
“Kalau bisa jangan percaya dengan yang namanya cinta, cinta itu menyakitkan dan mematikan. Baik dari dua orang yang menjalaninya atau sendiri yang sedang memperjuangkannya tanpa henti. Aku? Dikategori mana? Kalian sudah tau aku masuk pilihan yang mana. Jika kalian ingin cinta yang bahagia, aku rasa didunia ini tidak ada cinta yang diliputi rasa bahagia. Semuanya terasa membinasakan untuk orang yang masuk kedalam nya.”
-Kania
Andri:
Bergegas aku langsung meninggalkan kantor ku, semua karyawan ku melihat dan saling bertanya satu sama lain dengan penampilan ku. Jika aku berada di jalanan mungkin orang mengira aku sudah mirip orang gila yang penampilannya di luar batas normal. Saat ini ku katakan, aku memang gila, gila karena sudah diputuskan oleh wanita yang aku cintai.
Aku gila karena aku kehilangannya, dan hari ini detik juga aku akan menjemput kehilangan itu agar ia tidak hilang semakin jauh.
Jika semakin jauh, aku bisa terluka, aku bisa tersesat tanpa nya. Fikiran ku saat ini hanya ada Kania, Kania, dan Kania. Hanya dia lah yang ada difikiran ku, tidak ada orang lain lagi selain nya. Dengan kecepatan penuh, aku menembus jalan raya yang hampir padat oleh keramaian transportasi lainnya.
Aku sudah tidak perduli dengan teriakan dan makian orang karena aku melanggar peraturan lalu lintas. Ya, aku sudah menerobos lampu merah. Bodo amat dengan keselamatan ku, saat ini yang aku inginkan hanya lah Kania. Hanya wanita itu yang mampu membuat aku segila ini.
Sewaktu di kantor tadi, aku mencari ia setiap ruangan yang biasa ia tempati namun tidak ada satu pun ada dia. Akhirnya aku teringat, jika aku bisa melacak nya di ponsel ku yang sudah terhubung dengan ponsel nya. Dan ternyata, dia sedang berada di sebuah kafe yang tidak jauh di sekitar apartemen nya.
Mungkin butuh beberapa menit saja untuk sampai disana, apalagi kecepatan ku hampir sama dengan kecepatan kuda. Mungkin masih cepat mobil ku yang melaju dengan sangat cepat. Aku tidak perduli lagi dengan semua ini asal aku dapat bertemu Kania, menyelesaikan masalah ini dan aku bisa balikan dengannya. Aku tidak ingin kehilangannya, hanya itu lah yang ada difikiran ku.
Keisha:
Pekerjaan di rumah tidak lah terlalu banyak, mencuci pakaian, membersihkan rumah, mencuci peralatan makan, dan menyiram tanaman.
Sudah, hanya itu saja. Dan menurut ku itu sangat monoton dan membosan kan, mungkin kalau ada Andri semuanya terasa mengasikkan. Ahh, aku jadi merindukan suami ku itu. Bagaimana dengan keadaan dia disana ya? Aku jadi pengen menemui nya sekarang juga.
Ah sudah lah, toh nanti bisa ketemu juga dengannya. Aku pun berjalan menuju ke kulkas untuk mengambil air mineral dingin.
__ADS_1
Hari ini cuaca nya terbilang sangat panas, aku saja hampir menghabiskan 3 botol air dingin agar tidak merasakan haus yang berlebihan.
Namun itu tetap saja tidak berpengaruh kepada ku, aku tetap merasakan haus, ini lah cuaca yang paling aku tidak sukai. Yaitu cuaca panas, tapi bagaimana pun juga aku tetap mensyukuri nya karena itu pemberian dari Tuhan Alam semesta.
Saat aku melihat bahan makanan mentah di kulkas, tiba-tiba aku teringat sesuatu “Ah ya, tadi kan sebenarnya aku mau tanya ke Mas Andri, apa mau lunch di luar atau mau lunch masakan aku? Ahh, itu yang aku lupakan tadi. Sebaiknya aku tanyain dia dulu ah, mumpung belum jam istirahat juga,”
Bergegas aku mengambil ponsel ku yang berada di atas meja, mencari nama suami ku di kontak, langsung saja aku menghubungi nya.
Terhubung
Aku menunggu cukup lama agar dia mengangkat nya, tetapi hingga suara operator menyahut aku langsung memutuskan nya dan terlihat sedang berfikir “Apa dia sedang sibuk kerja ya? Kok sampai gak diangkat begini. Ah, aku coba lagi ahh.”
Aku mencoba menghubungi Andri lagi, masih tersambung, tetapi dia tidak mengangkat nya. Ahh, kenapa dia tumben banget lama sekali mengangkat nya. Ya, aku harus berfikir positif, mungkin dia sedang sibuk kerja. Toh, kemarin dia bilang mau mengurus karyawan nya itu yang sudah mengkhianati Andri. Ah, kenapa aku jadi lupa begini sih.
