
“Hancurnya perasaan wanita bukan melihat pasangannya tidak memiliki harta. Melainkan melihat pasangannya mempunyai wanita lain di hatinya. Sejatinya mereka akan mengucapkan kata ‘gak papa’ tetapi dihati nya akan merintih, berteriak dan menangis melihat sang kekasih mempunyai ada yang lain dibandingkan dirinya.”
-Keisha-
Andika:
Senyum yang tidak pernah luntur terus menghiasi wajah ku. Mungkin orang akan mengira aku ini orang gila karena terus tersenyum tanpa henti. Aku tidak perduli, yang terpenting aku menikmati rasa bahagia ini tanpa orang lain tau. Ijazah S3 ku sudah berada di genggamanku sekarang. Haru bahagia bercampur menjadi satu.
Perjuanganku kini tidak menjadi sia-sia, aku mendapatkan gelarku dan kini aku membuat ibu bahagia.
Jubah wisuda kubuka lalu kuletakkan di atas kasur. Aku berjalan menghampiri ibu yang sedang duduk di tepi kasur dan berjongkok di bawah nya. Ibu tersenyum sangat indah di hadapanku. Kurengkuh kedua tangan nya dan kugenggam sangat erat.
“Bu,” panggilku.
Ibu menggumam sambil mengelus pipiku pelan. Rasa hangat menjulur di hatiku, terasa menenangkan dan ingin menangis saat ini juga. Akan tetapi rasa ingin menangis itu aku tahan. Aku pria dan aku tidak pantas untuk menangis di hadapan orang lain. Bersikap tegar itu lah yang harus di miliki oleh semua pria.
Aku melepaskan toga yang masih melekat di kepalaku dan kupasangkan di kepala ibu. Saat aku melihat ibu menggunakan toga. Terasa sangat bahagia. Impian ku sejak kecil ialah ingin memasang toga ke kepala ibu. Dan kini impian itu akhirnya tercapai juga. Selama aku menempuh pendidikan tinggi tidak pernah aku memasang toga ke kepala ibu. hingga pada saat ini aku bisa memasang toga itu pada S3.
Lalu rencana selanjutnya aku ingin membuat ibu bahagia dengan hasil kerja keras ku. Membelikan ibu rumah dan mengumrohkan ibu. Sebenarnya banyak yang ingin ku lakukan untuk ibu, hanya saja aku tidak bisa menyebut nya satu persatu. Tujuan ku saat ini ingin membuat ibu tersenyum dengan apa yang kulakukan. Aku tidak ingin membuat senyuman ibu memudar di wajahnya.
Jika ibu sedih atau apa, aku akan selalu berusaha membuat senyuman itu selalu ada. Karena senyuman ibu adalah energi untuk setiap aktivitas ku.
Ibu memegang toga yang berada di atas kepala nya. “Ada apa De? Kenapa kamu memasangkan toga ke kepala ibu?” tanya nya penasaran.
“Sebentar saja bu. Ade ingin lihat ibu menggunakan toga ini. Impian yang Ade inginkan sejak dulu. Biarkan Ade melihatnya sebentar saja, hem?” jawab ku.
Ibu hanya tersenyum sambil memegang kedua pipi ku, “Anak ibu yang satu ini sudah besar ya. Apa kamu senang melihat ibu memakai toga yang kamu berikan ini?” tanya nya.
Aku mengangguk, “Tentu saja Ade senang bu, bagaimana pun ini kan yang ibu inginkan. Melihat Ade menggunakan toga dan ingin foto bersama Ade walau kita tidak bisa foto bersama ayah.”
“Maafkan ibu ya, De. Ayah tidak bisa bersama kita sekarang. Ayah sudah pergi lebih mendahului kita. Ia tidak bisa melihat anaknya ini yang sedang wisuda,” ucapnya dengan nada menyesal.
“Ah, ibu. ibu gak salah kok, untuk apa ibu minta maaf hem? Lagian ayah gak ada juga karena Allah lebih sayang ayah bu. Gak papa kok, selagi ibu ada disini. Ade juga udah bahagia,”
Ibu tersenyum sambil mengelus pipi ku. “Makasih ya nak ya,” aku membalas senyuman ibu lalu mengangguk pelan.
