!”
Lihatlah, dia memulai pertengkarannya denganku. “Ya ampun Vania, gue baru sampai. Lo malah mau marah-marah sama gue. Hari ini gue kagak mau kerja! Malah lo paksa!”
“Hari ini lo ada kontrak sama perusahaan lain Kan. Dan hari ini juga lo harus memulainya. Lagian lo udah lumayan lama cuti nya kan? Saatnya lo kembali bekerja dong.”
Memang benar sih apa yang dikatakan Vania. Aku harus memulai pekerjaan ku yang lumayan tertinggal. Jika tidak dikerjakan, aku harus menerima konsekuensinya. Namun masalahnya, hari ini aku tidak ingin bertemu dengan Andri. Aku tidak ingin melihat wajahnya, aku sangat kecewa terhadap dia. Walau aku baru menikah dengannya, tetapi pernikahan ini membuat ku merasa menjadi paling buruk.
“Sekarang kamu pergi keruangan Pak Andri! Lo disuruh kesana?”
“Ha? Ngapain keruangan dia?”
“Pacaran!”
Aku terdiam mendengar sindiran Vania.
“Udah, lo pergi sana! Ntar gue lagi yang dimarahin!”
“Ogah ah! Lo aja Van!”
“Kania Aletha Qirani????” Vania memanggil nama lengkapku. Kalau sudah seperti ini sebaiknya menyerah saja. Kenapa juga, dia memanggilku membuat mood ku semakin hancur saja.
Aku bangkit dari tempat dudukku lalu pergi keruangan Andri dimana Andri sudah ada didalam ruangannya. Ia sibuk membolak-balik kertas yang sedang ia periksa.
Tanpa ketukan pintu, aku langsung masuk kedalam ruangannya dan duduk disofa yang besar. Ia terkejut melihatku. Aku melihat kearah lain, acuh tak acuh terhadapnya.
Andri menghampiriku sambil memegang sebuah dokumen entah apa itu. Andri meraih tanganku namun aku menepisnya secara kasar. Aku tidak ingin ia menyentuhku.
“Kamu masih marah sama aku Kan?”
“Tolong ya Pak, ada keperluan apa Bapak panggil saya? Apa ada sesuatu yang penting? Jika tidak, saya akan keluar. Karena banyak yang haru saya kerjakan.” Cercaku tanpa henti.
Helaan nafas keluar dari bibir Andri. Lelah? Biarlah, aku tidak perduli. Aku yang lelah disini, bukan hanya dia! Aku lelah dengan drama yang baru saja terjadi. Lelah dengan masalah yang tidak ada kata habisnya.
Memang seperti ini kah tantangan dalam hidup yang harus kujalani? Hidup yang tidak pernah aku ketahui untuk kedepannya seperti apa.
“Baiklah, ini ada kontrak yang mau atau tidak kamu tanda tangani."Aku mengambil dokumen yang dipegang Andri.
“Aku harap kamu jangan tanda tangani itu Kan, biarlah aku membayar dendanya. Asal kamu jangan melakukan pemotretan bersama pria lain. Aku gak bisa melihat kamu bersama pria lain. Aku cemburu jika kamu harus berpose entah bagaimana posenya itu. Aku tidak mau!”
Aku melihat Andri lalu mengalihkan pandanganku.
Tatapan itu hampir membuatku tertipu lagi. Aku hampir saja luluh kepada Andri. Rasa sakit ini masih membekas dihatiku. Hinaan yang kudapat dari ibu dan adiknya tidak dapat terhapus begitu saja difikiranku.
Sejujurnya aku tidak tega saat melihat suamiku itu. Suami? Hah! Sudahlah, ini mungkin rasa iba ku sesaat kepada Andri.
“Kan, tolonglah dengarkan aku. Jangan kamu terima kontrak itu,” Andri kembali meraih tangan ku dan menggenggamnya lumayan erat.
Aku menyentaknya sangat kuat hingga membuat ia terkejut dengan perlakuanku.
