Simpanan

Simpanan
-Sedih, cemburu, marah dan kecewa-


__ADS_3

..."Bolehkah aku mempertanyakan kesetiaan yang akan wajib kudapatkan dari seorang pasangan yang selama ini tlah menemaniku."...


...-Keisha-...


Keisha:


Tok...Tok...Tok...


"Assalamualaikum, Ibu...Ade???"


Tok...Tok...Tok...


Aku mengetuk pintu berulang kali dan memanggil ibu dan Ade. Lumayan lama aku mengetuknya. Apakah mereka tidak ada dirumah? Kenapa lama sekali untuk membuka pintu. Bahkan aku merasa rumah ini sedang sepi atau hanya perasaan ku saja?


“Ibu, Ade?” panggilku lagi.


Cklek!


Suara pintu terbuka.


Orang pertama yang kulihat ialah Ade. Senyuman tipis yang kulihat menghiasi wajah Ade. Aku pun membalas senyumannya itu.


“Waalaikumsalam Kak Kei, ayo masuk dulu Kak! Maaf lama buka pintunya, tadi aku lagi ada didapur.”


“Tidak apa-apa De. Ibu kemana ya?”


“Ibu lagi ada dikamarnya Kak, dia lagi sakit.”


Aku pun terkejut, “Sakit? Ibu sakit apa? Kok kamu gak ngabarin kakak sih!” aku bergegas langsung pergi kekamar ibu.


Didalam kamar, ibu sedang berbaring dengan mata yang terpejam. Apakah ia sedang tidur? Aku mendekatinya perlahan lalu duduk ditepi ranjang. Wajah yang terlihat lesu dan tua ini membuat hatiku merasa sakit. Entah kenapa bisa begini, aku pun tidak mengerti.


Aku meraih tangannya lalu menggenggamnya. “Ibu, ini Kei. Kei datang bu.” Aku merasakan panas saat memegang tangan ibu. Dia demam? Kenapa tiba-tiba dia jadi sakit begini?


Perlahan ibu membuka kedua matanya, “Keisha? itukah kamu nak?” ucap ibu dengan suara yang lemah.


Aku meneteskan air mata, aku merasa tidak tega melihat ibu sakit seperti ini. Kenapa ibu tiba-tiba sakit begini dan kenapa juga Ade tidak memberi tau ku jika ibu sakit.


“Ibu sakit apa? Kenapa ibu sakit? Dan kenapa juga ibu tidak memberi tau Kei.” Ucapku disela-sela tangisanku. Sesak rasanya. Kenapa sesakit ini sih?


Ada apa?


Ibu hanya tersenyum tipis. Ade yang baru saja masuk kedalam kamar melihat aku dan ibu. Langsung saja aku memarahinya.


“Kamu kenapa gak kasi tau kakak sih kalau ibu sakit? Kalau ibu kenapa-kenapa gimana? Dirumah kakak selalu mikirkan ibu De, takut terjadi sesuatu semenjak ibu datang kerumah dengan menangis seperti itu! Jangan seperti ini De! Kakak gak suka!” aku memarahi Ade.


Kemarahan ku tidak dapat terkendalikan. Terlihat wajah Ade terlihat menyesal dan menunduk. Entah itu karena ia takut atau menyesal karena perbuatannya.


Ibu semakin menggenggam tanganku, aku pun beralih melihat ibu. “Jangan memarahi adikmu Kei, dia gak salah. Seharusnya ibu lah yang patut untuk kamu salahkan. Karena ibu melarang Ade untuk memberitahu mu takut dirimu khawatir apalagi kamu lagi dalam masa pengobatan. Ibu tidak ingin mengganggu fikiran mu dan malah menambahkan beban difikiranmu Kei. Jangan marahi adikmu ya.”


Aku mengusap air mata ku lalu berucap istigfar. Kini kemarahan telah menguasai fikiranku. Aku kalap dengan emosiku. Aku bingung. Kenapa masalah terus menghantui fikiranku secara bergantian. Setelah satunya selesai satunya lagi datang. Aku pun tidak habis fikir dan merasa lelah dengan semua ini.


“Maafkan kakak De, kakak terlanjur emosi.”


