
“Setia? Kurasa itu hanya omong kosong belaka. Aku tidak percaya dengan yang namanya setia. Karena setia hanya membuat aku tersiksa.”
-Andri-
Keisha:
“Sudahlah, kamu jangan cari tau kenapa ibu bisa seperti itu. Kalau ibu bilang kangen ya kangen,” ucap Andri lagi lalu berlalu dari hadapan ku yang sedag masuk kedalam kamar.
Kedua mataku terasa memanas mendengar bicaranya yang sedikit meninggi kepadaku. Ini bukan Andri yang kukenal. Andri yang kukenal tidak mungkin berbicara seperti ini kepadaku. Bahkan seumur hidup untuk meninggikan suaranya saja ia tidak pernah melakukannya.
Namun sekarang apa? untuk seumur hidupku dan untuk pertama kalinya ia meninggikan suaranya kepadaku dengan ekspresi benar-benar marah kepadaku.
Jika pun ia marah, ia tidak akan seperti ini. Aku kenal Andri, aku sangat kenal ia. Tidak mungkin ia meluapkan emosinya begitu saja kepadaku.
Apa Andri benar-benar berubah?
Apa ia tidak seperti Andri yang kukenal dulu?
Kenapa?
Kenapa rasanya menyakitkan ini?
Kenapa rasanya sangat perih melihat orang yang dicintai bersikap ini kepada kita?
Kenapa?
Dan inilah yang kutakutkan pun akhirnya terjadi.
Suamiku, benar-benar berubah.
Bahkan aku hampir tidak mengenal ia saat ini, karena ia bukan suamiku yang dulu.
...
...
...
Semenjak kejadian tadi siang, Andri sama sekali tidak keluar dari kamarnya. Bahkan aku tidak berniat untuk masuk kedalam kamar melihat bagaimana keadaannya.
Aku hanya bisa berdiam diri diruang keluarga. Hanya bisa baring diatas sofa yang empuk ini. Aku terus menguap sedari tadi, rasa kantuk terus memanggilku untuk lekas tidur. Namun, mata ini tidak ingin terpejam. Rasanya tersiksa seperti hatiku saat ini.
Bagaimana aku tidak terluka jika suamiku memperlakukan aku seperti ini untuk yang pertama kalinya.
Bahkan aku tidak menyangka jika seperti ini jadinya.
Entah kenapa rasa curigaku kepadanya semakin besar. Dari kemejanya yang ada noda hitam dan berbau seperti mascaraku, ibu yang datang secara tiba-tiba kerumah dengan tangisan yang memilukan dan ia membentakku hanya karena perihal aku menanyakan keadaan ibu yang bersikap seperti itu.
Seharusnya aku tidak memikirkannya, tetapi ini sangat menggangguku. Benar-benar menggangguku.
Memang, untuk saat ini aku sedang melakukan terapi untuk menghilangkan penyakit mandulku. Siapa tau aku bisa memiliki anak. Haikal juga mengingatkan aku untuk tidak terlalu stres dalam menanggapi suatu masalah.
Namun, jika sudah seperti bagaimana aku tidak stres. Ini benar-benar membuat aku bingung dan kehabisan akal.
Sebenarnya apa yang sudah terjadi akhir-akhir ini?
Kejadian apa yang tidak aku ketahui?
Andri:
Kania, balas!
Aku langsung melemparkan ponselku kesembarang arah. Entah, sudah berapa pesan yang kukirim kepadanya namun tidak ada balasan satu pun darinya.
Sudah sedari tadi aku berada dikamar namun tidak kunjung keluar, rasanya gelisah terus menyelimuti hatiku ini. Keisha pun tidak ada tanda-tanda ingin masuk kedalam kamar.
Itu semua karena aku.
Aku yang sudah membentaknya tadi. Ini karena emosi yang sudah mengendalikan aku. Mungkin ia sudah benci kepadaku karena aku sudah bersikap kasar untuk pertama kali kepada ia.
Agghhh!!!
Rasanya sangat menyebalkan
.
Kenapa ini harus terjadi dalam hidupku?
Satu masalah saja belum, malah ada masalah lainnya yang berdatangan membuat aku hampir frustasi memikirkannya.
Aku hanya bisa meremas rambutku dengan sangat kuat, berusaha meredakan rasa sakit dikepala ini.
Awal pernikahan ku dengan Kania tidak seindah awal pernikahan ku dengan Keisha. Rasa bahagia pernikahan dengan Kania hanya berlangsung satu hari saja, selebihnya kami dirundung masalah oleh rahasia kami yang terbongkar dengan begitu cepatnya.
