
“Dunia sangat tidak adil terhadap yang namanya cinta. Ada yang berjalan mulus dan ada juga yang berjalan modus. Tergantung dengan setiap nasib masing-masing orang yang mendapatkan cinta seperti apakah ia itu.”
-Kania-
Keisha:
Waktu masih menunjukkan pukul 22:50 menit. Tetapi sedari tadi aku menguap menahan kantuk yang sangat luar biasa. Padahal aku sudah meminum kopi agar aku tidak tidur.
Aku ingin menunggu Andri pulang. Aku ingin menunggu ia depan pintu sambil tersenyum lalu memeluk ia sangat erat hingga aku sesak nafas karena saking menahan rindu yang begitu dalamnya.
Tetapi hari ini aku hanya bisa menunggu ia didalam kamar sambil menguap tanpa henti. Mungkin aku harus tidur untuk sejenak dahulu menghilangkan rasa kantuk ini. Tetapi sebelum itu aku menyalakan alarm diponselku tepat pada jam setengah 1 malam. Agar aku bisa terbangun dan menunggu Andri di teras.
Entah kenapa aku bisa mengantuk ini, padahal biasanya aku bisa menahannya. Apa ini karena efek yoga? Hem, mungkin, bisa jadi. Tapi tidak apa, selagi masih awal aku harus tidur terlebih dahulu agar bisa bangun lebih awal.
Sudah lama aku tidak menunggu ia dan sekarang hari yang tepat dimana aku melepaskan rindu kepada Andri. Suamiku itu bisa-bisanya membuat aku rindu seperti ini. Rasa rindu ini sudah tidak dapat tertahankan karena perpisahan beberapa minggu ini.
Maklum saja, tidak apa-apa kan rindu dengan pasangan kita yang sudah sah? Dan bagiku itu tidak masalah selagi tidak ada yang melarang dan tidak ada yang cemburu dengan perasaan ini.
Ahh, rasanya menunggu waktu pada jam 1 malam kurasa akan sangat lama. Sebaiknya aku tidur terlebih dahulu saja. Semoga saja aku bangun tepat dimana alarm ponselku berbunyi. Kumatikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur. Tidak lupa aku berdoa tidur lalu menarik selimut hingga ke badanku.
Rasanya senyum dibibirku tidak turun-turun juga. Aku sangat bahagia dengan apa yang sudah kunanti selama ini. Rasa senang ini terlalu menggebu-gebu dihatiku. Dan kurasa aku dapat tidur dengan tenang malam ini.
Selamat tidur Keisha. Suami mu akan datang lagi kepadamu. Berminggu-minggu kau merindukannya akan terbayar sudah dengan kedatangannya. Bersabar lah untuk beberapa jam lagi. Kau akan bertemu dengannya.
Andri:
“Haaaaaaaaaaahh!” Aku menghela nafas yang panjang nan kasar itu.
Rasanya beban dihatiku terasa keluar begitu saja ketika aku dan Kania menginjakkan kaki dibandara Indonesia ini. Kania terlihat tersenyum disampingku dengan tangan yang masih menggenggam erat tanganku. Aku pun membalas senyuman itu sambil mengusap pipinya dengan lembut.
“Kita sudah sampai sayang,”
“Iya, Mas. Akhirnya, kita kembali lagi kesini.”
“Dan kita akan berpisah untuk sementara. Kita tetap berhubungan seperti biasa ya hingga aku memberi tau hubungan kita ini kepada Keisha,”
Kania mengangguk pelan, “Iya Mas, perlahan-lahan saja. Semoga istrimu mengizinkan aku untuk menjadi pasanganmu walaupun menjadi yang kedua.” Aku mengeratkan genggamanku.
“Amin, sayang. Yaudah, taxi nya udah nunggu tuh. Ayo,” aku menarik tangan Kania menuju ke mobil taxi yang sudah dipesan olehku sebelum aku berangkat ke Indonesia.
Lumayan, tidak membuang-buang waktu hanya untuk menunggu mobil saja.