“Seharusnya aku yang minta maaf sama kakak. Ade tidak memberi tau kakak tentang kesehatan ibu.”


Aku hanya bisa menghela nafas.


“Ibu sudah kedokter? Sudah minum obat?”


“Sudah Kei, sudah semua.”


“Ibu sakit apa sih? Kok bisa mendadak begini?” tanya ku lagi tanpa henti.


“Ibu hanya kecapean. Mungkin karena habis perjalanan jauh membuat ibu merasa lelah jadi sakit begini. Lagian ibu tidak apa-apa kok nak. Paling ibu hanya kecapean doang.”


“Yang bener bu?”


Ibu tersenyum lagi, “Iya Kei.” Aku menghela nafas lega mendengarnya. Takut saja terjadi apa-apa dengan ibu. Apalagi hanya ibu mertua yang masih aku punya. Selain itu sudah tidak ada lagi yang akan menyayangiku setelah ibu walau pun itu ibu mertua bukan ibu kandung.


“Mas Andri udah dikasi tau bu?”


Seketika hening. Ibu dan Ade terlihat memandang satu sama lain. entah tatapan apa itu.


“Bu?” panggilku lagi.


“Tidak Kei.”


“Kenapa?”


“Ibu tidak ingin merepotkannya dengan kondisi ibu. sudahlah, yang terpenting sekarang sudah ada Ade yang menjaga ibu. Ibu tidak perlu Andri lagi, dia pasti sangat sibuk dengan pekerjaannya. Lagian juga ibu sakit biasa.”


Aku hanya bisa diam tanpa membalas perkataan ibu lagi. Entah kenapa perasaan ku berkata jika ibu seperti tidak ingin Andri didekatnya. Kenapa? Apa ini hanya perasaan ku saja. Aku semakin percaya jika ada sesuatu yang tidak aku ketahui. Tapi itu apa? Ini semua bagaikan teka teki yang patut aku pecahkan.


Kania:


Aku langsung masuk kedalam ruanganku. Terlihat Vania yang sedang menunggu ku dengan wajah yang sedikit ingin tau. Aku langsung duduk dikursi untuk merias diriku.


"Gimana Kan? Apa kata Pak Andri?"


"Panggil asisten rias gue! Rias gue sekarang!" Perintah ku tanpa menjawab pertanyaan Vania.


"Jadi lo terima tuh kontrak?" Tebak Vania.


Aku melihat Vania dengan tatapan yang lumayan sengit. "Panggil asisten rias gue Vania!" gertak ku.


Vania pun terdiam. Ia tau jika saat ini aku tidak ingin membicarakan Andri. Ia langsung keluar dari ruanganku untuk memanggil asisten riasku. Aku melihat kepantulan kaca dan menghela nafas lelah. Memang apa salahnya dengan menerima kontrak ini? Hanya karna modelnya seorang pria? Aku tidak perduli itu. Biarpun itu Andri yang cemburu akan hal itu walaupun dia telah menjadi suamiku. Aku tidak perduli. Sungguh tidak perduli.


Selang beberapa lama asisten rias ku pun dandan dan mulai meriasku. Vania hanya melihat tanpa bertanya apapun lagi. Aku pun tidak ingin bicara apapun itu.


1 jam kemudian....


Rias ku pun telah selesai. Aku melihat kearah kaca. Tidak ada yang menarik diwajahku. Hanya tidak ada tanda-tanda kehidupan yang ada diwajahku.


"Kan," panggil Vania.


"Hem?"

__ADS_1


"Bentar lagi partner yang bakal bekerja sama lo akan datang. Lo jaga sikap ya sama dia. Karena dia kesayangan diperusahaannya. Lo baik-baik sama dia. Jangan sampai lo buat masalah dengan dia, lo tau kan apa yang bakal terjadi!"


"Tenang saja! Tanpa lo suruh gue udah mempersiapkannya kok." Alis Vania naik sebelah tanda tidak mengerti dengan perkataan ku.


Tak berselang lama orang yang dimaksud Vania pun masuk kedalam ruangan ku. Aku tetap menunduk sambil memainkan ponsel. Tidak perduli siapa itu.


