
“Kau hadir memberikan cinta sekaligus memberikan luka yang tidak pernah ada kata habisnya.”
-Keisha
Kania:
Beberapa kali aku melihat jam arloji ku, hampir jam 10 tetapi Andri belum datang sama sekali. Kegelisahan ku semakin meraja lela karena Andri tidak bisa di hubungi, sedari tadi aku terus mondar-mandir kesana kemari berusaha menghilangkan kegelisahan ku ini.
Aku menghela nafas kasar “Mas Andri kemana sih?! Kok lama banget, apa dia berusaha kabur dari ku? Apa dia ingin membatalkan keberangkatan ke Paris? Biar pernikahan ini tidak terjadi?” beberapa asumsi negatif memenuhi fikiran ku.
“Ahh gak mungkin! Mana mungkin Mas Andri begitu, dia sudah berjanji pada ku ingin menikahi ku di Paris. Mana mungkin saat-saat seperti ini, ia mengingkari janjinya. Aku yakin Mas Andri akan menepati janji nya itu.”
Iya, aku berusahha meyakinkan diri ku sendiri. Aku yakin Andri tidak mungkin membatalkan semua yang sudah direncakan jauh-jauh hari, aku sangat yakin bahwa ia memenuhi janji nya itu. Tetapi tetap saja, sekuat apapun aku berusaha meyakinkan diriku aku selalu berfikiran yang tidak-tidak.
Kepala ku terus mendongak melihat pintu bandara, apakah ia sudah datang atau belum. Astaga, bagaimana ini. Jadwal pesawat aku dengan Andri sebentar lagi dan ia belum datang juga. Ayo lah Mas, cepat lah.
Saat aku gelisah sendiri, saat itu lah seseorang menepuk bahu ku dari belakang. Aku pun langsung saja berbalik dan melihat wajah tampan itu sedang tersenyum kepada ku.
“Mas!” pekik ku dengan kesal.
Ia menyengir “Hehehe, maaf ya Mas telat.” Aku hanya bisa menghela nafas pelan lalu memeluk Andri.
“Kamu tau Mas, tadi aku gelisah banget. Aku mengira jika Mas membatalkan keberangkatan kita ke Paris, aku mengira Mas kabur agar pernikahan ini tidak terjadi.”
Andri menguraikan pelukan ku, aku hanya bisa menatap nya heran lalu ia langsung menyentil dahi ku “Akh!” refleks saja aku kaget dengan sikap nya yang tiba-tiba.
“Jangan berfikiran yang macam-macam, Mas gak mungkin melakukan hal itu. Karena Mas sudah berjanji kepada mu akan menikahi mu, masa Mas membatalkan rencana yang sudah kita rencanakan jauh-jauh hari?”
__ADS_1
Aku hanya bisa memajukan bibir ku beberapa senti. “Yahh, kan mau bagaimana lagi Mas. Namanya juga fikiran itu datang sendiri, soalnya Mas juga datang lama banget. Aku takut kita ketinggalan pesawat,”
“Tadi Keisha ingin ikut Mas ke bandara,” seketika mendengar perkataan Andri membuat tenggorokan ku tercekat.
Keisha ingin ikut bandara? Maksud nya ingin ikut mengantar Andri ke bandara? Aku pun langsung celingak-celinguk melihat kesana kemari apakah ada Keisha ada disini atau tidak. Kalau ada, aku harus kabur secepat nya.
“Hahaha, Keisha gak ada disini,” aku langsung melihat Andri “Aku sudah larang dia untuk tidak mengantarku, makanya tadi agak lama. Keisha ingin terus ikut dengan ku.”
Aku menghela nafas “Kirain, hehehehe.”
“Kamu sudah chek-in ?” aku mengangguk sambil menunjukkan kedua tiket nya.
“Bentar lagi pesawat nya mendarat, kita udah harus siap-siap ke dalam.”
“Hem gitu, yaudah, Ayo!” ia menarik koper nya, aku tersenyum lalu mengangguk dan menarik juga koper ku. Kini, aku dan Andri sedang bergenggaman tangan satu sama lain menuju ke Paris.
Kita berdua akan datang ke kota romantis itu, dimana kota itu akan mengukir sejarah yang sangat terindah dan mengenang sebuah cerita yang sangat aku bisa abadikan untuk selama-lama nya hingga ke anak dan cucuku. Paris, i’m coming.