“Oh ya bu, Ade udah pesan tiket untuk keberangkatan kita besok.”
“Jam berapa?"
“Hem, mungkin sore. Apa ibu gak mau jalan-jalan dulu sebelum kita pulang ke Indonesia?” tanya ku.
“Emang mau jalan-jalan kemana?”
“Terserah ibu, biar Ade yang memandu ibu. Gimana?”
“Hem, boleh. Tapi ibu ingin ke tiang listrik yang tinggi itu tuh,” ibu sambil menunjuk kearah luar jendela. Kening ku mengerut berkali-kali lipat. Tiang listrik? Aku mengikuti arah tunjukkan ibu. Seketika aku tertawa terbahak-bahak karena perkataan ibu.
“Hahahah, ibu, ibu, ada-ada aja deh. Itu mah Menara Effiel bu, bukan tiang listrik.” Ibu hanya terkekeh. Sedangkan aku semakin terpingkal-pingkal karena kelucuan ibu. ternyata ibu bisa bikin lelucon juga.
Kania:
Hembusan nafas keluar dari mulut ku. Degupan jantung ku terus berdetak begitu saja. Beberapa make up dimeja rias sudah siap untuk meluncur ke wajah ku. Aku melihat wajahku dipantulan kaca meja rias. Saatnya aku akan bersiap-siap untuk bertemu dengan Andri di Menara Effiel. Untuk merayakan anniversary kami yang ke 3 tahun.
Waktu semakin berjalan menuju pukul 6 lewat 20 menit. Sepertinya aku harus bergegas atau Andri akan menunggu ku terlalu lama. Aku tidak ingin membuat pria itu menunggu ku begitu saja. Apalagi diluar sana sangat ramai oleh penikmat wisata.
Langsung saja aku memulai ritual. Sebelum itu aku menyemprotkan wajah ku dengan setting spray agar terasa lembab dan tahan lama, selain itu supaya aku akan selalu terlihat cantik di hadapan Andri. Bukankah demikian? Hehehe...
Setelah itu aku baru memulai ritual yang lainnya. Tidak perlu terlihat menor dan waw. Cukup dengan sederhana dan cantik adanya. Walaupun begitu, toh Andri akan tetap mencintai ku dan menyayangi ku. Haha, duh, percaya dirinya aku.
Tidak perlu membutuhkan waktu yang lama. Aku sudah siap dengan dandan ku. Selanjutnya aku menggunakan dress yang diberikan oleh Andri. Saat aku menggunakannya, terasa sangat pas di tubuh ku. Aku melihat seluruh tubuh ku di pantulan kaca. Kedua pipi ku terasa panas begitu saja, bagaimana mungkin pria itu tau dengan ukuran pakaian ku.
__ADS_1
Ya ampun, Andri memang pria yang memiliki setiap kejutan yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Aku benar-benar tidak salah memilih ia menjadikan nya sebagai pasangan ku. Sungguh, sangat tidak salah.
Rambut ku pun kubiarkan tergerai begitu saja daripada menggulungnya. Dress ini terasa lebih cocok apabila rambut tergerai seperti ini. Memiliki aura tersendiri apalagi aku yang menggunakan nya.
Ketika menurut ku semuanya sudah beres, aku langsung mengambil sling bag dan memasukkan ponsel ku. Berjalan keluar dari kamar lalu menuju ke lift. Rasa dingin mulai terasa di kedua telapak tanganku. Ah, kenapa ini rasanya seperti aku baru pertama kali pacaran dengan Andri saja. Padahal kenyataannya bahwa aku sudah menikah dengannya.
Ting...
Lift pun terbuka, aku yang sedang menunduk pun langsung mendongak. Seketika tatapan kami bertemu sesaat dengan orang yang sedang berada di dalam lift. Aku mengira dihadapanku ini ialah Andri, karena wajah nya terlihat sangat mirip. Ternyata bukan. Ah, mungkin ini efek aku selalu memikirkan nya dan efek karena rasa bahagia ku yang meluap-luap begitu saja, hingga fikiran ku pun menjadi tidak terkendali. Orang yang kulihat pun akan seperti mirip Andri. Tetapi memang benar adanya, orang yang ada di hadapan ku ini sangat mirip dengan suami ku.