Vania:
Aku menghela nafas beberapa kali, dari ringan hingga ke berat, dari yang halus hingga ke yang kasar, dari yang pendek hingga yang ke panjang. Fikiran ku mentok sudah di perempatan jalan, akal ku sudah tidak tau kemana, kata-kata yang biasa ku lontarkan mendadak macet seperti jalanan ibu kota Jakarta.
Sudah hampir 1 jam Kania menangis, dan aku? Bayangkan saja, tiba-tiba sahabat mu menangis tanpa tau apa yang sedang terjadi. Apa karena kemarin? Apa karena masalah kemarin itu? Aku rasa itu tidak mungkin, toh aku merasa semuanya sudah baik-baik saja terlihat dari wajah Kania. Tetapi seketika wajah nya berubah muram lagi ketika ia menjalankan pemotretan, selebihnya aku tidak tau apa yang terjadi kepadanya.
Saat ini aku hanya bisa melakukan mengelus punggung nya beberapa kali dan berkata “Jangan nangis Kan, ini kafe. Rame orang lihat loh,” entah, sudah berapa kali aku mengatakan nya. Mungkin sudah tidak bisa terhitung dengan jari, dan aku tidak mengingat nya beberapa kali aku mengucapkannya.
Yang di beri tahu pun malah semakin menangis, kepala ku jadi pusing, tisu yang disediakan di kafe pun bahkan habis karenanya. Semua pengunjung yang ada di kafe pun bahkan melihat ku, seolah-olah aku yang membuat Kania menangis terisak-isak begini. Ohhh, siapapun yang ada disini tolong aku.
“Kania, please deh lo cerita, ada masalah apa? Kenapa lo tiba-tiba nangis seperti ini sih? Apa karena masalah kemarin? Apa karena Andri heuh?”
__ADS_1
Kania hanya diam, ia hanya bisa menangis bahkan saat aku mengatakan Andri, dia menangis sekeras mungkin. Oke, Fix! Pasti ini semua gara-gara pria yang tidak tau diri itu. Walaupun dia bos ku, aku tidak perduli. Aku juga kesal kepadanya jika dia sudah membuat Kania menangis.
Sudah ku bilang, jika tidak ingin sakit hati jangan memulai suatu hubungan, nanti bukannya bahagia yang didapat malah penderitaan yang dilalui. Sudah lah, aku tidak tau lagi. Toh, Kania dibilangin masuk ke telinga kanan dan keluar telinga kiri.
“Kan—“ kalimat ku terpotong, disaat Kania menoleh kepada ku dengan wajah bengkak nya. Aduhai, wajah itu, wajah yang aku saja tidak sanggup melihat nya. Orang yang berwajah cantik apabila menangis akan terlihat jelek, seperti Kania saat ini.
“V—Van,” panggil nya dengan sesenggukan.
Aku melihat nya dengan tatapan iba, biarlah dia menangis kali ini. Yang penting beban nya terangkat dan tidak membuat ia frustasi dengan masalah yang sedang ia tanggung.
“Iya Kan? Kenapa? Lo mau cerita?” tanya ku, ia terlihat menggeleng. Lalu? Kenapa dia memanggil ku?
“Emang nya ada apa?” tanya ku lagi dengan greget nya melihat Kania.
“M—minta tisu, ti—su nya ha-bis,” jawab nya terbata-bata.
Aku menghela nafas, aku mengira ia akan bercerita, ternyata ia hanya meminta tisu. Kesel sih, tapi ya sudah lah, aku turutin saja. Aku berjalan menuju barista, lalu aku meminta segulung tisu, kalau bisa sepack hanya untuk Kania. Biarlah aku bayar selebihnya agar Kania bisa berpuas-puasan menangis di kafe ini dan membuat aku malu karena di kira aku lah penyebab ia menangis.
Tidak perlu menunggu lama, pelayan kafe pun memberikan tisu. Saat aku berjalan menuju ke meja ku, aku melihat sebuah pemandangan dimana Andri dan Kania saling menatap satu sama lain dengan tatapan luka.
Ohh, aku seperti nya sudah paham, mereka berdua sedang bertengkar hebat. Lebih bagus begini, agar mereka berdua bisa menyelesaikannya dengan cepat dan sahabat ku itu tidak terluka dan menangis lagi.
Aku berniat menghampiri mereka berdua, namun Kania langsung keluar dari kafe disusuli oleh Andri. Aku hanya bisa menatap mereka berdua dengan kebingungan “Loh...Loh, mereka berdua mau kemana? Ini tisu nya gimana?”
Aku hanya bisa duduk di tempat ku menyeruput air minum ku hingga tandas, rasanya mengurus orang yang lagi bertengkar itu sangat melelahkan, setara dengan kerja menjadi kuli bangunan. Bahkan ini tidak kalah capek nya hingga kita pun tertular sakit nya. Aku harap kalian tidak akan seperti itu, dan aku harap jangan sampai terjadi pada kalian.
__ADS_1