
“Kau bisa menilai ku dari sikap ku bagaimana memperlakukan seorang wanita, baik itu ibu ku maupun istri ku. Jika kau menilai ku baik, itu sangat salah. Aku memang memperlakukan ibu ku dengan sangat baik tetapi tidak pada istri ku. Aku tidak menyakiti fisiknya, melainkan aku menyakiti hatinya.”
-Andri
Keisha:
Bagaskara Group.
Plang nama itu tertera sangat besar di salah satu gedung yang menjulang lumayan tinggi, mungkin ada 20 tingkat. Aku tersenyum puas, ini lah hasil kerja keras Andri selama ini dan telah membuah kan hasil yang sangat baik. Walaupun begitu, aku tidak henti berdoa agar Andri selalu sukses dan lancar dalam pekerjaannya.
Selain itu, aku selalu berdoa agar Andri diberi kesehatan agar ia selalu bersama ku hingga tua nanti. Aku selalu menunggu momen dimana rambut kami berdua sepenuh nya memutih, wajah ku dan wajah nya menampilkan garis kerut dimana-mana. Tetapi kami selalu bersama, menggenggam tangan erat satu sama lain. Aku selalu memimpikan momen itu dan semoga itu benar-benar terjadi.
Sungguh beruntung aku bisa memiliki Andri, dia menjadi kan aku wanita yang selalu ada dihati nya dan menerima kekurangan yang aku miliki. Ini lah yang membuat aku berdoa untuk dia tanpa henti.
Senyuman ku sangat mengembang lalu aku melangkah kan kaki ku masuk ke dalam kantornya. Saat didalam kantor pun, semua karyawan Andri tersenyum sangat sopan dan sesekali setengah membungkuk kepada ku. Inilah resiko menjadi seorang istri bos dihormati dimanapun.
Padahal aku tidak membutuhkan itu semua, karena layak nya kami ini semua sama. Sama-sama manusia yang menghormati satu sama lain dan sama-sama menghargai satu sama lain tanpa harus melihat status apapun.
Disaat aku berjalan menuju ke lift, aku melihat Vania yang berjalan menuju ke lift juga. Aku tersenyum dan menghampiri nya, lalu aku menepuk pundak nya “Vania,” Vania pun berbalik. Wajah nya setengah terkejut lalu dinetralkan dengan senyuman. Hahaha, dia kaget karena istri bos sudah membuat ia terkejut seperti ini.
“Eehh, b—bu,” ia menundukkan kepalanya lalu mendongak, tanda menghormati ku.
“Kamu habis dari mana Van?” tanya ku penasaran, karena saat ini posisi kami ada di lantai dasar
.
“Ahh itu, saya habis dari kafe, ” jawab nya singkat, mungkin karena dia segan kepadaku hingga menjawab seadanya. Biasanya dia banyak bertanya jika berada didekat ku, tetapi akhir-akhir ini dia bicara hanya seperlu nya.
__ADS_1
“Ohh dari kafe, sama siapa? Seperti nya kamu sendiri aja,”
Ting!
Lift terbuka “Ayo bu, kita masuk dulu”, aku mengangguk kecil lalu kami berdua masuk ke lift bersama.
“Hemm, tadi saya sama Kania bu,”
“Oh sama Kania, lalu Kania nya kemana kok gak sama kamu?” ahh, apa aku sudah membuat Vania tidak nyaman dengan pertanyaan ku hingga membuat dia terdiam cukup lama. Tetapi bukannya itu pertanyaan yang sangat lumrah bukan untuk ditanyakan? Kenapa seperti nya ia berfikir sangat keras dalam pertanyaan ku barusan.
Vania menghela nafas pelan, cukup bisa didengar di telinga ku “Saya juga kurang tau bu, pas saya menghampiri pelayan untuk meminta sesuatu. Dia tiba-tiba pergi, mungkin dia ada urusan mendadak. Jadi saya ditinggal deh, heheh,” Vania terkekeh, sangat manis ku fikir.