Dari ibu dan Andika yang mengetahui pernikahan keduaku, Kania yang enggan ingin bertemu dengan ku dan aku membentak Keisha karena emosi yang sedang menguasaiku.
Astaga, masalah ini hampir saja membuat kepalaku pecah.
Aku menghela nafas kasar dan hendak beranjak dari kasur, tetapi ponselku berdering nyaring membuat aku sontak langsung mengambil ponselku dan melihat
.
“Hhhhhaaaaaaaaaaah!” helaan nafas kasar keluar dari mulutku.
Aku mengira jika Kania yang menghubungiku, bukan ia, melainkan Vania.
“Halo,”
“Halo Pak Andri, selamat siang.”
“Siang Van, ada apa?”
“Begini Pak, saya ingin bertanya. Kira-kira kapan ya bapak kembali masuk kerja?”
Aku menghela nafas lagi lalu mengusap wajahku, astaga, aku hampir lupa dengan pekerjaanku ini. selesai sudah hidupku jika seperti ini jadinya.
Aku pun berdehem, mengontrol emosiku yang kembali ingin meledak dan ingin menyembur amarahku ke Vania. Tapi aku berusaha meredamnya, “Secepatnya saya akan masuk Van,”
“Kapan itu Pak kalau boleh saya tau,”
“Memangnya kenapa, kamu kok jadi banyak bertanya begini?!” Suaraku pun otomatis langsung meninggi. Aku tidak bisa menahan emosiku hari ini. Benar-benar sudah tidak dapat dikendalikan lagi olehku.
__ADS_1
“Hem, maaf Pak.” Suara Vania terdengar memelan diseberang sana. Aku tau ia pasti takut karena aku sudah membentaknya seperti ini.
“Haaaaaaaaaaaaahh! Sudahlah, tidak masalah. Katakan, ada apa?”
“Begini Pak, saya perlu persetujuan bapak untuk melakukan pemotretan diluar kantor. Karena ini juga menyesuaikan tema. Kemungkinan saya harus memberikan laporan persetujuan bapak kepada pihak yang sedang ingin bekerja sama dalam minggu ini. Kalau dalam minggu ini saya tidak memberikannya, kemungkinan mereka tidak akan bekerja sama dengan perusahaan kita lagi.”
Astaga, apalagi ini. kenapa masalah kembali berdatangan lagi.
“Apa tidak bisa temanya dikantor saja? kenapa harus diluar? Bukankah mereka tau jika saya baru pulang dari Paris?”
“Saya sudah memberitahu mereka seperti itu Pak, hanya saja bulan ini mereka sedang mengejar target Pak. Jadi perlu kepastian dari kita.”
“Kemana sekretaris saya? Kenapa harus kamu yang membicarakan hal ini ke saya?”
“Sekretaris anda saat ini sangat drop Pak dan sedang dirawat dirumah sakit. Selama bapak tidak ada, pekerjaan dikantor menjadi membludak Pak.
”
Mendengar hal itu dari Vania membuat aku hanya bisa mengusap wajahku frustasi dan menghela nafas entah untuk yang keberapa kalinya.
“Oke, siapa model yang bekerja sama dengan perusahaan itu?”
“Kania, Pak.”
Kania? Batinku.
“Hem, dia.”
“Iya,”
“Apa kamu sudah beritau ia tentang ini?”
“Sudah Pak.”
“Apa katanya?”
“Setuju saja Pak, lagian banyak juga pemotretan yang sedang menanti ia dan perlu dilakukan secepatnya agar bisa menyusul pemotretan diluar ini.”
“Hem, baiklah kalau begitu. Besok saya akan kekantor, kamu tunggu saja diruangan saya.”
“Baik, Pak.”
“Ada lagi?”
“Hem, Pak.”
“Apa?”
“Tapi tema pemotretan ini, ada dua model Pak.”
“Maksudnya?”
“Kania berkolaborasi dengan model yang bekerja sama dengan kita.”
“Yasudah, tidak masalah. Memangnya kenapa?”
“Pria, Pak.”
“Modelnya pria,”
“...”
Aku langsung terdiam mendengar perkataan Vania.
Kania akan melakukan pemotretan dengan seorang model laki-laki?
Yang benar saja!!!
Baru saja ia menjadi istriku dan ia akan melakukan pemotretan dengan laki-laki lain? apalagi aku sebagai suaminya belum menyentuh ia sama sekali dan sekarang ia bakal disentuh oleh laki-laki lain?