"Kania," Aku tetap menunduk memainkan ponsel tanpa tau siapa yang memanggilku.


"Kanja Aletha Qirani?!"


"Ck! Apa?!!" aku mendongak dan terkejut.


"Lo????!" pekikku


"Lo ada disini? Jadi lo kerja diperusahaan ini?" tanya orang itu tidak kalah terkejutnya.


"Lo sendiri yang bakal jadi partner gue kerja?!"


Vania mendekat dan berbisik, "Siapa Kan? Kok kayaknya lo sama dia kenal banget!"


"Hans Pratama!" aku menyebut nama lengkap itu didepan orangnya.


Hans Pratama. Teman sekelas waktu aku dan dia kursus menjadi model sekaligus orang yang pernah menyatakan cintanya kepada ku. Apakah perasaannya masih sama seperti dulu?


...****...


Aku dan Hans sedang berada didepan kantor untuk melakukan pemotretan. Tidak lupa juga ada kru dan team lainnya yang ikut andil. Ada Vania juga yang sedang menemaniku.


Tunggu!!


Ada Andri juga?


Kenapa juga dia ada disini?


Tumben-tumbennya. Apa karena aku akan melakukan pemotretan dengan pria lain jadi dia ada disini? Sedang mengawasiku.


Sudahlah Kania, saat ini jangan memikirkan dia yang sudah membuat mu sakit hati dan kecewa. Saatnya kau kembali fokus pada pekerjaan mu.


Fotografer pun meminta aku dan Hans untuk bersiap-siap melakukan pemotretan. Tema yang dilakukan dalam pemotretan ialah romansa kota. Bisa ditebak aku dan Hans akan melakukan pose seperti pasangan pada umumnya. Mungkin inilah yang membuat Andri memohon kepadaku agar menolak menandatangani kontrak itu.


Jika hubungan kami sedang baik-baik saja mungkin aku akan menolak kontrak ini. Tetapi aku sudah terlanjur sakit hati dengannya. Bisa dibilang aku egois karena aku meminta pengakuan Andri agar membuat aku diakui oleh orang banyak. Bagaimana tidak aku meminta itu, karena hubungan ku dan Andri sudah diketahui oleh ibu dan adiknya.


Penghinaan yang kudapatkan dari keluarganya lah yang membuat aku menjadi terhina dan ingin menjauh dari Andri. Terkecuali jika Andri melakukan sesuatu yang membuat hatiku luluh baru aku bisa memaafkannya dan kembali lagi seperti dulu kepadanya.


“Sesi foto akan dimulai!” teriakan salah satu kru membuat lamunan ku langsung buyar.


Aku dan Hans memulai pose pertama, dimana aku dan Hans saling berhadapan. Hans tersenyum manis kearah ku. Ia menatapku dengan wajah tampannya itu. Tatapan yang diberikan Hans kepadaku sama dengan tatapan waktu dulu ia menyatakan perasannya ke aku. Tatapan itu masih sama. Apakah ia masih menyimpan perasaan kepadaku?


Aku hanya tersenyum tipis sambil melirik kearah Andri yang sedang melihat aku dan Hans yang memulai pose. Terdapat raut wajah cemburu diwajah Andri. Ia cemburu melihatku dengan Hans. Aku tidak ingin memikirkan itu, kali ini aku akan egois. Suruh siapa dia egois juga terhadapku.


“Lo kenal dia?” tanya Hans yang membuatku terkejut.


“Ha?”


“Lo kenal sama yang dilirik lo itu?”


Ternyata Hans tau arah lirikan ku kemana.


Hans terlihat menggeleng. Cukup kaget.


Bagaimana mungkin Hans tidak kenal dengan Andri. Paahal wajahnya pasti muncul dimana-dimana. Dimajalah maupun dimedia sosial.


“Jangan bilang lo kudet!”


“Apa itu kudet?”


Aku dibuat melongo oleh Hans, bagaimana mungkin ini anak tidak tau apapun. “Kurang update Hans! Bagaimana dengan mu ini. Yang gue lihat tadi itu Pak Andri Fortunio Bagaskara! Dia bos perusahaan ini dan dia lah yang menerima kerja sama dengan perusahaan lo itu!” jelasku.