“Tolong la bersikap profesional Pak! Jangan bawa hal pribadi kedalam pekerjaan! Saya tidak suka itu.”
“Kan, kamu jangan begini. Jangan lakukan ini Kan,”
Andri terus memohon, hingga membuat dinding yang kubangun dengan lumayan kokoh hampir runtuh karenanya. Aku pun mengambil pena yang tersedia diatas meja lalu aku menandatangani kontrak itu secara cepat.
“Sudah lah Pak. Saya tidak bisa berlama-lama disini!”
Aku bangkit dan hendak meninggalkan ruangan Andri. Namun saat aku hampir membuka pintu dari belakang Andri langsung memelukku sangat erat. Aku berontak berkali-kali pun tidak bisa melepaskan pelukannya, membuat aku menyerah dengan apa yang dilakukannya terhadapku.
"Please, jangan seperti ini terus Kan. Kita baru menikah, kita baru menjalani hidup dan status yang baru. Tetapi kenapa kita harus begini Kan? Kenapa? Seharusnya kita happy. Karena setelah 3 tahun kita pacaran dalam diam akhirnya kita dapat menikah. Bukankah menikah itu impian mu? Bukan! Tapi impian kita. Impian kita berdua untuk bersama-sama."
Aku menangis mendengar perkataan Andri. Rasanya begitu menyakitkan. Memang benar semua dengan apa yang dikatakannya. Tetapi kenapa harus seperti ini jadinya?
Sebelum aku menatap Andri, aku menghapus air mata ku yang telah turun dan membasahi pipi. Aku menghela nafas kasar agar aku dapat bicara dengan tegar walaupun hati ini terasa goyah.
Aku pun berbalik menatap kedua mata Andri berani, "Memang ini semua impian ku Mas. Menikah adalah impian yang telah kuimpikan sejak dulu. Termasuk menikah dengan mu adalah harapan yang paling aku inginkan. Tetapi bukan seperti ini Mas! Bukan ini yang kuimpikan! Menjadi istri yang tidak dikenal oleh orang banyak. Menjadi istri yang tidak direstui oleh keluarga mu dan yang terpenting dari ibumu. Ini semua bukan impian dan keinginan ku! Bahkan kamu tidak ada kepastian akan mengenalkan aku kepada Keisha sebagai istrimu bukan?"
Andri langsung terdiam mendengar perkataan ku. Ia langsung bungkam. Sudah kutebak itu.
"Sudahlah Mas! Kalau karena aku akan bekerja sama dengan laki-laki membuat mu begini. Aku sangat tidak perduli. Aku tidak perduli dengan apa yang kamu rasakan. Begitu juga dengan mu sekarang! Kamu tidak perduli dengan apa yang kurasakan waktu itu hingga kini!"
"Kan, bukan begitu maksud ku. Maksud Mas i-"
Aku mendorong Andri hingga ia kembali diam, "Jangan egois Mas. Jangan mencampurkan pekerjaan ku dengan perasaan mu. Itu sangat membuat ku jijik!" Setelah berkata seperti itu aku pun pergi dari hadapan Andri.
Tidak tau sampai kapan kita akan begini. Aku benar-benar tidak perduli.
Karena sekarang aku akan mementingkan harga diriku dan pengakuan dari Andri. Pengakuan kepada seluruh dunia bahwa aku juga istrinya, miliknya. Sakit hati pasti akan dirasakan oleh orang lain tetapi tidak sesakit saat menjadi istri kedua dari hasil diam-diam.
...*******...
Terima kasih sudah membaca. Maafkan author ya sudah hampir dua tahun hiatus meninggalkan cerita ini terbengkalai. Karena ada kendala yang tidak bisa author ceritakan. Sekali lagi minta maaf dan selamat membaca kembali.
Author kembali lagi melanjutkan cerita ini yang sudah lama tidak dilanjutkan. Mungkin tidak rutin tetapi author akan usahakan up ya.❤
__ADS_1
Terima kasih juga buat pembaca author yang sudah sekian lama menunggu. Aku sayang kalian ❤
Ig:@Salika_joy