Ditengah perjalanan pun, aku masih menggenggam tangannya. Kania menyenderkan kepalanya ke bahuku. Kurasa ia sangat lelah dengan perjalanan yang sangat jauh ini. Biarlah, perjalanan ini pun membuat kita belajar dengan yang namanya kesabaran dan kesetiaan. Biarlah aku dan dia menghadapi bersama-sama. Itulah caranya menjalankan yang namanya hubungan. Bukan hanya tau suka saja namun terdapat duka juga didalamnya. Bukankah seperti itu yang namanya cobaan didalam setiap hubungan manusia. Dan aku yakin bahwa aku dan Kania bisa melewatinya bersama-sama.
Biarlah yang terjadi kemarin di Paris lupakan sejenak. Aku tidak ingin terlalu memikirkannya atau bisa jadi aku malah meragukan hubungan yang sudah kupilih sejak lama.
Namanya juga hubungan tidak akan luput dengan yang namanya masalah. Semakin banyak masalah semakin kuat juga lah hubungan kita berdua. Aku sangat yakin itu.
Kulihat jam dilayar ponselku, waktu telah menunjukkan tengah malam di Indonesia. Aku tiba tepat pukul setengah 1 di tanah air. Mungkin aku akan sampai pukul 1 malam dirumah, karena sebelum itu aku harus mengantar Kania terlebih dahulu diapartemennya.
Aku melihat Kania yang sedang memejamkan matanya lalu kubelai rambutnya perlahan.
“Capek?” ia mengangguk pelan.
“Maaf kan Mas ya Kan,” Kania langsung mendongak menatapku dengan wajahnya yang tidak dimengerti.
“Kejadian di Paris merusak momen kita, maafkan juga perkataan ibuku dan adikku. Aku tidak tau jika mereka berdua bisa mengatakan seperti itu terhadapmu. Kuharap kamu tidak membenci ibu dan adikku. Bagaimana pun juga, mereka sudah termasuk keluarga mu. Jadi, tolong lah hormati mereka berdua ya Kan, karena mereka berdua keluarga yang sangat Mas sayangi walaupun mereka tidak menganggap Mas ada,”
Kania hanya terdiam tanpa menjawab perkataan ku. Ia mengalihkan pandangannya kearah luar jendela. Aku tidak tau kenapa ia hanya diam seperti ini. Apa perkataanku ini terhadapnya ada yang salah?
“Kan?”
Kania:
Salah!
Tentu saja perkataan mu ini salah Mas!
Aku juga manusia biasa seperti mu. Siapa yang tidak sakit hati dengan perkataan mereka berdua yang sudah dilontarkan kepadaku. Aku tau mereka ibu dan adikmu, tapi tidak bisakah kamu melihat rasa sakit hatiku ketika mereka mengatakan seperti itu kepadaku?
Pelakor?
Hasil merebut?
Haruskah mereka mengatakan itu kepadaku?
Aku tau, aku sadar jika aku merebut suami dari temanku. Tetapi aku tidak menggoda Andri!
Kami berdua lah yang sama-sama menyukai, aku juga lah yang telah meminta putus tetapi Andri sendirilah yang tidak ingin putus denganku. Akankah pantas dengan kata pelakor itu terhadapku sedangkan aku tidak menggoda Andri sama sekali?
Bukankah mereka sudah menghinaku walaupun aku sudah menjadi keluarga mereka walau mereka tidak mengakui keberadaanku sendiri.
Dan dengan gampangnya Andri bilang mereka sudah termasuk keluargaku? Iya aku tau. Untuk apa aku menganggap mereka sedangkan mereka tidak menganggap ku sama sekali. Apa yang kudapat dari keluarga Bagaskara ini? Hanya cinta dari Andri sendiri yang kudapatkan? Sedangkan baru awal saja aku sudah mendapatkan penghinaan setelah sekian lama aku hidup tidak diberi penghinaan oleh siapapun.
__ADS_1
Apa harus seperti ini jalan hidup yang kudapatkan oleh Tuhan yang diberikan kepadaku?
“Kan?” panggilnya.
Aku tetap tidak menoleh dan terus melihat jalan raya yang terlihat sepi. Hanya satu atau dua mobil saja yang berlalu lalang di jalan raya. Selebihnya tidak ada siapapun. Toko pun kebanyakan tutup. Entah apa yang kulihat dijalan raya ini, aku hanya sengaja ingin menghindari dari perkataan Andri sebelumnya.
