Simpanan

Simpanan
-Sukanya Kania, Duka nya Keisha-


__ADS_3

“Hidup itu banyak tantangan, entah itu seperti apa, alur nya mau bagaimana, tantangannya itu kapan. Tidak akan ada yang tau dari itu semua, tetapi yang aku tau bahwa aku siap menghadapi tantangan itu.”


-Kania


Keisha:


Jam 23:20 malam. Aku sedari tadi mondar-mandir di teras rumah untuk melihat apakah Andri sudah pulang atau belum. Setelah merasa bosan dengan diteras, aku berpindah ke ruang tamu, ruang keluarga lalu kembali lagi ke teras seperti tadi.


Karena rasa tidak sabaran ku terus meluap, aku berpindah ke perkarangan rumah sambil melihat apakah mobil Andri sudah masuk di kompleks ini atau belum. Tapi nyata nya tidak ada tanda-tanda untuk itu.


Aku hanya bisa menghela nafas kasar, jangan ditanya aku ngantuk atau tidak. Tentu saja aku sangat ngantuk, kedua mata ku rasa nya ingin terpejam saat ini juga dan tubuh ku ingin rasanya ku hempaskan ke kasur. Tetapi aku tidak bisa melakukannya, karena saat ini Andri belum pulang sama sekali hingga jam 11 malam.


Untuk menghilangkan rasa kantuk ku, aku pun minum kopi dengan kafein yang lumayan tinggi. Sudah 3 gelas aku menghabiskan kopi, tetapi hingga saat ini rasa kantuk ku mengalahkan semuanya.


Aku mendesah berat, sedari tadi mondar-mandi membuat aku lelah tidak karuan. Jadi aku pun memilih duduk di sofa, sambil menghubungi Andri berkali-kali. Tetapi Andri tidak mengangkat telpon ku, ahh, rasanya kalau sudah seperti ini sangat menyebalkan.


Kalau memang ia akan lembur selama ini, seharusnya ia memberi tau ku. Jangan sampai menunggu seperti ini apalagi ia tidak ada kabar sama sekali dari tadi pagi.


Banyak sekali yang ingin aku ceritakan kepada nya dari aku bertemu dengan Haikal, Ade yang mau wisuda di Paris, dan Ibu harus berangkat ke Paris besok malam. Aku harus memberitahukannya, bagaimanapun juga ia harus tau semuanya.

__ADS_1


Mata ku pun sedikit demi sedikit sudah mulai terpejam, namun harus terbuka lebar karena aku mendengar suara mobil Andri. Dengan kecepatan kilat, aku pun keluar dari rumah dan melihat penampilannya yang sudah berantakan.


“Mas,” aku tersenyum, ia membalas senyuman ku juga.


Aku meraih tangan nya lalu mencium punggung tangannya “Maaf, ya, tadi Mas gak angkat telpon mu, soalnya tadi Mas lagi ada di jalan.”


“Gak papa kok Mas, lagian Kei juga ngerti dengan kesibukan mu,”


“Hem, bagus lah.” ia mengelus rambut ku lalu merangkul ku untuk masuk kedalam rumah.


Saat di dalam rumah, aku pun langsung menarik tangan nya ia menoleh dan menatap ku “Ada apa Kei?”


“Mas, Mas tau kan kalau Ade kuliah di Paris?”


“Itu Mas, besok ibu harus ke—“ kalimat ku terpotong karena deringan ponsel Andri yang menganggu pembicaraan kita berdua.


“Ahh, maaf ya. Mas harus angkat telpon dulu,” ia menunjukkan ponsel nya kepada ku.


Aku hanya bisa tersenyum tipis, ia berlalu pergi ke kamar. Aku menghela nafas berat, seperti nya akhir-akhir ini aku tidak bisa leluasa ngobrol dengan Andri, pasti ada saja yang menganggu percakapan kami berdua.

