Simpanan

Simpanan
-Pengakuan-


__ADS_3

...“Hubungan yang tidak sehat tidak perlu untuk dipertahankan. Jika hanya membuat menderita sang pemiliknya sebaiknya lepaskan saja daripada berakhir terluka dan merana.”...


...-Kania-...


Andri:


Saat ini pemotretan yang dilakukan Kania adalah diluar. Bertemakan dengan cuaca yang sangat cerah membuat foto yang dipotret oleh fotografer ke Kania dan Hans membuat mereka berdua seperti pasangan yang sesungguhnya.


Aku hanya bisa berdiam diri melihat itu dari jauh. Cemburu sudah jangan ditanya lagi. Sedari tadi hati ku terasa panas saat melihat momen ini. Sebenarnya aku tidak ingin melihatnya hanya saja aku merasa tidak ingin menjauh dari Kania semenjak perdebatan dengan ku dan Kania hingga memutuskan ingin bercerai dariku membuat aku tidak konsentrasi dalam bekerja.


Hingga aku selalu mengikuti Kania dan mengawasinya. Aku tau jika dia risih karena aku mengikuti ia bekerja. Tapi mau bagaimana lagi, kata cerai itu terus mengganggu ku. Bahkan aku selalu berfikir semudah itukah Kania ingin melepaskan aku. Apakah ia sudah tidak mencintaiku, secepat ini?


“Ini yang buat lo gak ingin punya anak Ndri? Lo punya istri lain tanpa sepengetahuan Keisha?”


Degh!


Jantungku seketika berhenti berdetak.


Siapa yang mengatakan itu. Aku pun langsung menoleh dan tak kalah terkejutnya aku, ternyata Haikal yang mengatakan itu.


Bagaimana mungkin dia tau jika aku menikah lagi? Siapa yang memberi tau rahasia ini? Karena setau aku hanya ibu dan Andika lah yang tau pernikahan ini.


“L-lo?!” ucapku terbata-bata.


Haikal tersenyum miring sambil menyilangkan kedua tangan didepan dada bidangnya. Aku merasa kaku dan bingung harus bagaimana karena ia sudah tau rahasia terbesarku. Apa jangan-jangan Keisha sudah mengetahuinya.


“Terkejut? Seharusnya gue yang terkejut sama perbuatan yang udah lo buat itu Andri! Dengan bermodalkan ta’aruf, lo bisa merebut Keisha dari gue! Dan sekarang lo malah mengkhianatinya dengan menikahi Kania? Ohh! Hebat sekali anda!”


“Apa maksud lo Haikal?!”


“Gue tau semua Andri! Kalo lo menikah dengan Kania. Iya kan?”


Aku hanya terdiam mendengarnya, “Seharusnya gue gak perlu heran sih saat lo ada diapartemen gue dan lo bilang gak ingin punya anak. Lo ingin punya anak Ndri, tetapi bukan dari rahim Keisha melainkan dari rahim Kania! Bukan kah begitu?”


Cukup sudah!


Perkataan Haikal membuat aku emosi. Aku menarik kerah bajunya dan melihat kedua matanya dengan tatapan yang sangat tajam. Saat ini emosiku sangat menggebu-gebu.


“Terus hubungannya dengan lo apa ha? Lo gak pantes ikut campur dengan kehidupan gue maupun istri gue. Dan lo gak ada hak untuk mencampuri masalah ini!”


“Gak ada hak? Tetapi sekarang gue ada hak! Karena ibu lo memberi restu ke gue untuk mengambil Keisha dari lo! Karena lo udah gak pantes bersama perempuan sebaik dan sesabar Keisha!”


Haikal tersenyum miring lagi.


Dan apa yang aku dengar tadi, ibu? Jadi, Haikal mengetahui semua ini karena ibu ku? Bagaimana mungkin ibu dan Haikal saling kenal.


“Dan orang seperti lo gak pantes jadi suami Keisha!” Haikal menarik tanganku dan menghempaskannya. “Ingat Andri! sebelum lo menceraikan istri kedua lo itu. Gue, Haikal! Akan merebut Keisha dari lo lagi! Gue akan buat Keisha mencintai gue.”