Aku berniat tidak ingin membahas ini semua, kenapa Andri malah membahas ini? Membuat suasana hatiku kembali buruk seperti semula. Rasa sakit hati yang kupendam kini kembali teriris walau itu tidak berdarah sama sekali. Apa ia tidak mengerti dengan perasaan ku saat ini?
Andri menarik pelan daguku dan tatapan kami berdua bertemu. Aku kembali mengalihkan pandanganku namun dengan cepat Andri menahannya. “Kan? Kenapa?” tanyanya dengan wajah keheranan.
“Mas masih bisa bertanya kenapa?”
“Ada apa sayang? Apa karena perkataan Mas tadi?” Aku hanya melengos saja dan kembali melemparkan pandanganku ke arah jalan raya.
“Mas begini karena ingin kamu dekat sama keluarga Mas, sayang. Siapa tau kan ibu dan Ade yang awalnya tidak suka dengan hubungan kita malah menjadi suka. Kan bisa saja itu terjadi, apa kamu tidak ingin?”
“Aku ingin Mas, aku sangat menginginkannya!” ujarku dengan sedikit menyentaknya membuat Andri terdiam melihat emosiku yang saat ini menjadi menggebu-gebu. “Aku sangat menginginkan restu dari ibu dan adikmu, tapi apa yang kudapatkan? Aku mendapatkan penghinaan dari mereka berdua. Aku mendapatkan kata-kata yang tidak pernah orang lain lontarkan kepadaku. Sekarang, aku mendapatkannya dari keluarga suamiku sendiri. Apa itu pantas Mas? Apakah itu pantas diucapkan kepada menantunya sendiri?” lanjutku lagi dengan suara yang sangat serak menahan tangis yang sangat ingin pecah saat ini juga namun dapat kutahan.
Cukup sudah dua hari ini aku mengeluarkan air mata karena penghinaan yang kudapatkan. Hidupku memang tidak akan pernah bahagia, hanya bisa berbalut luka didalamnya. Percuma jika aku memiliki segalanya, jika aku tidak mendapatkan kebahagiaan yang aku ingin aku miliki seperti orang lainnya.
Andri meraih tanganku dan menggenggamnya sangat erat membuat emosiku yang meledak-ledak akhirnya turun dengan sendirinya.
“Maafkan Mas ya Kan, maafkan Mas. Mas memang tidak mengerti dengan apa yang kamu rasakan sekarang. Mas begini hanya ingin kamu dan keluarga Mas akur saja. Memang benar kita berada dijalan yang salah. Kita menikah dibelakang Keisha tanpa sepengetahuan dan tanpa seizinnya.”
Aku menoleh dengan cepat kearah Andri ketika mendengar kata-kata yang sangat sensitif di telingaku. “Mas bilang apa? Kita berada dijalan yang salah? Dijalan yang salah maksudmu?” aku mengulang perkataan sensitif itu ke Andri. Andri kembali bungkam tidak bersuara melihat emosi ku kembali meledak-ledak.
“Jadi menurutmu, pernikahan kita berdua ini dijalan yang salah? Jika sepengetahuan dan seizin Keisha pernikahan ini dijalan yang benar, begitu maksud mu Mas?”
“Kania, bukan begitu maksud Mas. Dengarkan Mas dulu ya, bukan seperti itu.”
“Lalu seperti apa maksudmu Mas?!” bentakku.
Air mata ku pun keluar dengan sendirinya. Rasanya tidak dapat ditahan lagi, emosi ku sudah diluar kendali. Masalah ini membuat aku menjadi orang yang sangat emosional.
“Kan,” Andri meraih tanganku namun aku menepisnya dengan kuat.
“Jadi, pernikahan yang sudah kita lakukan ini salah Mas? Lalu yang benar apa? Jika memang pernikahan ini dijalan yang salah kenapa kamu malah melakukannya Mas? Kenapa kamu tidak melepaskan aku saja! Kenapa kamu malah memutuskan untuk menikah denganku jika ini semua salah!!”
“Kania, tolonglah tenang dulu. Bukan begitu maksudku Kan,”
Aku mengusap air mataku dengan cepat, “Sudahlah Mas, aku tidak ingin mendengar perkatan mu lagi. Sekarang terserah kamu mau dibawa kemana pernikahan ini Mas. Dilanjutkan atau tidak. Aku sudah capek, capek dengan penghinaan yang sudah keluarga mu berikan kepadaku Mas!”