“Oh ya? Ya ampun, sorry gue baru tau hari ini. Gue jarang pegang ponsel Kan, jadwal gue super sibuk dan sangat padat. Kalau pun gue pegang ponsel mungkin gue bakal sering menghubungi lo.”


Alisku terangkat sebelah, “Emang hubungannya dengan gue apa? Gak jelas lo!”


“Karena gue masih suka lo!” ucap Hans yang sangat membuat aku terkejut. Hans hanya terkekeh kecil sambil mengedipkan matanya sebelah. Memang ini anak cukup membuat aku melongo oleh tingkah dan perkataannya. Entah apakah itu serius atau hanya bercanda aku pun tidak tau.


Aku kembali melihat Andri yang masih berdiri disamping Vania. Kini wajahnya terlihat sangat marah, mungkin tadi ia melihat tingkah Hans ke aku. Mungkin saja.


Saat aku melihat Andri, ia langsung pergi meninggalkan tempat itu. Ia seperti terlihat orang marah. Aku yakin jika ia melihat itu semua. Ia cemburu melihatku dengan Hans. Kenapa aku khawatir dengan kecemburuan Andri? Padahal tadi ego ku sangat tinggi, kenapa sekarang malah hilang?


Apa karena aku benar-benar menganggap ia sebagai suamiku hingga aku mengkhawatirkan perasaannya. Astaga, apalagi ini. Kenapa aku sendiri tidak mengerti dengan apa yang aku rasakan.


Keisha:


“Hhhhhhhhaaaaaahh! Hari yang sangat melelahkan!” keluhku sambil menghela nafas berkali-kali.


Sudah hampir jam 12 siang, aku baru saja menyelesaikan yoga ku. Tadi aku terlambat untuk latihan karena aku masih menyuapi ibu makan dan memberi ia minum obat. Setidaknya aku ingin merawat ia disela-sela perjuangan ku ini. Aku tidak ingin ia sakit. Aku ingin ia selalu sehat dan melihat bahwa aku bisa melawan ini semua ini dan memperjuangkan status ku. Bahwa aku bisa menjadi seorang ibu dan bisa memberi ia cucu walaupun itu telat.


Sedari tadi aku berada didalam mobil perjalanan menuju pulang kerumah. Tetapi sedari tadi aku hanya memajukan mobilku beberapa km saja. Karena hari ini sangat macet tidak terkendali. Mungkin karena jam istirahat, semua orang pada keluar untuk membeli makanan dan minuman. Aku salah memilih jam. Jadi seperti inilah, aku pun ikut terjebak macet.


Aku pun memutuskan menghentikan mobilku disalah satu cafe. Jika menunggu seperti ini sampai kapan. Paling jam 1 macetnya akan berkurang, bisa-bisa aku kelaparan sewaktu dimobil.


Aku masuk kedalam cafe dan memesan lalu aku duduk didekat jendela yang menampakkan aktifitas semua orang diluar sana. Tiba-tiba aku kefikiran Andri. Apakah dia sudah makan siang? Securiga apapun aku dengannya tetapi rasa sayang dan khawatirku lebih besar terhadapnya. Karena dari awal aku berprinsip bahwa aku boleh curiga kepada siapapun tetapi aku tidak boleh menuduhnya tanpa bukti. Karena jika dugaan itu salah, aku pasti akan sangat menyesal dan berdosa. Aku tidak ingin terlalu gegabah. Apalagi ini suamiku, dosa ku sangat besar jika aku sampai melakukannya.


Aku meraih ponselku didalam tas jinjingku. Saat dapat, aku langsung menghubungi Andri. Terdapat nada sambung namun tidak diangkatnya. Berkali-kali aku menghubunginya hasil pun tetap sama. Mungkin dia memang sibuk, sebaiknya aku mengirim pesan kepadanya.


Mas Andri, jangan lupa makan ya. Maaf aku gak buatin kamu bekal, karena tadi pagi aku marah sama kamu. Aku harap kamu makan yang baik diluar. Besok, aku akan buatin kamu bekal dengan makanan kesukaan kamu, oke?


Terkirim!


Aku tersenyum melihat pesanku. Aku harap Andri membaca pesanku.