“Keisha gak akan mau sama lo Haikal! Karena dia udah cinta mati sama gue. Gue yakin, dia akan menerima takdirnya menikah dengan suami yang beristri dua!” ucap gue yakin membuat Haikal tersenyum lagi dan lagi.


“Oh ya? Lo sangat percaya diri dengan perkataan lo Andri. Mungkin Keisha akan menerima takdir itu tetapi dia tidak akan sanggup menerima takdir yang udah lo tentukan itu ke dia. Bagaimana pun juga gue tau Keisha bahwa Keisha tidak ingin dimadu. Karena itulah peraturan Keisha waktu gue ta’aruf dengan dia!”


Aku hanya bisa diam mendengarnya. Tidak tau apalagi yang harus aku katakan kepada Haikal. Aku rasa aku sudah kalah melawan apa yang ia katakan.


“Dan ingat! Permainan yang lo lakukan ini baru mulai. Tidak akan selamanya tenang dan ingat perkataan gue ini, hidup lo tidak akan pernah bahagia. Gue bukan sirik sama lo karena sudah menikah lagi, tetapi gue merasa ikut andil dan bertanggung jawab dalam pengkhianatan lo ini ke Keisha. Gue gak akan segan-segan ikut campur Ndri, ingat itu!”


Haikal menatap ku dengan tajam dan mendengus. Ia meninggalkanku lalu masuk kedalam mobil meninggalkan aku yang tetap berdiri sambil mengepalkan kedua tanganku sangat erat.


Aku membenci Haikal. Dari dulu aku memang tidak senang dengannya. Dari dia yang ta’aruf dengan Keisha hingga aku lah yang memenangkan itu. Dn kini dia kembali lagi dikehidupan Keisha maupun dikehidupan ku. Entah ini kebetulan apa memang takdir. Tetapi aku sungguh tidak menyukai Haikal.


Dia, pria yang suka merebut kesenangan ku.


“Hhhhhhhhhhhhhhaaaah!” aku menghela nafas kasar.


Lalu aku berbalik melihat Kania yang sedang melihat ku juga. Aku tidak perduli dengan tatapan itu. Ak sangat lelah dan ingin pulang. Rasanya semuanya akan sia-sia saja. Hancur sudah.


Kania:


“Heh!”


“Ha?”


“Bengong aja lo! Liatin apaan sih?” Hans yang kepo melihat arah tatapan ku. “Gak ada siapa-siapa juga.” Ucapnya lagi.


“Apaan sih!” aku langsung mengambil kursi dan duduk.


Sesi foto hari ini dijeda karena istirahat. Akan kembali lagi nanti jam 7 malam dengan pengambilan suasana dikota dengan gemerlap lampu malam membuat hasil foto nanti akan terlihat seperti pasangan yang sedang menikmati indahnya malam.


Tubuhku terasa sangat lelah. Dari kemarin kepala ku sangat pusing dan kadang sesekali penglihatan ku terasa berkunang-kunang. Aku menyadari jika aku butuh istirahat. Tetapi aku memaksakan diri, karena bagaimana pun juga kontrak ini hanya berlaku seminggu saja namun memakan waktu yang lama. Bahkan aku akan sering lembur demi pengambilan foto yang sesuai.


“Capek ya? Biar gue ambilin minuman ya?” tawar Hans.


“Gak usah Hans! Udah ada Vania kok.” tolakku.


“Tapi Vania lagi balik kekantor, katanya ada urusan. Jadi dia menyerahkan lo sama gue,”


Vania balik kekantor tanpa bilang-bilang sama gue? Yang bener aja tuh anak! mana dia udah nyerahkan gue ke Hans. Emang dia fikir, gue anak kecil apa? pake acara nyerahin segala!


“Nih minumannya,” Hans menyerahkan sebotol minuman mineral.


Aku pun mengambilnya dengan malas, “Thank’s.”


“Oke.”


Aku pun meneguknya hingga setengah yang tersisa. Hans pun mengambil kursi dan duduk disampingku.


Tadi itu siapa yang bersama Andri hingga Andri menarik kerah baju pria itu. Kenapa pembicaraan mereka terlihat sangat serius? Sebenarnya apa yang dibicarakannya?


“Lo mikirin apaan sih Kan?”


“Ha?”