“Kania! Jangan bicara seperti itu!”
“Kamu mau kemana Kania?”
“Aku mau pulang, kamu pulang saja sana. Temui pernikahan mu yang dijalan benar itu!” sindirku lalu aku keluar dan membanting pintu. Sebelum itu aku kebagasi dan mengeluarkan koperku didalamnya. Mobil pun berlalu dari hadapanku.
Rasanya sangat menyakitkan jika sudah seperti ini. Rasanya sangat melelahkan jika hidupku selalu seperti ini. Tidak pernah ada bahagia yang kudapatkan jika selalu seperti ini. Aku? Hanya bisa tertawa dengan penderitaan yang kudapatkan. Tertawa dengan kekonyolan hidup yang tidak ada habis-habisnya. Sungguh lucu duniaku ini.
Andri:
Aku hanya bisa berdiam diri didalam mobil dengan tatapan lurus kedepan. Fikiranku entah pergi kemana aku tidak peduli itu.
Pertengkaran kecilku dengan Kania membuat aku tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Perkataan ku yang seharusnya tidak kukatakan malah kulontarkan dengan begitu mudahnya ke Kania.
Padahal belum genap satu hari masalah kemarin, kini aku kembali membahasnya. Seolah-olah sudah mendapatkan luka malah ditaburi garam diatasnya. Membuat rasa sakit kembali menjadi perih. Seperti itu lah saat ini perasaan Kania.
Aku hanya bisa mengusap wajahku frustasi. Helaan nafas keluar dari mulutku berkali-kali. Rasa pusing dikepala menyergapi ku.
“Bawa tidur saja Mas,” ucap sopir itu memecahkan keheningan didalam mobil membuat aku membuka kedua mataku yang saat ini sedang terpejam.
“Gak ngantuk Pak,”
“Maaf ya Mas, saya dengar semua percakapan Mas sama Mbak tadi.”
Aku mengulas senyuman tipis nan terpaksa itu ke spion mobil yang berada diatas hingga aku bisa melihat kedua mata sopir itu yang sedang melihatku juga. “Tidak apa-apa kok Pak,”
“Mungkin Mbak nya butuh waktu sendiri Mas. Biarin saja, jangan Mas malah menghampiri dia. Kalau Mas menghampiri dia yang ada Mbaknya malah membuat keputusan kepada Mas yang tidak-tidak,” aku hanya bisa diam tidak menjawab perkataan sopir tersebut.
“Hem, maaf ya Mas kalau saya lancang dengan pertanyaan saya ini. Memangnya yang tadi itu istri baru Mas? Maksudnya Mas punya istri dua?”
Aku melihat kaca spion itu yang kedua mata sopir sedang melihatku dengan takut-takut. “Maaf ya Mas, kalau Mas tidak ingin menjawabnya juga tidak apa-apa kok.”
Helaan nafas keluar dari mulutku.
“Tidak apa-apa kok Pak. Dan ya, yang tadi itu istri baru saya. Saya menikah lagi.”
“Memang istri Mas yang tua udah meninggal atau gimana?”
“Enggak Pak, istri saya yang tua masih ada.”
“Kenapa Mas menikah lagi?”
__ADS_1
“Ya karena saya mencintai istri saya yang sekarang ini Pak.”
“Kalau yang tua gak cinta gitu Mas?”
“Cinta juga Pak, hanya saja saya mencintai keduanya.”
“Mas tidak melepaskan salah satu nya dan malah memiliki keduanya, begitu?” aku melihat kerut kening yang terlihat dikaca spion itu pada kening sopir. Kurasa ia tidak mengerti alasannya kenapa aku bisa memutuskan untuk menikah lagi.
“Hem, ya bisa di bilang begitu Pak. Saya tidak bisa melepaskan istri saya yang tua maupun istri saya yang sekarang ini. Saya mencintai keduanya.”
“Hem, begitu ya. Ngomong-ngomong Mas kerjanya apa?”
“Saya Ceo salah satu perusahaan yang saya dirikan Pak.”
“Memang benar kata orang ya Mas,”
“Kenapa Pak?”
