Simpanan

Simpanan
-Perihal Salon-


__ADS_3

“Sering kali terjadi, manusia selalu merasa benar dengan apa yang dilakukannya padahal kenyataannya tidak semua apa yang di lakukannya itu benar, bisa jadi itu salah, bukan kah seperti itu?”


-Andika


Kania:


Pelayan salon mengolesi masker ke wajah ku dengan perlahan. Aku pun sambil memainkan ponsel ku sesekali membuang rasa bosan ku disini. Sore ini aku mengunjungi salon yang berada di hotel ini. Untuk mengikuti segala perawatan yang sudah disiapkan oleh Andri jauh-jauh hari. Ia berkata bahwa malam ini aku harus tampil cantik di acara pernikahan ku.


Jadi aku harus merawat diri dulu sebelum malam tiba. Aku menggeser layar ponsel ku melihat foto baju kebaya berwarna putih untuk pernikahan ku yang sudah di kirim oleh pihak hotel ke kamar ku. Tentu saja aku tersenyum puas melihat nya, bahkan aku tidak sabar mengenakan kebaya ini.


Sabar lah Kania, nanti malam kau akan mengenakannya di hadapan Andri, sebagai istri sah nya. Ya, walaupun menjadi yang kedua, yang terpenting kau sudah dinobatkan menjadi istri nya.


Rasanya jantung ku akan berdegup berkali-kali lipat. Tidak sabar malam ini tiba dengan segera, saat aku melihat Andri memegang tangan penghulu lalu mengucapkan akad nikah dihadapan ku dan dihadapan para saksi.


Aahh, aku sangat tidak sabar untuk itu...


Saat aku terlalu tergila-gila dengan khayalan ku, aku mendengar suara pria yang sedang menelpon. Entah, pada siapa ia menelpon, tetapi yang membuat aku tertarik ialah dia berbicara menggunakan Bahasa Indonesia.


Itu berarti aku tidak sendiri disini, aku menemukan seseorang yang bisa ku ajak bicara disini. Maklum saja, bahasa asing tidak cukup fasih untuk ku lontarkan.


Aku pun menoleh dan melihat pria itu yang sudah diolesi masker di wajah nya. Tunggu! Dia lagi perawatan wajah? Seorang pria? Serius?


Yah, bukan apa-apa sih. Masalahnya di salon ini rata-rata terdapat kaum hawa semua, kaum adam pun itu hanya dia seorang. Tetapi dengan santai nya dia ada disini dengan masker yang sudah ada di wajah nya.


Ckckck, sungguh pria yang masih mementingkan penampilannya. Mungkin ia merasa di perhatikan oleh ku, ia pun menoleh dengan alis nya yang naik sebelah. Maklum saja, kami kebetulan bersebelahan.


“Why?” tanya nya dengan ragu, mungkin ia mengira bahwa aku ini orang asing hingga dia berkata Bahasa Inggris begitu.


Aku pun menggeleng, “Tidak,” kening ia pun berkerut.


“Kamu orang Indonesia?” tanya nya dengan mantap.


“Heheh iya, lebih tepat nya orang Jakarta.” Jawab ku.


“Oh, sama dong” ujar nya.


Ternyata ia sama dengan ku, hahaha, aku mengira dunia seluas ini, tetapi nyata nya sempit.


“Kamu ngapain ke salon?”

__ADS_1


“Kenapa? Emang nya ada yang ngelarang?” tanya nya balik.


Hem, iya sih, emang gak ada yang ngelarang siapapun yang ke salon. Hanya saja masalah nya ya itu.


“Ya, gak ada sih. Hanya saja kamu itu pria yang dengan santai nya masuk ke salon dan melakukan perawatan wajah. Sedangkan disini ramai dengan para wanita,” jelas ku singkat mencoba mengusir kesalahpahamannya.


Ia pun tertawa kecil, “Aku hanya ingin melakukan perawatan saja, besok aku wisuda dan aku harus tampil segar di hadapan teman-teman ku. Setelah berbulan-bulan menghadap dengan setumpukan tugas, laptop dan buku. Jadi, tidak masalah bukan jika pria melakukan perawatan untuk wajah nya sendiri?”


Aku tersenyum mendengarnya, sungguh pria yang mencintai dirinya sendiri. I like it. Kurasa, pria di hadapan ku ini terbilang sangat pintar, terlihat dari gaya bicaranya yang sangat berbeda tidak seperti orang pada umumnya. Kira-kira siapa kah namanya?