“Lo mikirin apa? Kok seperti ada yang dipikirin sama lo,”


Aku menggeleng, “Gak ada.” Aku pun bangkit dari tempat duduk ku dan beranjak pergi. Tetapi Hans langsung menarik lengan ku.


“Mau kemana?”


“Gue mau sendiri Hans, tolong jangan ganggu gue!”


“Kenapa Kan?”


“Apanya?”


“Kenapa sepertinya lo memberi jarak sama gue?”


Aku hanya bisa menghela nafas. Lelah rasanya. Kenapa hari ini semua pria sangat dramastis dengan kehidupannya sendiri.


“Semenjak hari pertama kita bekerja, lo memberi jarak sama gue seperti lo gak suka kalau gue dekat sama lo.”


“Lo ngomong apa sih Hans? Ngaco ah!”


Aku kembali ingin jalan tetapi lagi dan lagi Hans menarik tangan ku hingga tubuhku dan tubuh hans bertabrakan.


“Aww! Apa-apaan sih lo Hans!!” pekikku sambil menatap ia.


“Jangan seperti ini Kan. Jangan berubah. Gue menyukai Kania yang dulu.”


“Sudahlah Hans! Lo kenapa sih?!” aku mendorong tubuh Hans menjauh dari tubuhku. Akan tetapi Hans sangat kuat hingga aku tidak bisa mengalahkannya.


“Gue masih suka sama lo Kan!”

__ADS_1


Aku langsung terdiam dan tidak bergerak sama sekali. Tidak ada perlawanan lagi yang kulakukan terhadap Hans.


“Perasaan gue masih sama dengan dulu Kan. Gue menyukai lo. Dan sekarang gue tetap menyukai lo. Tolong jangan seperti ini Kan, kalau bisa balas perasaan gue.”


“Gue gak bisa Hans. Gue gak bisa balas perasaan lo itu!”


“Kenapa? Apa karena lo belum bisa menyukai gue? Tidak apa Kan! Gue akan tetap menunggu hingga lo juga menyukai gue. Hingga lo membuka hati lo untuk gue!”


“Gue benar-benar gak bisa Hans. Tolong jangan maksa gue!” aku mendorong tubuh Hans lagi tetapi Hans tetap kekeuh tidak melepaskan aku.


“Kenapa Kan?”


“Karena gue udah punya suami!”


Seketika Hans terdiam. Oke, aku memberi tau kepada Hans kalau aku sudah mempunyai suami. Karena aku benar-benar tidak menyukai Hans dari dulu. Aku menganggap ia sebagai teman dan itu tidak lebih dari apa yang ia harapkan.


Seketika tangan Hans yang berada di pinggang ku perlahan mengendur. Ia menatapku dengan tatapan tidak percaya.


“Jadi gue mohon banget sama lo, jangan maksa gue untuk menyukai lo lagi. Dan jangan menunggu gue lagi Hans! Carilah wanita lain diluar sana. Masih banyak yang lebih dari gue!” ujarku lalu meninggalkan Hans yang masih terdiam.


Entah apa yang ada difikirannya sekarang. Apa dia menganggap perkataan ku itu bohong atau fakta aku tidak perduli. Yang terpenting itu cukup untuk membuat dia sedikit menjauhi ku. Aku benar-benar tidak menyukai ia yang ingin selalu mendekatiku kapan pun ia mau.


Andri:


Saat ini aku sedang berada dikantor. Sudah pukul 8 malam, tetapi aku tetap berada disini. Entah kenapa aku merasa sangat frustasi hingga aku melampiaskan semua ini ke pekerjaan ku. Berkali-kali aku ingin melupakan perkataan Haikal, tetap saja itu semua membuat aku sangat kesal dan marah.


Memang aku sudah memiliki istri lain, tetapi aku tetapi mencintai istriku yang dahulu. Mungkin cara yang kulakukan ini sangat lah salah dengan tidak meminta izin kepada nya dan memilih mengkhianatinya diam-diam.


Tetapi bukan maksud ku untuk melakukan itu semua. Hanya saja aku tidak ingin menyakiti hatinya itu. Membutuhkan waktu yang matang agar Keisha siap dengan ini semua. Perlahan tapi itu pasti. Itulah yang kurencakan sejak awal. Agar dia tidak terlalu sakit untuk semua ini.