“Laki-laki akan diuji ketika telah memiliki segala-galanya. Seperti saat ini yang sedang Mas alami. Istri yang tua menemani Mas dari bawah hingga Mas berada diatas sekarang. Tetapi sekarang saat Mas berada diatas, Mas malah membagi kebahagiaan yang seharusnya Mas berikan kebahagiaan itu untuk istri yang tua tetapi Mas malah bagi itu untuk wanita lain.” Aku terdiam ketika sopir itu seakan-akan menceramahiku. Entah kenapa aku tidak sakit hati mendengar perkataannya. Itu memang benar adanya.
“Kalau boleh saya kasi saran Mas, sebaiknya Mas beritahu istri yang tua kalau Mas sudah menikah lagi jangan sembunyikan semua ini. Jika Mas tidak beritahu ini ke istri Mas perlahan tapi pasti pernikahan Mas yang sekarang tidak akan berkah dan hidup Mas perlahan akan hancur,” ujarnya lagi.
“Saya pasti akan beritahu Pak, hanya saja saya perlu waktu lagi karena saya tau jika saya memberitau ini sekarang malah membuat istri saya sakit hati.”
“Istri siapa yang tidak akan sakit hati mendengar pasangan yang seharusnya sehidup semati malah memiliki pasangan lain dihatinya. Jika pun nanti istri Mas setuju dengan pernikahan Mas dengan yang lain. Jangan salah tanggap ya Mas, jika istri Mas itu tidak sakit hati. Dibibir dia masih bisa tersenyum melihatmu dengan yang lain tetapi tidak dengan hati nya Mas. Mas sudah menoreh luka dihati ia untuk selama-lamanya. Harapan untuk menua bersama malah hancur seketika dengan adanya istri Mas yang lainnya. Mas tidak akan tau itu jika Mas sendiri tidak mengetahui perasaan istri Mas.”
Aku diam mendengar perkataan sopir itu. Berusaha mencerna apa yang sudah ia katakan saat ini. Entah kenapa sekarang aku malah memikirkan perasaan Keisha jika disaat aku akan memberi tau pernikahanku dengan Kania. Keisha mungkin akan menerima pernikahan ini tetapi dihatinya pasti akan terluka karena aku.
Laki-laki akan diuji ketika telah memiliki segala-galanya? Kata-kata itu terjadi pada ku sekarang dan benar adanya. Aku sudah memiliki semuanya dari harta, jabatan maupun wanita yang selalu menemaniku yaitu Keisha. Wanita yang sangat setia walaupun aku sudah mengkhianatinya dibelakang.
Tetapi aku malah menambah wanita lain? Kenapa aku merasa kalau diri aku ini selalu kurang? Mungkinkah karena aku merasa kurang bersyukur dengan apa yang sudah kumiliki?
“Mas?” aku pun tersentak karena lamunanku.
“Ah, iya Pak?”
“Maaf ya jika perkataanku membuat Mas kefikiran begini. Saya begini karena saya perduli dengan Mas walaupun Mas itu bukan siapa-siapa saya.”
Aku tersenyum tipis kepada sopir itu, “Terima kasih Pak sudah memberikan nasihat ke saya.” Sopir itu membalas senyuman ku.
“Sama-sama Mas,”
“Ngomong-ngomong, bapak punya istri berapa ya?”
“Hehehe, kalau saya satu saja Mas.”
“Gak berniat nambah lagi Pak?”
Sopir itu tertawa membuat aku meringis melihatnya, “Hahahaha, tidak Mas. Saya tidak berniat menambah istri lagi. Saya malah bersyukur dengan istri saya yang sekarang, karena waktu saya kenal dengannya saya tidak memiliki apa-apa dan dia malah mau menerima saya dengan harta yang tidak punya sepeser pun. Saya pun berniat meminangnya dan ia menerima dengan sangat bahagia. Istri saya lah yang menemani saya dari susah maupun senang. Ia tidak meninggalkan ku sedikitpun, ia selalu sabar disisi saya. Setiap harinya saya berdoa Mas. Saya tidak ingin harta yang berlimpah, tetapi saya ingin memiliki keluarga yang bahagia didunia maupun diakhirat.” Jelasnya panjang lebar.
Aku melihat ekspresi sopir itu di kaca spion tersebut, terlihat wajahnya yang senyum sumringah. Entah kenapa aku merasa malu dengannya. Ia bisa setia dengan pasangannya hingga ia tua seperti saat ini. Sedangkan aku yang masih muda malah tidak setia dengan pasanganku yang selama ini sudah setia menemaniku.