Oh tidak bisa ini!
“Pak?"
“Ha?” aku tersentak dari lamunanku.
“Bagaimana?”
“Apa Kania tidak bisa sendiri saja? Kenapa harus dengan model pria?”
“Ini sudah terdapat dikontrak Pak, apa bapak tidak membaca kontrak itu sebelum menandatangani nya?”
Habis sudah hidupku, lengkap sudah.
Akibat sifatku yang terburu-buru, aku telah membuat lembah jurang sendiri.
“Apa tidak bisa diubah Van?” tanyaku yang sudah mulai frustasi.
Pria mana yang membiarkan wanitanya berfoto manis dengan pria lain lalu dicetak dan dibagikan untuk konsumsi publik. Sudah pasti tidak akan ada yang rela. Sudah pasti itu. Bahkan aku saja begitu.
Aku benar-benar tidak bisa membedakan mana soal perasaan dan mana soal pekerjaan. Aku mencampuri semua itu menjadi satu. Dan aku sudah pasti dicap sebagai tidak profesional dalam pekerjaanku.
“Hem, sebenarnya bisa sih Pak,”
“Benarkah?” tanyaku dengan semangat.
“Iya,”
“Apa itu?”
“Ya tergantung jawaban dari Kania sendiri Pak. Apa ia menerima melakukan pemotretan dengan model pria atau tidak. Itu semua tergantung dari Kania yang menjalani pemotretan ini Pak.”
Aku menahan nafasku, sambil berdoa didalam hati dan berharap. Semoga wanitaku itu menolak tawaran ini. ia pasti akan menolak, aku yakin itu. Karena Kania bakal menjaga perasaanku dengan tidak membuat aku cemburu. Sangat yakin.
“Hem baiklah kalau begitu. Besok, kamu dan Kania langsung keruangan saya saja untuk membicarakan ini.”
“Baik Pak!”
“Sudah?”
“Sudah Pak, terima kasih Pak.”
__ADS_1
“Hem,”
Aku menekan tombol mengakhiri panggilanku dengan Vania. Dan kembali menghempaskan tubuhku keatas kasur itu.
Bebanku bertambah lagi menjadi satu. Apa ini hukuman yang sedang Tuhan berikan kepadaku atau cobaan yang sedang menguji kesabaranku?
Kurasa ini hukuman, tidak mungkin manusia sehina aku diberikan ujian. Karena aku sudah melakukan kesalahan yang sudah tidak patut untuk dimaafkan oleh siapapun. Bahkan ibuku sendiri saja sudah tidak bisa memaafkan perbuatan yang sudah kulakukan ini.
Vania:
Aku tak bergeming dan melihat ponsel yang masih berada digenggaman tanganku ini. Rasanya benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja kurasakan.
Andri dan Kania benar-benar sudah menikah?
Aku sudah sangat yakin jika Andri bakal tidak setuju jika Kania melakukan pemotretan dengan model lain. Aku sudah menebak sebelum menghubungi ia.
Bukti demi bukti yang kulihat dari semalam hingga sekarang membuat keyakinan ku semakin kuat bahwa mereka berdua benar melakukan perbuatan hingga sejauh ini.
Berarti mereka melangsungkan pernikahan di Paris?
Pantas saja aku merasakan kejanggalan diantara mereka berdua, ketika mereka dengan giatnya melakukan pekerjaan dengan sangat padat.
Andri memang akan ke Paris begitu pun dengan Kania. Tetapi aku sama sekali tidak mengkaitkan mereka berdua bahwa mereka ke Paris hanya untuk melangsungkan pernikahannya disana.
Tubuhku seakan turut lemas menghubungkan semua kejadian-kejadian yang aku ketahui. Aku hanya bisa terduduk disofa dengan kedua mata yang menatap lurus kedepan. Fikiranku benar-benar kosong.
Sangat kosong.
Kenapa?
Aku ingin menjauh dari hal-hal seperti ini, tetapi aku malah terjebak didalamnya. Bukan aku tidak ingin mencampuri urusan ini, melainkan aku memiliki rasa bersalah yang sangat besar terhadap Keisha yang sudah membantuku dalam mencari pekerjaan dan memasukkan aku ke perusahaan Bagaskara Group.
Dia sudah melakukan hal yang sangat besar kepadaku tetapi aku tidak bisa membalas budi kebaikan yang Keisha berikan kepadaku.