Andika:


Pria ke salon dan melakukan perawatan wajah apakah itu salah? Toh, aku pun melakukannya baru kali ini. Karena selama ini aku tidak pernah melakukannya dan terlalu fokus kepada setumpuk tugas yang diberikan oleh pihak kampus. Tidak salah bukan jika pria juga butuh perawatan, apalagi pada wajah. Aset yang dimiliki oleh setiap orang yang sangat wajib di jaga.


Sepertinya wanita yang ada di samping ku ini terbilang sangat asik. Karena dia berbicara kepada ku dengan santai nya walaupun ia baru bertemu dengan ku untuk pertama kali nya.


“Aku Andika,” ucap ku berusaha mengenalkan diri ku kepada nya tanpa mengulurkan tangan, sudah tau bukan, jika di rumah ku sangat taat dengan aturan agama.


Ia terlihat sedikit kaget, haha, iya sih. Siapa yang tidak kaget, tidak ada badai dan tidak ada hujan. Aku malah memperkenalkan diri tanpa meminta dan tanpa ditanya.


“Aku Kania,” aku mengangguk.


“Apanya?” tanya nya tidak mengerti.


“Ya, suka ke salon. Perawatan wajah terus,”


Ia memegang masker di wajah nya yang menutup dengan sempurna, “Ohh, hahaha, tidak juga. Aku perawatan wajah karena ada sesuatu,”


“Sesuatu? Sesuatu apa?” mungkin aku sedikit tidak sopan karena bertanya perihal nya.


“Pernikahan ku,” ia tersenyum.


Bibir ku membulat dengan sempurna, ternyata dia melakukan perawatan wajah ini karena akan menikah toh. Berarti ia udah sold out dong? Hahaha, alhamdulillah.


“Ohh gitu. Ngomong-ngomong selamat ya atas pernikahannya,”


Ia menggaruk kepalanya, mungkin merasa salah tingkah dengan ucapan selamat dari ku. “Heheh, terima kasih ya. Kamu sendiri? udah menikah?” tanya nya.


“Pengennya sih mau nikah,”

__ADS_1


“Hem, lalu?”


“Calonnya belum ketemu sih,” aku terkekeh.


Sedangkan ia tertawa cukup lebar, hingga masker nya mulai retak dimana-mana.


“Astaga, selucu itu ya? Sampai lebar banget ketawa nya,” ledek ku.


“Haha ya iyalah, aku kira kamu gagal nikah. Tadi sempat serius juga nunggu nya, eh rupa nya calon nya yang belum ketemu,”


“Hahaha, makanya jangan serius banget. Di bawa santai saja,”


Ia mengangguk dan tersenyum, mungkin wanita di hadapan ku ini kebanyakan tersenyum ke orang lain. Apa calon suami nya itu tidak masalah apabila wanita nya membagikan senyumannya itu ke orang lain?


“Oh ya, tadi kata mu, mau wisuda?”


“Iya,”


“S1?”


Aku menggeleng, “S2,” jawab ku singkat.


Ia pun mengangguk, “Selamat atas wisuda mu ya, kira-kira rencana kedepannya apa?”


“Yah tidak banyak, hanya pulang ke Indonesia dan membuka sebuah perusahaan lalu merintis karir dari nol hingga perusahaan itu sukses,”


“Aamiin,” ucap nya.


“Terima kasih.”


“Sama-sama. Jadi, bisa dibilang kamu calon pembisnis dong?”


“Iya,”


“Kebetulan, calon suami aku juga seorang pembisnis, dia salah satu bos di perusahaan. Nanti aku kenalin kamu ke dia deh, kamu bisa belajar dengan ia bagaimana membangun dan mengelola perusahaan dengan benar. gimana?” tanya nya.


Aku pun berfikir sebentar, kurasa usul nya sangat menggiurkan. Karena bagaimana pun juga aku sangat memerlukan mentor yang membantu ku dalam membuka perusahaan, “Boleh juga,”


“Yaudah, mana kontak mu, biar nanti aku bisa memberi tahu mu,” aku pun memberi ponsel ku kepada nya. lalu ia pun menscan nomor ku.

__ADS_1


Kurasa dia wanita baik, hingga dia mau membantu ku mengenalkan kepada calon suami nya itu. Ternyata Allah mempertemukan aku dengan wanita seperti Kania. Wanita yang dapat membantu meringankan bisnis ku kelak.


__ADS_2