Simpanan

Simpanan
-Renggang dan Tatapan-


__ADS_3

"Hidup tidak ada yang namanya lurus saja, pasti ada yang berkelok-kelok bahkan lebih parah nya lagi itu ada tanjakan dan lubang yang sangat besar. Walaupun sudah seperti itu, kita sebagai peran didalamnya harus menghadapi nya atau kita akan memilih mundur saja dan terjebak didalam nya.”


-Vania


Vania:


Ku percepatkan langkah ku menuju ke Bagaskara Group, hari ini aku kesiangan akibat semalam lembur mengerjakan bahan presentasi untuk hari ini. Akibat nya aku hanya tidur dua jam saja dan membuat aku bangun kesiangan, untung saja aku tidak sampai telat hanya tinggal lima menit saja untuk mencapai jam tujuh.


Aku tidak tau kenapa bos ku itu menyuruhku membuat bahan presentasi dadakan begini, apalagi ia menyuruh kemarin dan menggunakannya hari ini. Menurutku, semua ini membuat aku frustasi mengerjakannya. Iya sih, aku ini memang kepercayaan Andri juga di kantor. Kalau ada tugas seperti ini, aku lah yang akan mengurus semuanya.


Tetapi kalau sudah seperti ini menurutku terlalu tergesa-gesa, apalagi Andri memperpadat semua jadwalnya. Terbukti dari keluhan dari sekretarisnya sewaktu aku tidak sengaja mendengar nya saat berada di kantin.


Ia mengeluh karena harus mengulang semua jadwal Andri dari A hingga ke Z. Belum lagi ia harus menelpon kesana kemari untuk menentukan jadwal pertemuan Andri dengan klien. Ahh, untung saja aku gak diangkat menjadi sekretaris nya.


Mungkin saat ini aku sudah menangis meraung-raung karena ketidaksanggupan ku dengan dadakan seperti ini. Ini saja sudah membuat aku frustasi sendiri, aku tidak membayangkan bagaimana frustasinya sekretaris Andri. Aku berfikir pasti setelah ini sekretarisnya memilih resign, heheheh.


Aku berjalan sambil mengobok-ngobok tas ku bermaksud untuk mencari ponsel ku dimana terselip dengan barang didalamnya. Saat ponsel sudah berada di tanganku, langkah kaki ku langsung terhenti begitu saja ketika melihat Kania keluar dari mobil Andri. Aku melihat pemandangan yang membuat perut ku melilit dengan lumayan kuat dan terasa menyakitkan.


Langsung saja aku mengalihkan pandanganku agar aku tidak melihat pemandangan ini lagi, aku tidak ingin kefikiran dengan hubungan terlarang ini. Dengan kecepatan kilat, aku berlari masuk kedalam kantor.


Aku tidak perduli dengan anggapan orang lain melihat aku berlari seperti pencuri, yang terpenting aku tidak melihat pemandangan tadi, ini membuat rasa bersalahku kepada Keisha kembali bergejolak.

__ADS_1


Kania:


Tentu saja.


Aku melihat Vania berlari masuk kedalam kantor, aku tau seperti nya ia sedang menghindari ku. Semenjak insiden dimana ia pingsan di apartemen ku, semenjak itu lah komunikasi ku menjadi semakin berkurang dengannya. Ia seperti menjauhi ku, tetapi ia akan bersikap profesional jika dalam pekerjaan.


Ia mengurus semua apa yang ku butuhkan dikantor. Tidak apa, aku memakluminya kok dia seperti itu apabila di luar. Mungkin, dia sedang butuh waktu dengan apa yang sudah terjadi padaku.


Menurutku, tiga tahun bukan lah waktu yang sebentar untuk melupakan sesuatu yang sudah terjadi. Tiga tahun cukup membuat seseorang tertekan karena mengingat yang seharusnya tidak perlu diingat oleh orang tersebut. Dan seperti itu lah Vania sekarang, aku tidak benci, tidak marah, dan pula tidak kesal. Aku menerima nya ia seperti itu, mungkin kalau aku di posisi dia aku juga akan bersikap seperti itu.