Setelah pekerjaan telah selesai, aku pun memutuskan untuk pulang. Sebelum itu aku pergi ke lokasi pemotretan Kania untuk terlebih dahulu. Sesampai disana, aku melihat kerumunan. Aku pun menghampiri kerumunan itu.


“Pak Andri! Kania Pak!!” Vania menghampiri ku saat aku berjalan menuju kelokasi itu dan dia terlihat sangat panik.


“Ada apa dengan Kania?” aku pun tidak kalah paniknya dengan dia.


“Kania pingsan Pak!!”


“Ha?!” langsung saja aku menghampiri kerumunan itu dan melihat Kania yang sudah berada dipelukan Hans. Aku tidak akan membiarkan itu.


“Pak Andri! tolong bawa saya kerumah sakit! Kania pingsan Pak!”


“Biar saya saja!” aku pun merebut Kania darinya.


“Saya ikut Pak!”


“Tidak, biar saya sendiri!” aku pun langsung menggendong Kania.


Dia terlihat lemas dan pucat. Kenapa sih dia selalu memaksakan diri dengan pekerjaannya membuat aku khawatir tidak karuan karenanya.


“Tapi Pak!”


Aku menghiraukan Hans sambil menggendong Kania hingga menuju ke mobil. “Vania! susul saya kerumah sakit. Nanti saya kirim lokasinya ke kamu!” aku berteriak.


“Baik Pak!” Vania pun ikut berteriak.


Aku memasukkan Kania ke dalam mobil dibagian belakang. Langsung saja aku mengendarai mobil ku dengan kecepatan tinggi. Tidak perlu dengan suara klakson dibelakang yang sedang berbunyi karena aku memotong arah jalan mereka. Karena aku tidak ingin Kania kenapa-kenapa.


...****...


Sesampainya dirumah sakit aku langsung membawa Kania keruang UGD. Disana Kania langsung ditangani dokter dan beberapa perawat.


Aku meracau tidak jelas. Entah apa yang kukatakan, aku pun tidak tau. Fikiran ku tidak tenang dan melantur kemana-mana.


Aku dipersilahkan untuk menunggu diluar. Semoga saja istriku itu tidak kenapa-kenapa. Aku tidak ingin terjadi sesuatu dengannya. Bagaimana pun juga, dia adalah tanggung jawabku dan belahan jiwa ku. Aku sangat takut jika terjadi hal yang tidak diinginkan.


Saat Dokter keluar dari UGD. Aku langsung menghampirinya, “Dokter. Bagaimana keadaan istri saya? Apa dia baik-baik saja?”


“Istri bapak tidak kenapa-kenapa. Dia hanya kekurangan darah dan kelelahan. Untuk sementara istri bapak disarankan istirahat terlebih dahulu ya. Karena jika tidak, bisa fatal, apalagi tensi darahnya sangat tidak normal. Saat ini sedang dilakukan transfusi darah 1 kantong saja sesuai dengan golongan darahnya.”


Aku pun menghela nafas mendengarnya, lega rasanya kalau ternyata dia baik-baik saja.


“Apakah saya boleh lihat istri saya Dok?”


“Silahkan Pak.”


Aku pun langsung masuk dan melihat Kania yang masih memejamkan kedua matanya. Apakah dia masih belum siuman?


Aku melihat wajahnya yang pucat itu. Apakah ini semua karena aku hingga membuat ia seperti ini? aku sangat yakin jika ini semua karena aku.


Maafkan aku Kania, karena aku sudah membuat kamu seperti ini. Aku tidak tau harus berbuat apa lagi dengan semua ini. Aku dilema dan bingung.


Aku meraih tangannya dan menggenggamnya.


Sangat sejuk.


“Dimana Hans?”


Aku mendongak melihat Kania yang sudah membuka dan menatapku dengan tatapan tajam.


“Dimana Hans?!” tanyanya lagi.


Kenapa Kania mencari pria itu padahal sudah ada aku disampingnya membuat aku emosi saja mendengarnya.


“Kan, udah ada aku disini kenapa kamu cari pria itu? Sudah ya, kamu jangan banyak bicara dulu sebaiknya kamu kembali istirahat lagi.” Bujukku.


“Aku gak mau kamu yang ada disini Mas! Aku mau Hans!”