__ADS_1


Kalau sudah seperti ini aku tidak bisa bersabar lagi, aku hanya butuh waktu nya, aku hanya butuh dirinya. Sebentar saja, tidak perlu lama. Memang sih dia sudah menjadi orang sibuk, pasti waktu nya akan terbagi dengan pekerjaanya itu. Tetapi kalau sudah seperti ini wanita mana yang akan sanggup seperti ini?


Kurasa tidak akan ada yang sanggup, pasti akan terjadi perdebatan mulut setelah nya, tetapi aku? Kurasa, aku harus bersabar lagi untuk itu. Demi menghargai dirinya dan menghargai kesibukannya yang sedang merajalela.


Kania:


Lagu di ponsel ku memandu ku untuk menggoyangkan kepala kekiri dan kekanan dengan bahagia nya. Tangan ku bergerak lincah melipat semua pakaian ku ke dalam koper. Sudah tau bukan? Kalau besok pagi aku dan Andri akan pergi ke Paris untuk perayaan anniversary ku dengannya yang ke 3 tahun serta pelaksanaan pernikahan ini.


Hahaha, jangan ditanya bagaimana bahagia nya aku. Tentu saja aku sangat bahagia, rasanya ini mimpi. Mimpi yang melambung sangat tinggi, semoga saja tidak jatuh dan membuat ku patah. Aamiin.


Aku memasukkan pakaian yang perlu aku bawa, tidak perlu membawa yang banyak, hanya seperlunya saja. Paspor dan tiket ku pun sudah ku pisah kan ke tas lain agar memudahkan ku untuk mengambil nya. Aku memegang dua tiket, satu nya milikku dan satu nya milik Andri. Aku mencium tiket Andri, rasanya ini benar-benar mimpi.


Siapa sih yang tidak akan menyangka, bahwa besok aku akan menjadi pasangan Andri untuk selama nya. Besok pula peran ku yang awal nya wanita lajang berubah menjadi wanita beristri dari pria CEO Bagaskara Group. Siapapun tidak akan menyangka untuk itu, bahkan aku pun tidak menyangka.


Setelah selesai memasukkan baju ku, aku pun merisleting nya lalu meletakkan nya disudut kamar ku. Saat nya istirahat untuk simpan tenaga sewaktu ada di Paris.


Aku menatap langit-langit kamar ku, sambil merentangkan tangan kanan ku, melihat jari manis ku yang tidak ada apa-apa. Kedua sudut bibir ku tersenyum dengan sendiri nya, aku membayangkan bahwa di jari manis ku ini terdapat cincin yang melingkar dengan sangat manis dan terlihat sangat romantis untuk itu.


Aku menghela nafas lalu meletakkan tangan kanan ku ke dada ku, jantung ku berdebar-debar sedari tadi membayangkan pelaksanaan pernikahan ku di kota romantis itu. Itu semua sungguh di luar dugaan ku dan sungguh di luar keinginan ku bertahun-tahun lalu lamanya.

__ADS_1


“Mas, aku memang sudah tidak salah memilihmu untuk menjadi kan kamu sebagai suami ku. Aku memang tidak salah menjadi kan kamu untuk menjadi pasangan seumur hidup ku. Aku mengira bahwa aku tidak bisa mendapatkan mu. Tetapi aku salah, aku malah bisa memiliki mu seutuhnya dan bisa menggenggam hati mu dengan sangat erat nya. Di Paris nanti nama ku bukan lah sebagai Kania Aletha Qirani lagi. Melainkan nama ku menjadi Kania Fortunio Bagaskara. Nama belakang mu akan bersanding dengan nama belakang ku. Bukan kah itu hal yang sangat romantis sepanjang hidup ku? Bukan kah selama ini itu lah yang aku inginkan Mas? Dan kini, kamu mewujudkan semuanya. Makasih Mas, makasih untuk semuanya.”


Entah, aku berbicara ke siapa, tetapi Tuhan tau bahwa aku berbicara untuk Andri. Semoga Tuhan menyampaikan rasa terima kasih ini untuk Andri dan semoga ia mendengar kata ini. Bagi ku dia lah yang terbaik dari yang terbaik.


__ADS_2