“Pesanannya kak,” aku mendongak melihat pesanan ku sudah diatur diatas meja.


“Ah, iya kak. Terima kasih ya.”


“Sama-sama kak.” Pelayan itu tersenyum lalu pergi.


Es greentea dan sepotong cheesecake diatas meja langsung membuat aku menyicipinya tanpa ampun. Aku sudah kehausan dan kelaparan. Hahaha, sudah seperti orang musafir saja diriku ini.

__ADS_1


Kling!


Tanda pesan masuk berbunyi di ponselku. Aku pun langsung memeriksa dan tertera nama suamiku dilayarnya. Ia membalas pesanku.


Iya sayang, maaf aku tidak mengangkat ponselmu tadi aku sedang rapat dan ini baru saja selesai. Kamu tidak salah kok jika kamu marah sama aku, karena ini memang murni atas kesalahan aku karena sudah membentak mu. Seharusnya aku yang meminta maaf sama kamu sudah membuat mu marah dan sudah membentak mu. Bagaimana dengan tebusnya kita makan malam? Kita makan ditempat yang kamu mau, terserah dimana. Kamu siap-siap aja, nanti aku pulang dari kantor kita langsung pergi. Oke? Mas anggap kamu setuju sayang. Kalau begitu Mas mau makan siang dulu.


Aku tersenyum membacanya merasa sangat senang dan sudah mulai membayangkan bahwa nanti malam Andri mengajak ku dinner. Sudah lama aku dengan Andri tidak dinner. Setelah kesibukan dan drama yang cukup lumayan melelahkan. Kali ini aku merasa ini terbayarkan sudah. Jika sudah seperti ini kecurigaan ku kepada Andri tidak perlu difikirkan lagi. Karena dihatiku aku merasa yakin jika dia tidak akan menyia-nyiakan diriku. Aku sangat yakin itu.


Sekali lagi aku membaca pesan itu, semuanya bagaikan mimpi. Aku hanya bisa tersenyum lagi. Senyuman ku mengembang, entah rasa ini sangat berbunga-bunga. Berkali-kali lipat rasa bahagia ini.


"Awas kesambet!"


Aku mendongak, "Haikal?"


"Lagi bahagia ya bu? Senyumannya sampai gak hilang begitu?" Ejek Haikal kepadaku.


Aku yang menyadari itu langsung mengubah ekspresiku dengan senyuman biasa. Haikal yang melihatnya pun tertawa.


"Haikal!" seru ku.


"Hahaha, maaf Keisha! Ekspresi mu lucu pas aku lihat kamu langsung ubah ekspresi secepat itu!"


Aku pun jadi malu mendengar perkataan Haikal, apakah senampak itu? Ahh siapa sih yang gak bahagia jika suami kita mengajak kita jalan dan makan malam setelah sekian purnama sibuk dengan pekerjaannya. Aku yakin itu adalah impian setiap wanita.


Haikal yang berdiri pun langsung duduk dihadapan ku. "Kamu terjebak macet juga Kal?" tanyaku.


"Iya nih. Aku habis kerumah sakit terdekat sini tiba-tiba pulang nya malah macet begini,"


"Hahaha, sama dong dengan ku."


"Emang kamu habis dari mana?"


"Aku kan yoga Kal, kok lupa sih?"


"Kok sesiang ini pulangnya?"


"Hem, yaa aku telat. Soalnya tadi aku masih mampir kerumah ibu mertua ku dulu. Dia lagi sakit."


"Ibu Andri?" tanya Haikal dan aku mengangguk "Sakit apa?"


"Hanya demam biasa kok Kal, mungkin kelelahan juga soalnya dia habis dari Paris habis ngehadiri wisuda adik ipar ku." Haikal terlihat menganggguk mengerti.


"Kapan-kapan bawa aku kerumah ibu mertuamu Kei, aku ingin ketemu sama beliau."


Aku terkejut mendengarnya, untuk apa Haikal bertemu dengan ibu Andri?