“Please Kania! Saat ini aku gak mau bertengkar sama kamu.”


“Saat ini juga aku gak mau kamu ada disamping kamu Mas! Aku muak!”


Hatiku sakit rasanya mendengar Kania mengatakan itu kepadaku.


“Kamu mau nya apa Kania? Tolonglah, aku khawatir sama keadaan kamu saat ini tolong jangan menambah dengan keadaan seperti ini.”


“Kamu gak bisa mutusin kan Mas?”


“Mutusin apa Kan?”


“Ngenalin aku ke Keisha bahwa aku ini istri kamu?”


Aku hanya bisa diam, bingung menjawab apa lagi.


“Jika memang tidak bisa Mas, aku rasa pernikahan ini sudah tidak bisa dipertahankan lagi. Aku mau kita cerai Mas! Aku gak mau digantungin lagi. Aku capek!” ucap Kania sambil menangis.


Aku mengusap wajahku kasar, “Oke!!! Mas akan kenalin kamu ke Keisha! kalau kamu udah jadi istri aku. Tapi tolong jangan katakan cerai, aku gak sanggup untuk pisah dengan kamu Kan. Perjuangan kita sudah sejauh ini Kan dan aku gak mau kita putus tengah jalan! Aku akan kenalin kamu ke Keisha tapi jangan katakan cerai. Aku gak mau pisah sama kamu," ucap ku lirih.


Pasrah sudah.


Aku harus mengambil jalan ini demi Kania. Memang sudah waktunya aku mengenalkan Kania ke Keisha. Maafkan aku Keisha, kamu harus menerima kenyataan ini.


Maafkan aku...


Keisha:


Jantung ini berdetak sangat cepat, hingga aku yang merasakannya pun terasa sangat sakit.


Saat ini aku menunggu hasil dari rumah sakit atas diriku. Aku sudah menunggu sedari tadi dengan kedua tangan yang berkeringat dingin.


Haikal yang sedang ada rapat, dia tadi menghubungi ku. Dan kini aku menunggu sedari tadi.

__ADS_1


Semalam pun Andri tidak pulang kerumah dikarenakan lembur. Hampir saja membuat aku khawatir karena tidak kunjung pulang dan tengah malam ia menghubungiku kalau ia sedang mengerjakan pekerjaannya dikantor.


Kasihan sekali suamiku.


Dia rela lelah dan tidur tidak nyenyak diluar sana dikarekan harus mencari nafkah untukku. Bagaimana tidak aku mencintainya melebihi ini. Aku sangat mencintainya apapun itu.


Sudah keluar hasilnya?


Aku membuka pesan itu. Dari Haikal. Masih sempat-sempatnya dia sedang rapat dan mengirim pesan kepadaku. Aku pun langsung membalasnya.


*Belum, ini lagi menunggu. Lama banget ya?


Sabar*...


Aku tidak membalasnya lagi karena pintu laboratorium rumah sakit terbuka. Dan keluar lah teman Haikal yang memeriksa ku kemarin.


"Nyonya Keisha?" Panggilnya.


"Ya, saya!" aku pun langsung berdiri dan menghampiri petugas itu.


"Ini hasilnya sudah keluar." Petugas itu memberikan sebuah amplop berlogo kan rumah sakit ini.


Aku pun dengan tangan bergetar mengambil amplop itu.


"Terima kasih ya Kak,"


"Iya bu, sama-sama." Petugas itu tersenyum lalu kembali masuk kedalam Lab.


Aku pun kembali duduk sambil menatap amplop itu.


Bismillah Ya Allah, apapun hasilnya kuserahkan kepadamu. Yang terpenting aku sudah berusaha dan berjuang sejauh ini. Aamiin...


Aku pun mengucapkan bismillah lalu merobek tepi amplop itu lalu aku mengeluarkan kertas itu secara perlahan. Rasanya kedua mata ku terasa sangat panas.


Helaan nafas keluar dari mulutku berkali-kali.


Dan aku membuka kertas lipatan itu dan membacanya secara perlahan-lahan.


Dan hasilnya....


"Keisha!!" Teriak Haikal dan berlari menghampiri aku.


Aku yang membacanya langsung menangis.


Jantungku seketika berhenti berdetak.