“Apaa?! Andri ke Paris? Bagaimana bisa dia ke Paris? Sedangkan dia tidak memberi tau kita sebelumnya!” semburat wajah ibu mertua ku tampak sangat merah, aku tau saat ini ia sedang sangat marah.
Setelah kepergian Andri ke bandara, aku langsung pergi ke rumah ibu untuk memberitahukan tentang ini kepada nya. Tetapi semua di luar dugaan ku, ibu malah marah karena kepergian Andri ke Paris tanpa memberi aku dan ibu jauh-jauh hari.
Memang sih, siapapun pasti akan kecewa karena tidak diberitahukan tentang ini. Bahkan tadi pagi aku sempat berfikiran negatif dengannya karena ia mendadak meminta aku mengemasi pakaiannya itu. Ia juga tidak memberi tau ku sebelum itu dan malah mendadak akan pergi ke Paris pas saat hari itu juga.
Aku hanya bisa menunduk melihat kemarahan ibu, ia mengusap wajah nya lalu istigfar berkali-kali “Dia gak bilang ke kamu Kei ada urusan apa di Paris?”
Aku menggeleng pelan “Mungkin urusan pekerjaannya bu,”
__ADS_1
“Gak mungkin urusan pekerjaan hingga tidak memberi tau mu, memang mana yang lebih penting? Keluarga atau pekerjaan?” ibu memberi kan pertanyaan yang cukup tegas di telinga ku.
“Keluarga.” Jawab ku pelan.
“Itu kamu sudah tau, lalu kenapa Andri seolah-olah tidak mementingkan keluarga dan malah mementingkan pekerjaannya. Kalau memang dia ke Paris, seharusnya dia memberi tau kamu dan ibu jauh-jauh hari.”
Aku hanya bisa diam mendengarkan ibu berbicara. Ternyata ibu sama dengan kesal nya juga seperti ku.
Terdengar helaan nafas yang keluar dari mulut ibu “Ya sudah lah, tidak apa-apa. Toh, orang nya juga sudah pergi ke Paris. Nanti ibu akan ajak Andri ketemuan sesampai di Paris sama Andika juga,”
Aku mendongak “Sesampai disana kasi tau Kei ya bu.”
Ibu mengelus hijab ku lalu tersenyum “Iya nak.”
“Jaga diri kamu baik-baik ya selama ibu berada di Paris, kamu bakal sendiri disini. Kalau mau, suruh Vania nginap di rumah biar kamu gak sendiri,” ujar nya lagi. Aku hanya bisa tersenyum mendengar perkataan ibu, disaat seperti ini ibu masih saja memperhatikan aku. Padahal aku sudah dewasa dan bisa menjaga diri ku sendiri, tetapi ibu memperhatikan aku lebih daripada anak nya sendiri.
“Iya bu, lagian Keisha juga sibuk dengan konsultasi sama Dokter bu, jadi bisa di bilang ada kesibukan walau hanya sebentar.” Ya, aku masih ingat kalau hari ini aku ada konsultasi dengan Haikal jam tiga sore. Itu berarti aku akan bertemu dengan dia lagi, pria yang pernah mengajak ku ta’aruf lalu ku batalkan karena aku sudah menerima lamaran dari Andri.
“Iya bagus itu, kamu fokus sama konsultasi mu itu. Siapa tau dengan usaha mu yang sejauh ini membuat Allah bisa memberikan keturunan untuk mu dan Andri,”
“Aamiin bu, doakan saja yang terbaik untuk ku dan Mas Andri.”
“Ibu selalu mendoakan yang terbaik buat mu dan Andri, nak.”
Aku tersenyum lalu meraih tubuh ibu dan memeluk nya “Terima kasih bu,” ibu hanya bisa mengelus punggung ku dengan pelan.
“Sama-sama nak.”
__ADS_1
Apapun itu, aku akan terus berusaha, berjuang, berdoa dan pasrah dengan ketentuan yang sudah Allah berikan kepadaku. Seperti peribahasa, biar lah aku bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian.
Selain itu juga tercantum di QS. AL BAQARAH 286, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” Dan aku, aku masih sanggup untuk melakukannya.