Dan aku, malah menutupi semua skandal suami dan temannya yang mereka lakukan dibelakang Keisha.
Orang macam apa aku ini?
Aku malah membiarkan semua ini terjadi. Aku malah membiarkan mereka melangkah jauh dalam menjalani hubungan yang terlarang ini.
Aku sudah berniat menjauh dari masalah ini, tetapi kenapa aku malah tidak bisa?
Kenapa seakan-akan Tuhan membiarkan aku mengikuti masalah ini mengenai diriku. Bukankah ini terlalu keji? Aku tidak melakukan ini semua tetapi aku turut menderita atas semua ini.
Aku benar-benar frustasi memikirkannya.
Sangat frustasi.
Keisha:
Daripada aku hanya berdiam diri saja diruang keluarga dan tidak ada tanda-tanda untuk tidur. Aku pun beranjak dan berjalan menuju ruang dimana mesin cuci berada. Aku hendak mencuci pakaian yang belum tadi aku cuci karena kedatangan ibu.
Rasanya hari ini aku sangat malas melakukan aktivitas apapun. Sikap Andri yang begitu membuat aku menjadi uring-uringan seperti ini.
Namun, jika aku terus seperti ini, pekerjaan rumah tidak akan ada yang beres satu pun. Biarlah, aku menahan sakit dihati akibat Andri. Mungkin dia ada masalah dikantornya hingga melampiaskan kemarahanya itu kepadaku.
Tidak masalah, aku akan menerimanya.
Tetapi dilubuk hatiku yang paling dalam, aku tidak menerima perlakuannya itu. Karena selama ini suamiku tidak seperti ini.
Ya Allah, kenapa hatiku rasanya sakit sekali jika mengingat kejadian tadi. Rasanya air mataku ingin meledak-ledak keluar.
Baru seperti ini, rasanya menyakitkan.
Aku tidak bisa membayangkan kejadian diluar sana. Membayangkan sang suami mengkhianati sang istri dengan selingkuh atau bisa saja sang suami melakukan kekerasan kepada sang istri.
Aku tidak bisa membayangkan rasa sakit yang sang istri terima oleh perlakuan suaminya. Aku baru diginiin saja sakitnya tiada tara. Apalagi jika aku mendapatkan kejadian seperti itu.
Naudzubillah, semoga Allah selalu menjauhkan aku dalam hal-hal seperti itu. Semoga Allah selalu melindungi pernikahanku ini hingga ke Jannah-Nya. Aamiin.
Sudahlah, aku tidak ingin terlalu memikirkan hal-hal yang tidak berguna. Membuat masa pengobatanku ini berakhir tidak berguna. Biarlah, aku akan menjalankan dengan semestinya dan melakukan dengan seharusnya.
Saat aku membuka penutup mesin cuci, aku melihat kemeja Andri didalamnya. Kini, fikiranku kembali melayang dengan noda hitam yang berada dibahu kemejanya.
Aku mengambil lagi kemeja Andri dan melihat noda hitam itu lalu menciumnya. Aroma itu jelas-jelas sudah seperti aroma mascara ku. Aku sangat tau betul itu. Mascara yang pernah aku beli disalah satu mall, dan mascara itu memang paling mahal dan terbagus.
Yang membuat aku berfikir ialah, kenapa bisa aroma mascara ini menempel disini. kenapa bisa? mascara punya siapa yang berada dikemeja Andri?
“Kei,” aku tersentak kaget, melihat Andri yang berada dibelakangku.
“Iya?”
“Mas laper, mau makan. Ada makanan gak?” tanya Andri berusaha bersikap biasa saja setelah kejadian tadi.
“Ada.” jawabku singkat.
“Hm, yaudah. Mas mau makan, bisa ambilin makanan untuk Mas gak?’
“Bisa,” jawabku setenang mungkin walau hati ini entah kenapa tiba-tiba terasa sakit.
Andri pun mengangguk dan hendak berlalu dari hadapanku, “Mas.” panggilku dan ia pun terhenti.
“Iya?”
“Ini noda apa?” tanyaku sambil menjulur kemeja kehadapannya.
Ia menatap kemeja itu lalu ganti menatapku.
“Kenapa?”
“Enggak, Kei hanya bertanya saja. Gak boleh?”
“Boleh.”
“Lalu kalau boleh, jawab dong. Ini noda apa? kok nempel dikemeja Mas?”
“Itu noda pulpen Kei,” jawabnya.
Bohong!
Andri berbohong.
__ADS_1