"Keisha, kenapaa???" Haikal yang sudah berdiri dihadapan ku dan memegang kedua bahuku yang bergetar karena isak tangisku.


"Haikaaaaal, hikss...." Aku menangis sejadi-jadinya sambil sesenggukan.


"Ada apa Kei? Kenapa? Hasilnya apa Kei?" Haikal terus bertanya dengan wajah khawatirnya itu.


"Aku sudah sembuhh, dan aku bisa hamil Kal!"


"Alhamdulillah...." Ucap Haikal tanda rasa syukurnya. "Selamat Kei, selamat atas perjuangan mu ini."


"Hiks...Makasih Kal, makasih selama ini udah nemenin aku berjuang agar aku bisa sembuh. Hiks..."


"Iya Kei, sudahlah jangan menangis."


Aku pun mengusap air mata ku lalu berdiri, "Aku akan beri tau ke Mas Andri kabar bahagia ini Kal. Pasti dia senang dengar aku bisa hamil."


"Tapi Kei-"


"Aku pulang dulu, assalamualaikum." Aku pun langsung pergi tanpa menunggu jawab salam Haikal.


Hatiku rasanya senang tidak karuan dengan semua ini. Terima kasih Ya Allah, usahaku selama ini tidak sia-sia. Aku dan suamiku setelah ini pasti akan berencana memiliki anak yang lucu, sholeh dan sholehah. Amin.


Aku mengirim pesan kepada Andri.


Mas, pulanglah. Ada yang ingin aku kasi tau ke kamu.


Saat aku mengirim pesan itu ternyata Andri mengirim pesan juga kepadaku.


Keisha, kamu ada dimana? Aku ada dirumah. Ada hal yang aku mau bicarakan sama kamu.


Mas Andri sudah ada dirumah. Kebetulan sekali.


Aku pun bergegas keluar dari rumah sakit dan pulang menuju kerumah ku.


......****......


Sesampai dirumah, aku pun langsung masuk kedalam rumah dengan senyuman yang sumringah sambil memegang kertas hasil itu.


"Assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam." Balas Andri.


Tetapi aku seperti ada orang lain yang membalas salam ku. Tetapi siapa?


Saat aku sudah berada diruang keluarga. Aku melihat Andri dan Kania. Kenapa suamiku berduaan dengan sahabatku didalam rumah?


Tiba-tiba aku merasa tidak ada yang beres ketika melihat ekspresi mereka yang saling melihat satu sama lain.


Ya Allah, kenapa tiba-tiba hatiku terasa sakit begini....


Aku yang memegang kertas lalu menyembunyikannya dibelakang tubuhku.


"Mas, Kania? Ada apa ini?"


"Duduklah dulu Kei," Andri hendak menghampiriku dan memegangku. Tetapi aku menghindarinya.


"Bicaralah Mas, sebenarnya ada apa ini? Kenapa ada Kania disini?"


"Kei, aku-" Perkataan Kania terpotong oleh Andri.


"Biar aku aja Kan," Kania kembali diam.


"Sebelumnya maafkan Mas Kei. Mas ingin jujur sama kamu."


"Apa Mas? Kamu mau jujur tentang apa??!" Tanya ku lagi dengan frustasi.


Jangungku kembali berdetak sangat cepat malah lebih cepat dibandingkan tadi.


"Sebenarnya Mas sama Kania sudah menikah, Kei"


DEGH!!!


"M-maksud k-kamu M-mas? Aku gak salah dengarkan?" Tanyaku lagi memastikan.


Andri terlihat menunduk sambil mengepalkan kedua tangannya.


Kedua mata ku memanas mendengar itu, "Menikah? Kamu menikah dengan Kania? Are you seriously Mas? Kamu bercanda kan Mas?"


Kania berdiri dan hendak memegang tangan ku, "Kei, biar aku jelasin ke kamu kalo ki-"


"KALIAN JAHAT!!!" teriakku hingga membuat Andri dan Kania hanya bisa diam dan menunduk.


Hatiku seperti ditusuk berkali kali dan itu sangat menyakitkan.


Aku tidak menyangka jika suamiku menikah dengan sahabatku sendiri. Dan aku diduakan oleh Andri tanpa seizinku.

__ADS_1


__ADS_2