Melihat visual karyawan Andri di kantor, membuat aku sedikit minder dengan penampilan ku. Apakah aku masih cantik? Apakah Andri masih suka dengan penampilan ku walau hanya begini-begini saja? Apa aku harus mempercantik diri agar Andri selalu terpesona dengan ku? Atau apakah Andri akan tergoda dengan wanita disini. Seketika fikiran ku itu bergelayut di otak ku.
“Bu?” panggil Vania, aku pun tersentak dari lamunan ku.
“Ibu gak papa?” aku tersenyum lalu menggeleng “Gak papa kok Van.”
“Ohh, kirain ibu lagi sakit. Kalau sakit nanti saya ambilin obat di ruangan saya, gimana bu? ”
“Ahh enggak kok, aku juga gak papa.” aku tersenyum semanis mungkin, agar ia percaya dengan kata-kata ku bahwa aku memang baik-baik saja.
“Hem baik lah bu, kalau ada apa-apa hubungi saya saja ya bu,” pinta Vania lalu diikut anggukan oleh ku.
Inilah yang membuat aku mengangkat Vania menjadi kepercayaan ku. Karena setiap kata-kata nya, aku percaya bahwa tidak ada unsur bohong didalam nya.
Kami berdua terdiam di dalam lift, hingga lift terbuka dan kami sampai di lantai yang sama. Aku dan Vania pun berpamitan karena posisi ruangan yang kami tuju berbeda. Aku berjalan menuju ke ruangan Andri sambil memegang rantang yang ku jinjing.
__ADS_1
Aku tersenyum melihat rantang itu, karena aku yakin Andri pasti akan senang melihat aku datang ke kantor nya dengan tiba-tiba lalu memberi kejutan melewati makanan yang ia suka. Aku sangat yakin itu.
Saat aku sampai di depan ruangannya, aku memutar knop. Senyuman ku yang awal nya mengembang menjadi memudar disaat aku melihat apa yang seharusnya tak ku lihat. Aku cukup lama terbengong dan terpaku. Bahkan aku sangat terkejut dengan pemandangan yang ada didepan ku ini, bagaimana ini bisa terjadi?
Barang Andri berserakan dimana-mana, hancur dan berantakan. Seorang OB sedang membersihkannya dengan perlahan, sesekali memilih barang yang penting dan rusak untuk dibedakan. Ia tidak menyadari keberadaan ku disini, sebenarnya kenapa bisa ruangan Andri bisa seperti ini. Apa yang sudah terjadi?
“Permisi,” ucap ku membuat OB itu tersentak, lalu berdiri.
“Ehh, iya bu,” jawab nya sopan.
Aku melihat setiap sisi ruangan Andri “Ini kenapa bisa begini? Sebenarnya apa yang sudah terjadi?”
OB itu pun mengikuti pandangan ku “Saya juga kurang tau bu, pas saya masuk kedalam ruangan nya sudah begini. Barang-barang sudah hancur berantakan,” jelas nya singkat.
“Lalu, dimana Andri sekarang?” tanya ku cepat.
Terlihat OB itu menggeleng dengan cepat.
“Saya juga kurang tau bu dimana Pak Andri, setau sekretarisnya Pak Andri pergi keluar dari kantor dengan tangan yang sudah bersimbah darah.”
Degh!
Jatung ku berhenti detak saat itu juga, bersimbah darah? Andri luka? Benarkah? Rantang yang ku pegang pun jatuh begitu saja karena keterkejutan ku. Aku bergegas keluar dari ruangan Andri lalu mencoba menghubungi Andri.
“Mas, angkat lah. Kumohon angkat, kamu ada dimana sekarang?” berkali-kali aku menghubungi Andri tetapi telpon ku tidak diangkat sama sekali. Aku semakin khawatir dengan Andri sekarang, sebenarnya apa yang terjadi pada suami ku? Kenapa ruangan dia berantakan seperti tadi? Lalu, kenapa tangan nya bisa luka?
Aku harus menemukannya, bagaimana pun juga aku harus bertemu dengan dia. Aku takut dia kenapa-kenapa, aku khawatir dengannya. Andri, kenapa bisa seperti ini? Tau kah dia kalau aku disini sedang mengkhawatirkannya? Semoga saja dia baik-baik saja.
__ADS_1