“Mbak?” panggil nya.
Aku pun tersadar, “Heuh?”
“Gak mau masuk?” tanya nya dengan Bahasa Indonesia. Aku seperti pernah mendengar suara ini. Suara ini terdengar sangat familier tetapi entah dimana aku mendengar suara ini.
“Eh? Iya,” dengan cepat aku masuk kedalam lift. Lalu lift pun tertutup dengan sangat rapat. Aku melirik ke pria sebelah ku yang sedang berdiri dengan tegap sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celananya.
“Sepertinya kita pernah bertemu ya,” ucap nya. Sontak saja aku terkejut lalu mengalihkan pandangan ku kedepan.
Ia menoleh kearah ku sambil tersenyum,
“Kania?” aku menoleh cepat kearah nya, bagaimana ia tau nama ku bahkan aku saja tidak tau dengannya.
“Aku benar, kamu Kania.”
Aku pun semakin bingung dan mencoba mengingat pria ini. Tetapi aku benar-benar merasa tidak pernah bertemu dengannya. Kalau dari suaranya aku seperti pernah mendengarnya tetapi aku tidak tau dimana.
“Hem, permisi ya Mas. Kamu kok kenal aku? Hem kalau kenal, kita pernah bertemu dimana ya?”
Ia pun langsung tertawa kecil, “Ternyata kamu gampang lupa ya. Aku ini pria yang kesalon hanya untuk maskeran wajah. Ingat gak?”
“Yap, anda benar sekali. Apa kita perlu kenalan lagi? Sepertinya kamu tidak ingat dengan ku,” ucapnya seperti menyindir kepada ku.
“Hahaha, bukan seperti itu. Soalnya aku tidak tau dengan wajah mu karena waktu itu kita sedang menggunakan masker. Tapi, kenapa kamu tau kalo aku itu Kania? Setajam itu kah ingatan mu?”
Bukan main dengan yang namanya takdir. Aku benar-benar tidak percaya, pantas saja aku seperti pernah mendengar suara ini. Ternyata pria ini adalah orang yang ku ajak bicara di salon beberapa hari yang lalu. Ia bahkan mengingat ku sekarang sedangkan aku tidak mengingat dirinya sama sekali. Astaga, betapa memalukannya aku ini.
“Kamu mau tau kenapa aku tau kalau kamu Kania?” aku mengangguk dengan cepat.
“Dari ini,” dia menunjuk rambut ku. Aku melihatnya tidak mengerti, apa orang bisa mengingat hanya karena dilihat dari rambut saja? Bukankah itu terdengar sangat aneh.
“Waktu itu aku bertemu dengan mu dengan rambut yang seperti itu. Tatapan yang sangat sama saat berada di salon. Kini, tatapan itu masih sama saat kamu masuk kedalam lift ini.”
Aku membungkam mulut ku begitu saja.
Astaga, kenapa Andika bisa sehebat ini. Ia bisa menganalisis keadaan hanya dengan sekejap mata. Bahkan aku saja tidak menyadari hal itu, sungguh sangat hebat. Aku menyengir sambil mengusap tengkuk ku. merasa malu dengan dirinya sekarang. Aah, rasanya aku ingin hilang kedunia ini sekarang.
“Mau kemana?” tanya Andika.
Aku pun menoleh, “Hem?” ia melihat ku dari bawah hingga ke atas.
“Ohhh, mau ketemu sama suami.”
Ia mengangguk. “Emang suami nya kemana?”
“Ada, cuman janjian mau keluar bareng.” Ia mengangguk lagi.
“Hem, menikmati suasana Paris dengan pasangan. Apalagi seperti kamu, pasangan yang baru menikah.” Ucap nya. Aku pun hanya mengangguk.
“Kamu sendiri mau kemana?” tanya ku balik.
__ADS_1
Aku juga merasa penasaran ketika melihat style baju nya yang terlihat sangat rapi dan keren.
“Hem, mau jalan-jalan.”
“Sama siapa?”
“Ibu,”
“Ibu mu mana?” tanya ku lagi. Andika akan berjalan dengan ibu nya tetapi aku tidak melihat ibu nya.