Kalau bisa aku memblokir semua kontak yang aku punya, tetapi Vania tidak begitu. Dia tetap menyimpan kontak ku walaupun aku dengan dia sudah renggang. Aku tau, dia renggang karena aku masih berurusan dengan masalah ini. Malah masalah ini membuat aku semakin jauh.


Ya, masalah apa lagi kalau bukan masalah dengan pria yang ada di hadapan ku ini yang sedang tersenyum menghampiri ku dengan setelan jasnya yang super waw. Membuat kedua mata ku tidak lepas dari tampilannya yang sangat memukau bagiku.


Kini, aku berjalan berdampingan bersama Andri dengan langkah kaki yang sengaja aku samakan. Aku hanya bisa tersenyum sendiri melihatnya.


Saat kita berdua masuk ke dalam kantor, cukup menyita perhatian sih menurutku tetapi aku tidak perduli. Toh, aku dan Andri hanya berjalan bersama bukan sambil berpegangan tangan.


Aku hanya melirik Andri yang sedang berjalan dengan santai, astaga, kenapa dia bisa sesantai ini sedangkan didalam hati ku sudah ketakutan setengah mati. Kami pun berjalan menuju ke lift, hanya ada kita berdua saja di lift itu. Langsung saja aku memegang dadaku sambil menghela nafas lega, Andri yang melihat nya hanya mengerutkan kening nya.


“Ada apa Kan? Kamu sakit?” tanya nya dengan suara panik.

__ADS_1


Hahaha, Andri jika begini membuat aku semakin jatuh cinta kepadanya dan membuat aku semakin takut akan kehilangannya. Aku pun hanya bisa menyengir ke Andri.


“Heheh, aku gak papa kok Mas. Tadi aku hanya takut aja,”


“Takut? Takut kenapa?” tanya nya dengan wajah yang sedikit penasaran.


“Tadi pas kita berjalan berdua, banyak banget karyawan yang lihat kita Mas. Aku takut sama tanggapan mereka ke kita, nanti kalau ketahuan gimana dong?” memang benar, tadi sewaktu berjalan aku sangat takut.


Tetapi melihat Andri yang terlihat tenang membuat aku heran, apa dia tidak perduli dengan tatapan karyawannya? Sedangkan aku saja sudah takut sangat luar biasa.


Memang seperti ini jadi nya, jika membuat kesalahan walaupun itu tidak terlihat, apabila berada di lingkungan masyarakat pasti akan merasa ketakutan yang sangat luar biasa. Seperti aku lah saat ini.


“Mas, Mas gak takut?”


Andri hanya tersenyum lalu menggeleng “Buat apa Mas takut, santai aja. Gak usah perduli dengan tanggapan orang lain Kan, gak akan pernah selesai kalau kamu selalu menanggapi perkataan orang luar sana. Bawa santai saja biarkan mereka melakukan semaunya, toh, mereka tidak memberi mu makan kan? Jadi, gak usah difikirkan ya. Biarkan saja, ini hidup mu biarkan kamu yang menjalaninya dan jangan biarkan orang yang mengendalikan hidupmu. Oke?”


Aku terdiam mendengar nasihat yang Andri berikan kepadaku, terbilang masuk akal sih dengan apa yang ia katakan. Kenapa aku tidak berfikir itu sejak awal ya? Seharusnya aku tidak perlu memikirkan nya dan tidak perlu perduli dengan itu semua.


“Benar kata mu Mas, seharusnya aku tidak perduli dengan itu semua. Heheh, makasih ya Mas atas nasihat nya,” Andri hanya tersenyum.


“Kalau terjadi sesuatu kasi tau Mas ya, biar Mas kasi solusi nya ke kamu,”

__ADS_1


“Iya Mas.”


Aku dan Andri pun melihat ke depan, berusaha fokus. Walaupun kami berada di lift, kami tidak akan bisa sembarangan untuk bermesraan. Karena didalam lift ada CCTV yang memantau gerak-gerik kami. Aku tidak mau kesalahan sedikit saja membuat image ku dan Andri seketika buruk karena rekaman CCTV.


__ADS_2