Aku tidak bisa meneladani sikap ibu yang selalu menemani alm ayah dari susah hingga ia sukses. Sampai alm ayah sakit-sakitan hingga meninggal pun, ibu tidak ada niat sama sekali untuk meninggalkan alm ayah sendirian. Hingga sekarang ibu tetap sendiri dan tidak ada berfikiran untuk mencari pengganti alm ayah walau ayah sudah tidak ada dunia.
Seharusnya dari pengalaman hidup yang sudah kulalui, aku harus mengambil hikmahnya. Tetapi aku seakan buta dan tuli dengan apa yang sudah terjadi. Seakan-akan semua itu hanyalah angin saja. Aku hanya ingin mendapatkan kepuasan surgawi dunia yang bersifat fana ini. Bukan surgawi akhirat yang bersifat kekal selama-lamanya.
Aku sama seperti manusia yang lainnya, bisa sadar ketika dengan apa yang sudah terjadi tetapi akan kembali berbuat seperti itu lagi ketika semuanya terasa memabukkan. Karena pada dasarnya aku tidak dilengkapi dengan iman yang kuat. Aku manusia yang gampang goyah dengan godaan didunia ini.
“Mas?” panggilnya sopir itu.
“Heuh? Iya Pak?”
“Sudah sampai,” aku melihat keluar dan berhenti tepat didepan rumahku. Ternyata lamunanku tadi cukup lama hingga aku tidak menyadari bahwa aku sudah sampai dirumahku. Kali ini fikiranku sungguh benar ada dimana-mana dan ragaku ada didalam mobil ini.
“Hem, makasih ya Pak. Ini uangnya,” aku memberikan uang lembaran ratusan kepadanya.
“Kembaliannya Mas,”
“Tidak usah Pak, ambil saja untuk bapak.”
“Terima kasih ya Mas,”
Aku tersenyum lalu turun dari mobil begitu juga dengan sopir itu yang dengan cepat membuka bagasi dan mengeluarkan koper dari dalam bagasi tersebut. Lalu sopir itu kembali masuk kedalam mobil dan berlalu dari hadapanku dengan kecepatan laju.
Kini, aku sudah sampai dirumahku sendiri. Rumah ternyaman yang pernah ada dan rumah yang selalu menaungiku disaat aku sangat merasa lelah. Namun, kini aku malah mengkhianati rumah ini karena aku memiliki rumah yang lainnya. Sungguh, aku tidak pantas masuk kerumah ini. Rumah yang selalu memberiku kenyamanan selama aku hidup.
Sebelum aku masuk kedalam rumah, tidak lupa ku ambil oksigen sedalam-dalamnya lalu kehembuskan dengan begitu kasarnya. Mengeluarkan beban yang begitu dalamnya.
Kaki ku pun melangkahkan masuk kedalam rumah, sangat gelap. Kemana Keisha? Apa ia lupa bahwa hari ini aku akan datang? Tidak mungkin, karena aku sudah memberitahunya beberapa hari yang lalu. Ia pasti menungguku.
Kulangkahkan kaki menuju kekamar, hanya dikamar saja sangat terang. Kurasa ia sedang tidur. Aku tersenyum, jantungku berdebar-debar lumayan cepat. Apa karena aku akan bertemu dengannya atau karena aku takut kesalahanku ketahuan. Aku tidak mengerti dengan perasaanku sekarang.
Aku berjalan menuju kekamar dan kulihat Keisha yang sedang duduk sambil mengkuncir rambutnya. Ia melihatku lalu berdiri dari duduknya. Kedua tatapannya berkaca-kaca saat ia melihatku, “Mas Andri,” panggilnya lembut. Suara itu, suara yang sangat kurindukan. Suara yang selalu membuat aku semangat disaat aku letih. Kini, aku mendengarnya lagi disaat aku menghindar dari suara itu.
__ADS_1
Koper yang kupegang pun kulepaskan begitu saja. Aku sangat merindukan istriku ini, aku sangat merindukan ia. Perlahan tapi pasti aku menghampirinya lalu aku memeluknya dengan sangat erat. Ia pun ikut memelukku sangat erat. Isakan keluar dari mulutnya, ia menangis. Keisha menangis.