“Ibu masih ada di kamar, ia menyuruh ku untuk menunggu di lobi hotel.” Bibirku membulat begitu saja tanda mengerti dengan ucapannya. Pantas saja tidak ada, ternyata masih ada dikamar. Sedikit penasaran seperti apa ibu Andika, memiliki anak sehebat dan setampan ini.
Ting...
Lift pun terbuka.
Bergegas aku dan Andika keluar dari lift berjalan menuju keluar hotel. “Kapan kamu mempertemukan aku dengan suami mu?” tanyanya.
“Secepatnya,” jawab ku sambil tersenyum ke arah nya.
“Baiklah, aku akan tunggu.”
Aku mengangguk, “Ah ya, aku duluan ya. mungkin suami ku sudah menunggu.”
“Baik, sampai ketemu lagi.” Aku mengangguk lalu tersenyum kearah nya dan meninggalkan ia yang berdiri di lobi hotel. Saatnya bertemu dengan suami ku tercinta. Mungkin ia sudah menunggu ku di bawah Menara Effeil. Aku sungguh tidak sabar untuk bertemu dengannya.
Andika:
“Gimana, bu? Ibu suka?” aku menoleh sambil tersenyum ke ibu.
Menggenggam erat tangan ibu di Paris ini dengan suasana yang sangat indah. Seindah senyuman ibu seperti saat ini. Aku menyukai semua yang ada pada hari ini membuat aku tidak ingin hari ini cepat berlalu.
“Suka, sangat suka. Terima kasih ya De, udah bawa ibu jalan-jalan menikmati pemandangan Menara Effiel dibawah ini. Membuat ibu kembali jadi muda lagi, heheh.”
“Sama-sama bu,”
Ibu menghela nafas pelan membuat aku menghentikan langkah, ibu pun ikut menghentikan langkah nya. Aku mengamati raut wajah ibu yang terlihat sedih, ahh aku sungguh tidak suka dengan ekspresi ini membuat hati aku sedikit tersayat saat melihat nya.
Aku menggenggam lebih erat tangan ibu, “Ada apa bu?” ibu tersenyum. Bukan, itu seperti bukan senyuman yang terlihat tulus.
Akan tetapi senyuman itu seperti memaksakan sang hati untuk berekspresi diri walau sang hati tidak menginginkannya. Aku tau itu, aku merasakannya sekarang.
“Ibu sedih, De,”
“Apa yang membuat ibu sedih hem? Akan Ade bantu agar ibu tidak sedih lagi,”
“Abang mu.” Aku langsung terdiam, ahhh, ini pasti karena kekesalan ibu yang masih belum mereda terhadap abang.
“Entah kenapa, ibu seperti merasakan sesuatu yang lain pada Andri, De. Entah itu apa, ibu merasakannya. Sangat merasakannya. Kamu sudah tau pasti kan kalau feeling seorang ibu tidak pernah meleset?” aku mengangguk “Dan saat ini ibu merasakannya, De. Andri seperti ada yang lain,”
“Ibu jangan suudzon terhadap abang ya, kasihan kakak ipar. Nanti dia juga malah suudzon sama abang, ya kalau benar. Kalau salah gimana? Kan yang dosa juga kita bu,” ibu terdiam.
Aku mengusap lembut tangan ibu, “Udah, sekarang jangan mikirin itu ya. Kita lanjut jalan lagi, gimana?” ibu pun mengangguk pelan dan aku tersenyum.
Kami berdua kembali berjalan, namun langkah kaki kami kembali terhenti saat aku melihat Kania dari jauh sedang berjalan entah ke arah mana. “Oh, itu,” aku ingin memanggil nya akan tetapi terhenti karena melihat sesuatu yang membuat aku tidak dapat berkata apa-apa lagi.
Saat arah lawan Kania berjalan menghampiri nya, memeluk Kania, dan mencium bibir Kania sekilas. Membuat jantung ku berhenti berdetak saat itu juga. Nafas ku pun hilang entah kemana. Ini bukan mimpi, ini nyata. Dan aku rasa aku tidak mungkin salah lihat lagi.
Bahwa orang yang sedang ku lihat saat ini ialah...
“ANDRI!!!” teriak Ibu.
__ADS_1