"Hahaha, ekspresi terkejut mu kelihatan sekali Kei. Dulu aku pernah bertemu dengan beliau, beliau sangat baik dan meminta maaf kepada ku karena Andri sudah berta'aruf dengan mu dan malah pilihan mu jatuh ketangan anaknya. Padahal ada aku juga yang menjalani ta'aruf denganmu."


Bibirku berbentuk bulat tanda mengerti. Aku tidak tau jika ibu mertua melakukan itu kepada Haikal. Meminta maaf kepada Haikal karena pilihan ku malah jatuh kepada anaknya? Kenapa seperti itu?


"Bagaimana Kei? Kamu mau kan membawa aku ketemu sama ibu Andri?" aku hanya bisa mengangguk kaku.


"Oh ya, ada perkembangan bagus Kei. Tadi aku kerumah sakit membahas perkembangan kamu. Kemungkinan besok kamu udah bisa dites untuk hasil apakah penyakitmu sudah hilang atau masih. Kalo masih mau tidak mau aku akan melakukan tindakan,"


"Tindakan apa Kal?"


"Ya tindakan untuk pengobatan terakhir, jika pengobatan terakhir tidak berhasil juga mau tidak mau kamu memang sudah dinyatakan mandul!"


Aku mengangguk, "Besok ya? Jam berapa?"


"Pagi! Jangan lupa berdoa Kei, semoga hasilnya bagus."


"Selalu Kal."


"Aku menantikan hari ini tiba. Aku selaku dokter dan teman mu merasa tidak tenang seperti apa hasilnya."


"Aku juga Kal, tapi aku berusaha tenang agar hasilnya bagus dan aku gak mau kefikiran itu. Aku serahkan semuanya kepada Allah."


"Good Girl!" Haikal tersenyum mantap.


Aku pun membalas senyuman itu. Ya Allah, besok aku akan melakukan tes itu. Semoga saja hasilnya baik. Aku ingin sekali punya anak. Aku ingin sekali ingin menjadi ibu. Keinginan ku hanya satu itu Ya Allah, tidak ada lagi.


......******......


Malam pun tiba...


Masih jam setengah 7 malam tapi Andri belum pulang juga padahal aku sedang menunggu sedari tadi.


Mungkin sedang macet, fikirku.


Tidak apalah, sebaiknya aku bersiap-siap saja agar nanti Andri pulang dan aku sudah siap lalu kita berangkat ke restoran yang aku mau.


Aku sudah searching restoran aku yang mau sewaktu tadi di cafe dengan bantuan Haikal. Karena dia tau tempat yang romantis dan makanan yang enak bagi pasangan seperti aku yang sudah berstatus menikah.


"Puas-puas lah untuk berdua dengan suami mu Kei. Karena jika kamu sudah punya anak, waktu kalian pasti akan terbagi untuk anak. Dan kalian tidak akan ada waktu untuk berdua. Malah sibuk mengasuh anak siang dan malam!"


Aku teringat kata-kata Haikal tadi dicafe. Memang benar dengan apa yang dikatakan itu. Aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini bersama Andri.


Aku akan menggunakan kebersamaan ini dengan baik. Makan malam yang enak dengan suasana yang romantis membuat aku selalu membayangkan itu. Aku tidak sabar menantikan itu.


Aku pun memoles alat make up ke wajah. Polesan tipis saja terlihat sederhana namun tetap memukau kulakukan diwajahku. Aku harus tampil cantik didepan Andri, suamiku.


Tidak butuh yang lama semuanya telah selesai. Saat aku menyelesaikan make up ini tiba-tiba pintu kamar terbuka, aku terkejut ternyata Andri sudah datang.


Aku tersenyum sambil menghampirinya, "Mas. Kita jadikan yang mau pergi. Aku sudah siap-siap loh, dan aku sudah milih tempat yang aku mau. Dan i-" perkataan ku terpotong oleh perkataan Andri.


"Maaf sayang, kita gak jadi pergi."


Degh!


Seketika hatiku sakit mendengarnya.


"Maaf ya, mas capek. Kapan-kapan aja ya sayang." Andri mengelus pipiku lalu berlalu pergi kekamar mandi.


Aku hanya bisa diam berdiri mematung.


Kenapa?

__ADS_1


Kenapa sesakit ini?


Aku kecewa sama Andri!


__ADS_2